Ibu Untuk Putraku

Ibu Untuk Putraku
BAB 219


__ADS_3

rendy pulang kerja lebih awal hari ini. karena beberapa tugas memang sudah dia kerjakan beberapa hari yang lalu, dan indah juga sudah mengatur tugas tugas itu sebaik mungkin agar rendy tidak terlalu lelah dalam berkerja.


"nek... dimana mami... kok tidak ada di depan, biasanya mami membaca buku di ruang tengah" tanya rendy sambil mencium tangan ratih


"mami mu ada di halaman belakang... sana temui dia dulu... dia terlihat sedih setelah mengangkat telpon dari adinda, nenek juga tidak tahu mereka ngomong apa aja, tapi setelah itu mami mu terlihat murung" jawab ratih


"yah sudah nek... rendy temui mami dulu yah... rendy khawatir kalau ada apa apa sama adinda nek... " ucap rendy


"iya iya sana... coba kamu tanyakan sama mami mu, ada apa sama mereka itu" jawab ratih


rendy langsung menuju taman belakang untuk mencari vita dan dia juga ingin tahu apa yang terjadi saat menerima telpon dari adinda.


"mami.... " panggil rendy sambil memeluk vita dari belakang


"ehhhh anak mami kok sudah pulang sih... emang tidak ada kerjaan yah di kantor, sampai pulang secepat ini" tanya vita sambil mengusap kepala rendy


"yah... begini ini mi kalau punya asisten dan juga seketaris sehebat indah, kerjaan rendy jadi lebih ringan dan tidak menumpuk seperti dulu" jawab rendy sambil mengajak vita uhhh ntuk duduk di gazebo yang ada di samping kolam renang


"berarti mami tidak salah pilih calon menantu yah... karena indah sudah bisa merawat kamu dan menjaga kamu agar tidak terlalu lelah. mangkanya mami lihat pipi kamu makin tembem rend" ucap vita


"masa sih mi... berarti rendy makin gendut dong... tapi memang sih mi... akhir akhir ini rendy tidak pernah olah raga dan banyak makan, karena indah selalu ajak rendy makan mi" jawab rendy


"yahh bagus dong itu, jadi sudah ada yang menggantikan tugas mami buat menyuruh kamu makan, sepertinya mami jauh lebih bisa mengandalkan indah untuk proses gemuk kamu rend" ucap vita

__ADS_1


"enggak mi... rendy tidak mau gemuk, nanti baju rendy tidak ada yang muat bagaiaman, dan nanti adinda pasti akan selalu ngejek rendy terus.... tidak tidak" jawab rendy


"ha ha ha ha rendy.... rendy... kamu itu paling biamsa yah membuat mami tertawa lagi" ucap vita


"ohh iya... kata nenek tadi mami sedih gara gara menerima telpon dari adinda, emang adinda bilang apa sama mami, apa dia marah marah sama mami" tanya rendy ke vita


"tidak rend... mana pernah dih adikmu itu marah marah, apa lagi sama mami ataupun keluarga yang lain. mami itu sedih karena khawatir sama keadaan adinda rend" jawab vita yang merasa sedih kembali


"khawatir? memangnya adinda kenapa mi... apa dia dakit lagi mi... bukannya sakit adinda sudah lama tidak kambuh yah?" tanya rendy yang penasaran


"tidak.... sakitnya tidak kambuh lagi, dan mami berharap dakit itu benar benar bisa hilang dari tubuh adinda, agar tidak membatasi ruang gerak adinda" jawab vita


"memang adinda kenapa, sampai membuat mami sedih dan khawatir seperti ini. kalau sakit adinda tidak kambuh, itu artinya adinda sudah sembuh mi"ucap rendy


"iya mi... apa lagi lomba itu adalah salah satu cita cita adinda yang sedari SMA ingin dia ikuti, tapi karena dia sakit waktu itu jadi dia rela tidak ikut team nya buat lomba" ucap rendy


"maka dari itu, bisa di bilang ini kesempatan terakhir buat adinda, untuk mengikuti lomba itu, dan mami bisa jamin dia akan melakukan apa saja agar bisa meraih kemenangan di dalam lomba itu, termasuk melupakan waktu istirahat dan makan dia" jawab vita


"hari kamis besok kalau tidak salah, adinda tidak ada jam kuliah kan mi. rendy akan ngomong sama adinda, dan rendy akan mencari tahu tentang UKM yang di ikuti adinda itu" ucap rendy


"iya... mami mohon yah... kamu yakin kan adik kamu buat tidak ikut lomba itu, karena mami khawatir sama kesehatan adinda" jawab vita


"iya mi... mami tidak usah khawatir lagi yah... rendy akan berusaha meyakinkan adinda. sekarang mami masuk ke dalam yah... mami istirahat di kamar saja" ucap rendy

__ADS_1


*******


reno terus menatap adinda, karena dia sangat tahu kalau adinda sekarang sedang tidak sehat, karena dari sorot matanya sudah terlihat, di tambah lagi wajah adinda yang terlihat pucat.


"din... lebih baik kamu cerita sama aku sekarang, apa kamu sedang sakit, karena wajah kamu itu tidak bisa berbohong" tanya reno dengan bisik bisik karena dia tahu di perpustakaan tidak boleh berisik


adinda tidak menjawab apa apa, dia hanya tersenyum aneh dan juga feleng geleng kepala, karena perkataan reno yang aneh.


"din... kamu jawab aku sekarang" tanya reno lagi


"tidak... aku tidak sakit... lagian apa sih urusannya sama anda, aneh sekali pertanyaan anda dokter reno yang terhormat " jawab adinda, dan dia langsung keluar dari perpus dan segera kembali ke asramanya.


"dinda... kenapa kamu batu banget sih... jujur itu apa salahnya sih... lagian kalau kamu beneran sakit, aku bisa membantu kamu untuk sembuh" ucap reno dengan nada yang agak keras pada adinda saat sudah keluar dari perpus


adinda yang mendengar itu, dia langsung berhenti, dan mencoba menahan dirinya agar tidak marah di depan umum, apa lagi orang yang dia ajak berantem adah dosen idola di kampus ini.


"anda bilang apa tadi.... saya batu, kalau saya batu bagaimana dengan anda, anda sendiri juga tidak bisa jujurkan sama saya, lalu kenapa saya harus jujur sama anda" jawab adinda dengan wajah yang menahan emosi


"emang saya tidak jujur sama apa, apa yang saya tutupi dari kamu" ucap reno


"ikut saya sekarang" ucap adinda


reno langsung mengikuti langkah adinda, adinda ingin mengajak reno ke tempat yang tidak pernah di lewati mahasiswa, karena tempat itu adalah bangunan gedung kampus yang belum selesai.

__ADS_1


adinda ingin meluapkan semua emosi nya pada reno, dia ingin bilang semuanya kalau dia sudah muak dengan keadaan seperti ini.


__ADS_2