Ibu Untuk Putraku

Ibu Untuk Putraku
BAB 88


__ADS_3

setelah selesai dengan berkas berkas yang menumpuk di mejah dia, bram langsung berdiri dan ingin mengajak maira pergi jalan jalan.


"ayo pergi" ucap bram sambil menggandeng tangan maira


"ayo, tapi aku mau keliling keliling dulu di kampus kak, tadi aku lihat ada anak band kampus yang sedang mini konser di depan, kita lihat saebentar yuk kak" ucap maira sambil melempar senyum ke arah bram


"iya deh ayo, semua hanya untuk kamu hari ini, kakak akan turutin semuanya" jawab bram sambil senyum juga ke maira


bram dan maira keluar dari ruangan dengan bergandengan tangan, mereka tanpa sadar kalau semua mata kini tertuju ke arah mereka, bahkan banyak mahasiswa dan dosen yang tidak suka dengan itu semua.


karena memang bram adalah idola para kaum hawa di kampus bahkan mahasiswa dan dosen perempuan banyak yang menyimpan hati unyuk bram. sedangkan maira, walau baru pertama kali datang ke kampus dia sudah berhasil menghipnotis mata dan perasaan para jomblowan di kampus tersebut.


tapi mereka tidak menganggap itu sebagai halangan, mereka masih terus berbicara dan tertawa dengan bergandengan tangan tanpa menghiraukan yang lain. setelah sampai di halaman fakultas yang sangat luas, maira dan bram mendekat ke arah mini konser tersebut.


"apa ada yang mau menyumbangkan lagu" ucap vokalis band tersebut


"kak tunggu di sini bentar yah aku mau nyanyi di depan" ucap maira pada bram, sedangkan bram hanya terngah ngah mendengar itu


maira mendekat ke anak band tersebut, untuk bilang judul lagu yang akan di nyanyikan maira, semua penonton bertepuk tangan dengan sangat meriah waktu itu.


"oke mari kita sambut maira dengan lagu kedua kalinya dari sherly sheinafia" kata pembawa acaranya


"oke yang bisa nyanyi ikutan nyanyi yahh" kata maira


***


Sudah lama 'ku dan dia berpisah


Rupanya hati masih saja terluka


'Ku memilih untuk sendiri


Hanya bisa berharap tak terulang lagi


Jatuh hatiku yang pertama


Sempat buat kukecewa


Dan meragukan jatuh cinta


Sementara 'ku akan terlepas


Dari hubungan asmara


'Ku belum siap terjatuh


Untuk kedua kalinya


Sudah, sudahlah


Kuyakinkan ragaku


Kau sebatas kenangan


Dari aku yang dulu


'Ku memilih untuk sendiri


Berupaya tak mengingat dia lagi


Jatuh hatiku yang pertama


Sempat buat kukecewa


Dan meragukan jatuh cinta

__ADS_1


Sementara 'ku akan terlepas


Dari hubungan asmara


'Ku belum siap terjatuh


Untuk kedua kalinya


Aku tak mau disakiti


Percuma hatiku berani


Aku tak mau disakiti


Dan terjatuh


Untuk kedua kalinya


Untuk kedua kalinya


Untuk kedua kalinya


***


"terimakasih" ucap maira sambil senyum ke arah bram


penonton saat itu memberikan tepuk tangan untuk maira, karena suara dia benar benar bagus, bahkan semuanya kini berteriak lagi lagi lagi


maira menatap ke arah bram yang, dari tadi diam sambil tersenyum melihat penampilan maira. bram juga memberikan kode setuju kalau maira menyanyikan lagu satu kali lagi


"oke... saku kali lagi yahhh, Pupus dari Hanin Dhiya" ucap maira dan musik pun mulai di mainkan


***


Rindu yang tak pernah begitu hebatnya


Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu


Aku persembahkan hidupku untukmu


Telah kurelakan hatiku padamu


Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa


Dan hati kecilku bicara


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Semoga waktu akan mengilhami


Sisi hatimu yang beku


Semoga akan datang keajaiban


Hingga akhirnya kau pun mau


Aku mencintaimu


Lebih dari yang kau tahu

__ADS_1


Meski kau takkan pernah tahu


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Seluruh hatiku


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Seluruh hatiku


***


setelah menyanyikan lagu keduanya, maira langsung turun dari panggung dan dia kembali menghampiri bram yang lagi duduk di bangku depan.


banyak sekali mahasiswa yang meminta foto dan tanda tangan maira saat itu, bahkan maira sendiri sangat kewalahan karena di kerubuti sama anak-anak kampus.


tiba tiba bram menarik tangan maira untuk pergi dari kerumunan iti, karena jujur dia sangat tidak suka saat melihat maira di perhatikan sama banyak orang. bahkan dia merasa tidak rela kalau foto maira berada di ponsel banyak orang.


"kakk... ihhh kenapa main tarik aja sih, aku kan masih ingin melihat konser itu" ucap maira pada bram


"ohhh kamu seneng yah kalau kamu fi kerubuti sama laki laki di sana gitu, dan kamu bangga kalau foto kamu berada di ponsel mereka. ohhh yah sudah sana kembali aja sendiri" jawab bram dengan ketus


"ihhh kok marah sih.... jangan marah dong, nanti cepat tua loh.... he he he he iya sudah mana ponsel kakak," ucap maira sambil meminta ponsel bram


"buat apa minta ponsel kakak" tanya bram


"iya sini in dulu... ahhh lama, sini... sekarang kakak fotoin aku yah... pakai ponsel kakak" ucap maira sambil berpose di depan bram


"enak aja, foto aja sendiri, kan kamu yang mau foto" ucap bram


"ihhhh aku buang ni ponselnya, aku buang ni... " jawab maira dengan gerakan seakan akan mau melempar ponselnya bram


"ehhhh ehhh sini sini kakak fotoin" ucap bram sambil merebut ponselnya dari maira


"satu kali aja yah..." ucap bram


"iya satu aja" jawav maira


1 2 3



"mana mana lihat aku kak" ucap maira


"ihhh bagus banget, yah sudah jangan di hapus yah kak. kalau kakak lagi sedih lihat aja foto aku ini dan kakak panggil nama lengkap aku pasti kakak akan tersenyum kembali" ucap maira


"yahhh sudah ayo jalan.... jangan diam di sini terus, ayo ke parkiran" jawab bram


"ayo" jawab maira


mereka berangkat jalan jalan, bram mengajak maira ke taman hiburan yang dulu pernah mereka datangi berdua. karena di tempat itulah pertemuan terakhir bram dengan maira, karena di sana bram cerita kalau dia sedang suka dengan perempuan lain, dan di saat itulah maira malamnya memutuskan untuk pergi dari kehidupan bram.


bram sangat menyayangi maira, bahkan bram rela melakukan apa saja untuk maira. bahkan orang tua bram juga sangat sayang sama maira, mereka selalu ingin kalau mairalah yang akan menjadi menantunya kelak.


tapi setelah kepergian maira, orang tua bram tidak mau mengungkit apapun tentang maira, karena mereka takut kalau bram akan menjadi sedih.


bram dan maira berencana untuk ngerjain ramma dan satria, karena bram juga ingin sekali kali menggoda kedua sahabatnya itu. senyum di wajah bram kini mulai bisa terlihat kembali setelah kedatangan maira di siainya lagi.

__ADS_1


__ADS_2