
rendy dan yang lainnya sudah berputar putar mencari adinda, namun mereka tidak menemukan nya juga. adinda juga mematikan ponselnya sehingga rendy tidak bisa melacak untuk mengetahui di mana keberadaan adinda.
mereka tidak berhenti mencari sampai adinda bisa di temukan dengan keadaan selamat dan sehat tidak kurang apa pun. rendy merasa sangat bersalah dengan kejadian ini, mangkanya dia mengerahkan segala usahanya untuk mencari keberadaan adinda.
"dek... kamu di mana sih, kakak bingung mencari kamu.... maafkan kakak dek" ucap rendy sambil nyetir dan juga melihat ke kanan dan kiri jalan
"dinda.... jangan pergi seperti ini dek... kakak tidak ingin kehilangan orang yang paling kakak sayangi, dulu kakak sudah kehilangan cindy teman kakak, sampai sekarang dia masih belum ketemu. jadi kakak mohon pulang dek... kakak tidak akan pernah bisa memaafkan diri kakak sendiri kalau sampai kamu kenapa napa" ucap rendy lagi
indah yang mendengar omongan rendy seperti itu, kini merasa iba dan kasian. dia juga tidak menyangka kalau rendy masih terus mencari dia sampai saat ini.
(maafkan aku rend, aku masih belum bisa jujur kalau aku cindy. aku mallu rend, aku malu untuk jujur sama kamu, karena kita berbeda rend, aku bukan cindy yang dulu lagi) suara hati indah
"sabar pak... kita akan menemukan adinda dengan segera, bapak tenang aja yah" ucap indah untuk menenangkan rendy
"iya ndah... kamu tolong lihat lebih jeli lagi yah siapa tahu ada adinda yang sedang di pinggir jalan" ucap rendy
"iya pak... ini saya juga sedang melihat ke kanan dan ke kiri" jawab indah
*******
arjuna dan ariel juga masih terus mencari adinda, dia dari tadi mencoba menghubungi nomer ponsel adinda, namun masih tetap tidak aktif.
"din... kamu kemana sih... kenapa pakai lari segalah sih... padahal kamu dari kecil tidak pernah seperti ini loh" ucap Arjuna yang sudah mula uhhh pusing mencari adinda kemana lagi
"tadi juga kenapa kak rendy pakai keceplosan sih... kalau tidak kan adinda tidak akan lari seperti ini, ini akan membuat liburan kita jadi berantakan di tambah lagi besok kita akan pulang karena lusa kita akan ospek" ucap ariel
"iya... benar juga kamu riel, kok bisa sih kak rendy jadi ceroboh seperti itu, di tambah tante vita juga paling tidak suka jika di bohongi" jawab arjuna
__ADS_1
"iya... tapi di sini itu yang salah kita semua, adinda juga salah karena menyembunyikan semuatu dari anggota keluarga yang lain, kita bertiga juga salah karena kita menuruti kemauan adinda" jawab ariel
"rile... loe harus lebih jeli yah... siapa tahu ada adinda di kerumunan orang orang itu" ucap Arjuna
"iya jun... ini gue juga bwrusaha melihat beberapa wajah dari orang orang itu, lagian baju yang di pakai adinda itu tadi kan bagus tidak seperti orang orang yang sedang berbelanja itu" jawab ariel, sambil terus melihat orang yang sedang berbelanja di pasar yang ada di pinggir jalan tersebut.
******
reno turun dari mobilnya untuk mencari adinda dengan jalan kaki, dia ingin sekali menemukan adinda, dia sangat takut kalau adinda kenapa napa.
"din... kamu di mana sih, " ucap reno sambil terus berjalan mencari adinda
"itu adinda kan.... iya tidak salah lagi itu adinda... " ucap reno
"Dinda..... " teriak reno memanggil adinda
"kak reno.... iya itu kak reno... ngapain dia ada di sini" ucap adinda dengan pelan
"syukurlah din... akhirnya aku bisa menemukan kamu, aku khawatir sama kamu" ucap reno sambil memegang kedua tangan adinda.
adinda hanya diam tanpa memberikan reapon, karena dia juga terkejut kenapa reno bersikap seperti itu pada dia.
"kenapa kakak ke sini, kakak ikutin aku?" tanya adinda
"ehmmm tidak, saya hanya kebetulan ada di daerah sini, dan saya melihat kamu sedang sedih jadi saya samperin kamu, karena saya takut kamu di gangguin sama orang jahat" jawab reno
__ADS_1
"saya tidak apa apa kak... saya hanya mau sendiri aja... permisi" ucap adinda sambil berjalan meninggalkan reno
reno masih mengikuti adinda dari belakng, reno tidak melepaskan adinda sama sekali, kemanapun adinda pergi reno selalu mengikuti.
"kak reno ngapain sih... jangan ikutin aku lagi" ucap adinda
"aku tidak lagi ngikutin kamu kok, jangan GR yah.. " jawab reno
adinda semakin kesal karena ada reno yang selalu ikutin dia jalan, akhirnya adinda berlari untuk menjauh dari reno, namun reno juga ikut berlari mengejar adinda.
"ihhh kak reno masih mau ngeles tidak ngikutin aku hahhh, sudah kelihatan kalau kakak ikutin aku" ucap adinda sambil marah marah ke reno
"kamu menangis aja din... jangan di tahan lagi" ucap reno sambil memeluk adinda
"enggak... lepas... lepas... lepasin aku kak" ucap adinda sambil meronta ronta dari pelukan adinda
"enggak... aku tidak akan lepasin kamu din... aku tahu kamu lagi sedih" jawab reno
"kakak kenapa peduli sama aku, aku sama kakk itu tidak ada hubungan apa apa, kakak itu akan menjadi dosen ku, tidak pantas dosen dengan mahasiswa nya berprilaku seperti ini" ucap adinda sambil minta di lepas dari pelukan rendy
"aku tidak peduli dengan fikiran dan omongan orang lain tentang kita din, yang aku tahu kamu anak yang baik dan kakak nyaman di dekat kamu" jawab reno
"maaf kak... aku ingin sendiri, tolong tinggalin aku sendiri" ucap adinda
"tidak din... tidak baik kalau lagi sedih itu sendirian, itu akan membuat kamu jadi banyak berfikir yang enggak enggak. aku tidak mau sampai kamu kenapa napa, kamu itu butuh teman yang bisa menemani dan juga mendengar kan isi hati kamu, aku akan disini dan aku akan membuat kamu senyum lagi" jawab reno
adinda hanya diam sambil menatap wajah reno, dia merasa apa yang di omong reno itu ada benarnya. reno juga langsung menggandeng tangan adinda untuk berjalan bersama sama, adinda juga sudah tidak menolak, tidak bisa di pungkiri kalau dia kini merasa sangat bahagia.
__ADS_1
reno berjalan sambil ngajak adinda bercanda, agar senyum adinda bisa kembali di wajah nya. walaupun susah membuat adinda tersenyum lagi tapi dia tidak menyerah untuk membuat adinda senang kembali.
reno ngajak adinda berjalan dan berlari bersama, hingga kini mereka terlihat kalau mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, karena kemana mana reno selalu menggenggam erat tangan adinda dan dia tidak melepaskan genggaman itu.