Ibu Untuk Putraku

Ibu Untuk Putraku
BAB 54


__ADS_3

Mobil satria sudah sampai di depan rumah mewah miliknya, rumah milik satria memang tidak sebesar rumah milik ramma tapi jika di bandingkan dengan rumah alin ini dua kali lipatnya. Tapi sayang satria sudah tidak ada orang tua, orang tuanya meninggal 1 tahun yang lalu, jadi kini dia harus tinggal sendiri di rumah sebesar ini.


“wahh rumah bapak besar juga yah... tapi kenapa sepi banget yah pak” ucap alin sambil melihat kekanan dan kekiri


“yah memang seperti ini lin, pembantu pulang dan pergi, orang tua saya sudah meninggal 1 tahun yang lalu. Yah jadi sepi rumahnya, hanya tinggal saya sendiri di sini” jawab ramma sambil membukakan pintu


“wahhh kalau saya tinggal di sini mah betah banget, rumahnya bagus, luas tapi sayang sih sepi” ucap alin sambil langsung duduk tanpa di persilahkan dulu sama satria


“kamu ke sini itu mau santai-santai atau mau ngebantuin saya packing” ucap satria sambil mendekatkan wajahnya ke samping wajah alin


Alin yang tiba-tiba menoleh sontak terkejut karena melihat wajah satria yang sangat dekat dengan wajahnya, bahkan jika alin tidak menahan gerakannya maka wajahnya akan bersentuhan dengan wajah satria.


“ihhh pak satria apa-apaan sih... kalau kita tadi sampai ciuman bagaimana” ucap alin kesal


“yah tidak apa-apa kan namanya juga tidak sengaja, lagian kamu ngapain tadi tiba-tiba menoleh ke arah sini. Untung tadi saya siap menghindar” ucap satria sambil menahan rasa malunya karena jujur dia tadi juga terkejut


“yah sudah ayo, saya bantu bapak untuk segera berkemas. Dimana tempatnya?” ucap alin sambil berdiri


“yah sudah ayo ikut saya ke kamar atas sekarang” ucap satria dengan santai


“hahhh apa, kamar, ngapain kita ke kamar, jangan pak, jangan apa-apakan saya. Saya belum ada pengalaman sama sekali pak, beneran deh sumpah... jangan saya pak” ucap alin dengan sepontan, sambil memegang dadanya dengan ke dua tangannya itu.


Satria yang mendengar ucapan alin itu sontak langsung mengetok jidat alin dengan jari telunjuknya.


Awwwuuu (pekik alin sambil memegang jidatnya)

__ADS_1


“fikiran kamu jalan-jalan kemana tadi sih lin, sampai nemu aja omongan kaya gitu. Saya ajak kamu ke kamar untuk ngebantu saya packing bukan untuk ngapa-ngapain, baju saya itu ada di kamar semua masa iya saya naruh baju di ruang tamu kan tidak mungkin” ucap satria yang sewot


“ehhh iya yah pak, maafin alin yah pak. Yah sudah ayo sekarang kita kekamar bapak” ucap alin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


“sudahlah terserah kamu saja lah lin, ayo cepat ikutin saya” ucap satria sambil jalan duluan ke kamarnya


********


Ayu dan bram juga sudah sampai di rumah mewah milik bram, bram tinggal bersama mamanya saja dan beberapa pembantu yang mengurus rumah mewah itu, Mereka langsung memutuskan untuk masuk kedalam rumah.


“Assalamualaikum” ucap ayu dan bram saat memasuki rumah


“waalaikum salam” jawab perempuan paruhbaya sambil nyamperin bram dan ayu


“ma.. bram mau packing yah, karena kita mau kumpul di kantor sekarang” ucap bram sambil mencium tangan mamanya


“nama saya ayu tante, saya itu asisten nya pak bram tante, buk.....” sebelum ayu selesai ngomong, mamanya bram langsung memotong omongan ayu


“ohh jadi kamu macarin asisten kamu sendiri bram, mangkanya kamu makin rajin kerjanya, ternyata ayu salah satu alasannya... oke oke mama tahu” ucap mama bram sambil manyenggol tangan bram


“ma.. sudahlah.. bram sama ayu mau packing dulu, anak-anak sudah menunggu kita di kantor loh ma..” ucap bram yang memohon sama mamanya


“haduhh bram, kamu itu tidak manja bisa tidak sih.. packing sendiri emang tidak bisa, biarkan ayu ngobrol dulu sama mama, secara ini pertama kalinya kamu bawa perempuan untuk ketemu mama, mama seneng banget bram. Setidaknya kamu berhasil mematahkan asumsi mama kalau kamu itu belok bram alias tidak suka perempuan” ucap mama bram yang berhasil membuat ayu menahan senyumnya


“mam.... plis mam jangan di terusin, bram malu sama ayu” ucap bram yang beneran malu sekarang

__ADS_1


“tante... ijinin ayu untuk membantu pak bram packing yah, itung-itung ini latihan buat ayu kalau kelak ayu jadi istrinya pak bram biar sudah terbiasa” ucap ayu sambil memegang tangan mama bram


(yuuuu loe tadi ngomobg apaan sih... sumpah gak jelas banget, ini lagi kenapa mulut tidak bisa di kontrol sihh..) suara hati ayu


“iya deh, kamu menang sekarang, tapi kamu harus janji yah kalau kamu akan sering main ke rumah tante ini, kita ngobrol bareng, belanja bareng, makan bareng. Bagaimana setuju” ucap mama bram pada ayu


“iya-iya tante ayu setuju, ayu janji akan sering main dan ketemu tante di rumah ini” ucap ayu pada mama bram


Ayu dan bram langsung menuju kamar atas, yang lebih tepatnya kamar pribadi bram untuk menyiapkan segala kebuthan bram saat perjalanan besok.


Ayu mencarikan baju-baju yang sekiranya cocok untuk beberapa pertemuan yang akan mereka lakukan saat perjalanan bisnis.


Ayu juga tidak pernah lupa untuk selalu membawa kotak p3k dalam setiap perjalanan kemanapun itu, karena menurut ayu kita tidak pernah tahu kejadian apa saja yang menimpah diri kita, mangkanya untuk pertolongan pertama itu sangat penting


******


Vita dan ramma datang lebih dulu ke kantor, setelah itu di susul alin dan satria, yang paling akhir ayu dan bram. Mereka sudah menyimpan koper mereka di ruangan masing-masing dan setalah itu mereka menyelesaikan semua berkas yang akan di bawa besok.


Mereka selesai hingga larut malam, bahkan vita, alin, dan ayu sudah ketiduran di meja mereka masing-masing. Sedangkan ramma, satria dan bram masih bisa melanjutkan tugas itu sampai selesai.


Setelah berkas-berkas itu selesai mereka baru sadar kalau para perempuan itu sudah berada di alam mimpinya masing-masing, hingga terdengar suara dengkuran mereka yang tandanya mereka sangat kelelahan sekarang.


Vita di gendong ramma untuk masuk ke kamar yang ada di ruangan nya, begitupun juga dengan alin dan ayu yang sudah berada di gendongan atasan mereka masing-masing, untuk di taruh di kamar yang ada di ruangan mereka masing-masing.


Mungkin yang bisa tidur nyenyak malam ini Cuma para perempuan dan ramma saja, karena dia bisa tidur 1 ranjang bersama vita. Jika satria dan bram harus rela tidur di soffa ruang kerja mereka karena tidak mungkin mereka tidur bersama asisten mereka dalam 1 ranjang.

__ADS_1


Setelah pagi mereka langsung sholat berjamaah dan langsung siap-siap untuk berangkat ke bandara, mereka memang sengaja untuk tidak sarapan di kantor dulu karena takut tidak keburu, mereka lebih pilih makan roti yang mereka beli di bandara. Karena pesawat yang mereka naiki kali ini bukan pesawat pribadi ramma, melainkan hanya pesawat bisnis class yang berangkatnya sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan.


__ADS_2