
adinda masih bermain di ruang kerja reno, tanpa dia sadari kalau sebenarnya dia sangat senang berada di dekat reno. tapi dia masih berfikir kalau tujuan dia kali ini adalah untuk menjaud dari reno.
"yah sudah deh.... karena urusan aku sudah selesai jadi aku mau pamit ke asrama aja kak" ucap adinda sambil beranjak untuk meninggakkan ruangan reno
"tunggu.... jangan pergi din.... temani aku di sini, aku lagi butuh teman untuk bisa memberikan aku semangat, kamu mau tidak temani aku sebentar di sini" ucap reno sambil memegang tangan adinda
"ohhh oke, aku temani kakak di sini" jawab adinda
reno langsung tersenyum saat adinda mau menyanggupi kalau dia mau menemani di dalam kantor.
"yah sudah... kembali kerja sana, aku akan tunggu kakak di sini, sambil bermain ponsel " jawab adinda
"terima kasih " ucap reno dan dia langsung kembali ke tempat duduknya
reno sangat fokus dengan kerjaan yang ada di depan dia, karena bukan hanya berkas kampus saja, tapi melainkan berkas berkas rumah sakit juga, yang meliputi daftar riwayat penyakit pasien yang akan di operasi reno.
reno sangat terlihat lelah, dia berkali kali memegang pelipisnya sambil sedikit memijat kepalanya, yang mungkin terasa sakit.
adinda yang bilang ingin bermain ponsel. sebenarnya itu hanya aladan adinda saja agar dia bisa mencuri pandang untuk melihat reno yang sedang bekerja.
(kak reno sedang kerja apa sih, kok serius banget.... bahkan dia sedari tadi tidak ngajak aku ngobrol) suara hati adinda
(*kalau melihat kak reno yang seperti ini. aku jadi kasian sama dia, bisa bisa dia sendiri yang sakit. bahkan air minum di gelas dia sudah kodong dan dia tidak sempat untuk menuang air ke gelas dia kembali)
__ADS_1
(apa setiap hari kak reno seperti ini yah. pagi sampai sore dia ngajar, malam dia harus lembur dengan tugas di rumah sakit, bahkan bisa di bilang tidak ada waktu dia untuk istirahat)
(apa aku sudah jahat banget yah... malah membuat beban fikiran untuk kak reno, trus aku harus apa coba... minta maaf gitu karena sudah berbohong tentang perasaan, aku dulu marah karena kak reno tidak mau jujur tapi sekarang aku yang tidak mau jujur sama dia, kalau sebenarnya aku masih sangat mencintai dia)
(aku harus apa yah sekarang, apa aku harus jujur kembali buat bilang kalau aku suka sama dia, dan aku ingin terus berada di samping dia, agar kita bisa sama sama menjaga pola hidup sehat)
(tapi bagaimana dengan rasa dakit yang aku rasakan ini yah.... dan apa kak reno mau menerima aku. tapi yah sudah deh... untuk urusan nanti yah nanti, sekarang kerjakan dulu apa yang ada di depan mata, hidup mati ada di tangan tuhan, orang segat aja bisa mati. )
(oke adinda kamu sehat, jangan berfikiran macam macam, kamu sudah pernah merasakan hal yang lebih sakit di banding ini, jadi sakit karena rasa capek bukanlah hal yang serius. benar kata kak rendy, kak reno adalah dokter jadi dia bisa membantu aku untuk tetap sehat*)
adinda langsung berjalan mengambil gelas di meja reno, dan dia mengisi air putih untuk reno.
"kak minum dulu.... kamu sudah bekerja dari tadi, apa kamu tidak lelah. nie minum dulu" ucap adinda sambil menyodorkan air minum untuk reno
reno melihat ketulusan adinda itu, dan dia sangat senang karena adinda sudah mau perhatian kembali sama dia. bahkan adinda juga memberikan senyuman untuk reno.
"sama sama.... kakak lagi ngerjakan apa sih, sampai sesibuk itu. bahkan kakak tidak ngajak aku ngobrol dari tadi, aku berasa jadi pajangan di ruangan ini" ucap adinda sambil berjalan ke arah jendela
reno memang terlihat lelah sekali, dan dia menutup berkas berkas itu lalu berdiri. dia meregangkan semua tubuhnya dan sedikit memijat tengkuk leher nya yang tersa sakit.
reno memeluk adinda dari belakang, dan adinda sangat terkejut karena tiba tiba reno menyandarkan dagunya di bahu adinda. awalnya adinda reflek ingin melepaskan pelukan reno itu, namun dia tidak ada tenaga buat melawan tubuh reno yang lebih besar dari dia.
__ADS_1
"maaf din... kamu jangan bergerak dulu, biarkan sejenak seperti ini, aku sangat lelah karena semua tugas tigas itu, aku benar benar butuh kamu untuk menjadi penyemangat ku" ucap reno sambil mempererat pelukan dia dan sambil memejamkan mata
adinda menerima permintaan reno itu, dia cukup diam saja karrna dia juga sangat senang bisa berada di dekat reno dan berada di pelukan reno.
"kakak kenapa tiba tiba peluk aku seperti ini, apa kakak mu mengambil ke untungan dari aku" ucap adinda pada reno
"karena kamu adalah orang yang aku cintai din, bisa berada di dekat kamu membuat aku semangat untuk melakukan semua aktivitas apa pun, aku sangat sayang sama kamu din, tolong jangan tolak aku lagi. aku bisa mati kalau kamu tolak terus, aku akan memberikan bukti kalau aku benar benar tulus sama kamu" jawab reno
"bukti....? bukti apa?" tanya adinda
"aku akan bilang sama om ramma, kalau aku ingin menjadikan kamu istri aku, dan aku akan menjadikan kamu satu satunya wanita yang aku cintai di muka bumi ini" jawab reno
"hahhh maksud kakak apa....? kakak mau melamar aku? " ucap adinda
"iya aku akan melamar kamu, biar kita bisa tinggal satu rumah, dab kamu tidak perlu lagi merasa takut kehilangan kasih sayang rendy, karena kamu akan mendapatkan kasih sayang dari aku sebagai suami kami" jawab reno
"tapi aku masih baru saja kuliah kak... mana mungkin aku menikah, trus bagaimana dengan kuliahku" ucap adinda yang terkejut
"yah kamu tetap menjadi adinda mahasiswa kedokteran dan aku tetap menjadi dosen kamu, itu tidak akan berubah, lagian kalau kamu masih belum siap untul ngasih tahu ke semua orang, kamu bisa menyembunyikan status pernikahan kita" ucap reno
adinda tidak bisa menjawab atas ucapan reno tadi, karena dia benar benar merasa sedang tersambar petir di siang bolong. dia mencoba mencerna omongan reno tadi, dan mencoba mencari tahu tentang arah dari omongan yang baru saja di ucapkan reno.
(kenapa jadi begini, kemarin kita berantem hebat, bahkan aku fikir dia akan marah sama aku, tapi kenapa berakhir kak reno ingin melamar aku, aku benar benar bingung harus menjawab apa sekarang) suara hati adinda
__ADS_1
"kamu kenapa diam saja din.... apa kamu mau menolak aku lagi, din... aku akan terus berusaha dampai kamu mau" ucap reno
adinda mengajak reno untuk duduk di soffa, karena dia benar benar butuh duduk agar bisa berfikir jerni.