Ibu Untuk Putraku

Ibu Untuk Putraku
BAB 102


__ADS_3

setelah maira tenang dan dia sudah bisa berbicara dengan normal lagi, ramma mulai bertanya kepada maira, sebenarnya apa yang terjadi, dan kenapa dia bisa berantem sama bram.


"dek.... kamu kenapa, abang tidak pernah melihat maira seperti ini, bahkan jarang sekali maira nangis kaya gini, terakhir kali abang lihat maira nangis itu saat mama dan papa meninggal dan setelah itu abang tidak pernah melihat maira nangis" ucap ramma sambil duduk dan memegang bahu maira


"kamu kalau ada apa apa itu cerita sama abang, karena kamu itu tanggung jawab abang, walaupun mama ratih dan papa willy sudah menganggap kita semua adalah anaknya, tapi tidak bisa di pungkiri kalau hanya kamu saudara kandung abang, adik abang "


"maira.... apa kamu suka sama bram, apa kamu memiliki rasa buat bram. dekk... jawab abang, jangan hanya diam," ucap ramma


"abang..... abang benar.... maira sayang sama kak bram, maira cinta sama kak bram. tapi kak bram selalu anggap maira adik dia kak, rasa ini hanya maira sendiri yang punya" jawab maira sambil menangis dan desenggukan


"dek.... cinta sama orang itu boleh, tapi kalau memaksakan orang itu mencintai kita itu yang tidak boleh. sejak kapan maira punya perasaan ini, dan kenapa maira tidak pernah bilang sama abang" ucap ramma


"perasaan ini sudah lama maira pendam bang, maira terlalu takut untuk mengutarakannya, karena maira sadar waktu itu sudah ada perempuan lain yang mengisi hati nya, maira sangat sakit waktu itu, maira tidak tau harus ngapain lagi. mangkanya waktu itu maira minta abang untuk ngijinin maira pergi dari indonesia, karena maira ingin lupakan dia bang, tapi sayangnya dia tidak mudah untuk di lupakan, maira di sana itu hanya untuk melarikan diri saja, agar maira tidak sakit saat melihat dia jalan dengan perempuan lain" jawab maira sambil air mata yang menetes deras


"tapi abang dan kak satria hubungin maira, dan minta maira untuk pulang ke sini lagi."

__ADS_1


"tapi kenapa kamu pulang dek, kalau kamu tidak mau juga tidak apa apa. abang waktu itukan tidak memaksa kamu" ucap ramma


"sebenarnya maira juga tidak mau pulang bang, tapi maira juga tidak ingin kalau kak bram selalu terpuruk karena kepergian perempuan itu. maira tidak tega bang, maira bukan orang jahat yang bisa diam saja saat orang lain menderita. mama sebelum meninggal pernah bilang sama maira bang, jika ada orang lain yang membutuhkan bantuan kita, jangan pernah di tolak, selagi kita masih sanggup untuk membantu orang itu, dan jangan pernah simpan sifat egois dan sombong pada diri kita, karena kita masih butuh bantuan orang lain saat kita susah nanti. " jawab maira sambil mengusap air matanya


"maagkan abang dek, seharusnya abang tidak kasih tahu kamu tentang masalah ini, abang yang salah. sekarang kamu mau apa, kamu mau balik ke luar negeri lagi? " ucap ramma


"tidak bang, abang tidak salah... mungkin ini yang sudah tuhan gariskan untuk maira, maira tidak ingin kabur lagi bang, maira ingin tetap di sini dan menyelesaikan semua masalah ini, karena maira sudah janji, untuk bisa membuat kak bram selalu tersenyum walaupun nanti maira yang akan sakit lagi. tapi maira akan mencoba menahan semua rasa ini bang, abang mau kan nanti selalu peluk maira saat maira sakit, saat maira butuh dukungan abang, karena maira tidak akan kuat bang jika sendirian, maira butuh abang yang bisa peluk maira setiap saat" jawab maira sambil tersenyum di depan ramma tapi mata nya menunjukan kesedihan yang mendalam


"maira tidak perlu minta itu ke abang, abang janji akan selalu ada buat maira, bahkan sekarang bukan hanya abang yang ada di sini buat maira. ada vita, mama ratih dan papa willy yang selalu bisa mendukung kamu dek. kamu adik abang, darah yang mengalir di tubuh kamu itu sama seperti darah yang mengalir di tubuh abang, jadi kalau kamu merasakan sakit abang juga akan merasakannya, jadi kamu jangan pernah sembunyikan apa apa lagi dari abang yah... " ucap ramma sambil memeluk adiknya itu


"iya abang akan turutin semua kemauan kamu, sudah sekarang jangan nangis lagi, senyum. abang itu paling suka lihat maira senyum, senyum ini itu mirip sekali dengan senyum mama. tapi maira jangan pernah sungkan untuk menangis di depan abang, karena bagi abang kamu itu adik kecil abang yang tidak akan pernah besar, jadi kalau mau menangis yahh menangis aja, jangan pernah di tutup tutupin" jawab ramma sambil mencubit pipi maira


"terimakasih yahh abang, maira sayang banget sama bang ramma" ucap maira yang sudah bisa tersenyum lagi


"abang juga sayang sama kamu dek" jawab ramma

__ADS_1


(abang janji akan selalu lindungi kamu dek, abang akan menjadi orang pertama yang akan memeluk kamu saat hati kamu sakit. maafkan abang dulu yang tidak peka dengan keadaan kamu, tapi sekarang abang akan tutup semua kesalahan abang sama kamu, kamu jangan pernah merasa sendirian lagi, abang akan selalu ada di samping kamu) suara hati ramma sambil memeluk tubuh maira


"yah sudah, ayo kita kembali ke lantai atas, semuanya sudah menunggu kita di sana, tapi sebelum itu kamu pergi ke kamar mandi dulu cuci muka, biar agak sedikit tertutup ini pipi dan hidungnya yang merah" ucap ramma sambil menarik hidung maira


"ihhhhh abang, sakit tau... hidung ku. main tarik tarik aja, kalau lepas bagaimana? uhhhf" jawab maira sambil memegang hidungnya yabg di tarik ramma


"yahh kalau lepas di pasang kembali, kan gampang, ohhh iya lain waktu nanti kenalon reno ke abang yah... " goda ramma


"apaan sih... reno itu hanya teman buat maira, dia anak nya baik jadi maira mau berteman sama dia, lagian reno itu ketua di dalam kelompok kkn kita nanti, dan maira sebagai wakilnya, vita sebagai bendahara dan alin sebagai seketaris" jawab maira


"he he he he iya iya, yang penting adik abang ini bahagia.... yah sudah sana cepat pergi ke kamar mandi" ucap ramma


"iya" jawab maira


maira sudah meresa lebih baik, karena dia sudah mencurahkan semua isi hatinya ke ramma.

__ADS_1


__ADS_2