
setelah mengikuti pelajaran pertama, adinda langsung ingin pergi ke ruang pak dekan untuk memenuhi panggilan orang tua, walaupun ramma dan vita masih belum sampai, adinda ingin pergi duluan agar tidak di anggap penakut sama angel dan orang tuanya.
"din... kamu mau kesana dulu? " ucap jihan
"iya han... mau kapan lagi... ini juga pasti mereka sudah di sana" jawab adinda
"tapi... apa orang tua kamu sudah sampai?" tanya icha
"kayaknya belum, soalnya mereka tadi bilang baru mau jalan dari kantor, jarak kantor ke sini kira kira 1 jam kalau tidak macet" jawab adinda
"yah sudah... sementara waktu. kita yang akan temani kamu ke kantor pak dekan din" ucap kiki
"iya din... yah sudah kita jalan sekarang. kamu bilang aja. kalau orang tua kamu masih di jalan" ucap icha
"iya terima kasih yah... sudah mau membantu dan menemani aku" jawab adinda
"kita akan selalu ada di samping kamu din, jadi kamu tenang aja, anggap semuanya akan baik baik saja dan berjalan sesuai dengan keinginan kita" ucap jihan
mereka langsung barangkat bersama ke lantai satu untuk memenuhi surat panggilan itu. walaupun ramma dan vita belum datang, tapi adinda masih memiliki sahabat yang bisa menguatkan dia.
tokkk... tokk... tok... pintu ruangan di ketuk adinda
"masuk" ucap dari dalam
adinda dan teman temannya masuk ke dalam ruangan dekan itu, mereka melihat sudah ada pak dekan, angel, dan papanya angel.
"ohhh ini dia... berani juga nunjukin batang hidung nya" ucap angel dengan angkuh
"maaf pak... saya telat, tadi saya ada jam kuliah pak, dan ini baru selesai " ucap adinda
__ADS_1
"yah sudah duduk kamu dinda, mana orang tua kamu, kenapa belum datang" tannyadekan
"yahh mana berani orang tuanya datang pak, secara... siapa gitu yang mereka lawan... iya tidak pa... " ucap angel, dan papa angel hanya senyum sinis ke arah adinda dan teman temannya
"orang tua saya masih di jalan pak... tadi mereka harus ke kantor dulu untuk menyelesaikan beberapa berkas pak, jadi mohon pengertiannya untuk menunggu sebentar " ucap adinda
"iya pak... orang tua adinda pasti datang kok... mereka sangat sayang dengan adinda jadi mereka tidak akan ingkar janji, mereka pasti datang" ucap kiki yang membela adinda
"ehhh loe... loe itu memiliki kepentingan apa sih di sini, ngapain ikut campur dengan urusan ini, mau loe nanti bernasib seperti sahabat kalian ini hahh" teriak angel pada teman teman adinda
"emang kamu fikir... kita takut gitu... kami itu tidak seperti teman teman kamu yang cuma ada di saat kamu senang aja, di saat seperti ini mana teman teman yang kamu banggakan, tidak ada kan... " ucap jihan
"kita di sini untuk adinda... karena kita sahabat nya adinda, sahabat itu selalu ada di saat sedih, susah, dan bahagia... tidak kaya sahabat kamu yang cuma ada di saat kamu bahagia, giliran di saat seperti ini mereka pada ngilang semua, dan hasilnya kamu sendirian... " ucap icha
"awas kalian semua... " teriak angel
"pak dekan... mahasiswa macam apa seperti ini, apa fakultas ini menciptakan mahasiswa preman seperti mereka ber 4, dan bapak jangan sembarangan memarahi angel putri saya, karena saya bisa saja menuntut fakultas ini terutama bapak karena sudah berani berbuat kasar sama mahasiswi " ucap papa angel
"maaf pak... bukan seperti itu maksud saya, saya hanya mencoba menenangkan mereka saja, jangan tuntut saya" ucap dekan
"papa sama anak sama saja" celetuk adinda dan menunjukan wajah tidak suka
"ngomong apa kamu... kalau ngomong yang keras, biar saya dengar. jangan cuma berani ngomong di belakang saja. lagian mana sih orang tua kamu, saya masih harus ke kantor lagi, karena saya sangat sibuk kerjaan saya masih banyak. saya tidak akan membiarkan waktu saya yang berharga ini terbuang sia sia karena menunggu orang tua kamu yang tidak penting itu" ucap papa angel
"maaf yah pak... yang menyuruh bapak menunggu di sini juga siapa, bukannya orang tua saya nanti akan menghadap pak dekan buakan bapak, jadi ngapain bapak menunggu orang tua saya" ucap adinda dengan senyum yang palsu
"adinda... jangan seperti itu... kamu harus hormat sama orang yang lebih dewasa, jadi jaga omongan kamu" ucap dekan
"pak... kenapa bapak lebih membela mereka sih... apa bapak takut dengan ancaman mereka... pak kami di sini juga sama sama mahasiswa, dan kami juga sama sama membayar, kenapa bapak tidak bisa adil sih... apa kekayaan dan jabatan itu bisa mempengaruhi keadailan di fakultas ini" ucap icha yang tidak suka dengan sikap dekan mereka
__ADS_1
"ehhh anak miskin... jangan songong deh loe... inget yah... gue tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang. lagian mana sih bokap loe... bokap gue juga masih banyak kerjaan lain yah... tidak untuk menunggu di sini saja" ucap angel sambil ngegebrak meja
"katanya boss... kenapa masih banyak kerjaan, bukannya bos itu hanya duduk dan menerima hasil saja yah" ucap jihan
"loe... semua makin berani yah sama kita. gue habisin loe.... " jawab angel sambil menunjuk adinda dan teman temannya
"turunkan tangan kamu itu, bersikaplah lebih sopan sama mereka... " ucap ramma yang datang bersama vita
semua orang yang sedang bersihtegang itu langsung menoleh ke arah sumber suara itu, dan semua orang menjadi terkejut karena kini yang datang adalah keluarga dirgantara yang biasanya ada di TV.
"papi.. mami... " ucap adinda dengan pelan
"din.... ini bukannya keluarga dirgantara yahh yang biasaanya ada di TV itu, kenapa mereka ada di sini" ucap jihan yang berbisik sama adinda
"tenang aja.... kita akan jadi penonton di sini, biarkan mereka yang bermain sekarang" jawab adinda
"maksud kamu apa din.... aku masih tidak faham" tanya icha
"lihat aja" jawab adinda
*******
ramma datang bersama dengan dokter bimmo dan juga reno, mereka sebenarnya sudah datang sejak tadi, dan mereka juga sudah mendengar omongan mereka semua lewat CCTV yang ada di ruangan dekan tersebut.
karena vita sudah tidak tahan melihat pitrinya di bentak dan katain seperti itu, mereka langsung memutuskan untuk segera masuk ke dalam ruangan itu, dan menghentikan semuanya.
dokter bimmo sendiri juga tidak menyangka, kalau dekan yang selama ini di percaya, mampu berbuat tidak adil dengan mahasiswa. hanya karena ancaman sampah seperti tadi, bisa membuat dekan tersebut meruntuhkan tugas dia sebagai seorang pemimpin di dalam fakultas kedokteran.
semua orang masih tertegun Karena kedatangan orang orang penting tersebut, bahkan dekan itu juga khawatir kalau apa yang dia katakan tadi di dengar sama dokter bimmo yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik perusahaan.
__ADS_1