Ibu Untuk Putraku

Ibu Untuk Putraku
BAB 150


__ADS_3

setelah sampai rumah, maira mengajak rendy untuk ganti baju dulu, dan maira membawa beberapa baju rendy untuk di bawa ke rumah sakit, dia juga mengambil beberapa baju ramma, untuk ganti di rumah sakit.


"tante... kita emang mau kemana, kok tante membawa baju rendy dan papi" ucap rendy yang penasaran


"kita mau ke rumah sakit sayang... kita temani mami vita di rumah sakit" jawab maira


"hahhh.... mami sakit apa tante, kenapa harus di bawa ke rumah sakit" ucap rendy


"mami mau melahirkan sayang, jadi adek rendy sebentar lagi akan keluar dari perut mami" jawab maira


"apa... jadi rendy sebentar lag uhhh bisa lihat adik rendy dong... dan rendy sebentar lagi bisa main bareng adik" ucap rendy yang kesenengan


"yah sudah sekarang rendy kebawa temui om bram yah, biar tante beresin baju rendy dan papi dulu dan setelah itu kita berangkat ke rumah sakit, karena semuanya sudah ada di sana" jawab maira dan rendy langsung lari ke bawah untuk menemui bram yang menunggu di lantai bawah


setelah beres beres dan memasukan semua keperluan rendy dan juga ramma ke dalam tas, dia langsung ikut menyusul kebawah dan berangkat ke rumah sakit kembali.


di dalam perjalanan rendy selalu tanya tentang mami dan calon adik barunya itu, dan rendy sendiri sudah menyiapkan nama untuk adiknya.


setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit rempat vita di rawat. dan mereka bertiga turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sakit, rendy sendiri sudah tidak sabar ingin melihat maminya, sehingga dia lari sambil menarik tangan maira dan bram.


"sayang... hati hati, jangan lari lari, kalau jatuh bagaimana" ucap maira pada rendy


"iya rendy... sini om bram gendong aja yah, biar rendy tidak lari lari" ucap bram


"tidak mau om, rendy itu mau jadi kakak, jadi rendy harus mandiri, karena rendy akan menjaga adik rendy" ucap rendy sambil kegirangan


setalah berjalan di lorong rumah sakit, mereka sampai di depan ruang rawat vita, dan mereka langsung masuk.

__ADS_1


"mami.... " ucap rendy saat masuk ke dalam ruangan vita


"rendy jangan lari nak, nanti kamu jatuh bagaimana" ucap vita yang melihat rendy hampir tersandung kakinya sendiri


"papi... bantuin rendy naik ke sini, rendy mau dekat dengan mami... rendy juga mau ngomong sama adiknya rendy" ucap rendy sambil menarik tangan ramma


"iya iya... sini papi angkat" jawab ramma


dan rendy langsung naik ke atas ranjang vita, dia langsung memeluk vita dan mengeluas perut vita, rendy selalu ajak adiknya itu ngomong.


"hay... Adinda.. ini kakak rendy, kamu kenal kan sama suara kakak, kamu jangan nakal yah di dalam perut mami, Adinda kamu jangan buat mami sakit yah, kasian mami perutnya sakit, kalau Adinda mau keluar tidak apa apa tapi jangan buat mami sakit. kakak rendy tungguin Adinda yah.. " ucap rendy pada perut vita


"Adinda? " semua orang bertanya pada rendy


"iya mami papi, bolehkan adik rendy di kasih nama Adinda. harus boleh yah papi, tidak boleh tidak, harus ada nama adindanya" jawab rendy sambil melihat ke vita dan ramma


dan semua orang juga setuju dengan nama yang di kasih rendy untuk adiknya. dan mereka semua selalu bercanda agar vita bisa melupakan rasa sakit di perut nya, dan agar vita sendiri bisa rileks dan tidak tegang sebelum melahirkan.


******


setelah sholat maghrib berjamaah tiba tiba vita meringis kesakitan karena tiba tiba perut nya terasa sangat dan mulai menegang. melihat vita yang sudah nangis kesakitan, kini semuanya ikut pamik, dan alin langsung berteriak memanggil dokter, sedangkan ramma mencoba menenangkan vita dan dia terus menekan tombol untuk memanggil dokter.


tak berapa lama dokter dan perawat datang dan langsung memeriksa keadaan vita, lalu dokter menyuruh perawat itu membawa ke ruangan bersalin.


ramma menggendong tubuh vita dan di taruhbya di kursi roda, dan setelah itu mereka semua pergi ke ruangan bersalin, semuanya menunggu di depan tapi ramma memberanikan diri untuk ikut masuk ke dalam ruangan, karena dia ingin menemani vita.


semua keluarga berharap cemas dan mereka semua sebenarnya panik namun mereka berusaha untuk bisa bersikap biasa saja, agar tidak membuat semuanya ikutan panik juga.

__ADS_1


mereka semua terus berdoa, berjalan mondar mandir, sambil menunggu pintu ruangan itu di buka dan salah seorang suster membawa kabar kalau vita dan bayinya sehat dan selamat.


"haduh... itu kenapa lama banget sih di dalam, tidak tahu apa mama di sini khawatir sama vita" ucap ratih yang sudah tidak bisa menahan cemaanya lagi


"mam... sabar dulu, baru 2 menit, mbak vita di bawa masuk... pasti sebentar lagi pintunya di buka" jawab maira untuk menenangkan ratih


setelah beberapa menit mereka menunggu akhirnya pintu ruangan itu terbuka juga, tapi semua keluarga terkejut karena melihat siapa yang keluar dari ruangan itu.


"hahhhh bang ramma.... sus kenapa kakak saya pingsan begini" tanya maira yang terkejut melihat ramma pingsan dan di bawa keluar dengan kursi roda


"iya mbak, tadi bapak ini tidak kuat melihat istrinya melahirkan, jadi dia tiba tiba pingsan tidak sadarkan diri" jawab suster


"ha ha ha ha ha Ya Allah bang... cupu banget sih kamu bang... yah sudah sus bawa dia ke ruang rawat aja, nanti juga bangun bangun sendiri" ucap maira yang sudah tidak bisa menahan tawanya


"ramma... ramma... tadi semangat banget mau nemanin vita melahirkan, tapi dia tepar duluan. yah sudah biar mama yang temanin vita di dalam, kasian dia sendirian" ucap ratih dan dia langsung masuk ke dalam ruangan vita


semua keluarga yang tadinya khawatir kini malah menertawakan ramma yang pingsan gara gara nemenin istrinya melahirkan.


rendy hanya memandang aneh sama papinya, entah apa yang ada di fikirannya, karena dia kini melihat papinya dengan geleng geleng sendiri


dan tak lama suara bayi menangis pun terdengar dari dalam ruangan, dan semuanya kini salang berpelukan karena bahagia, karena vita sudah melahirkan dengan selamat. ratih lalu keluar ruangan dengan tangis haru dan juga senyum, karena dia kini sangat bahagia karena memiliki cucu perempuan yang sangat cantik.


"abang mu belum sadar juga" tanya ratih pada maira


"tidak tahu mam... kayaknya sih belum" jawab maira


"sudah... mam... ramma sudah sadar kok" ucap ramma yang datang dengan sempoyongan dan dia memegang jidatnya yang terasa sedikit sakit

__ADS_1


"hah... syukur lah... yah sudah masuk sana, kamu adzanin anak kamu, jangan sampai banti mama suruh satria kalau tidak bram yang adzanin anak kamu, masa nungguin vita begitu saja di tinggal pingsan " jawab ratih sambil geleng geleng kepala


__ADS_2