Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Gegara monyet.


__ADS_3

"Apaan ini?"


Litania bertanya ketika sudah tiba di meja yang telah disulap sedimikian rupa. Makanan ala-ala Korea sudah tersaji di depan mata. Ya, karena kafe yang mereka datangi adalah tempat nongkrong para K-Popers.


Tumben, biasanya aja ngomel kalau aku terlalu halu dengan drakor. Nah, ini? Malah di bawa ke sini. Aku 'kan jadi kangen suami haluku.


Ck! Litania pijit pelipisnya. Mendadak ingin ketemu Siwon. Astaga! Eling eling.


"Kenapa? Gak suka, ya? Apa kamu mual? Apa perlu kita ganti menu?" Chandra tampak panik karena Litania hanya mematung. Sebuket mawar merah yang harusnya ia serahkan kini malah berada di atas kursi. Pria itu sibuk merangkul pundak dan tangan satunya memegang perut Litania yang sudah sedikit membuncit.


Ish! Gak peka. Aku ini lagi kaget, bukan sakit. Litania membatin seraya berdengkus kecil. Ia lepaskan rangkulan Chandra. Senyum setengah terpaksa pun tercipta.


"Aku gak apa-apa, Sayang. Jadi jangan lebhai gitu. Kalau diliat orang lain kan aku jadi malu." Pipi Litania sedikit memerah.


Chandra terdiam sejenak. Seperti mencoba mencari kebenaran dari ucapan istri cantiknya. Sedetik kemudian kekhawatirannya mereda dan terbentuklah senyum super manis.


Entah kesambet setan dari mana, Litania selalu saja gemas saat melihat Chandra tersenyum. Dirinya yang kalah tinggi badan tapi tinggi nafsu itu tak bisa menahan keinginan. Ia bahkan rela berjinjit demi mengecup bibir Chandra yang tampak menggemaskan. "Kamu ganteng."


Chandra membeliak kaget. Namun sedetik kemudian membalas dengan panas. Dalam sekejap bibir ranum Litania sudah tenggelam dalam raupan bibirnya. "Kamu makin nakal. Untung gak ada yang liat."


Litania terkekeh hingga nampaklah giginya yang putih bersih. "Biarin. Laki aku ini."


"Ya udah. Sekarang kita duduk. Suamimu ini udah laper." Chandra menjeda kata lumayan lama. Senyum mesumnya kembali hadir.


"Apa?" tanya Litania bernada galak.


Chandra malah terkekeh lantas mendudukkan Litania di kursi yang sudah ia tarik. "Cepetan makan. Terus di rumah siap-siap kamu aku makan," bisiknya seraya menunjukkan senyum smirk.


Yaelah, modus. Ternyata ini alasannya ngasih kejutan kek begini. Litania mencebik. Namun berakhir tersenyum juga. Ditinggal Chandra menginap ke Semarang saja rasanya sudah tak karuan. Ditambah libido semenjak hamil makin tak terkendali. Astaga! Pikiran liar makin merajai.


"Ya udah. Ayo kita makan," ajak Litania.


Mereka pun makan sebagaimana mestinya. Langit yang sudah terlihat jingga mendukung romantitisme yang ada. Pasangan suami istri itu seperti pengantin baru yang lagi bucin-bucinnya. Dari kerlingkan mata hingga gombalan-gombalan receh Chandra menghiasi kebahagiaan mereka. Ditamban jawaban nyeleneh dari Litania membuat mereka bahagia menikmati kebersamaan.


"Sudah?" tanya Chandra setelah melihat Litania menghabiskan sepiring Jajangmyeon. Gadis itu mengangguk seraya meraih segelas air putih dan meminumnya hingga habis setengah. Sementara Chandra hanya tersenyum gemas melihat ada sisa bumbu kecap yang melekat di ujung bibir istrinya itu.


"Ck! Kebiasaan kamu ini, loh ... bikin aku gak kuat." Chandra angkat dari duduk dan meraih tisu lantas mengelap bibir Litania.

__ADS_1


Sial! Litania yang kadung baper langsung menyambar bibir Chandra, lagi. Pria itu tampak keren dengan bersikap so sweet seperti itu.


"Napsuan banget," goda Chandra kala Litania sudah puas meraup dan menikmati bibirnya.


"Aku gemes. Kamu makin ganteng. Aku makin sayang."


"Jadi kalau gak ganteng, gak sayang?" Alis Chandra naik sebelah.


Litania tersenyum lagi. Ia garuk kepalanya. "Sayang, dong. Mau hujan, badai, petir kebakaran atau apa pun, kamu akan selalu aku sayang."


"Kenapa semua bencana alam kamu sebut?" kesal Chandra. Bukannya senang digombalin dirinya malah ngeri.


Litania kembali terkekeh lalu mencubit gemas pipi Chandra. "Maksud aku, walau bagaimanapun keadaannya, kamu akan selalu nomor satu. Gak peduli tua atau pun bangkotan kayak gimanapun, di mata aku kamu akan selalu uwu," ucapnya seraya mengedipkan mata, genit.


"Elah. Dasar!" Chandra berucap seraya tersenyum lantas meraih kotak kecil yang ada dalam saku jaket denim yang ia kenakan. Posisinya masih berjongkok. Menatap wajah bersemu Litania yang begitu cantik dengan rambut tergerai.


"Sayang, aku ada hadiah buat kamu."


"Apaan?" Litania tampak salah tingkah. Tangan bahkan sudah menangkup pipi sendiri. Menahan malu, ia perhatikan sekeliling hingga matanya berhenti ke salah satu arah—jalanan di luar area kafe.


"Monyet," ucap Litania pelan.


"Hah! Monyet!"


"Monyet." Suara Litania makin naik. Membuat Chandra sedikit kesal. Apa-apaan ini? Aku dibilang monyet.


"Apa maksud kamu?"


Namun, Litania tak menghiraukan. Mata masih tertuju ke arah lain. Ia bahkan tak melihat betapa merah wajah pria yang masih berlutut di depannya sekarang. Lebih parahnya, ia bahkan menarik paksa tangannya dari genggaman Chandra, lantas berdiri.


"Monyet! Oi Abang monyet, tunggu!" pekiknya. Begitu menggema hingga Chandra sadar bahwa yang dibilang Litania monyet adalah monyet yang benar-benar monyet. Ia heran melihat mata Litania begitu berbinar melihat hewan mamalia berbulu itu.


"Yang, jangan teriak-teriak, malu," ucap Chandra setelah melihat para pengunjung yang ada di parkiran. Tatapan mereka sudah bisa Chandra tebak.


Namun, lagi-lagi Litania tak peduli. Matanya masih tertuju pada dua orang lelaki di bawah sana. Lelaki yang lengkap dengan atribut topeng monyet beserta monyet-nya.


"Yang, aku mau ke bawah dulu. Mau liat monyet," ucap Litania dengan semangat 45.

__ADS_1


Belum sempat Chandra memberi persetujuan, bumil itu langsung berlari turun ke bawah seraya memekikkan kata, "Abang monyet! Abang Monyet! Tunggu!"


Semua orang terheran-heran melihat Litania menuruni tangga dengan cepat. Seperti tak menapaki lantai. Namun tidak untuk Chandra. Pria itu panik melihat istrinya berlari seolah bisa terbang.


Astaga Litan. Gak nyadar apa kalo lagi hamil. Kalau kenapa-napa gimana? Batin Chandra seraya mengejar.


Tibalah Litania di luar kafe. Ia keluar dengan masih memekikkan panggilan nyeleh itu. "Abang monyet!" Astaga!


Dua lelaki berusia 30-an yang dimaksud, sontak langsung berhenti melangkah. Panggilan ajaib Litania lumayan melukai harga diri mereka. Orang-orang di sekitar bahkan ada yang mengulum senyuman.


Abang monyet? Hello! Mereka memang sehari-hari bermain dengan monyet, bahkan mencari nafkah dengan mempertunjukkan keahlian monyet didikan mereka. Tapi apa pantas dipanggil Abang Monyet?


Dengan terpaksa mereka membalik badan. Memasang wajah ramah pada Litania.


"Kok aku kesel ya dipanggil Abang Monyet," bisik Jali, pria berkaus putih dengan kupluk di kepala. Matanya masih menatap Litania yang mendekat ke arah mereka.


"Iya, aku juga gak terima. Masa iya kita disamain dengan monyet, yang bener aja. Ye kan, Nyet?" tanya Doni, si pria berkaus merah pada binatang kesayangan yang tengah berdiri di sebelahnya.


"Abang Monyet, monyetnya masih bisa atraksi, 'kan?" tanya Litania yang masih ngos-ngosan.


"Masih, Neng."


"Kalau gitu, main sekarang. Aku udah lama gak liat topeng monyet."


Mereka pun kembali beraksi. Sebenarnya sudah waktunya pulang, hanya saja tak tega melihat wajah memelas Litania.


Pertunjukan mereka lakukannya dengan perasaan gembira, meskipun awalnya sempat dongkol karena dipanggil "Abang Monyet" oleh si pelanggan terakhir mereka.


Dan kebahagiaan mereka makin berkali lipat saat menerima uang tiga juta dari Litania.


"Don, kalau pelanggannya begini aku rela deh dipanggil Abang Monyet tiap hari," ucap Jali.


Si Doni mengangguk. Ia tatap punggung Litania dan Chandra yang sudah menjauhi mereka. "Iya, tu perempuan ngomongnya gak pake tatakan. Tapi baeknya gak ketulungan. Moga aja dia selalu sehat dan bahagia. Trus ketemu kita lagi, terus dikasih tiga juta lagi."


"Amin ... amin." Si Jali juga berharap seperti itu.


"Ya ude yok, Nyet. Kita balik. Kita makan besar dirumah," ucap Doni dengan menggendong monyet-nya.

__ADS_1


__ADS_2