Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Perubahan


__ADS_3

ulang bab sebelum ini ya. Bab visual kemaren udah aku edit.


***


"Woi! Keluar gak! Kalo kagak, aku pecahin ni kaca mobil kamu?"


Merasa tak ada respon, Nara makin naik spaning. Ia embuskan napas kasar dari mulut hingga poninya yang menggembung melayang-layang.


"Woi bengek! Keluar gak!" hardiknya lagi dengan tangan kiri memegang pinggang sedangkan kanan tetap menggedor pintu. Mereka jadi pusat perhatian orang-orang yang kebetulan melintas.


Sementara Dafan, ia masih terbengong. Benar-benar tak menyangka Nara yang selalu berpenampilan manis dan selalu bermanja bila dekat dengannya terlihat sangat mengerikan sekarang. Tak ada lagi kesan manja apalagi centil, yang terlihat hanyalah seorang wanita kejam dan bengis. Sawan, mungkin kata yang pas jika melihat ekspresi wajah Dafan.


Dalam kebingungan dan gedoran yang bisa dibilang keras itu pun Dafan mulai berspekulasi, apa karena empat tahun tidak bertemu membuat gadis itu bertransformasi menjadi nenek lampir? Atau, karena caranya menolak Nara terlalu ekstrem hingga membuat gadis itu memberontak dan kehilangan arah?


Dafan bergidik, menelan ludah, ragu-ragu ia membuka mobil dan tentu saja ekspresi Nara berubah total. Gadis yang tadinya terlihat siap menelan manusia menjadi terdiam dalam sekejap. Ia berubah jadi batu—mematung—hanya mata yang tampak mengerjap dengan mulut sedikit menganga.


Akan tetapi Dafan yang tak kalah shock tersadar, pasti Nara kesakitan. Meskipun ada airbag yang menahan, tetap saja kepala terasa pening juga. Ia raih tangan Nara tapi dengan secepat kilat Nara melepaskan.

__ADS_1


"Kamu terluka gak?" tanya Dafan seraya menggenggam tangan yang baru saja di tepis Nara.


"Aku gak apa-apa," balas Nara lalu memunggungi dirinya.


"Sorry, Ra. Aku nggak sengaja," ujar Dafan lagi.


Nara tak merespon. Ia bingung dengan perasaan sendiri. Bertahun-tahun mencoba move on lalu dihadapkan dengan situasi canggung seperti itu, siapa yang bisa berpikir logis dan cepat?


Nara hanya tertunduk dengan posisi tetap memunggungi Dafan hingga suara klakson pengendara lain membuyarkan lamunan. Nara, gadis itu menelan ludah lalu maju hendak lari, tapi seorang polisi datang mendekati mereka.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya seorang polisi paruh baya. Ia menatap menyelidik ke arah Nara dan Dafan, lantas ke bemper dua mobil mahal itu.


Nara menggeleng. "Saya baik-baik saja, Pak. Cuma kaget aja," balasnya.


Polisi itu manggut-manggut, kini matanya menatap lekat Dafan. Curiga.


"Saya enggak sengaja, Pak. Sumpah," papar Dafan tanpa ditanya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana ini?" tanya Pak polisi lagi.


"Saya kenal dia kok, Pak. Jadi kita bakalan menyelesaikannya secara kekeluargaan saja," balas Dafan.


Si polisi kembali melihat Nara. "Apa benar begitu?"


Nara diam saja, tak menggeleng apalagi menggangguk. Si polisi itu pun mengerti situasinya. Ia lalu menghadap Dafan.


"Baiklah kalau gitu, walaupun kalian mengurus ini secara kekeluargaan saya tetap butuh keterangan. Kalau begitu kalian bisa tepi kan dulu mobil kalian, kasihan pengendara yang lain," papar polisi itu. Bernada tegas dan tak terbantahkan.


Nara lalu masuk ke dalam mobil. Namun bukannya menepi, Nara justru melajukan mobil. Dafan yang penasaran langsung memasuki mobilnya. Namun lagi-lagi terhalang pak polisi. Lekas-lekas ia mengeluarkan KTP dan kartu nama.


"Maaf Pak, mungkin agak tidak sopan. Tapi saya perlu menyusul gadis itu. Nanti saya baik lagi."


Belum juga polisi itu memberi keputusan, Dafan telah melajukan mobil. Ia kejar Nara. Mobil sport super mewah milik Dafin tak lagi menjadi kekhawatiran. Ia malah mencemaskan Nara. Gadis itu pasti terluka fisik dan hatinya.


"Ra, kamu ke mana? Kenapa lari? Kita perlu bicara, Ra. Izinkan aku buat minta maaf."

__ADS_1


Lirih, suara Dafan sangat pelan. Penuh keputusasaan dan penyesalan. Bagaimanapun ia tahu perasaan Nara sekarang.


maaf ya Gaes part ini dikit. anak lagi demam. insyaallah besok update panjang.


__ADS_2