Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Dua pilihan yang berat.


__ADS_3

"Fia, bisa kita bicara sebentar?" ucap Litania. Wanita paruh baya dengan terusan berwarna hitam dan rambut tergerai itu tersenyum ramah. "Ada yang perlu kita bahas," lanjutnya lagi.


Mengangguk, Fia yang hanya mengenakan baju tidur biasa dengan cepat mempersilakan Litania untuk masuk, lalu menuntunnya menuju sofa sederhana di ruang tamu.


"Silakan duduk dulu, Bu Litania. Oiya, Bu Litan mau minum apa?" tanyanya ramah.


"Terserah saja."


"Kalau begitu saya permisi sebentar."


Litania mengiyakan. Sambil menunggu ia melihat kondisi kontrakan Fia. Rumahnya kecil tapi begitu bersih. Menunjukkan kalau Fia gadis yang teratur dan tidak sembrono. Paling tidak itulah anggapan Litania untuk sekarang.


Sementara itu, Fia yang baru tiba di dapur lekas-lekas menuju kamar mandi lalu membasuh muka, menggosok gigi serta yang lainnya. Ia tidak ingin terlihat jelek di mata Litania meski dalam hati bertanya-tanya, apa masalahnya sampai-sampai wanita itu bertandang ke rumahnya di pagi buta?


Firasat Fia mengatakan ada yang tak beres. Bagaimana tidak, di saat kebanyakan orang masih terlelap dalam peraduan, sang nyonya kaya sudah ada di depan pintu rumahnya. Penampilan wanita itu terlihat rapi dan elegan. Fia mendadak resah. Kunjungan itu seperti sudah terencana.


"Apa mungkin dia mau ngebahas masalah anak-anaknya?" gumam Fia pelan.


Sekelebat bayangan bagaimana dirinya berakhir dicium bergilir oleh Dafan dan Dafin membuat wajah panas dan merah dalam sedetik. Ia bahkan menepuk pipi sendiri, lantas menggeleng kuat-kuat, kepala bahkan sengaja dipukul dengan empat buku jari. Sungguh sangat berharap kejadian laknat itu terhapus dari memori. Ia merasa menjadi perempuan tidak benar karena memiliki hubungan dengan dua laki-laki, ah tidak ... lebih tepatnya tiga laki-laki.


Namun, apa benar demikian? Bisakah disebut memiliki hubungan dengan tiga laki-laki saat dirinya belum memberikan jawaban. Terlebih lagi karena masih belum yakin dengan isi hati sendiri? Diperebutkan tiga laki-laki kaya apakah membuatnya bangga? Jawabnya tidak.


Mungkin di luaran sana banyak yang mengatakan ia beruntung diperebutkan tiga lelaki kaya dan baik hati. Namun, apakah mereka tahu bagaimana susahnya menolak perasaan orang lain yang begitu tulus. Melukai hati orang lain tidaklah mudah, kawan. Efeknya juga tak seperti luka yang terlihat mata. Segala sesuatu yang tak kasatmata pasti membekas seumur hidup.


"Hais! Mikirin begituan aku jadi makin gugup." Fia bergumam lalu mendesah. "Baiklah, aku hanya perlu mendengar dan menjawab apa yang dia tanyakan," lanjutnya lalu mengepalkan tangan.


"Oke Fia. Percaya diri itu kunci!" Membenarkan posisi, Fia yang berada di depan cermin berusaha menenangkan diri sendiri dan berpikir positif. Ia hampiri Litania yang masih duduk di sofa dengan kaki menyilang, wanita itu tersenyum lagi ke arahnya.


"Nggak perlu repot-repot, Fia," ujar Litania saat melihat Fia datang dengan nampan di tangan.


"Enggak apa-apa, kok, Bu. Saya juga nggak merasa direpotin," balas Fia seraya meletakkan teh hangat di atas meja.


"Jangan panggil ibu. Panggil Tante saja," pinta Litania, "bisa, 'kan?"


Fia berakhir mengangguk. Meski ragu ia tetap mengiyakan.


"Diminum tehnya, T-tante ...." Fia terbata. Bagaimanapun tetap terasa canggung meski itu adalah permintaan Litania sendiri.


Duduk di depan Litania, Fia lagi-lagi takjub dengan penampilan wanita paruh baya yang ada di hadapannya. Wanita itu sudah mempunyai anak yang dewasa tapi masih terlihat sangat cantik, segar, elegan dan berwibawa. Tidak seperti emak-emak kebanyakan. Meskipun kaya mereka tetap tidak bisa menutupi panggilan alam, yaitu menua dan keriput. Namun, Litania seperti dikecualikan dan mendapat keistimewaan Tuhan.


Jujur, penampilan dan kecantikan Litania benar-benar membuatnya merasa terintimidasi. Dalam sedetik, drama-drama ikan terbang yang selalu laris di layar TV menggerayangi benak. Ia takut akan diperlakukan seperti para pemain di sana—dilempar segepok uang dan di permalukan.


Apa mungkin dia akan mengusirku dengan uang dan menyuruhku untuk menghilang?


Fia menelan ludah setelah bermonolog. Ia terdiam seraya berpikir keras, jika saja yang ada dalam pikiran barusan menjadi kenyataan, kira-kira keputusan apa yang harus diambil? Apakah mengambil uang itu ataukah tetap tinggal?


Mengerjap, lekat-lekat Fia menatap Litania yang baru saja selesai menyicip teh hangat buatannya.


"Maaf kalau kehadiran Tante mengganggu," ujar Litania seraya meletakkan cangkir teh di atas meja. Bahkan cara Litania menyesap teh saja begitu anggun dan berkelas. Fia yang melihatnya mulai berpikir keras dan mulai menduga-duga, kira-kira di mana Litania belajar tata krama sebaik itu? Mungkinkah Litania keturunan bangsawan?


Fia bergeming, ia masih menatap lekat wajah cantik Litania.


"Mungkin bagi sebagian orang bertamu jam segini sangat mengganggu, dan Tante tau diri, tapi Tante gak bisa menunggu siang, Fia. Tante nggak bisa tidur. Tante harus menyelesaikan masalah kalian."

__ADS_1


"Masalah?" ulang Fia. Matanya terbuka lebar dengan bibir bergetar.


Apa jangan-jangan dia sudah tau kalau anak-anaknya ...?


Fia terdiam. Ia makin gugup.


"Iya, kamu pasti tahu alasannya, 'kan?" ulang Litania lagi.


Meremas jari tangan yang kaku, Fia pun mengangguk. "B-begini, T-tante. S-saya bisa menjelaskan. Sebenarnya antara saya, Dafan dan pak Dafin ...."


"Fia," sela Litania. Matanya dapat melihat kegelisahan di wajah Fia. Ia berakhir tersenyum kecil. Jika diperhatikan dari jarak dekat, Fia terlihat sangat cantik. Bahkan baru bangun tidur saja paras ayu gadis muda itu masih melekat. Ia memaklumi kalau kedua anaknya tergila-gila pada gadis itu.


Sementara Fia, ia bungkam dengan sedikit menunduk. Ia bertekat akan memilih cara yang aman, ia akan mengelak dan menolak perasaan anak-anak Litania. Persetan dengan perasaannya sendiri. Baginya yang terpenting adalah pekerjaan. Ia telah berjanji akan membahagiakan keluarga dan mengangkat derajat mereka. Masalah cinta ... sudah lama ia tendang jauh rasa itu setelah mendapat penolakan halus dari Kevin.


Realistis saja, hidup tetap berjalan meski tanpa cinta lawan jenis. Masih banyak jenis cinta yang bisa menunjang kehidupan, di antaranya adalah cintanya untuk keluarga.


Namun, jika hidup tanpa uang, jangankan untuk berjalan, untuk mengangkat kepala saja rasanya berat. Fia sudah hapal rumus itu dan itulah yang membuatnya memilih realistis dan bukannya idealis. Kesulitan ekonomi membuatnya materialistis. Uang menentukan segalanya, tanpa uang ia akan dianggap punya keahlian supranatural. Bisa menghilang dan tak terlihat oleh orang lain.


"Fia."


Panggilan Litania menyadarkan, Fia bahkan berjengket sebelum akhirnya kembali meremas jari yang kaku. Senyum canggung pun tercetak nyata di wajahnya. "I-iya, Tan."


"Kamu ngelamun? Ngelamunin apaan?" tanya Litania lagi.


Fia makin gugup, tak mungkin juga jujur kalau dirinya tengah berniat menjadi manusia munafik.


Litania tersenyum kecut. Ia menyandarkan diri di sofa. "Semalaman ini Tante mikir keras. Mau diapain kalian ini. Tante gak tahu apa yang udah kalian lalui selama ini. Hanya saja Tante nggak bisa tutup mata. Mereka anak-anak Tante, jadi masalah mereka juga sepenuhnya masalah Tante. Kalau mereka nggak bisa menyelesaikan suatu masalah, bukankah wajar kalau Tante yang turun tangan?"


Seketika tenggorokan Fia mendadak terasa diikat mati. Ia lagi-lagi merasa terintimidasi. Nada bicara dan sorot mata Litania menunjukkan sesuatu yang membuatnya tak enak hati. Seakan-akan Litania telah menuding dirinya menjadi perusak hubungan baik antar saudara.


Tergagap, Fia merasa jadi wanita bodoh. Kecerdasan seperti menguap. Bahkan untuk berbicara saja harus menelan ludah berkali-kali. Ia merasa ada yang yang menghalangi apalagi Litania tampak memangku tas tangan bermerek dengan sangat erat.


Pikirannya mulai ngawur. Ia malah mencoba menebak apa isi tas Hermes Litania yang berwarna cokelat tua.


"Kamu tau susahnya jadi ibu rumah tangga?" tanya Litania yang otomatis melerai pikiran unfaedah yang sempat mendominasi pikiran Fia.


Fia menggeleng.


"Kita sebagai perempuan dituntut tangguh dalam mempertahankan rumah tangga. Juga harus kuat saat berhadapan dengan anak-anak sendiri. Anak itu kekuatan dan kelemahan. Suatu saat kamu akan ngerti. Tapi bukan itu yang mau Tante bahas sama kamu."


Fia menelan ludah. Litania yang berbicara panjang lebar tapi dirinya yang merasa kehabisan kata-kata. Ia memutuskan diam saja.


Litania mendesah panjang. "Tante hanya ibu rumah tangga biasa yang berusaha menjaga anak-anak serta keutuhan rumah tangga, Fia. Tapi semalam anak-anak Tante yang selalu jadi kebanggaan bikin masalah. Kamu tau berapa banyak yang Tante pikirin?"


Fia kembali menggeleng.


"Maaf Tante mungkin akan sedikit tegas sama kamu," lanjut Litania.


Lagi, Fia menelan ludah. Matanya menatap horor tangan Litania yang bergerak merogoh tas.


Apa jangan-jangan dia mau melempar uang ke wajahku. Gila, kalau benar-benar terjadi apa yang harus aku lakukan? Apa aku bawa saja uang itu dan kabur, atau ....


Gak boleh. Aku memang memerlukan uang. Tapi bukan berarti aku harus bertindak murahan.

__ADS_1


Mengerjap, Fia membuyarkan khayalan buruk yang sempat menguasai benak. Bagaimana bisa ia memilih sedangkan pilihan yang ada di depan mata sangat berat. Ia belum yakin tentang perasaannya pada Dafan dan juga belum bisa menyimpulkan apa-apa tentang perasaannya pada Dafin. Namun yang jelas ia tak ingin membuat dua pria kembar itu kecewa maupun adu jotos.


Mendadak ia merasa disuguhkan dengan buah simalakama.


"Ini." Litania menyuguhkan amplop persegi panjang, "bukalah," lanjutnya.


Berani-berani takut, Fia buka amplop yang ada di atas meja dan mendapati sesuatu yang sangat jauh dari prediksi. Isinya bukanlah uang atau cek seperti dugaannya beberapa detik lalu, melainkan sebuah album foto berwarna pink sebesar saku.


"Tante, ini ...." Fia berucap pelan seraya membuka lembar demi lembar yang ada dalam album itu. Kertas USG menjadi foto pembuka. Bagaimana dua kantong janin terlihat sangat jelas. Mata Fia berbinar. Entah kenapa ia menjadi terharu.


"Di sana juga ada foto kebersamaan Dafan dan Dafin waktu kecil. Lihatlah baik-baik," papar Litania.


Fia menurut dan membuka lagi album itu.


"Kamu tau rasanya saat tau kalau bakalan jadi ibu?" Jeda sejenak. Senyum Litania begitu merekah. "Rasanya gak bisa Tante jabarkan. Senangnya melebihi mendapat medali emas. Pokoknya gak bisa Tante jelasin. Intinya Tante bahagia dan berjanji bakalan menjaga mereka sampai besar. Dan Tante berhasil. Sekarang mereka sudah dewasa.


Sambil mendengar penuturan Litania, tangan Fia tetap membuka lembar demi lembar kertas itu. Kini matanya melihat dengan jelas potret kala Dafan dan Dafin berseragam TK. Sangat tampan dan menggemaskan. Mereka tertawa sambil berangkulan. Begitu kompak.


"Mereka selalu akur sejak kecil. Tante yang ngurusin mereka saja kadang heran. Mereka gak kayak anak orang lain yang selalu berantem. Tante bersyukur karena itu. Tapi semalam mereka berantem karena kamu?" Mata Litania begitu intens. Fia yang tadinya asyik membuka lembar foto menjadi berhenti. Ia memberanikan diri menatap wajah Litania.


"Apa kamu gak mau menjelaskan pada Tante?" lanjut Litania.


Menelan ludah, Fia letakkan album kecil itu di atas meja lalu menarik napas dalam-dalam—bersiap untuk menjawab.


Namun, tanpa di duga Litania beranjak dari sofa dan duduk bersebelahan dengannya. Wanita itu membuka album dan memperlihatkan foto anak kecil berompi papan catur dengan rambut disisir rapi ke samping, bocah itu tengah membaca buku.


"Kamu tau ini siapa?" tanya Litania seraya menunjuk wajah bocah itu.


"D-dafan," jawab Fia hati-hati. Tak ada satu pun yang menjadi ciri khas. Entah itu tanda lahir ataupun yang lainnya. Di mata Fia, Dafan maupun Dafin seperti orang yang sama.


"Kamu benar. Dafan dari kecil udah keliatan pintar. Dia ambisius, teratur dan bisa di andalkan. Mungkin karena anak pertama, dia mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi. Tante bangga sama dia. Nilai akademisnya gak pernah bikin Tante malu. Malah Tante yang malu jika membandingkan diri Tante sendiri sama dia. Dia mengambil penuh gen cerdas ayahnya," jelas Litania dengan mimik wajah bahagia. Sementara Fia, ia hanya bisa melongo. Lagi-lagi tingkah Litania diluar prediksinya.


"Ini, ini Dafin. Coba kamu lihat dia," ujar Litania lagi seraya menunjuk foto bocah berusia 7 tahun yang tengah memegang senapan mainan. "Ni anak berbanding kebalik dengan abangnya. Dia suka kebebasan, gak suka di kekang. Dia punya pemikiran sendiri, keras hati juga ni anak. Kalo dia bilang A ya harus bisa jadi A. Misalkan B bisa di ganti A ya dia bakalan jungkir balik gantiin itu. Dia gak kayak Dafan. Kalo Dafan kadang bisa berubah haluan kalo semisal yang menjadi pilihannya salah. Nah kalo Dafin, mau salah apa bener tetep aja hajar."


Fia mengulum senyum. Bukan karena cerita perihal Dafin, melainkan cara Litania menjabarkan kisah anak-anaknya. Serasa mendengar ibunya sendiri yang bercerita. Seperti tidak ada pembatas di antara mereka. Dalam hati, Fia menyukai suasana itu. Tak ada kesenggangan antara kaya dan miskin, bawahan dan atasan.


"Tapi meski keras hati, Dafin tetap bertanggung jawab. Dia pekerja keras. Tante tetep bangga sama dia," lanjut Litania.


Fia manggut-manggut. Mengingat betapa kerasnya usaha Dafin dalam menyelesaikan setiap permasalah yang ada, baik pribadi maupun di perusahaan. Dalam diam Fia mengagumi sikap bos-nya itu.


Fia kembali membalik lembar foto album berwarna pink sebelum akhirnya berhenti karena suara dehaman. Ia mendongak dan melihat wajah serius Litania.


"Jadi siapa yang kamu pilih. Dafan apa Dafin?"


Mengerjap, pikiran Fia kosong. Setelah mendapat hiburan ia kembali dihadapkan dengan sesuatu yang mencekam.


"Tante, sebenarnya gini. Sebenarnya sa—"


Perkataan Fia terjeda karena bunyian keras dari arah pintu. Tampak Dafin mendekat dengan cepat lantas menarik tangannya. Gadis itu terpaksa berdiri dengan wajah kaget luar biasa. Begitu pula Litania, matanya membulat karena kedatangan sang anak yang tiba-tiba.


"Fin, ngapain kamu ke sini?" tanya Litania, heran plus kesal.


Dafin menatap serius ibunya. "Maaf, Bun. Kami punya urusan." Lantas menarik paksa Fia. Gadis itu mau tak mau mengikuti langkah lebar Dafin. Tanpa bisa menolak ia sudah duduk di kursi penumpang dengan seat belt sudah melingkar di tubuh.

__ADS_1


"Pak Dafin ..." ujar Fia, cemas. Wajah serius Dafin membuatnya gugup.


"Maaf Fia." Dafin menatap nyalang. "Hari ini kamu aku culik."


__ADS_2