Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Biang kerok


__ADS_3

Memutuskan panggilan telepon, Chandra arahkan mata pada Rania yang masih terduduk di lantai. Ada rasa iba kala melihat air mata itu wanita yang telah melahirkan anaknya itu. Wanita yang bersedia ada tapi bertindak tiada. Akan tetapi prioritasnya saat ini adalah Litania dan perusahaan. Ia baru saja mendapat kabar kalau Leo ada di Jakarta dan tengah mengatur sebuah rapat untuk para pemegang saham, dan lebih parahnya topik pembahasan kali ini adalah pemecatannya sebagai CEO.


"Dasar brengsek." Menggeram, Chandra kepal ponselnya dengan kuat. Ia benar-benar kesal, mendapati kenyataan ternyata pria itulah di balik masalahnya selama ini.


Tak membiarkan perasan iba berlarut, Chandra pun pergi meninggalkan Rania dan sang mama dengan langkah lebar. Ia berlomba dengan niat jahat Leo untuk menggesernya. "Awas kamu Leo. Kamu pikir gampang buat nyingkirin aku?" Chandra tersenyum miring. Ia hubungi seseorang dengan ponselnya. "Sekarang saatnya. Kirim data dan bukti lainnya. Sekarang!"


Menembus kepadatan jalan raya, Chandra sengaja memilih motor sebagai kendaraannya. Ia salip kendaraan lain setiap ada celah. Tak ingin terlambat karena posisinya yang jadi taruhan. Ia sungguh tak rela bila harus jatuh dan dihina oleh Leo.


***


Seorang pria bertubuh gempal serta kumis tebal berusia empat puluhan tengah menatap penuh tanya pada Leo. Ia yakin sekaligus ragu akan rencana mereka. "Kamu yakin untuk ini? Kalau cara ini gagal, karir Om sebagai wakil direktur bisa hancur."


"Tenang aja, Om. Aku udah siapin segala amunisi. Aku yakin Chandra gak bisa ngelawan kita kali ini. Karna apa?" Leo sengaja menggantung lisan. Ia perhatikan wajah bingung sang paman dengan menaikkan sebelah ujung bibirnya. Ia rogoh benda kecil dari dalam saku celana dan menunjukkan sebuah USB. "Karna ini. Benda kecil ini adalah kunci untuk kita agar bisa nyingkirin dia."


Menarik napas berat, pria yang bernama lengkap Aryo Widodo itu tampak ragu. Ia cuci tangannya dan menatap pantulan wajah Leo di dalam cermin. "Baiklah, Om percaya. Om udah kumpulin semua orang yang berada di kubu ayah kamu. Tapi, kalau kita gagal kemudian ayah kamu tau, kita juga pasti hancur. Jadi pastikan ini berjalan baik." Menepuk pundak Leo, Aryo pun kembali berucap, "Om tunggu di ruang rapat. Jangan telat. Semua sudah menunggu kamu."


"Oke, Om."


Tinggallah Leo sendirian mematut diri di depan cermin. Pria itu dengan PD-nya tersenyum sumringah tanpa menyadari ada seseorang yang sedari tadi mengintai dari dalam salah satu bilik toilet.


"Malam ini kita liat, siapa yang lebih unggul." Tergelak, Leo tertawa bak setan yang sukses menggoda manusia. Ia bahagia membayangkan betapa malunya Chandra ketika bukti perzinaan musuh bebuyutannya itu terbongkar di depan semua anggota pemegang saham. "Kamu pasti hancur, Chan. Pasti."


Namun tak lama, suara tawa Leo berganti menjadi erangan. Seorang pria berhelm langsung menghampirinya dan melayangkan pukulan. Leo terhuyung. Hantaman tinju dari pria tak dikenal itu lumayan membuat kepalanya pusing dan bibir mengeluarkan banyak darah.


"Apa-apan ini?!" Leo berang. Ia lap jejak darah yang keluar dari ujung bibirnya dengan punggung tangan.

__ADS_1


Lagi, belum sempat mengumpulkan kesadaran, pria misterius yang tak dan lain tak bukan adalah Chandra itu kembali melayangkan pukulan di daerah yang sama. Leo ambruk. Ia terlentang dengan hidung juga mengeluarkan darah. "Apa maumu?!"


Membuka helm, Chandra tatap nyalang pada Leo yang telah tak berdaya. Ia kungkung pria itu dengan kembali melayangkan pukulan. "Ini karna kamu lancang. Bisa-bisanya kamu bermain kotor kayak begini."


Chandra menggeram, ia tarik kerah kemeja Leo agar menatap wajahnya. "Gara-gara kamu aku hampir kehilangan Litan. Dan sekarang kamu mau ngambil perusahaan." Chandra berdecih. "Jangan ngimpi!"


Chandra tarik paksa USB yang ada di genggaman Leo. "Sebuah kesalahan masa lalu gak sepantasnya kamu gunakan untuk kejahatan, Leo. Bertindaklah gantle. Jangan jadi pecundang menyedihkan begini."


"Sialan, banyak bacot." Leo mencoba melayangkan pukulan, tapi sayangnya Chandra dapat menangkis dan malah memutar kepalan tangan Leo hingga Leo kembali mengerang. "Ini peringatan, Leo. Jangan usik aku. Karna aku juga punya rahasia masa lalu kamu."


Menggeram, Chandra empaskan dengan kasar tangan Leo. "Karena kebaikan ayah kamu kali ini kamu kumaafkan. Tapi jangan pernah nyoba bermain licik kayak gini lagi. Karna aku juga punya rahasia besarmu. Rahasia bahwa kamu juga mempunyai perempuan simpanan. Aku juga penasaran bagaimana reaksi tunanganmu. Apa reaksi ayah dan calon mertuamu." Chandra tersenyum miring. "Kamu pasti mati, Leo. Pasti."


***


Suara ketukan pintu perlahan membangunkan Litania dari alam mimpi. Suara kasar yang membuatnya harus kembali ke dunia nyata. Kenyataan yang mengharuskannya menghadapi dunia yang selalu menguras emosi jiwa dan raga.


Membuka pintu depan, Litania yang masih asyik mengucek mata tak menemukan siapapun di depan pintu. Sebuah kenyataan yang membuat gadis itu kembali kesal. "Woi, jangan iseng, dong!" teriaknya lantang.


Merasa dikerjai gadis itu pun tak henti bersungut. Bibir monyong serta umpatan jelas menjadi pelepas kekesalan. Serasa dipermainkan, dan ia jelas tak suka itu.


Namun aneh, ketika hendak masuk kembali ke dalam rumah, kakinya menyentuh sesuatu. Tampak sebuah kotak serta sebuket bunga tergeletak di lantai. "Apaan ini?"


Menggaruk kepala, lagi-lagi Litania memindai sekeliling, tapi tetap saja masih tak menjumpai siapapun juga.


"Siapa sih yang iseng?" sungutnya seraya menendang pelan kotak kecil itu. Berjaga-jaga takut kalau isinya bom atau binatang liar.

__ADS_1


Masih dengan wajah bingung, gadis berpenampilan bak orang gila itu pun memberanikan diri untuk berjongkok. Meraih kotak itu dan membukanya.


"Coklat? Coklat siapa ini? Apa mungkin salah alamat?"


Lagi, Litania beranikan diri meraih buket bunga mawar yang terdiri dari puluhan tangkai. Ia berharap menemukan petunjuk siapa pemilik cokelat dan bunga itu.


Litania, semoga coklat dan bunga ini bisa menghapus kesedihanmu. Happy Valentine days. Berbahagialah. Jangan biarkan kesedihan berlarut makin lama.


By Bian.


Membeliak, Litania sontak membuang kartu ucapan berwarna merah muda itu. Ia edarkan kembali matanya. Akan tetapi tetap tak menjumpai siapa pun. "Bian? Siapa dia? Apa penguntit?" Litania bergidik. Ia tutup pintu rumah dengan cepat.


"Apa mungkin Reno? Ah, masa, sih. Dia 'kan di penjara. Tapi Bian, Bian ini siapa?"


Berdenyut, kepala Litania mendadak merasakan sakit, dan kepala yang sakit itu mendadak menginginkan cokelat yang masih di luar.


"Ah, sial. Aku mau makan coklat." Litania bergumam pelan. Ia pun membuka kembali pintu dengan posisi berjongkok, melihat sekeliling dan menarik cepat cokelat yang masih tergeletak. Sebuah tingkah konyol yang membuat seorang pria di balik kaca mobil mengulum senyuman.


"Kenapa gak ngasih langsung aja, Pak?"


Suara pria yang berada di balik kemudi membuyarkan senyuman pria itu. "Gak perlu. Saya hanya mau ngasih dia hadiah. Kasian, dia kayaknya sedang patah hati."


Pria yang bernama lengkap Fabian itu kembali tersenyum. Ia adalah seorang fotografer yang kebetulan mobilnya di masuki paksa oleh Litania semalam. Kejadian yang membuat sosok pria berusia 30 tahun itu terkejut dan terhibur secara bersamaan mengingat betapa histerisnya Litania menangis dalam mobilnya. Gadis itu bahkan mengumpat sesuka hati dan berakhir inginkan cokelat di hari kasih sayang sebelum akhirnya tertidur pulas.


"Sudahlah. Ayo kita berangkat."

__ADS_1


Besok lagi ya. Jan lupa like komen dan votenya.hehe


__ADS_2