Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Alex, Arjun dan Arkan.


__ADS_3

Litania memundurkan langkah. Sigap, bak seorang penjaga yang rela menyerahkan seluruh jiwa raga demi melindungi tuannya. Ia rantangkan tangan dan pasang badan di depan Kinar. "Tenang Kinar, ada aku. Aku pastikan laki-laki itu gak bakalan bisa macem-macem sama kamu."


Mengapus jejak air mata yang mengaliri pipi, Kinar yang sempat shock akhirnya bisa meraih kesadaran. Cepat-cepat ia raih tangan Litania dan menuntunnya ke belakang punggung. "Enggak, Litan. Kamu lagi hamil, jadi jangan berpikiran macam-macam. Berantem dalam keadaan hamil muda kayak gini beresiko."


"Tapi Kinar—"


"St! Udah, ini urusanku. Aku mau menyelesaikan ini. Aku gak boleh lari lagi. Aku pasti bisa ngadepin dia agar aku bisa hidup normal. Aku mau kasih liat ke dia kalau aku baik-baik aja. Aku gak lemah. Jadi aku harus bisa mengakhiri kenangan buruk ini."


Mengangguk mantap, Kinar pandang lelaki berpenampilan rapi—kemeja kotak-kotak dan berkacamata—yang menghampiri mereka. Laki-laki yang ia kenal bernama Alex. Tuhan, beri aku kekuatan. Kinar membatin dalam ketakutan.


"Wah, kamu Kinar, ini beneran kamu, Kinaryosih mantan siswi SMP 2 itu?"


Kinar terdiam, sedangkan tangannya begitu kuat memegang tangan Litania—untuk menguatkan diri sendiri dan juga sebagai penahan agar Litania tidak melakukan hal yang membahayakan.


"Wow, kamu makin cantik ya sekarang. Tapi ... kenapa penampilan kamu jadi ...."


Alex menjeda lisan lantas melihat dengan intens penampilan Kinar dari atas hingga bawah. Lelaki yang berusia hampir tiga puluh tahun itu tampak menggeleng tak percaya kemudian mengelilingi Kinar yang juga otomatis mengelilingi Litania. Sebuah tindakan yang membuat darah Liania berdesir menahan geram. Sumpah! Ingin sekali melayangkan pukulan. Akan tetapi Kinar menggeleng—kode agar Litania mengurungkan niat.


"O iya, kalian ada apa kemari?" tanya Alex lagi, "kalau saya ada urusan sama salah satu guru di sini."


Tak berniat menjawab, Kinar memegang makin erat tangan Litania. "Maaf, kami ada urusan. Jadi kami permisi dulu," ucap Kinar seraya menarik Litania agar mengikutinya.


Namun, baru saja menjauh beberapa langkah, Alex mencekal lengannya. Kinar berhenti dan refleks saja menepis tangan laki-laki kurang ajar itu. Sungguh, sentuhan Alex membuatnya merinding. "Apa mau Bapak?"


Mata Kinar melotot, begitu pula Litania. Namun, bukannya tersinggung Alex malah tergelak jenaka lalu memindai wajah masam Kinar dengan tatapan yang sudah dipenuhi hasrat. "Wah, sekarang omongan kamu juga berbeda. Dulu itu kamu kalem, manis banget. Sekarang kenapa jadi begini?" ucapnya dengan seringaian khas bajingann.


Sial! Senyum Alex membuat Litania makin tak sabar ingin menghajar. Tinju bahkan sudah terbentuk. Tinggal dilayangkan dan sudah dapat dipastikan hidung mancung lelaki itu bakalan patah. Namun, lagi-lagi Kinar menahan tangan Litania lalu melayangkan tatapan tajam pada Alex.

__ADS_1


"Sebenarnya apa maumu?" Nada suara Kinar mulai sedikit tinggi. Ada kebencian dalam suaranya itu. Ya, bagus Kinar. Kamu harus bisa, batinnya menguatkan diri sendiri.


"Saya nggak punya niat jahat. Saya cuma pengen ngobrol aja sama kamu. Kita 'kan udah lama enggak ketemu. Masa iya ajakan guru sendiri ditolak."


Sumpah, sikap sok manis Alex membuat Litania gerah. Ia bahkan memejamkan mata lumayan lama agar kemarahan tak meledak. Bagaimanapun Kinar masih menggenggam erat tangannya dan ia tak ingin berakhir menyesal.


"Maaf, Pak. Kami ada urusan, jadi permisi," ucap Kinar seraya memutar tumit, tapi lagi-lagi ditahan oleh Alex.


"Kalau kamu terburu-buru lebih baik saya yang antar, gimana?" tawarnya.


Ish! Gak tau malu. Litania sudah tak mampu menahan geram. Ia lepaskan tangannya dari genggaman Kinar lantas bersedekap dada. Sementara mata tentu saja penuh penghinaan untuk laki-laki yang mengaku gutu itu. "Maaf, Pak Guru yang terhormat. Kalau Kinar-nya nggak mau kenapa maksa."


"Lah, emangnya salah? Wajar dong kalau guru ngajak ngobrol mantan muridnya, Lagian kapan saya maksa dia?" tanya Alex dengan menaikkan sebelah alisnya. "Lagian, saya itu gak ngajak kamu. Tapi kenapa kamu yang sewot?"


"Wajar dari mana? Bapak itu maksa. Lagian saya gak sewot."


"Maaf, Pak. Kami buru-buru."


"Ya kalau buru-buru sama saya aja. Kan lebih cepet," tawarnya lagi.


"Gak, Pak. Saya gak mau, nanti pacar saya salah paham," tolak Kinar. Ia tepis lagi tangan Alex.


Alex mengernyit. Wajahnya tampak masam. Mendengar kata pacar membuat ekspresinya berubah total. "Kamu sudah punya pacar?" tanyanya. Namun sedetik kemudian senyuman kembali terukir di wajah itu. Senyuman yang sungguh membuat Kinar tak nyaman.


"Iya, pacar. Kami bahkan mau nikah bulan depan."


"Ya gak masalah. Kan saya cuma mau nganterin. Masa gitu doang pacar kamu cemburu."

__ADS_1


Sial, harus gimana lagi cara biar dia pergi. batin Kinar.


Keberuntungan datang dengan cara tak terduga, sebuah mobil Lamborghini berhenti di depan mereka. Laki-laki yang Litania kenal bernama Aldi telah keluar dari mobil mahal itu karena melihat Litania. Niatnya hanya ingin menyapa. Namun belum sempat bersuara, Litania lebih dulu berkata, "Nah itu pacarnya Kinar dateng."


Mata Kinar membola, begitu juga Aldi. Namun setelah mendapat lirikan tajam dari Litania, Kinar pun paham akan sandiwara dari temannya itu. Ia pun mulai memasang wajah ceria dan mengalungkan lengannya di lengan Aldi.


"Kok dateng ke sini? Kan sudah aku bilang, nunggunya di kafe, biar aku sama Litania naik taksi aja. Aku enggak mau ngerepotin kamu," ucap Kinar seraya memanjakan suara. Bibir pun tak kalah merekah saat memainkan peran yang sungguh membuat lelaki itu risih. Akan tetapi setelah mendapat lirikan tajam dari Litania ia pun paham. Diusapnya kepala Kinar.


"Iya dong Sayang. Aku 'kan kangen sama kamu."


Dalam sedetik wajah Alex berubah kembali kesal. Pria berkacamata itu tampak murka dan pergi tanpa meninggalkan sepatah kata.


Menghela napas lega, Kinar lepaskan kalungan tangan dari lengan Aldi. Wajahnya mendadak merah dengan hati yang jelas bersalah. "Maafkan saya dan terima kasih karena udah mau nolong.


Aldi tampak mengernyit. Hatinya mendadak tak tega saat melihat Kinar telah berurai air mata. Apalagi Litania tampak menghibur dengan memeluk.


Aldi membuka mobil dan berucap, "Masuklah. Biar saya antar. Kalian mau ke mana?"


Kinar menggeleng. Namun Litania tampak meyakinkan dengan anggukan. Keduanya pun berakhir setuju tanpa berdebat.


Sementara itu, ada dua pasang mata yang menatap tajam ke arah mereka. Arjun, tampak kesal saat melihat Kinar bermesraan dengan laki-laki lain. "Apa-apaan dia. Katanya suka sama aku, tapi kenapa gandeng-gandengan sama orang lain. Sialan! Perempuan macam apa itu? Barbar sekali."


Entah kenapa bibir mengumpat tapi hati merasa lain. Rasanya aneh. Ada yang sakit tapi tak tahu perasaan apa itu. Ia lajukan lagi mobilnya mengikuti mobil yang membawa Kinar dan Litania.


Dan ada satu pasang mata lagi yang juga tampak kecewa. Lelaki yang mengalungkan kamera di lehernya. Arkan, pria itu yang selalu mengikuti Litania tampak kecewa. Tak ada satu pun berita yang bisa dipakai untuk menyudutkan Chandra. Ia tendang ban mobilnya berkali-kali, menyalurkan rasa frustasi karena beberapa hari mengikuti Litania tak juga mendapat titik terang untuk melancarkan niat.


"Brengsek! Kenapa nggak ada satu pun celah dari Chandra. Ah! Aku bisa gila."

__ADS_1


__ADS_2