Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Sakit.


__ADS_3

POV Nara.


Hari ini, sesuai kesepakatan antara aku dan Dafan, kami berencana bertemu di sebuah restoran bintang lima yang ada di salah satu restoran hotel yang ada Jakarta. Dia mengatakan padaku tadi siang kalau akan mempertemukan aku dengan kekasihnya sore ini.


Di sinilah aku. Berdiri dalam lift dengan detak jantung tak beraturan. Dari pantulan dinding lift aku bisa melihat penampilan sendiri. Aku sudah cantik, tapi sayangnya kecantikan tak bisa memikat Dafan. Entah apa yang bisa menyihir laki-laki berhati batu itu.


Pintu lift terbuka saat angka enam menyala. Lagi-lagi degup jantungku makin menggila. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan hati ini. Satu sisi aku ingin menghindari dan menampik kenyataan, tapi di sisi lain aku ingin kepastian. Ya, kepastian, aku harus siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi.


"Maaf Anda siapa? Apa sudah reservasi sebelumnya?" tanya seorang pria rapi dengan dasi kupu-kupu di leher.


Aku mengangguk. "Sudah, saya Nara. Dan orang yang mereservasi bernama Dafan," jelasku.


"Oh, kalau begitu bisa tunggu sebentar," jawabnya.


Aku lagi-lagi hanya bisa mengangguk, sambil berdiri aku melihat punggung karyawan tadi hilang di telan pintu.


Tanganku mulai dingin. Napas mulai pendek. Seumur-umur baru hari ini aku grogi hebat seperti ini.


'Tenang Nara, tenang. Dafan tetaplah Dafan. Dia itu jodoh kamu. Jadi jangan percaya kalau dia bilang sudah punya pacar. Kamu harus kuat, buktikan kalau kamu yang berhak atas Dafan . Gak boleh ada yang merebut Dafan dari kamu. Oke. Kita lihat langsung perempuan itu. Biasanya kalau cuma pura-pura pasti akan keliatan. Jadi stay cool. Be beautiful. Oke.'


Kalimat itu aku tanamkan terus dalam benak. Entah berapa kali aku menyebutnya, aku bahkan tak tahu. Namun yang jelas, aku punya keyakinan, dan keyakinan mengatakan kalau Dafan itu jodohku.


Pintu terbuka, dan lelaki tadi kembali menyapa dengan senyuman. "Silakan masuk, Nona. Pak Dafan sudah menunggu Nona di dalam."


Aku pun mengikuti.


Saat masuk ke dalam ruangan, aroma wangi bunga merasuk dalam hidung. Begitu banyak Bunya yang ada hingga aku sampai pangling dengan dekorasinya. Belum lagi musik indah mengalun masuk ke telingaku.


Ternyata Dafan sengaja menyewa satu restoran demi pertemuan ini. Seketika aku tersenyum, merasa Dafan begitu romantis hingga rela melalukan ini semua, tapi ....


Sesak, sakit, perih, rasa itu menghantam jiwa dan raga secara tiba-tiba. Mengoyak tanpa ampun. Nyeri, hatiku sakit, sungguh tak bisa kujabarkan perasaan ini agar orang lain mengerti. Aku sampai limbung hingga terduduk di kursi. Tenagaku menguap bagai udara. Aku sadar sekarang, Dafan memiliki wanita lain.

__ADS_1


"Dafan ...."


Lirih suaraku menyatu dengan isak tangis. Sungguh, demi Tuhan aku tak rela Dafan melakuin ini semua. Dafan itu lelakiku, Dafan itu jodohnya aku. Dia soulmate-ku, tapi ....


Sekarang dia duduk berhadapan dengan seorang wanita dewasa. Walau aku cantik, tapi dia juga tak kalah cantik. Dia sangat anggun, dan hatiku mendadak kerdil.


Ya Tuhan ... kenapa jadi begini? Aku benar-benar tidak rela Dafan dekat dengan perempuan lain, tapi sekarang, saat ini dia bermesraan. Dia menyeka wajah perempuan itu, lalu tertawa.


Tawanya sangat lepas. Selama ini aku tak pernah lihat Dafan tertawa sampai matanya sipit begitu. Dia ... dia benar-benar kelihatan bahagia.


Siapa perempuan itu? Apa kelebihannya? Apa kekuranganku? Apa yang dia miliki sampai Dafan bisa tertawa seperti itu? Apa kurangnya aku sampai-sampai Dafan nggak ngeliat aku sama sekali?


Tuhan ... tolong cabut perasaan suka aku padanya. Aku bahkan tak keberatan jika kau mencabut nyawaku sekalian.


Sungguh, aku nggak kuat.


Apa ini pertanda kalau aku harus nyerah?


Apa benar-benar tak ada celah sedikit pun untuk menyentuh hati kamu, Fan?


Ma, rasanya sangat sakitnya.


Mama bilang kalau kita berusaha terus, semua akan indah pada waktunya.


Mama bilang kalau Nara terus berjuang Dafan akan luluh.


Mama bilang Papa juga begitu waktu dulu. Mama bilang berusahalah bikin Dafan tertawa.


Aku sudah berusaha, Ma. Sudah semampuku bikin Dafan tertawa, tapi selama ini dia gak pernah melihat usahaku. Di matanya hanya ada kebencian untuk aku. Dia hanya marah-marah, dan sekarang hatiku sangat sakit, Ma. Saat aku berusaha sekuat tenaga bikin dia tertawa, tapi dia malah tertawa dengan perempuan lain.


Apa aku harus menghentikan ini semua, Ma?

__ADS_1


Mama bilang Dafan itu anaknya pintar, dia nggak suka gadis bodoh. Jadi, Ma ... aku sudah berusaha mengimbangi Dafan. Nilaiku juga sempurna di sekolah, tapi kenapa Dafan enggak pernah ngelihat aku, Ma? Kenapa wanita itu lebih menarik di matanya?


Saat melihatku Dafan gak pernah melihat aku seperti itu. Tapi lihatlah Ma, dia tertawa, matanya memberikan sinar yang lain. Sorot matanya sangat berbeda saat dia melihat aku.


Saat melihatku matanya penuh ketidaksenangan. Sementara saat dia melihat wanita itu bibir dan matanya tersenyum, menyiratkan ketulusan untuk gadis itu.


Ya ampun, Ma. Aku nggak kuat.


Kugigit tangan yang sudah terkepal, berharap tak ada suara yang keluar. Jujur, aku ingin melabrak perempuan itu. Akan tetapi satu sisi aku juga malu. Aku kalah sebelum berperang. Ah, tidak ...yang jelas aku malu karena kalah mempertahankan sesuatu yang harus menjadi milikku.


Baiklah aku nyerah Dafan berbahagiah dengan wanita itu. Berbahagialah tanpa mengingat aku lagi.


Aku akan pergi, pergi seperti apa yang kamu bilang kemarin. Aku akan pergi membawa perasaanku. Aku akan menghilang tanpa membebani dirimu dengan cintaku.


Beranjak dari kursi, aku keluar dari ruangan seraya mengelap air mata yang terus saja membanjiri pipi. Aku malu, tapi kenapa reaksi tubuh tidak sinkron dengan apa yang aku inginkan. Aku ingin berhenti menangis. Ini keputusanku meninggalkan Dafan, tapi ....


Ya Tuhan Apa yang harus kulakukan dengan air mataku ini? Kenapa makin deras saja?


Tak sanggup lagi, aku pun berlari saat pintu lift sudah sampai di lantai dasar hotel. Langkahku sungguh lebar, aku sengaja mengabaikan tatapan aneh orang lain hingga suara benturan menyadarkan. Aku terjungkal ke belakang.


Cepat-cepat aku menghapus air mataku dan melihat siapa yang kutabrak.


"N-nara, k-kamu nggak papa? A-ada yang s-sakit ng-ggak? K-kamu nga-ngapain ke sini? T-terus kok kamu nangis? K-kamu enggak papa kan? Sakit banget ya?" tanyanya, laki-laki yang aku kenal betul bernama Ferry. Dia berjongkok lalu menatapku dengan penuh keheranan.


"N-nara, k-kamu kenapa?


Ku peluk dia. Entah apa yang merasukiku tapi aku butuh bahu. Kupeluk erat Ferry sambil menumpahkan perasaan resah ini. Air mataku makin meluruh banyak.


"N-nara, kamu kenapa, sih. J-ja-ngan b-bikin panik. K-ka-lau sakit ayo kita ke rumah sakit."


Aku mengangguk. "Sakit, Fer. Sakit banget. Rasanya ... rasanya sangat sakit. Aku bisa mati, Fer. Aku bisa mati."

__ADS_1


__ADS_2