
"Vin, kok kamu ke sini?" tanya Fia.
Kevin yang sudah duduk dan berhadapan dengan Fia, tak menjawab. Hanya menatap Fia dengan lekat. Menatap gadis yang beberapa malam yang lalu ia lamar. Gadis yang tanpa sadar ia sukai. Sosok yang membuatnya hampir gila.
Kevin mengembuskan napas kasar, bersedekap lalu merebahkan punggungnya di sandaran kursi. Matanya masih menatap ke arah Fia. Ia sengaja mengintimidasi gadis itu.
Sementara Fia, ia makin kebingungan. Bingung bagaimana cara menjawab maupun menolak lamaran Kevin. Dulu ia memang menyukai Kevin, tapi itu dulu sebelum akhirnya hati tertaut pada Dafin. Laki-laki yang selama ini sudah membuatnya lupa pada Kevin. Laki-laki yang selalu memenuhi otaknya dengan pekerjaan sehingga tidak sempat memikirkan maupun merindukan Kevin.
"Kenapa natap aku kayak gitu, sih, Vin?" tanya Fia akhirnya. Bola matanya bergerak liar. Pakaian formal khas wanita kantoran masih rapi di badan, tapi sayangnya tak bisa menutupi kegugupan. Ia bahkan beberapa kali menyeruput air putih yang sudah tersedia di atas meja. Lagi, Fia menelan ludah. "Ngomong dong. Jangan cuma diem," lnjut Fia lagi.
"Kamu kenapa gugup? Apa yang kalian bicarakan? Bukannya tadi kamu bilang kalau masih ada pekerjaan makanya nyuruh aku nunggu di kafe yang lain? Tapi nyatanya di sini kamu ketemuan sama Della. Apa yang kalian sembunyikan?"
Diberondong pertanyaan banyak seperti itu membuat Fia tertunduk, lalu meremas jemari tangan yang kaku. Ketahuan berbohong pada Kevin seperti telah melakukan berbagai macam kejahatan. Ia lupa, mereka besar bersama, jelas saja Kevin tahu dan bisa membedakan ada yang tak beres.
"Gak ada, kami cuma ketemuan biasa. Terus kamu, kenapa bisa ke sini? Apa kamu janjian dengan Della?" tanya Fia. Ia tak mau kalah. Ia balas tatapan Kevin dengan berani.
"Nggak, ngapain janjian sama dia? Aku sengaja datang ke sini karena ingin bilang sesuatu sama kamu, urusan kita kemarin belum selesai. Tapi tadi Della bilang ke aku kalau dia ketemuan sama kamu di sini," jelas Kevin dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
Blank. Fia makin kebingungan, Bagaimana caranya untuk mencari alasan? Kenapa semua makin rumit? Seketika ingatan mundur ke belakang—saat pesta pernikahan di keluarga Darmawan. Fia ingat betul ketika Dafin menghajar Kevin karena cemburu.
Menelan ludah, Fia makin menatap Kevin tak kalah intens. "Terus, kenapa chat aku nggak kamu bales? Cuma di read doang tapi nggak direspon. Tiba-tiba nelfon ngajak ketemuan. Kamu kira aku gak kesel?"
Kevin terdiam. Ia lalu berdeham. Sebenarnya malam itu ia ingin menyusul Fia, hanya saja waktu tak memungkinkan karena harus segera kembali ke Bali.
Kevin membenarkan posisi. Ia menautkan kedua belah jemari tangan dengan tubuh agak condong ke meja. Matanya menyelidik gelagat Fia yang terlihat tidak seperti biasa. "Sekarang aku mau tanya sama kamu, punya hubungan apa kamu sama bos kamu itu? Apa kalian murni hanya rekan kerja?" tanyanya
Sekarang giliran Fia yang terdiam. Ia mati kata. Pertanyaan dibalas pertanyaan. Oh Tuhan.
"Jawab, Fi. Jawab aku!" desak Kevin.
Fia masih saja diam. Kevin yang mulai kesal mengembuskan napas kasar dan itu semua karena Dafin. Harga dirinya terluka karena Dafin. Ia bertekad akan membuat perhitungan pada pria itu. Hanya saja sekarang ia harus melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Untuk masa depan.
Hening, Kevin mencoba menata hati. Ia ingin melamar Fia sekali lagi. Jadi sebisa mungkin menekan emosi yang sempat timbul karena membahas Dafin.
Merogoh saku jaket, Kevin pun menatap lekat Fia yang berkali-kali menunduk. Kadang juga mengalihkan pandangan ke arah lain. Gadis itu seperti enggan menatap matanya. Namun, Kevin mengabaikan, ia ingin mengutarakan niat. "Fi, sebenarnya aku datang ke sini bukan untuk membahas soal bos kamu itu. Ta—"
"Kevin." Fia sengaja menyela. Lisan Dafin pun otomatis terhenti. "Maaf," lanjut Fia lagi.
Ucapan lirih dan singkat Fia membuat Kevin urung mengeluarkan apa yang ada di saku. Benda kecil dalam kotak segi empat yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Menggenggam erat kotak segiempat itu, Kevin makin menatap heran. Jujur, wajah Fia yang murung seperti itu membuatnya resah meski tadi sempat mengabaikan ekspresi itu.
"Maaf untuk apa, Fi?" tanyanya memastikan.
"Soal yang tempo hari, di pesta keluarga Darmawan, sebenarnya aku ...."
"Untuk apa kamu yang minta maaf," sela Kevin. Rahangnya mengetat. "Kamu nggak boleh minta maaf karena orang lain. Yang salah bukan kamu tapi laki-laki itu. Si brengsek itu ... bagaimana bisa dia mukul aku?" lanjut Kevin. Ia berdengkus lagi.
Hening, Fia terlihat mengumpulkan banyak oksigen dalam paru-paru sebelum akhirnya mengembuskan napas perlahan.
"Sebenarnya aku sama dia pacaran," ucap Fia mantap.
Bak mendapat petir tak kasatmata, Kevin mematung. Matanya membeliak, tangan langsung terkepal. "Fi ...."
"Maaf, aku harus menolak lamaran kamu," lanjut Fia lagi. Penuh keyakinan dalam nada bicaranya yang membuat Kevin tak percaya. Pria itu terkekeh-kekeh.
"Fi, jangan becanda. Ini gak lucu," balas Kevin. Sungguh ia sangat berharap ada kesalahan dengan telinga.
"Aku serius, Vin. Maaf. Aku udah milih dia. Aku harap kita bisa tetep kek dulu. Temenan."
Kevin lagi-lagi tergelak, nyaring. Namun, ada kepedihan dalam suara itu. Fia yang mendengar merasa tak enak hati. Kevin sahabatnya. Pasti perih saat ditolak.
Mata Kevin makin nyalang. "B-bagaimana mungkin. Bukannya kamu sudah lama suka aku?" Jeda sejenak. Kevin menelaah ekspresi Fia lagi seraya menata tabuhan dalam hati. Sungguh, ia shock lalu menyugar rambut ke belakang. "Ayolah, Fi. Kenapa kamu jadi aneh begini? Semenjak tinggal di Jakarta kamu benar-benar berubah," lanjutnya lagi.
"Enggak, Fin. Yang bikin aku berubah bukan karena tinggal ke Jakarta, yang bikin aku sadar ya karena aku sendiri. Udah lama aku mutusin buat move on dari kamu dan sekarang aku milih dia."
"Fia!" bentak Kevin lalu berdiri. Ia sungguh tak percaya dengan yang didengarnya barusan.
Move on?
Hah! Bagaimana Fia bisa move on saat dirinya sudah terjerat?
Jahat sekali.
Sementara Fia yang dibentak seperti itu, berjengket. Tak hanya Fia, para pengunjung yang lain juga terperanjat sesaat sebelum akhirnya mengabaikan. Itu bukan utusan mereka.
Namun, tidak untuk seseorang yang menatap tajam ke mereka. Ia menggenggam kuat gelas kaca yang ada di tangan dengan rahang yang sudah mengetat.
Kevin kembali duduk. Ia genggam kuat tangan Fia dengan sorot mata yang menunjukkan ketidaksukaan. "Pliase, Fia, kamu gila? Kamu serius kamu pacaran sama dia? Bukannya dia udah punya tunangan?" ujar Kevin pelan tapi jelas terdengar menggeram.
"Enggak, Fin. Mereka sudah putus."
"Lalu kamu bangga gitu. Bangga udah bikin mereka putus?" Suara Kevin terdengar dalam. Ia berusaha menahan diri agar tidak berakhir mengamuk. Ia menatap makin lama mata Fia yang masih bergerak liar. "Kamu sadar gak, kamu jadi pelakor, Fi. Pelakor," lanjut Kevin. Penuh penekanan di kata terakhir.
Nyes! Hati Fia terasa tersiram cuka.
Menarik napas dalam-dalam, Fia mencoba tenang. Tudingan serta respon Kevin pasti akan sama dengan orang lain. Namun, ia tak bisa menyerah dengan perasaannya. Ia menyukai Dafin dan siap dengan segala kemungkinan.
Menggenggam makin erat tangan Fia, Kevin pun kembali berkata, "Apa kamu nggak bisa ngelihat aku lagi. Tolong kasih aku kesempatan. Pliase, jangan nyerah, tolong jangan nyerah ngadepin aku. Aku memang bodoh, Fi. Aku menahan segalanya sejak lama. Jadi, aku minta sekali lagi, bisa nggak kamu kasih aku kesempatan?"
"Fin ...." Fia menarik tangannya. "Maaf, aku gak bisa," sambungnya lagi.
Akan tetapi reaksi Kevin masih sama, ia memelas dengan tetap mencoba meyakinkan Fia. "Tolong pikirin baik-baik, Fi. Kita temenan udah lama. Kamu ngerti aku, kamu tahu seluk beluk aku. Kita punya banyak kesamaan, kita besar sama-sama, Fi. Lalu apa yang membuat kamu milih dia? Tolong pikirin lagi. Pliase ...."
"Aku nggak tau, Fin. Maaf, aku nggak bisa jelasin kenapa bisa jadi begini. Tapi yang jelas aku nggak bisa sama kamu."
__ADS_1
"Coba pikirin sekali lagi. Bertahun-tahun kita sama-sama. Kenapa hanya dengan beberapa bulan kamu sudah berpindah haluan? Apa kamu siap nerima resikonya?"
"Tolong, Fin. Tolong jangan ngedesak aku kek gini. Aku benar-benar enggak tau, aku cuma ngikutin kata hati aku. Tolong jangan nge-judge aku begitu."
Seketika emosi Kevin yang tadinya berapi-api sedikit demi sedikit mulai mereda. Ia sandarkan lagi punggung di sandaran kursi. "Apa kamu yakin? Apa kamu yakin dengan hubungan ini? Apa kamu siap nerima segala tudingan. Ingat, dia pengusaha. Bukan pengusaha biasa. Dia punya banyak skandal, Fi."
Fia bungkam. Ia belum bisa menggambarkan kesulitan apa yang akan terjadi, tapi yang pasti ia tidak bisa menyerah akan Dafin.
"Kamu beneran bisa? Apa kamu beneran bisa ngelupain aku? Kamu rela membuang aku demi dia?" sambung Kevin.
Fia menggeleng, ia tak yakin. Bagaimana bisa melupakan Kevin? Sebelum rasa suka itu ada, mereka adalah sahabat. Ke mana-mana selalu bersama sudah seperti saudara. Bagaimana mungkin orang yang memiliki saudara lupa dengan saudaranya sendiri?
"Sorry, keputusanku udah bulat. Aku mau kita temenan aja. Sama kek hari-hari yang lainnya." Fia lantas pergi, berjalan laju keluar dari kafe. Namun, belum juga jauh keluar dari sana sebuah cekalan dari belakang hentikan. Gadis itu membalik diri dan melihat Kevin, menatapnya dengan penuh emosi.
"Kenapa lagi, Fin?" ketus Fia seraya menepiskan tangan Kevin.
"Tolong pikirin lagi, Fi. Pikirin ... pikirin aku, pikirin perasaan wanita yang kamu ambil kekasihnya. Tolong pikirin masa depan kamu dan keluarga kamu."
"Pikirin apa? Apa yang salah dengan saya?"
Seseorang yang berpenampilan rapi menyela dari belakang. Pria yang tak lain tak bukan adalah Dafin. Ia sungguh gerah dengan pemandangan yang ada. Niat hati hanya ingin mengawasi dan membiarkan Fia menyelesaikan urusannya dengan Kevin. Namun, Kevin sepertinya sangat bebal. Ia gerah hati dan menghampiri.
Mendekat dengan tatapan tajam, Dafin lantas melepas paksa cengkeraman tangan Kevin dari tangan kekasihnya.
"Harusnya yang kamu pikirkan itu diri kamu sendiri. Jangan memikirkan orang lain. Masalah kami adalah masalah kami. Dan kamu nggak berhak ikut campur maupun menasehati Fia. Ingat, kalian itu hanya sebatas teman. Dan aku ... aku adalah kekasihnya," balas Dafin penuh penegasan. Ia rangkul pundak Fia, mesra. Seolah-olah ingin memberi tahu pada Kevin kedudukannya di hati Fia.
Fia melongo sesaat. Ia bingung dan mulai bertanya-tanya, apa Dafin membuntuti dirinya? Fia mencoba melepaskan rangkulan, tapi Dafin malah makin mengeratkan.
Tentu saja Kevin yang melihat itu makin tersulut emosi, harga dirinya terinjak. Ia ingat betul bagaimana Dafin mempermalukan dirinya di pesta kala itu dan sekarang ....
Kevin berdecak, ia menyingsing jaket trucker yang membalut tubuh lalu membuka ritsleting. Ia gerah karena kehadiran Dafin.
"Lalu, apa istimewanya kamu? Bagaimana kamu bisa percaya diri begitu? Apa kamu yakin bisa membahagiakan Fia? Apa kamu yakin akan membuat dia selalu bahagia? Apa kamu yakin layak jadi pendampingnya?"
"Kevin!" sentak Fia. Ia memucat, merasa ada yang tak beres akan terjadi.
Bagaimana tidak? Dua pria yang ada di hadapan tengah memandang dengan tatapan tajam. Mereka seolah berkelahi tanpa ada yang menyadari.
Kini mata Fia melihat Dafin, pria yang ada di sebelahnya juga tampak berang, rahang kekasihnya itu juga sudah mengeras. "Dafin, pliase ... jangan. Lebih baik kita pulang, ya ...."
Fia benar-benar terdengar memohon. Ia sungguh takut sesuatu hal akan terjadi pada Dafin kalau memang pikiran buruk yang bersarang di benak menjadi kenyataan. Dafin bukanlah tandingan Kevin. Selain menguasai taekwondo, Kevin juga menguasai sembilan cabang olahraga bela diri yang dilombakan di Asean games. Jadi bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika benar-benar mereka beradu. Fia jadi bergidik.
Kevin kini kembali melihat Fia yang pucat pudar. "Coba pikirin lagi, pikirin baik-baik apa kamu bisa hidup dengan playboy kayak dia? Apa kamu tahu seluk beluk dia? Apa kamu tahu semua rahasianya?"
"Aku tahu," balas Fia.
"Apa kamu juga tau kalau ayahnya punya anak lain yang disembunyikan?"
Fia terdiam, ia tak pernah mendengar tentang itu. Melirik Dafin yang ada di sebelah, Fia makin khawatir, Dafin tampak menggeram, matanya melotot dengan rahang yang mengetat kuat. Sementara tangan, Fia dapat melihat tidak ada warna darah sama sekali di sana. Telapak tangan Dafin tampak pucat, menyiratkan bahwa kemarahannya sudah mencapai ke ubun-ubun.
Lisan Kevin tak terselesaikan karena terlebih dulu mendapat sebuah pukulan, tepat mengenai rahang. Ia terhuyung.
Sementara Fia, menjerit. Ia mencoba menahan Dafin, tapi Dafin yang sudah kadung geram menepis tangan Fia lalu mendekati Kevin. Ia cengkeram kedua belah kerah jaket Kevin.
Kevin yang posisinya sudah tersudut hanya menatap nyalang Dafin seraya mencoba melepaskan diri.
"Dafin, pliase jangan ...."
Lirih, suara Fia sudah bergetar. Ia sangat takut kalau dua pria itu akan makin lupa diri. Fia tarik jas Dafin dari belakang. Beruntung Dafin pun melepaskan cengkeraman.
Sayangnya tatapan Dafin masih sangat tajam saat melihat Kevin. Ia benarkan lagi jaket Kevin yang berantakan karenanya. "Urus urusanmu sendiri Tuan Kevin. Jangan urusi kami," ujarnya penuh peringatan lalu mundur beberapa langkah.
"Kami?" Kevin berdecih, "jangan gila," lanjutnya.
Tanpa aba-aba Kevin maju dan menyerang, tepat mengenai rahang Dafin. Davin terhuyung, meski sakit Dafin mencoba kembali membenarkan posisi. Ia tatap nyalang Kevin. Di kepala hanya ada kata melawan tanpa memedulikan risiko.
Fia yang makin kalut mencoba membentangkan tangan di hadapan Dafin. Namun, Dafin melewati tanpa menatap gadis itu. Kemarahan mendorongnya untuk terus maju. Teriakan Fia sama sekali tak terdengar.
Fia mencoba melerai lagi. Ia berdiri di antara Dafin dan Kevin. Sementara bibir, terus saja memohon mereka untuk berhenti. Sayangnya kedua orang yang sudah diselimuti rasa cemburu itu pun mengikuti kata hati yang salah. Mereka sama-sama menepis tubuh Fia dengan dada yang sama-sama membusung.
Dafin pegang bahu kiri Kevin dengan kuat, lalu berbisik, "Aku katakan sekali lagi. Dengar baik-baik karena aku sekarang juga berusaha bersikap baik. Tolong, jangan campuri urusan kami. Kamu menyerah saja. Fia hanya nganggep kamu teman. Gak lebih."
Penuh penekan dan ancaman. Namun Kevin tak memedulikan. Ia tepis tangan Dafin dari bahunya.
"Oh, ya?" Kevin menarik sebelah bibir. "Kalaupun iya, aku tetep gak rela dia sama kamu. Kamu gak pantes untuk dia," lanjut Kevin dengan nada menggeram juga.
"Dasar keras kepala," balas Dafin. Dafin kembali mendaratkan tangan dan mencengkeram bahu Kevin dengan sangat kuat, tetapi Kevin yang juga kesal kembali dapat melepaskan cengkeraman Dafin dengan mudah. Bahkan tak hanya melepaskan, Kevin tanpa berkedip memutar pergelangan tangan Dafin lalu melayangkan bogem mentah ke wajah Dafin. Dafin mengerang ia terujung ke belakang dengan darah mengucur dari hidung.
"Dasar brengsek!" seru Dafin. Ia balas menyerang, pukulan kiri, kanan, atas bawah serta tendangan ia layangkan bertubi-tubi tapi sialnya Kevin dengan gesit mengelak. Dan saat Dafin lengah, tanpa sempat menghindar sebuah pukulan mendarat di perut. Dafin terhuyung dan jatuh terlentang.
"Apa ini, apa cuma segini kemampuan kamu? Cemen," cerca Kevin, meremehkan. Seringai tetap tercetak di wajahnya.
Dafin kembali berdiri. Ia menyesal belajar bela diri alakadarnya saja. Kalau duku ia memperdalam, tidak mungkin bisa dipermalukan oleh Kevin dengan mudah. Dafin yang mulai oleng melihat sekitar. Tatapan orang meremehkan.
"Kenapa? Masih mau?" lanjut Kevin.
Dafin terpancing. Ia kembali melangkah lalu melayangkan tinju, dan sialnya tinju meleset. Kevin dengan cepat membalik keadaan. Dafin tercekik lengan Kevin.
"Bagaimana, apa masih bisa berlagak sempurna?" bisik Kevin geram tanpa mengindahkan Dafin yang kesulitan mengambil napas.
Dalam keadaan seperti itu Dafin dapat melihat ekspresi wajah Fia yang panik. Air mata gadisnya itu meluruh.
Sedih? Jelas saja. Ia ingin menjadi hero di mata Fia. Namun, kini malah terlihat menjadi pecundang.
Dalam ketidakberdayaan Dafin melihat Fia mendekat. Gadis itu memegang lengan Kevin dan menatapnya sendu. "Kevin, tolong lepasin Dafin ...."
__ADS_1
Seketika kuncian Kevin terlepas dan dapat melihat Dafin terbatuk-batuk. Namun, alih-alih bahagia karena menang, Kevin justru merasa gersang. Ia kalah telak saat melihat Fia dengan setia membantu Dafin membersihkan darah dan menopang Dafin agar bisa berdiri tegak.
Kevin mulai berpikir, apa sebegitu sayangnya Fia pada Dafin hingga tak memedulikan dirinya? Sahabat sedari kecil kalah dengan playboy seperti Dafin.
Kevin mundur, ia tergelak ironi dalam langkahnya yang gontai. Menjauhi Fia, ya mungkin itu yang terbaik. Kevin mulai menyadari bahwa cinta Fia pergi karena terlalu lama diabaikan.
****
"Kamu tunggu sini ya. Aku beli obat dulu," ujar Fia setelah berhasil membantu Dafin duduk di kursi yang tersedia di depan apotek.
Namun, bukannya mengiyakan Dafin malah menarik tangan Fia. Gadis itu kembali duduk.
"Kenapa?" tanya Fia, keheranan. Bukannya langsung bicara, Dafin malah diam.
"Hey, Fin. Kamu kenapa, sih? Ngomong dong," lanjut Fia lagi. Sementara tangan masih ia biarkan dalam genggaman tangan Dafin.
Dafin mendesah. Mata ia arahkan ke langit malam. "Fi, kamu beneran gak akan ninggalin aku, 'kan? Kamu gak akan pergi karena ...."
Dafin tak bisa menyelesaikan lisan. Lebih tepatnya tak bisa menjelaskan mulai dari mana. Keluarganya, ya ... seperti yang Kevin bilang sebelumnya kalau keluarganya memang punya rahasia besar.
"Kalau apa?" tanya Fia yang makin penasaran karean Dafin lagi-lagi menggantung lisan.
Hening, Dafin tak bersuara sama sekali.
"Lanjut dong m, Fin. Kalo ngomong itu jangan digantung. Kalau apa?" desak Fia. "Apa karena ucapan Kevin tadi."
Dafin tersentak. Namun kembali diam.
"Kalau kamu punya saudara lain selain Dafan dan Anya?" lanjut Fia lagi tanpa terbata.
Dafin mengangguk lesu. "Ya begitulah kira-kira."
Fia mengembuskan napas panjang, ia juga menatap langit malam yang sejujurnya tidak berbintang. Hanya gelap, bahkan hawa dingin menyeruak menyelimuti tubuh.
"Tenanglah, semua orang punya rahasia. Kalau kamu memutuskan merahasiakan, ya aku gak punya hak buat nanya-nanya," ujar Fia. Ia masih terlihat tenang.
"Maaf. Aku akan bilang saat aku siap. Gak apa-apa, 'kan?" tanya Dafin, wajah yang lebam terarah ke Fia. Fia membalas dengan senyuman.
"Tentu aja. Aku siap mendengar kapan saja."
"Dan soal kamu sama Kevin ...."
"Nanti," sela Fia lagi, "Nanti aku akan bicara lagi sama dia. Sekarang tolong jangan di pikirin. Dia memang begitu. Tapi percayalah, dia baik kok."
Dafin berdengkus, di saat dirinya terluka sang pacar justru membela pria lain.
"Lah, itu kenapa mukanya?" goda Fia. Ia sikut lengan Dafin. Dafin lagi-lagi membalas dengan dengkusan.
"Tenanglah, aku sama dia udah selesai. Jadi jangan permasalahkan sesuatu yang sebenarnya bukan masalah, bisa?"
Dafin bergeming, entah kenapa ia merasa diancam. Ia benarkan posisinya lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jas.
"Apa ini?" tanya Fia, sebuah kotak persegi empat ada dalam telapak tangan.
"Bukalah."
Fia menurut. Matanya langsung terbuka lebar saat sebuah cincin berlian ada di dalamnya.
"Dafin, ini ...."
"Tadinya aku mau ngelamar kamu di depan orang tua kamu. Tapi aku lupa bawa cincinnya. Pas aku balik lagi aku liat kamu naik taksi. Ya udah, aku ikutin. Aku gak percaya kamu ketemuan sama mereka."
"Fin, kamu jangan salah paham." Fia deg-degan. Takut Dafin berpikir yang tidak-tidak.
"Gak, aku gak salah paham. Justru aku lebih paham. Semuanya memang harus diselesaikan. Baik sekarang atau nanti semuanya tetap harus diperjelas."
"Lalu ini ...." Fia mendorong lagi kotak cincin itu.
"Jadilah istriku." Dafin menatap makin serius.
"Tapi, Fin. Kenapa buru-buru? Kamu tau, aku punya impian. Dan sepertinya pernikahan ....''
Lisan Fia terjeda, berganti dengan mata yang membulat. Dafin tanpa bertanya sudah menyematkan cincin di jari manisnya.
"Aku tau kamu berat memutuskan. Aku juga gak akan maksa. Tapi tolong pikirin baik-baik. Aku sayang sama kamu dan aku takut ditikung."
"Dafin." Fia mati kata. Jujur ia terharu, tapi takut secara bersamaan. "Baiklah, kasih aku waktu," lanjutnya setelah lumayan lama melihat cincin yang sudah tersemat di jarinya.
"Terima kasih." Dafin tersenyum sedikit.
Fia kembali berdiri. Wajah lebam Dafin sangat menggangu mata. Hilang sudah pesonanya karena lebam. "Kamu tunggu di sini. Aku beli obat dulu buat obatin luka kamu."
Dafin pun melepas kepergian Fia dengan senyum lega. Paling tidak ada cincin di jemari Fia. Tanda bahwa dirinyalah pemilik gadis itu.
Sementara Fia yang masih kalut dengan pikiran sendiri berjalan keluar dari apotek tanpa bisa fokus. Sekantong obat ia tenteng hingga kaki tak sengaja tersandung dan terlempar lah benda bawaan.
Sialnya benda yang bisa dibilang sedikit berat—karena ada sebotol air mineral—itu pun melayang dan mendarat tepat di tengah-tengah paha Dafin.
Dafin meringkuk. Wajahnya merah padam dengan urat kepala yang timbul secara bersamaan. Sumpah rasanya sangat sakit. Sakitnya sampai naik ke perut dan membuat keram.
Fia yang panik mendekat dengan wajah tak kalah cemas. Ia pegang punggung Dafin yang melengkung.
"Fin, k-kamu gak apa-apa?" tanya Fia terbata.
Namun Dafin tetap mengerang dengan tangan memegang perut. "Tower mini-ku, Fi. Masa depanku," rintihnya pelan.
__ADS_1