Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Final.


__ADS_3

Sementara di restoran, Nara tetap duduk tenang menunggu Ferry tiba setelah menghubunginya. Ia melakukan apa yang Anya perintahkan. Jujur ... ya ia akan jujur pada Ferry.


Setelah lima belas menit menunggu, Ferry pun tiba dengan tergesa-gesa. Pria itu langsung duduk. Nara yang melihatnya sedikit sedih. Wajah Ferry yang semalam ia puji tampan kini sudah ada jejak kebiruan. Itu semua karena Dafan. Namun, ada yang berbeda selain wajah yang membiru. Bunga ... ya, Ferry membawa sebuket bunga untuknya.



"Maaf ya lama. Tadi habis dari bengkel," ucap Fery lantas menyerahkan barang bawaan pada Nara. "Buat kamu," sambungnya seraya tersenyum tulus.


"Buat aku?" ulang Nara. Meski Canggung, ia sambut juga pemberian itu, mencium harum aroma bunga lalu kembali melihat Ferry. Walaupun ada beberapa memar, ketampanan Ferry tak bisa diragukan lagi.


"Kok dari bengkel? Kamu kecelakaan?" sambung Nara, keheranan.


"Iya, semalam mobil aku ditabrak dari belakang."


Mata Nara membulat. "Serius? Tapi kamu gak apa-apa, 'kan?" tanya Nara seraya melihat tubuh Ferry.


Ferry mengiyakan, sekarang dirinya yang memindai penampilan Nara dengan seksama. "Kalau kamu, apa kamu baik-baik aja? Kamu gak dipukul Dafan, 'kan?"


Nara menggelengkan kepala. "Gak kok. Justru sebaliknya."


"Maksudnya?" Alis Ferry tertaut.


"Gini, Fer. Sebenarnya alasan aku ngajak kamu ketemuan untuk membahas soal pertanyaan kamu semalam."


Ekspresi Ferry berubah serius, ia berharap, sangat berharap kalau perasaannya disambut oleh Nara, tapi juga tak punya niat untuk memaksanya.


"Aku udah nentuin pilihan Fer dan maaf, kayaknya hubungan kita cukup temanan aja. Aku masih sayang sama Dafan. Kita bakalan tunangan minggu depan."

__ADS_1


"Apa?!" Suara Ferry begitu nyaring. Ia benar-benar tidak menyangka Nara akan mengatakan hal itu. Tunangan? Hah! Ingin rasanya ia memukul orang.


Masih dengan wajah bingung, Ferry pun kembali berkata, "Kamu serius? Kenapa mendadak?" Ferry memindai ekspresi Nara. Pikiran buruk pun bersarang dalam kepala. "Kalian gak yang ...."


"Tentu saja bukan itu," pungkas Nara cepat. Pipinya merona. Ia tahu apa yang ada dipikiran Ferry.


"Lalu? Kenapa mendadak, Ra? Apa dia ngancem kamu?" cecar Ferry yang masih tak terima.


"Karena orang tua kami yang maunya begitu. Lagian ini nggak mendadak, Fer. Kamu kan tahu kalau aku sayang banget sama dia," jelas Nara.


Ferry berdengkus, ia masih tak terima. "Tapi dia udah nyakitin kamu, Ra!"


"Tapi Perasaan nggak bisa dibohongi, Fer. Nggak bisa dimanipulasi. Aku udah berusaha maksimal buat lupain dia. Tapi aku gagal."


Ferry pun mendesah. "Lalu aku?"


"Bagaimana dengan aku? Apa aku gak pernah kamu pertimbangkan barang sekali?" lanjut Ferry


Nara menggelang. Ia sempat terpesona dengan Ferry, tapi hanya sekedar mengagumi kebaikan dan ketampanannya saja. Sedangkan Dafan, pria itu menyita segalanya.


Membalas tatapan Ferry, Nara pun berkata, "Aku mau kita tetap temenan. Bisa, 'kan?"


"Tapi, Ra. Aku sayang banget sama kamu. Apa kamu gak mau berpikir sekali lagi?" iba Ferry. Tampak memohon.


"Sorry, aku juga nggak bisa ngasih harapan palsu sama kamu. Carilah perempuan lain. Aku yakin banyak yang mau sama kamu."


"Tapi aku maunya kamu."

__ADS_1


"Fer, please ... jangan bikin semuanya makin sulit buat aku. Kamu pikir aku senang kayak begini? Aku pun nggak enak, Fer. Kamu udah baik banget, tapi hati aku nggak bisa dipaksa."


"Kalian baru tunangan, 'kan? Oke, gak masalah. Selama masa tunangan ini, aku akan usaha buat ngerubah pendirian kamu. Izinkan aku buat buktiin perasaan aku," pinta Ferry, kekeh.


Nara menggeleng. "Maaf, Fer. Aku benar-benar ngelarang kamu buat ngelakuin itu. Menunggu sesuatu yang gak pasti itu gak enak banget. Aku nggak mau kamu ngikutin jejak aku. Kalau bisa pergi, pergilah. Untuk apa menunggu sesuatu yang yang nggak mungkin bisa kamu dapatkan."


"Tapi Ra—"


Perkataan Ferry terjeda, Nara dengan hangat menggenggam tangannya. "Aku pengen kita tetap temenan. Kamu tetep temen terbaik. Kamu sama Anya itu tetap nomor satu. Dan aku berharap ini tetap terjalin sampai kita tua nanti."


"Apa kamu yakin ... dia itu udah ...."


Lagi, perkataan Ferry terjeda karena melihat senyum Nara yang begitu indah.


"Aku udah ngambil keputusan. Aku bakalan bertahan untuk Dafan. Walaupun sulit menjadi tunangannya, aku akan tetep bertahan dan terus mencintai dia. Mungkin akan banyak yang bilang kalau aku ini perempuan bodoh. Tapi, aku nggak bisa munafik. Semakin aku menampik, semakin kuat rasa itu untuk Dafan. Aku hampir gila, Fer. Aku hampir gila hanya karena masalah perasaan. Mau ini obsesi atau beneran cinta, mau efeknya buruk atau indah. Aku bakalan tetep bertahan."


Ferry yang tiba beberapa menit lalu dengan mengumpulkan keberanian dan mempunyai sejuta harapan langsung melemas seketika. Punggungnya tersandar lesu. Ia menatap wajah Nara yang juga kelihatan serba salah.


"Maaf ya Fer. Aku pamit," ucap Nara lalu berdiri. Buket bunga yang Ferry kasih ia peluk dengan erat. "Bunga ini aku terima. Tetep aku bawa pulang, tapi maaf ... perasaanmu harus aku tolak. Bunga ini aku anggap sebagai bunga pertemanan."


Ferry pun menggangguk. Bertahun-tahun menyimpan perasaan tapi akhirnya kembali lagi ke angka nol. Satu yang Ferry sesali, kenapa ia tidak mengungkapkan perasaannya lebih awal? Jika ia melakukan hal itu, mungkin saja Nara sudah jadi miliknya dan bisa melupakan Dafan.


Tersenyum getir, Ferry lihat punggung Nara yang perlahan hilang dari pandangan. "Aku hanya berdoa, Ra. Aku akan terus berdoa, semoga kamu nggak jadi sama Dafan. Aku berharap kamu sadar kalau ada aku yang lebih pantes dapetin kamu. Di sini aku akan menunggu. Walaupun kamu ngelarang, aku tetep akan menunggu."


***


Nyesek gak tuh.

__ADS_1


Like vote jgn lupa.


__ADS_2