
Waktu yang sudah menunjukkan hampir tengah malam tak membuat Litania, Dafan dan Chandra lantas tidur, mereka menunggu Dafin pulang dan menuntut penjelasan. Hari ini mereka mendapati keputusan gegabah dari pria itu. Suatu tindakan yang tak jelas menguntungkan ataukah merugikan, yang pasti bagi mereka sebuah kebohongan tak akan memberikan efek baik dari segi mana pun.
Mendesah panjang, Litania yang duduk menopang kepala dengan siku melirik lagi si anak sulung yang duduk di hadapannya. Anaknya itu tersandar lesu di sofa dengan kepala mendongak, mata pun terpejam. Ia tahu pasti anaknya itu tidak tidur melainkan sedang menenangkan perasaan yang tengah hancur.
Pintu berderit dan masuklah Dafin yang berpenampilan sungguh buruk—rambut acak-acakan, dasi longgar serta jas sudah beralih ke pundak sebelah kiri. Ia masuk dengan langkah gontai.
"Dafin, sini dulu. Kami semua butuh penjelasan," ujar Litania. Ia yang duduk bersebelahan dengan suami, menatap tajam ke arah Dafin.
Sementara Dafin, ia melihat sekilas saudaranya yang juga duduk dengan wajah yang ... entahlah. Ia rasa saudaranya itu tengah marah, tapi terlihat sedih di saat bersamaan.
Tanpa banyak kata, ia pun duduk di sofa ruang keluarga. Sudah siap di sidang maupun di marah habis-habisan. Bagi keluarga mungkin itu cara terburuk menghindari masalah, tapi baginya itu adalah cara tercepat untuk membungkam mulut pedas para saingan. Ia sangat yakin begitu banyak pasang mata yang ingin menyaksikannya kalah.
"Ayah sudah dengar alasan kamu melakukan itu semua dari Dafan, cuma rasanya ...." Chandra membenarkan posisi, ia kini sudah duduk tegak. Aura tegas terlihat jelas. Ia pindai wajah Dafan dan Dafin secara bergantian karena sudah mendengar soal hubungan segitiga antara Dafan, Fia dan Dafin dari Litania. Ia berakhir mengeluarkan napas panjang.
"Maafkan Dafin, Yah. Tadi itu spontan. Dafin nggak tau cara tercepat selain itu."
"Iya Bunda tau. Tapi apa kamu gak mikirin Fia? Ingat, dia itu perempuan, apa jadinya jika nanti terdengar kabar kalian putus? Pasti orang bakalan menuding gadis itu," papar Litania dengan emosi menggebu-gebu. Rasa kesal dan kasihan membuatnya tak bisa berbicara seperti biasa.
"Maafkan Dafin, Bun. Nanti kalau pelakunya sudah tertangkap, Dafin akan menjelaskan semuanya. Tapi untuk sekarang Dafin mohon, percaya sama kami," balas Dafin. Ia dapat melihat kekesalan di raut muka ibunya.
"Lalu bagaimana keadaan Sisi?" Kini Chandra menimpali.
"Dia koma, dan dokter bilang kalau kita hanya bisa berdoa," balas Dafin. Ia tertunduk lagi. Terbayang wajah lebam Sisi dan tentu saja membuat hatinya terasa perih. Ia menarik napas panjang. "Sekali lagi Dafin minta maaf."
"Baiklah, lebih baik kamu tidur." Chandra melihat Dafan, "dan kamu, Fan. Kamu juga harus tidur."
Dafan dan Dafin bergerak secara bersamaan, keduanya sama-sama menaiki tangga menuju lantai dua tempat di mana kamar mereka berada. Dafin yang berjalan di belakang Dafan hanya mampu memindai punggung terturun saudaranya. Sangat jelas kekecewaan di wajah Dafan, tapi Dafin juga tak mempunyai pilihan. Akan lebih baik jika saudaranya itu mengamuk daripada cuma diam. Tingkah seperti itu membuatnya takut dan rasa bersalah menjadi berkali-kali lipat.
Tibalah di depan pintu kamar. Dafin yang hendak memegang gagang pintu tersentak saat ada panggilan dari arah samping. Ia pun menoleh dan mendapati Dafan berjalan ke arahnya. Ia hanya diam menunggu lanjutan.
"Aku percaya ini cuma akting dan aku yakin ini juga bukan kemauan kalian. Cuma ...."
"Apa?" sela Dafin.
"Apa kamu yakin benar-benar gak ada rasa ke dia?" lanjut Dafan. Tatapannya yang biasa teduh menjadi tajam dalam sekejap.
Dafin gelagapan, ia sentuh hidung seraya menata hati yang mendadak bergemuruh. Kegelisahan mendera padahal hanya sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut saudaranya.
"Jawab aku, Fin. Apa kamu beneran cuma nganggep dia bawahan?"
"Tentu, aku sudah punya wanita yang aku sayang," balas Dafin mantap, "memangnya kenapa?"
"Aku gak bisa nyerah gitu aja buat dapetin hati Fia. Aku benar-benar suka dia dan aku gak rela jika harus nyerah tanpa usaha. Aku harap ucapan kamu tadi selalu kamu pegang. Kamu bakalan lepasin Fia saat semuanya sudah terkendali," ungkap Dafan.
Entah kenapa Dafin merasa ada yang aneh, semacam perasaan tak senang meskipun sudah tahu kenyataan kalau Dafan menyukai gadis itu. Suatu keadaan yang membuatnya merasa sedikit terganggu.
Menepuk pundak Dafan, Dafin pun tersenyum. "Lakukanlah, lakukan apa pun yang kamu bisa untuk membuatnya milih kamu. Aku gak akan ikut campur."
****
Pagi harinya.
Tak ada obrolan sama sekali yang menengahi kebersamaan mereka di meja makan. Semuanya menikmati makanan enak yang sudah tersaji. Namun, rasanya tetap berbeda dari hari biasa apalagi tak ada si biang rusuh di antara mereka. Dafin yang tak melihat sang adik mulai penasaran.
Meletakkan gelas di atas meja, Dafin pun memberanikan diri untuk bertanya, "Oiya, Bun, kok Anya gak ikut sarapan?"
Litania yang sedari tadi mengaduk makanan langsung meletakkan sendok. Satu lagi masalah di keluarganya, yaitu Anya.
"Anya ke Semarang, dia tinggal di sana mulai hari ini," papar Litania, pundaknya terlihat turun. Ia lirik kursi yang biasa Anya duduki. "Bunda harap cara ini ampuh buat mendidiknya."
Dafin ikut mengeluarkan napas panjang. Tingkah Anya memang menyebalkan, tapi saat tak ada gadis itu, suasana mendadak membosankan.
__ADS_1
"Semua dokumen penting tentang proyek masa depan dan segala macam sudah Ayah simpan di dalam laci. Jika ada sesuatu yang tidak kamu pahami bisa langsung kamu tanyakan sama sekertaris kepala. Dia yang mengetahui segalanya. Dan jangan lupa, suruh sekertaris kamu mendengar arahan dari dia. Dia rencananya akan pensiun sebulan lagi. Jadi ayah minta agar kalian bekerja sama dengan benar," papar Chandra panjang lebar. Ia melihat anggukan kepala dari Dafin.
"NDan jangan lupa nanti malam ajak gadis itu ke sini, kita makan malam," ucap Chandra lagi yang tentu saja membuat kedua anaknya tercengang secara bersamaan.
"Suruh Fia ke sini?" ulang Dafin yang masih tak percaya.
Litania mengiyakan. Ia lirik sekilas wajah si sulung yang terlihat murung. Anaknya itu beranjak dari kursi lalu pergi tanpa berkata-kata.
****
"Eh kalian tau nggak? Pak Dafin sama sekretarisnya itu pacaran, loh," papar seorang wanita muda berambut sebahu.
"Eh, masa?"
Wanita berpakaian rapi dengan rok selutut sampai meletakkan gelas kopi yang baru saja dipegang, bahkan tak hanya wanita itu, tiga orang pengguna pantry lainnya juga mulai mengikuti si informan hingga semua berkumpul mengelilingi meja bundar yang ada di tengah ruangan.
"Beneran, aku nggak bohong. Semalam aku dapat info dari pegawai kafetaria kita sini, mereka bilang kalau ternyata Pak Dafin sama sekertarisnya punya hubungan. Mereka bahkan udah nyebut-nyebut soal pernikahan," timpal si wanita berambut sebahu yang bernama Rita.
"Ciyus, Ta? Kamu nggak bohong, 'kan? Kok bisa sih?" balas Merlin, teman satu tim Rita di bagian pemasaran.
"Bener-bener, aku juga tadi ada dengar berita ini cuma nggak berani nyimpulin. Soalnya kan kita-kita nggak dateng. Wong yang di undang orang VIP semua." Si pria bertubuh kurus tinggi menimpali.
"Aku heran, apa sih yang bikin Pak Dafin mau sama sekretaris itu? Eh siapa sih namanya?" tanya wanita lainnya yang bernama Uci dari divisi desain grafis.
"Kalau nggak salah namanya Fia," jawab Rita.
"Nah, iya. Aku juga heran dan naruh curiga, kenapa Pak Dafin mau nerima dia yang jelas-jelas nggak ada pengalaman kerjanya? Aku dengar dia itu dulunya cuma tour guide, loh."
Rita manggut-manggut. "Kita sepemikiran, seharusnya kan sekelas sekretaris direktur harusnya udah punya pengalaman paling nggak beberapa tahun. Nah dia, langsung aja gitu diterima."
"Apa jangan-jangan mereka udah punya hubungan ya sebelum wanita itu ngelamar di sini?" terka Uci.
Semua orang saling pandang. Bahkan ada yang menggidikkan bahu.
"Nah benar ini. Aku juga nggak paham di situ. Apa mata Pak Dafin siwer, ya? Padahal yang lebih cantik dari Fia itu kan banyak," ujar Merlin.
"Katanya si Fia ini punya kelebihan. Tapi kalau aku lihat-lihat gak juga tuh. Tubuhnya juga gak molek-molek amat. Cuma aku pernah denger kalau dia pinter banget terus menguasai 5 bahasa. Tapi tetep aja klise, kalau hanya sekedar itu rasanya enggak masuk akal, secara rata-rata yang masuk kerja di sini memang ber-otak cerdas dan nilai melebihi rata-rata. Apalagi yang ngelamar jadi sekertaris kan memang kebanyakan memiliki kemampuan itu," papar Rita mengemukakan pendapatnya.
"Apa jangan-jangan si Fia ini pakai cara licik, ya?" timpal Merlin.
Uci terbengong. "Maksud kamu?"
"Ya kamu tahulah, laki-laki itu ibaratkan kucing, kucing sekenyang-kenyangnya kucing tetep aja akan melahap ikan yang ada di depan mata. Apalagi kalau ikannya yang siap saji kek si Fia itu," papar Merlin lagi
Si pria melotot, gerah dengan ghibahan mereka. "Kalian jangan suudzon dulu. Ya siapa tahu memang mereka saling suka dan yakin untuk nikah. Gak ada salahnya selama suka sama suka."
"Ya ampun Miko, realistis aja deh, kalau kamu ketemu perempuan belum sampai sebulan, apa kamu udah bisa bilang kalau suka sama dia dan yakin buat nikahin dia?" Si Rita berujar geram, "enggak, 'kan? Semua pasti berproses, perlu sesuatu yang membuat kita itu yakin dengan pilihan itu dan salah satunya ya dengan memerlukan waktu. Masa iya bekerja belum lama udah bisa mendapatkan hati pak Dafin. Gak masuk akal. Nonsens."
Merlin mengangguk, mengiyakan. "Bener kata Rita. Aku juga curiganya gitu, penampilan tu perempuan biasa aja bahkan bisa dibilang dibawah standar. Enggak seksi dan nggak yang gimana-gimana. Nggak ada yang menonjol. Cuma heran, kok bisa ngedapetin perhatiannya pak Dafin? Apa jangan-jangan benar kata kamu, Ta? Dia pakai cara belakang."
"Cara belakang? Apa maksud kamu punggung begitu?" kelakar Uci yang sontak saja disusul gelak tawa dari yang lain. Mereka bahkan tak menyadari ada si objek ghibahan tengah berdiri di sana. Fia yang awalnya hendak mengambil kopi memutuskan menyingkir sebentar dan mendengarkan apa yang mereka ucapkan.
Sekarang ia menyesal menguping setelah tahu dirinya sendirilah yang menjadi bahan pembicaraan hangat di sana. Topik pembicaraan yang jujur membuatnya sedikit terluka, dirinya benar-benar jadi bahan tertawaan orang-orang yang tidak mengerti keadaannya maupun Dafin.
Fia memutuskan pergi. Ia membalik diri dan berjengket saat melihat tubuh tegap dan tinggi Dafin ada di depan mata. Ia gelagapan. "P-pak Dafin, sejak kapan Bapak di sini?
Akan tetapi berbeda dengan ekspresi Dafin, pria itu mengabaikan pertanyaan Fia dan tampak mengetatkan rahang. Ia tatap nyalang kerumunan karyawan yang masih saja cekikikan.
"Apa yang kalian bicarakan tentang tunangan saya?" ujar Dafin. Semua orang yang ada di dalam sana kaget dan berdiri dengan kepala tertunduk.
"Maaf Pak Dafin. Kami cuma ...." Rita tak bisa menyelesaikan lisan, ia gugup melihat sang pemilik perusahaan menatap tajam. Ia tertunduk makin dalam.
__ADS_1
"Kalian ini ya, masih pagi sudah menjelek-jelekkan orang lain. Harusnya pagi hari itu kalian awali dengan sesuatu yang positif bukannya bergosip atau berkomentar buruk tentang seseorang," papar Dafin dengan suara datar tapi jelas tengah menggeram.
Hening, semuanya masih tertunduk. Tak ada yang berani mengangkat kepala apalagi menyanggah.
"Kalian ingin tahu kenapa saya tertarik sama Fia?" lanjut Dafin lagi.
Sontak Fia mendongak dan rahang tegas Dafin membuatnya terpaku sejenak. Pria di sebelahnya jelas terlihat marah, tetapi entah kenapa ia merasa nyaman dan terlindungi hingga sebuah rangkulan di pinggang membuatnya tersentak. Gadis itu mengerjap karena Dafin mengalungkan lengan di pinggangnya dengan mesra.
"Kalian bilang apa? Fia ini standar? Banyak perempuan yang melebihi dia?" Dafin terkekeh sinis. Matanya memindai mereka satu persatu. "Kalian salah besar, Fia ini spesial. Dia ini berbeda dengan kalian," lanjutnya.
Fia masih terdiam. Perlahan kedua ujung bibirnya tertarik.
"Saya juga sama seperti kalian, beranggapan banyak manusia pintar di atas manusia pintar yang lainnya. Hanya saja Fia ini berbeda. Ilmu yang kalian dapat dengan susah payah, les sana-sini, kursus sana-sini dan segala macam dapat Fia raih dengan sendirinya. Dia belajar otodidak tanpa guru maupun pembimbing, itu yang membuat dia berbeda dari kalian," jelas Dafin lagi, penuh penekanan dalam perkataan.
Semua tertunduk, rata-rata dari mereka menggigit bibir bawah. Baru kali ini mendengar sang bos utama mengomel dengan panjang lebar.
"Maafkan kami, kami tidak akan mengulangi lagi," ujar Rita yang diangguki teman-temannya.
"Jangan ulangi lagi. Jika ada yang berbicara miring tentang Fia, akan langsung berhadapan dengan saya." Dafin berdengkus, ia lihat Fia yang masih saja menatap wajahnya. "Jangan terpesona pada saya," bisiknya pelan.
Fia gelagapan dan berusaha melepas rangkulan, tapi Dafin malah mengeratkan. "Sandiwara jangan setengah-setengah," bisik pria itu lagi.
Fia hanya bisa menelan ludah. Ia pasrah saat Dafin menuntunnya menuju pintu keluar pantry hingga sebuah ide membuat langkahnya terhenti. Ia membalik diri dan kembali menatap wajah-wajah yang baru saja menghinanya.
"Satu lagi kelebihan saya yang kalian nggak tahu. Saya ini masternya taekwondo. Saya sudah punya segala macam warna sabuk. Jadi, jika kalian tidak ingin kehilangan gigi depan kalian, sebaiknya jaga lisan sebelum ini ...." Fia menunjukkan kepalan tangan, "sebelum ini mendarat di bibir kalian," lanjutnya seraya tersenyum sinis.
Semua yang ada di sana kembali saling pandang, mereka melihat punggung Dafin dan Fia hilang ditelan pintu.
"Ternyata dia bukan gadis biasa. Dia gadis barbar kesayangan direktur," gumam Rita.
Sementara itu, Dafin terus saja merangkul pinggang Fia dan tentu saja mendapat tatapan heran dari para pegawai lainnya.
"Jangan canggung, santai saja," gumam Dafin yang masih bisa di dengar Fia.
"Bagaiman bisa saya santai, Pak? Semua orang melihat saya dengan tatapan yang ...."
"Sudahlah, jangan pikirkan mereka. Lebih baik kita cepat masuk ke ruangan."
Dafin melepaskan rangkulan ketika sudah sampai ke dalam ruangan. Ia lepas jas dan menggantungnya. Sementara Fia, gadis itu berdiri di dekat pintu.
Perlahan Fia mendekati meja Dafin. "Terima kasih banyak atas bantuan Bapak tadi," ujarnya pelan.
Dafin yang sudah duduk di kursi kebanggaan menatap serius ke arah Fia tanpa berkedip.
"Harusnya kamu berani. Jangan pernah bersembunyi apalagi minder. Mereka itu iri makanya berbicara yang bukan bukan tentang kita, tentang kamu khususnya," Jeda sejenak, Dafin menghela napas panjang. "Jika sesuatu terjadi seperti itu lagi, angkatlah kepalamu Fia. Lawan mereka. Anggap saja kamu benar-benar tunangan saya yang punya kekuatan dan kekuasaan. Bungkam mulut mereka yang suka berkomentar buruk tentang Kita."
"T-tapi, Pak."
"Mulai sekarang saya kasih kamu keistimewaan itu. Lakukan sesuatu sesukamu asal masih di tahap normal dan tidak mempengaruhi perusahaan," lanjut Dafin.
Fia mengangguk paham.
"Dan juga, harap bersiap sore ini. Orang tua saya mengundang kamu untuk makan malam di rumah."
Lagi-lagi Fia terbeku, ia melongo dengan mata mengerjap berkali-kali. "M-makan malam? Malam ini? Di rumah Bapak?" cecarnya terbata.
Dafin menarik sebelah bibir. Ia bersandar dan menikmati sedikit ekspresi wajah panik Fia. "Tenang saja, orang tua saya tidak semenakutkan seperti mertua yang ada di sinetron. Orang tua saya ramah, mereka hanya ingin mengenal kamu dan mengucapkan terima kasih."
"Baik, Pak. Saya nanti akan bersiap," balas Fia.
"Oh iya, apa saja jadwal saya hari ini?" lanjut Dafin lagi.
__ADS_1
Fia yang belum mengerti sepenuhnya masih terbengong hingga Dafin harus kembali memanggil namanya.
Fia tersentak. Cepat-cepat menekan ponsel dan belum sempat membacakan jadwal, suara ketukan pintu terdengar. Lalu masuklah pria tegap berusia hampir lima puluh tahun. Pria rapi dengan rambut putih mendominasi kepala.