Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Menyelesaikan


__ADS_3

"Terus Bapak sama Ibuk jawab apa? Kalian gak nerima lamarannya, 'kan?" tanya Fia yang makin tak karuan. Kedua orang tuanya justru saling pandang. Pikiran buruk pun mendominasi. Ia tatap lekat-lekat wajah ibunya yang kebingungan dan masih berharap sebuah jawaban.


"Ibuk gak nerima lamaran dia, 'kan?" ulang Fia lagi. Sangat berharap ibunya mengiyakan.


"Tentu saja enggak, Fia." Edi yang duduk di sebelah kiri menjawab. Fia langsung memutar kepala dan melihat senyum di wajah tua ayahnya. Dan perlu beberapa detik untuknya bisa mencerna perkataan itu.


"Kami bilang kalau keputusan mutlak urusan kamu. Jadi kami gak mengiyakan atau menolak," timpal Marina.


"Beneran?" tanya Fia, "kalian gak nerima lamarannya?"


Edi mengangguk. Ia belai pucuk kepala Fia. Senyum di wajahnya yang tua tak luntur sama sekali. Meski sudah dewasa, Fia tetaplah anak yang kadangkala tanpa sadar ia anggap masih kecil.


"Yang akan nikah itu kamu. Jadi Bapak sama Ibuk bilang ke Kevin kalau semua keputusan ada di tangan kamu," jelas Edi meyakinkan, lagi.


Plong, napas akhirnya terembus juga setelah beberapa detik tertahan. Rasanya lega. Fia pun merebahkan punggung di sandaran sofa dengan sedikit melemaskan wajah. Ia benar-benar tak bisa membayangkan kerumitan apa yang akan menerjang jika sampai keluarganya menerima lamaran itu.


"Tapi kenapa dengan wajah kamu, Nak? Bukannya kamu udah lama suka sama Kevin? Sekarang kenapa keliatan gak senang gitu?" tanya Marina.


Wajah Fia menegang kembali. Ia membenarkan posisi lalu meremas lututnya sendiri. Entah kenapa rasa malu menghantam diri. Ia gugup. Itu rahasia yang setengah mati ia jaga.


"Ibuk tau?" tanyanya, "tapi ... sejak kapan?"


Hening, tapi sedetik kemudian mata Fia membulat setelah mengingat sebuah kotak Indomie di dek kamarnya yang ada di Bali. Gugup, Fia pun menatap ibunya dengan penuh keseriusan. Dengan bibir yang bergetar, ia pun berkata, "A-apa I-ibuk liat barang-barang aku yang ada di kotak?"


"Kotak?" ulang Marina dan Edi hampir bersamaan. Keduanya saling pandang—bingung—sebelum akhirnya kembali merekahkan senyuman.


Edi beranjak dari kursi. Ia merasa dua wanita terkasihnya itu butuh ruang untuk mencurahkan isi hati. Ia tak ingin suasana menjadi canggung karena pembahasan perihal laki-laki. Dan yang paling tepat mendampingi Fia adalah, Marina—istrinya.


"Bapak mau ke kamar dulu, kalian mengobrol saja. Bapak yakin kehadiran Bapak bikin Fia gak nyaman."


"Bapak, bukan gitu, Pak," sanggah Fia. Netranya mulai berkaca-kaca, padahal tidak ada sama sekali niat hati atau terbersit kata seperti itu. Edi adalah orang tuanya, meskipun Kevin tetaplah menjadi rahasia.


Namun, Edi hanya membalas dengan ulasan bibir. Ia tepuk pundak anak sulungnya itu lalu memutar tumit dan pergi.


Tinggallah Fia dan Marina yang duduk bersebelahan. Saling memangku tangan masing-masing. Keduanya sama-sama melemparkan pandangan ke arah pintu dengan diikuti helaan napas panjang.


Menunduk, Fia merasa malu untuk sekedar mengangkat kepala. "Sejak kapan Ibu tahu?'' tanyanya.


Sudah tidak mungkin mengelak. Ia yang tertunduk dapat melihat jemari tangan ibunya yang sudah mengendur dan hitam karena tersengat sinar matahari. Pilu hati melihat itu, hanya saja ia juga tak bisa berbuat apa-apa selain berbakti di sisa hidup Marina. Membahagiakan dan mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga adalah keinginannya untuk saat ini dan yang akan datang.


Marina menggenggam tangan Fia lalu memijatnya. "Sudah lama, Fia. Kamu itu anak Ibuk. Ibuk tau semuanya walaupun kamu nggak bilang," terangnya pelan.


Fia makin merasa getir. Tangan ibunya benar-benar terasa kasar. Ia angkat kepala dan mendapati senyum indah yang tercetak di wajah Marina. "Jadi Ibuk liat barang-barang aku yang ada di dek atas?"


Marina makin menggenggam tangan Fia lalu menggeleng. "Bukan, Ibuk tau bukan karena melihat isi kotak itu. Ibuk tau sudah lama. Walaupun kamu gak bilang, tetep aja Ibuk merasa. Apa kamu lupa kalau kamu itu anak Ibuk? Perasaan seorang ibu itu sensitif. Apalagi menyangkut anak dan suami. Dan kamu salah satu yang bisa Ibuk baca. Kamu anak Ibuk."


"Ibuk ...."


Fia merasa pipinya menghangat dan ia yakin warnanya juga sudah memerah. Terbongkar sudah rahasianya selama ini padahal sudah berusaha menyembunyikan perasaan itu.


Dalam diam Fia mulai berpikir, apa perasaan suka yang ia simpan untuk Kevin begitu kentara? Pertama-tama Kevin, kedua orang tuanya pun menyadari itu. Apa jangan-jangan orang lain juga mengetahui kalau ia menyukai Kevin?

__ADS_1


Fia makin gelisah, pikirannya tertuju pada Della, apa jangan-jangan sahabatnya itu juga menyadari perihal itu? Kalau iya, bukankah itu akan menjadi bencana?


Dan Kevin, bagaimana pria itu melamar tanpa memberi kabar?


Fia merogoh tas selempang yang ada di tubuhnya, pesannya saja tidak dibalas Kevin. Lalu, bagaimana bisa melamar begitu saja?


Marina yang mulai menyadari ekspresi Fia mulai membelai ujung rambutnya. "Tapi walaupun begitu, kami tetap menyerahkan keputusan sama kamu. Karena hati itu mudah dibolak-balik. Terbukti kan. Untung gak Ibuk terima."


"Ibuk ...." Suara Fia lirih. Ia tak bisa berkata-kata, antara bahagia dan sedih menggumpal dalam dada. Ia tatap lekat lagi ibunya.


"Lagian, Ibuk juga nggak bisa maksain kamu. Bagi Ibuk, Kevin itu anak yang baik. Laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga dari keluarga terpandang. Tapi sejujurnya itu yang buat Ibuk sama bapak berpikir ulang. Rasanya sangat berat. Ibuk yakin itu yang kamu rasain selama ini."


Lagi, Fia menunduk. Sepintar apa pun manusia, sehebat apa pun dia. Semuanya akan kalah dengan yang namanya kedudukan. Mereka akan menjadi kerdil di hadapan uang. Tak terkecuali Fia dan keluarganya.


"Terus apa kata Kevin, Buk?" tanya Fia yang masih setia meremas jari tangan. "Apa kemarin dia datang ke rumah bawa rombongan?


Marina menggeleng. "Untungnya nggak."


Fia mengembuskan napas lega lalu berdiri. Ponsel yang ada di tangan menjadi titik fokusnya. Ia ingin sekali menelepon Kevin. Ingin meluruskan kesalahpahaman antara mereka. Ia sangat yakin Kevin marah karena Dafin tempo hari.


Melihat Marina yang masih duduk, Fia pun berkata, "Fia tinggal sebentar ya, Bu. Nanti Fia balik lagi ke sini. Fia mau nginap ke sini malam ini. Fia mau tidur bareng Ibuk."


Marina menyanggupi dan melepas kepergian anaknya dengan senyuman.


Di teras, Fia bersiap untuk menelepon Kevin, tapi belum juga terealisasikan tampak nama dan foto Della di layar ponselnya.


Dahi Fia mengernyit heran tapi berakhir menjawabnya. Ternyata Della ada di Jakarta dan ingin bertemu dengannya. Fia menyanggupi, mereka berencana bertemu di salah satu kafe yang tak jauh dari sana.


Lagi, helaan napas panjang Fia menjadi akhir saat telepon dari Della terputus. Ia merebahkan diri di kursi dengan gontai. Namun, bunyian dari benda pipih itu kembali membuyarkan. Tertera nama Kevin di sana. Entah karena janjian atau memang takdir Tuhan, dua-duanya mengajak bertemu. Fia menyanggupi dengan catatan Della yang lebih pertama ia temui. Menurutnya masalah ini harus diselesaikan dengan cepat dan sebaik mungkin.


Fia melangkah mantap menuju salah satu kursi yang ada di pojokan. Di sana sudah ada sosok wanita cantik yang begitu dikenalnya, Della, sahabatnya itu tengah tersenyum dan melambaikan tangan.


Fia terus melangkah meski dalam hati bertanya-tanya, kenapa Della ingin bertemu? Apa mungkin Della sudah mengetahui kalau Kevin menyukainya? Atau ... mungkin juga sudah mendengar kalau Kevin telah melamarnya?


Fia makin gelisah. Dalam kekalutan ia mencoba bersikap biasa saja sambil berpikir, jika apa yang ada dalam pikirannya barusan menjadi kenyataan, kira-kira apa yang harus ia jelaskan pada Della.


Memaksa senyuman, Fia menarik kursi lalu merebahkan diri, matanya masih melekat menatap Della. Sahabatnya itu masih tersenyum.


Apa ini senyum beneran tulus atau cuma senyum pura-pura? batin Fia.


"Maaf Del telat. Lama ya nunggunya?


"Enggak, kok. Gak masalah. Aku juga baru sampai," balas Della. "Oh iya, mau minum apa?" lanjutnya lagi.


"Nggak perlu, aku juga udah minum tadi." Fia berbohong, karena sangat ingin mendengar apa yang akan dikatakan Della. Memesan minuman hanya akan membuang waktu dan membuatnya berputar lebih lama.


"Oh ya, kamu sejak kapan datang ke Jakarta? Kok nggak ngabarin? Harusnya bilang, kan aku bisa jemput."


Della terkekeh, seperti biasa tawanya sangat indah. Fia yang perempuan saja jatuh cinta dengan senyuman Della, apalagi laki-laki. Fia minder.


"Gak perlu pakai jemput-jemput segala. Kayak apa aja. Aku juga punya kaki kali, aku juga punya tangan."

__ADS_1


"Terus kamu mau ngomongin apa?' tanya Fia yang sudah kadung penasaran.


Senyum Della sirna seketika. Ia tampak serius tapi sedetik kemudian kembali senyum. "Aku mau bicara soal Kevin," ujarnya tenang.


Aku udah menduga ini, batin Fia. Ia menelan ludah, sangat tegang. Berbeda dengan ekspresi Della yang terlihat sangat santai, senyumnya tetap merekah di sana meski tadi sempat sirna selama beberapa detik.


"Apa kamu tahu kalau Kevin datang ke rumah orang tuamu dan ngelamar kamu?"


Fia mendesah, tebakannya tak meleset sedikitpun. Tak Ada cara lain maupun alasan untuknya berbohong.


Menarik napas panjang, Fia pun mengangguk. "Aku tahu, bapak sama ibuk udah ngasih tahu aku."


Della menyeruput jus yang ada di hadapan. Ia masih terlihat tenang. Gadis dengan terusan tanpa lengan berwarna hitam itu menatap lekat Fia. "Terimalah dia, terima lamarannya. Aku tahu kamu menyukai dia, 'kan?"


Fia terdiam dan menatap Della nanar. Sungguh tak tau harus berkata atau berekspresi bagaimana. Haruskah tertawa terbahak seolah-olah itu salah?


"Del, maaf sebenarnya ... sebenarnya ...."


Lisan Fia tak terselesaikan. Ia tak tahu harus mengatakan apa, tapi yang jelas ia tidak ingin Della salah paham meskipun yang ada di pikiran Della benar adanya. Ia memang menyukai Kevin, dan sialnya menyukai sejak kecil.


Della mengarahkan matanya ke arah lain, mereka yang duduk persis di sisi jendela kaca menatap luar. Perlahan tapi pasti, gerimis turun membasahi bumi.


Mendesah, Della kembali melihat Fia yang terlihat salah tingkah. "Maafkan aku, Fi. Maaf ... aku egois. Aku sebenarnya udah lama tahu kalau kamu juga suka Kevin. Tapi karena aku juga menyukai dia, aku menutup mata untuk itu. Maafkan aku, aku hanya orang yang asing yang hadir di antara kalian dan berusaha mencari kebahagiaan. Aku egois karena nggak mikirin perasaan kamu. Aku yakin kamu benci banget sama aku. Iya, 'kan?"


Fia melibaskan tangan dan menggeleng, mencoba meyakinkan Della. "Kamu salah Della."


"Tapi feeling-ku mengatakan kalau kamu memang menyukai Kevin. Dan salahnya aku, aku merebut Kevin dari kamu. Andai waktu itu aku nggak merayu Kevin, mungkin aja kalian bakalan jadian."


Fia bungkam, dalam diam ia membenarkan perkataan Della. Lebih tepatnya berharap itu jadi kenyataan—jadian sama Kevin—hanya saja ....


Entahlah, Fia tak juga bisa berkata apa pun lagi. Itu semua di luar dari kendalinya sebagai manusia.


"Tapi, semakin lama berhubungan dengan Kevin membuat aku merasa bersalah. Jadi aku putuskan kuliah ke luar negeri. Niatku, aku ingin menghilang agar kalian bisa dekat lagi. Tapi nyatanya sampai sekarang pun kalian tetap begini-begini aja." Della terkekeh sebentar lalu menatap lekat Fia yang tertunduk. "Beranilah, Fi. Ungkapkan perasaanmu. Kevin juga sudah lama suka kamu, tapi dia sama bodohnya dengan kamu. Apaan, punya rasa tapi di pendam."


Della lagi-lagi tersenyum. "Dan sekarang gak ada alasan buat kalian menutup perasaan masing-masing. Kamu suka dia dan dia juga menyukai kamu. Ini kesempatan bagus, Fi. Jadi jangan disia-siakan. Beranilah ... beranilah mengakui perasaan sendiri."


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Fia akhirnya.


"Aku ... aku nggak masalah, pacaran dengan Kevin 3 tahun cukup membuatku bahagia."


"Tapi Della. Sebenarnya aku ...."


Lisan Fia tak terselesaikan karena mendengar seruan dari belakang. Tampak Kevin dengan pakaian kasual mendekat ke arah mereka. Fia jelas kaget, ia menatap nanar Della.


"Del, kamu ngajakin Kevin?" tanyanya heran, sebab ia jelas-jelas mengatakan pada Kevin bertemu di kafe yang lain. Tapi nyatanya Kevin menghampiri mereka. Fia makin gugup.


Akan tetapi Della tetap tersenyum. Ia berdiri lalu berbisik ke telinga Fia, "Beranilah, beranilah ungkapin perasaanmu. Beranilah memperjuangkan apa pun yang kamu inginkan. Jangan mengalah terus, Fi. Kalau kamu mengalah terus, aku ataupun orang yang ada di sekitar kamu akan jadi gede kepala. Yang nantinya bakalan bikin kamu susah sendiri."


"Tapi, Del."


Fia hendak menahan Della. Tapi sayangnya gadis itu sudah pergi. Ia berhadapan dengan Kevin. "Semangatlah aku mendukung kalian."

__ADS_1


Della lantas melangkah pergi dengan membawa perasaan yang remuk. Jujur ... ia masih menyukai Kevin. Hanya saja rasa bersalah dan kesempatan untuk mendapatkan Kevin lagi sangat tipis. Jadi ia memutuskan untuk pergi, memutuskan menyerah dengan cara elegan. Ya, setidaknya cara itu bisa mempertahankan persahabatan mereka.


Sementara itu, tanpa mereka sadari ada Dafin yang duduk di pojokan lainnya. Tatapannya sangat tajam. Ia terlihat menggeram.


__ADS_2