Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Terjebak


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Fia yang duduk sendirian di teras depan tampak gelisah menunggu hujan yang tak kunjung reda. Ia ingin pulang, tetapi Litania melarang dengan alasan takut akan terjadi apa-apa di perjalanan.


Mengingat sosok Litania, senyum Fia terukir. Benar-benar tak menyangka Litania adalah sosok seorang nyonya rumah yang begitu hangat, ramah dan lembut. Saat melihat Litania anggapan Fia tentang angkuhnya orang kaya patah seketika.


"Kenapa melamun?"


Suara seseorang dari arah pintu mengagetkan. Fia langsung berdiri saat mendapati Dafan mendekat dengan sebuah nampan di tangan. "Nunggunya di dalam aja, di sini dingin," ujar Dafan lagi dengan senyum yang khas.


Fia menggeleng dan membalas senyuman Dafan, ia duduk saat Dafan juga sudah duduk. "Enggak apa-apa, aku nunggunya di sini aja. Lagian aku takut gangguin waktu istirahat keluarga kamu," balas Fia.


Dafan menyodorkan teh hangat ke Fia lantas ia pun juga menyeruput gelas teh miliknya. "Apa pendapatmu tentang keluarga kami?" tanyanya tiba-tiba.


Fia berpikir sejenak. "Keluargamu baik, kalian keluarga yang harmonis. Ya ... seenggaknya itu yang aku lihat dari obrolan serta candaan kalian di dalam. Kalian benar-benar keluarga yang sempurna. Ibu dan ayah kalian penyayang. Mereka pasti bangga punya anak-anak yang kompeten seperti kalian. Satunya direktur dan satunya seorang dokter. Aku yakin di luaran sana pasti banyak perempuan yang ingin menjadi bagian dari keluarga ini," paparnya panjang lebar.


Dafan tersenyum kecil. Ia lihat Fia yang sedang menghadap depan lantas meletakkan kembali gelas teh miliknya. "Kalau begitu jadilah bagian dari keluarga ini."


"Jangan becanda." Fia melirik sekilas Dafan. Ia ragu apakah Dafan menyadari apa yang ia katakan sebelumnya. "Ini bukan topik yang pas buat dijadiin bahan becandaan," lanjut Fia mengingatkan.


"Aku gak bercanda, Fia. Jadilah bagian dari keluarga ini. Jadilah menantu yang akan membuat orang lain makin iri dengan keluarga ini," papar Dafan. Terdengar serius hingga Fia kembali melihat pria itu sekilas lalu terenyum ironi.


"Jangan menghina, Dafan. Aku hanya gadis dari keluarga biasa. Aku nggak pernah berharap menjadi bagian dari keluarga kalian. Lagian, aku gak ada niat jadi menantu di sini."


Penuturan santai Fia membuat Dafan tertegun. Alisnya mengernyit memikirkan kekurangan apa yang mereka miliki hingga Fia menolak. "Kenapa begitu?" tanyanya.


"Karena ...." Fia berpikir sejenak, ia kembali tersenyum lalu menyeruput teh hangat yang ada di sebelahnya.


"Karena apa?" ulang Dafan penasaran.


"Ya karena aja. Nggak ada alasan lain," jawab Fia lalu terkekeh.


Dafan berdengkus pelan. Ia baru sadar kalau Fia menganggap perkataannya sebagai gurauan padahal ia serius mengatakan itu. Keringat dingin bahkan keluar saking groginya.


Dafan yang frustrasi menyandarkan punggung di kursi jati yang ia duduki. "Bukannya tadi kamu bilang kalau semua wanita ingin menjadi bagian keluarga ini? Apa kamu nggak termasuk?"


"Enggak." Fia menjawab tanpa berpikir, lantas kembali tersenyum, "aku sadar diri. Sekarang pun aku nggak ada kepikiran buat nikah. Lagipula hubungan ini kan cuman sandiwara. Pak Davin menyukai perempuan lain dan status aku di sini hanyalah sebagai pengganti yang suatu saat bakalan kembali ke posisi semula."


"Siapa yang bilang kamu harus jadi istrinya Dafin?"


Perkataan singkat Dafan berefek pada ekspresi Fia. Gadis itu melongo, lantas menatap makin intens pria yang duduk di sebelahnya. "Maksud kamu?" tanyanya memberanikan diri.


Dafan menyeruput lagi tehnya. Dadanya bergemuruh karena grogi. "Apa kamu lupa di rumah ini selain ada Dafin juga ada aku. Aku di sini juga sebagai anak laki-laki. Misalkan kamu menikah denganku bukankah status kamu juga bakalan jadi menantu?" papar Dafan. Ia berusaha bersikap tenang.


Namun, Fia malah tertawa jenaka. Baginya ucapan Dafan tak masuk akal. Sementara Dafan, ia menahan kesal. "Kenapa ketawa?"


"Bercandaan kamu itu terlalu serius, Fan. Kita baru kenal. Kamu nggak tahu aku dan aku juga gak terlalu mengenal kamu. Bagaimana mungkin kita bisa menikah?"


Suara kekehan Fia masih terdengar. Gadis itu bahkan menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


Dafan menghela napas, metakkan gelas yang ada di tangan lalu menatap Fia yang masih saja terkekeh. "Apa menurutmu ucapanku barusan itu sebuah candaan?" ujar Dafan lagi bernada datar.


"Jadi, kamu serius?" Fia bertanya balik. Ia melihat ekspresi wajah Dafan dan baru menyadari sesuatu. Ternyata teman di sebelahnya itu berkata serius.


Menelan ludah, Fia kembali melihat depan. Mendadak suasana jadi canggung. Hanya ada suara gemericik hujan lebat serta angin menengahi kebisuan mereka. Kejadian waktu wawancara pun kembali mengudara di benak Fia. Bagaimana tatapan Dafan kala melihatnya. Lagi-lagi ia menelan ludah, sangat berharap kalau Dafan hanya bercanda.


"Apa kamu tahu, dari dulu hidupku itu gak pernah ada yang namanya bercanda. Aku selalu serius menanggapi, mengambil atau memilih apa pun yang aku mau. Aku selalu fokus dan enggak pernah menganggap enteng sesuatu. Profesi dan pribadi menuntut aku agar gak pernah bermain-main tentang hal apa pun. Termasuk sekarang, aku serius saat menginginkan kamu jadi bagian dari keluarga ini dan itu artinya kamu jadi istri aku," papar Dafan panjang lebar.


Fia makin canggung. Ia sadar Dafan pria yang baik, selalu memberikan perhatian padanya yang jujur ... bisa dibilang melebihi dari seorang teman. Fia juga kadang merasa tatapan mata Dafan padanya begitu dalam, menyiratkan sesuatu yang begitu takut untuk gadis itu mencari tahu.


Namun meskipun sudah menduga, ia tetap shock saat Dafan mengatakan bahwa memiliki rasa untuknya mengingat intensitas pertemuan mereka sangat jarang. Lagipula pertemanan mereka juga bisa dibilang sangat baru.


"Jadi bagaimana?"


Pertanyaan Dafan melerai lamunan Fia, gadis itu gelagapan, tapi Dafan kembali menyesap teh tanpa beban.


"Jangan dijadikan beban. Pikirkan dulu baik-baik. Tidakkah kamu lihat kalau aku memiliki bibit bebet dan bobot yang unggul?" lanjutnya.


Fia meremas jemarinya. "Tapi, Fan, statusku sekarang adalah pacarnya Pak Dafin, saudara kamu."


"Tapi itu 'kan cuma pura-pura." Dafin menelaah ekspresi gugup Fia. "Apa jangan-jangan kamu punya rasa ke dia?" lanjutnya.


Cepat-cepat Fia menggelang. "Bukan begitu? Tentu saja gak ada yang begitu diantara kami. Hubungan kami murni pekerjaan."


Dafan menghela napas lega. "Bagus, jadi aku gak perlu saingan sama saudara sendiri."


"Nanti, saat pacarnya sadar lalu tersangkanya tertangkap bukankah Dafin akan mengembalikan semuanya seperti semula. Kamu tetap menjadi Fia, sekretaris-nya dan Dafin, dia tetap jadi bos kamu. Apa kamu nggak mau mempertimbangkan aku?" lanjut Dafan lagi.


"T-tapi Fan, sebenarnya a—"


"Aku tahu, kamu menyukai laki-laki lain, kan?"


Mata Fia membulat. "Kamu tahu dari mana?"


"Dafin sudah mengatakan semuanya. Kamu memiliki rasa sama orang lain. Kalau aku pikir hubungan kita ini benar-benar rumit. Aku suka kamu tapi kamu mencintai orang lain. Dan orang lain itu menyukai perempuan lain. Dan di sini kamu terjebak dengan kebohongan bersama Dafin."


Hening, Fia bungkam. Ia sungguh tak mengerti harus memberi tanggapan seperti apa.


"Tapi walaupun rumit bukan berarti hubungan itu nggak bisa diselesaikan. Aku hanya butuh kesediaan kamu untuk memberiku kesempatan untuk berjuang. Berikan aku kesempatan untuk menguraikan hubungan yang rumit ini. Aku janji gak bakalan bikin kamu kecewa. Dan aku akan lebih senang saat kamu memberiku jawaban yang aku harapkan."


Fia masih diam, bola mata bergerak liar. Bingung dengan situasi rumit yang dihadapinya sekarang, haruskan menyanggah, menghalangi, ataukan membiarkan pria itu menyukainya.


"Hei, jangan melamun. Sudah aku katakan ungkapan cintaku ini jangan kamu anggap beban, aku cuma ingin kamu memberiku kesempatan, hanya itu. Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku layak jadi pendamping kamu."


"Tapi kenapa aku, aku cuma ...."


"Jangan bahas status dan kasta diantara kita. Aku bukan anak dari keluarga orang kaya yang kolot. Yang harus menikahkan anak mereka dengan anak pengusaha lainnya. Kamu tahu dan sudah melihat sendiri kalau orang tuaku gak kolot dan tamak seperti itu. Mereka sangat baik, mereka memberikan keputusan semua pada anak-anaknya. Mereka gak pernah membebani kami dengan keputusan sepihak termasuk perkara cinta. Dan aku sudah melabuhkan pilihanku sama kamu."

__ADS_1


Fia tertunduk hingga suara dehaman di ambang pintu menyadarkan mereka. Tampak Dafin sudah bersedekap dada dengan memasang wajah datar. Matanya menatap sinis ke arah Dafan dan Fia.


"Sekarang sudah malam. Bunda bilang lebih baik kamu menginap dulu malam ini, besok saya antar kamu ke kontrakan," kata Dafan datar se-datar ekspresi wajahnya.


"Tapi, Pak."


Fia hendak menolak, tetapi Dafan pun menyetujui hingga ia tak punya pilihan lain selain menginap di sana.


"Malam ini kamu tidur di sini," ujar Dafan setelah membuka pintu kamar tamu. Sementara Dafin tetap berdiri di belakang mereka dengan tatapan yang masih saja tak bisa Fia jabarkan satu-satu.


"Terima kasih. Kalau begitu saya masuk dulu," balas Fia sungkan. Jujur ... ungkapan cinta Dafan membuatnya terbebani.


Pintu Fia tutup. Ia pindai ruangan tempat dirinya berdiri. Terlihat sebuah kamar besar dengan perabot mewah yang memanjakan mata. Namun ia tak punya selera untuk menikmati. Gadis itu berjalan gontai dan merebahkan diri di kasur. Matanya menatap plafon kamar dengan mengembuskan napas yang panjang. Rasanya tak percaya dan tak habis pikir, bagaimana bisa ia berakhir terjerat diantara dua beradik itu?


"Situasi macam apa ini?" gumamnya kesal sebelum akhirnya sebuah notifikasi pesan menyadarkan. Dengan posisi yang masih berbaring ia rogoh ponsel yang ada di saku celana. Seketika kegelisahan makin bertambah berkali-kali lipat saat melihat pesan yang ternyata dikirim oleh Kevin. Sahabatnya itu mengatakan sudah ada di Jakarta dan akan ke kontrakan besok pagi.


"Apes banget sih. Kenapa mendadak aku jadi Cinderella?" gumamnya lagi.


***


Pagi harinya. Fia begitu asyik membantu Litania menyiapkan sarapan hingga tak sadar bahwa ada Dafan dibelakang. Pria itu tersenyum melihat semringah.


Litania yang menyadari gimik bahagia sang anak mulai mendekat dan menyipitkan mata. "Bisa gak ekspresi kamu di sembunyikan dulu? Kaliatan banget tau gak."


Namun Dafan hanya merespon dengan ulasan bibir.


"Ngomong-ngomong kenapa udah rapi, ini kan batu jam enam pagi?" tanya Litania lagi.


"Ada pasien Bunda. Pasien darurat. Jadi sekarang juga aku harus ke rumah sakit," balas Dafan.


"Tapi kamu belum sarapan. Apa perlu Bunda masukin ke kotak bekal?"


Dafan berdecak. "Aku bukan anak-anak lagi. Kalau lapar ya tinggal beli. Lagian kan ada kantin.''


Litania manggut-manggut, sedangkan Fia yang tengah menata meja juga ikutan tersenyum, tapi jelas terlihat canggung. Bagaimanapun pengakuan cinta Dafan semalam membuatnya gelisah dan hampir saja tak bisa terlelap.


"Ya sudah, pergi sana. Hati-hati. Nanti jangan lupa sarapan."


Dafan berdeham. Ia dekati Fia yang mengatur meja. "Baik-baik sama Bunda. Belajarlah jadi mantu idaman," bisiknya.


Sebuah perkataan yang membuat Fia tertegun dan mematung. Sementara Dafan, pria itu berlalu dengan senyum simpul.


"Fia, kamu kenapa?" tanya Litania yang keheranan karena ekspresi wajah Fia. "Kamu sakit?"


Spontan Fia menggelang.


"Oh ya udah. Bisa tolong panggilin Dafin di kamarnya?"

__ADS_1


__ADS_2