Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Meluruskan.


__ADS_3

Setelah memerintahkan hal yang konyol itu, Litania melongos pergi. Ia masih berusaha dan terus berusaha agar tak berucap kasar. Bagaimanapun Chandra adalah suaminya, dan ia telah berjanji pada diri sendiri akan berubah. Berubah menjadi lebih baik dan tak boleh marah-marah.


"Sayang. Tungguin, dong!"


Suara Chandra mengikuti langkahnya yang lebar. Akan tetapi ia tak peduli. Baginya yang terpenting sekarang adalah menata hati agar tak menyinggung siapa pun. Harga diri memang terluka, tapi suami tetaplah segalanya.


Litania banting pintu lalu menguncinya. Melemparkan tas yang ada di punggung lantas mengempaskan diri di ranjang besar berspray ungu. Tatapan mata tertuju pada plafon kamar dengan tabuhan dada yang bertalu.


Tenang Litan, tenang ... jangan marah-marah. Malu sama Kinar. Kata nenek suami itu harus dihormati. Ayolah, lupakan makhluk amazone itu. Oke, stay cool.


Litania memejamkan mata, tapi belum juga emosi mereda, si Chandra tampak gusar di belakang pintu kamar. Pria itu berkali-kali mengetuk seraya memanggil.


"Yang ... Sayang, buka pintunya, dong."


Litania tak menyahut. Mulut begitu kejamnya bungkam padahal Chandra berkali-kali memanggil namanya. Ketukan pun begitu keras terdengar. Pasti buku jari pria itu berdenyut.


"Pergi! Pergi aja dulu. Jangan ganggu, aku perlu waktu buat nenangin diri. Aku nggak mau mulutku yang kurang ajar ini ngomong yang enggak-enggak. Aku nggak mau jadi istri durhaka hanya karena kalah suit. Jadi, please ... pergi dulu. Aku perlu waktu buat nenangin diri," ucap Litania dari dalam kamar.


Menghela napas lega, Chandra hentikan ketukan setelah mendengar penjelasan itu. "Baiklah, jangan terlalu emosi. Kasian junior. Nanti dia sawan."


Emangnya aku demit. Aaa ... aku makin kesal, batin Litania seraya menutup wajah dengan bantal. Sumpah, bukannya menenangkan perkataan Chandra makin melukai harga diri.


Sementara itu, Arjun yang tengah berdiri di dekat pintu, tercenung sesaat. Terlintas lagi wajah Kinar yang tengah menangis. Ingatan yang entah kenapa rasanya ada yang menghunjam dalam dada. Mendadak sesak. Arjun tarik napas panjang dan membuangnya.


"A' Arjun. Duduk sini."


Arjun terkanjat dan refleks mencari asal suara. Tampak Kinar sudah duduk di kursi. Ada juga nampan berisi camilan dan teh hangat di atas meja. Kenapa sekarang manggilnya Aa'


"Ayo duduk sini." Tersenyum, gadis berambut kuning itu menipiskan bibir. Namun, bukan yang biasa—mesum. Kini tampak lebih alami dan ... cantik.


Arjun menggelang lantas mengalihkan pandangan ke arah depan. Gak, ini pasti karena aku kecapean. Aku harus sadar. Jangan tergoda.


Menelan ludah, Arjun bersikap seperti biasa—diam tanpa banyak kata. Matanya tetap tertuju ke halaman meski Kinar sudah mendekat dan meraih lengannya.


"Duduk dulu, yuk. Mereka pasti perlu waktu lama. Jadi dari pada pegel, mending duduk." Kinar berucap sambil menarik lengan Arjun. Pria itu tak bisa menolak karena memang sedikit lelah. Ia pun berakhir duduk juga di kursi teras.


Kinar sajikan teh pada Arjun. Gayanya menyajikan teh tak seperti orang lain. Terkesan berirama dan terlihat anggun. Arjun telan lagi ludahnya seraya berdeham.


"Minum dulu," pinta Kinar lalu merebahkan diri di kursi sebalah Arjun.


Arjun menurut, ia seruput teh hangat itu dengan perlahan.


"A' Arjun. Kita nikah, yuk."

__ADS_1


Uhuk uhuk uhuk! Arjun tersedak. Minuman yang harusnya masuk ke tenggerokan berubah jalur jadi masuk kehidung. Asli, rasanya sangat tak nyaman. Minuman yang masih panas itu membuat pernapasan terganggu. Arjun angkat dari kursi dan meninggalkan Kinar yang mengedipkan-ngedipkan mata.


Sialan, ni perempuam emang gak pernah waras.


****


Malam harinya.


Litania masih saja diam. Entah kenapa rasanya malas saja untuk memulai obrolan pada siapa pun juga. Padahal Chandra sudah sering kali meminta maaf pasal kalah suit tadi siang.


Sebenarnya Litania sudah bisa menata hati, tapi tetap saja ada yang mengganjal. Apakah ini yang namanya merajuk?


Membalik diri, Litania bersedekap dada saat pintu berderit. Chandra masuk dan membawa sebuah nampan yang berisi segelas susu hangat.


"Sayang, minum susu dulu, ya." Chandra berucap seraya melangkahkan kaki, mendekati Litania yang duduk di sisi ranjang dan menyodorkan segelas susu hamil rasa stroberi.


"Minum dulu ya. Biar junior sehat."


Litania masih bungkam tapi ia minum juga susu itu demi anak mereka.


Hening. Wanitanya itu masih melemparkan pandangan keluar. Melihat gelapnya malam dari balik jendela besar yang menjadi pembatas rumah dan luar.


"Litan, jangan marah lagi, dong. Masalahnya cuma sepele doang, 'kan. Lagian kan emang dia yang harusnya masuk duluan. Dia yang udah nunggu lebih dulu. Jadi kita gak boleh egois. Anggap aja tadi itu cuma kesalahpahaman."


"Dan masalah suit. Itu bukan aku yang mau. Kalau kalah ya kalah aja. Lagian aku bukan peramal yang bisa menebak apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Ayolah, berpikir dewasa. Katanya mau jadi istri soleha. Masa dengan masalah kek begini udah ngambek."


Litania masih tak bersuara. Mata masih menatap depan dengan helaan napas panjang yang keluar. "Terus hubunganmu sama dia—"


Litania tak sempat menyelesaikan kata karena Chandra meraih pundaknya dan memeluknya dengan erat.


Menepuk-nepuk pundak Litania, Chandra kembali berucap, "Bianca itu cuma kenalan doang. Gak ada hubungan apa-apa, cuma hubungan bisnis. Dia itu wanita pintar yang punya banyak prestasi. Di umur semuda itu dia udah menjabat jadi direktur di Neil fashion. Bahkan barang-barang yang kamu pake itu juga ada beberapa buatan dari perusahaan dia.


"Kita ketemunya itu waktu masuk nominasi pengusaha sukses termuda di Indonesia. Sumpah, gak ada hubungan apa-apa. Cuman temen doang," jelas Chandra panjang lebar berharap Litania menyudahi aksi diam-nya itu.


Litania mendesah panjang lantas membalas pelukan, mendekapkan kepala di dada bidang Chandra seraya menghirup aroma tubuh yang sudah menjadi candu. Ia hirup dalam-dalam seraya membuang rasa kesal yang masih ada. "Beneran cuma temenan?"


Chandra mengangguk, ia kecup pucuk kepala Litania lantas menangkup wajah itu. Melihat ekspresi cemberut yang seharian ini seperti melekat.


"Cuma kamu. Hanya kamu. Dan sampe kapan pun hanya ada kamu di sini." Chandra berucap seraya menekan dada. Suaranya terdengar lembut, sorot mata pun tampak menunjukkan ketulusan. Membuat Litania yakin akan cinta Chandra hingga rasa kesal itu mendadak lenyap.


Meraih tengkuk Chandra, Litania mendaratkan kecupan singkat di bibir pria bersurai klimis itu. "Maafin aku, ya. Aku ngambeknya keterlaluan."


Chandra menggeleng lantas membalas kecupan Litania. "Gak apa-apa. Aku tau kamu sudah susah payah berubah. Aku paham. Aku tadi sempet takut kalo kamu balik ke rumah nenek."

__ADS_1


Litania menggeleng lalu mendaratkan kecupan di pipi kiri Chandra. "Gak, aku gak akan kek gitu lagi. Apapun masalahnya, aku janji gak bakalan kabur."


"Beneran?"


Litani mengangguk dua kali lantas mendaratkan kecupan lagi di pipi sebelah kanan. "Aku gak mau bikin nenek sedih. Aku udah nikah dan gak lama lagi bakalan jadi orang tua, jadi mulai sekarang aku akan berusaha berpikir dewasa."


Chandra tersenyum gemas. Ia cubit hidung Litania dan mendaratkan lumatann ringan di bibir ranum Litania. "Pokoknya mulai sekarang, apapun masalahnya dibicarakan baik-baik."


Litania mendadak tersenyum.


"Kenapa?" tanya Chandra.


"Aku kira, apapun masalahnya minumnya teh botol Sosro."


"Dasar."


Chandra jitak pelan dahi Litania lalu kembali memeluknya. Tanpa sadar kebersamaan dan kebahagian sekarang membangkitkan sesuatu. Ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan. Dan ada yang berdenyut tapi bukan nadi.


"Sayang," panggil Chandra.


Litania yang masih nyaman dalam pelukan langsung mendongakkan kepala—menatap Chandra yang juga sudah menatapnya. "Kenapa?"


"Tadi kamu beneran mau gunting si Albert?"


Wajah Litania mendadak merah. Ia jauhkan diri dari dekapan Chandra karena tau maksud perkataan itu.


"Em, itu itu ...."


Chandra terkekeh. Melihat wajah malu-malu Litania membuatnya makin gemas dan dengan cepat mendaratkan bibir di sana. Meraup, menikmati, melahap habis bibir yang seharian ini mengeriting dan manyun kala mereka bertatap muka.


Melepaskan pagutan, Litania tampak tersenyum. "Aku gak bakalan bisa motong si Albert."


"Kenapa?" Kini Chandra yang balik menggoda.


"Kalo di potong, aku gak bakalan bisa—"


Lisan Litania tak terselesaikan. Chandra menabrakkan wajah mereka dan melahap tepian mulutnya yang berwarna merah muda. Mengisap dengan agresif karena tak tahan lagi. Di bawah sana sudah jumpalitan seharian ini.


Tenang Albert. Sebentar lagi kamu bakalan bisa menembakkan peluru.


Chandra rebahkan tubuh Litania dengan perlahan. Mata mereka bersitatap dengan pandangan yang sudah berkabut hasrat.


"Aku mau jengukin junior, boleh?"

__ADS_1


__ADS_2