Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Siasat.


__ADS_3

Sore harinya, Nara yang sedang dalam perjalanan pulang mendapat telepon dari Anya. Sahabatnya itu mengajak bertemu di salah satu restoran berbintang lima yang kebetulan adalah tempat Anya bekerja.


Meski lelah, Nara pun menyanggupi karena ia juga butuh pencerahan, tentang hatinya yang mulai goyah semenjak kehadiran Dafan. Saat ini yang mengerti hanya Anya. Meskipun kadang tidak memberi solusi, tapi tetap saja, setelah berbicara dengan Anya perasaan yang mulanya bergulung kusut dan rumit perlahan terurai.


Gegas Nara memutar kemudi dan menuju restoran. Setelah bergelut dengan kemacetan parah ibu kota, ia pun tiba dan memilih duduk di dekat jendela kaca. Memilih menyendiri di pojokan resto dengan mata melihat ke samping—mengamati orang-orang yang berlalu-lalang.


"Sorry, lama."


Suara itu sontak saja membuat Nara menoleh dan mendapati Anya sudah nyengir seraya duduk di kursi. Mereka saling berhadapan.


"Telat aja seneng," dengkus Nara asal sembari memutar bola matanya.


"Iya, maaf." Anya lagi-lagi nyengir. Ia yang mengenakan seragam asisten koki duduk berhadapan dengan Nara. Rambutnya tersanggul rapi. Tampak begitu manis dan untuk takaran gadis 21 tahun.



"Kamu gimana sih, Nya? Kamu yang ngajak ketemuan tapi kamunya yang telat," sungut Nara yang seperti masih menyimpan dendam.


"Kan aku udah minta maaf. Gimana si?" balas Anya tak kalah sewot.


"Lah, kenapa jadi galakan kamu?" Mata Nara melotot.


Anya yang menyadari ketegangan di antara mereka pun melunakkan hati. Ia menyatukan kedua belah tangan dengan memasang wajah mengiba. "Udah ya. Jangan marah. Aku kan udah minta maaf. Di dalem sibuk banget, Ra. Jadi ya kamu ngalah dikit gak apa lah. Wong cuma setengah jam."


Nara hanya menggelengkan kepala—malas berdebat dengan Anya. Matanya justru tertarik dengan sesuatu di atas piring yang ada di meja.


Anya yang menyadari ke mana bola mata Nara tertuju, tersenyum kecil. Sudut bibir sebelah kiri tertarik.


"Kenapa? Ngiler?" goda Anya seraya mendorong dan menarik semifreddo yang ada dalam piring.


Nara mengangguk. "Keknya enak, Nya."


Anya tersenyum penuh kemenangan. Kemarahan Nara sirna karena dessert yang ia bawa.


"Ya udah makan," tawarnya lalu mendorong piring itu.


Tanpa banyak kata dan alasan, Nara pun menikmati. Ia memang membutuhkan sesuatu yang indah di mata dan enak di lidah. Pas sekali dengan makanan penutup yang Anya berikan.


"Gimana? Enak?" tanya Anya antusias. Tangan bahkan sudah berlipat di atas meja dengan jemari saling tertaut. Matanya berbinar melihat Nara menikmati kue yang ia buat.


Nara hanya mengangguk dan terus saja menyendok kue lembut dan ringan itu masuk ke dalam mulut.


"Kamu udah ketemu Bang Dafan?" tanya Anya lagi. Sebuah topik yang langsung membuat nafsu makan Nara lenyap. Nara sesap air putih di dekat tangan lalu mengelap mulut. Lekat ia menatap Anya, sedetik kemudian menunduk lesu dan menghela napas panjang.


"Kemarin sore dia nanyain kamu. Nanyain semua tentang kamu," terang Anya lagi.


"Lalu kamu jawab apa?"


Nara mulai penasaran. Meski sudah melupakan Dafan, tetap saja ia tak bisa berpura-pura baik-baik saja. Rasa sakit yang disebabkan oleh cinta monyet ternyata efeknya sangat besar, mengalahkan besarnya gorilla. Begitulah pikir Nara.


Anya menggidikkan bahu. "Ya aku jawab semuanya. Lagian juga percuma bohong. Nanti dia juga bakalan tau."


"Masa? Bukan karena dia punya kelemahan kamu?" Mata Nara menyipit setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Anya mengangguk, ia kembali nyengir karena tuduhan Nara benar adanya. Tanda tangan Justin Bieber terancam tak ia dapatkan jika melawan perintah.


"Ya sudahlah. Udah terlanjur juga," balas Nara lesu.


Hening. Nara kembali mengambil sendok, tapi bukan untuk menikmati hidangan itu melainkan cuma memotong-motongnya. Seolah-olah menggambarkan isi hati yang sedang kacau dan kalut.


"Dia keknya cemburu. Dia nanyain Ferry," timpal Anya lagi. Matanya makin menyipit, hendak menyelidiki ekspresi Nara.


Nara langsung mengangkat kepala. "Kok bisa?" tanyanya.


"Aneh. Harusnya aku yang nanya ke kamu. Emangnya kamu sama Ferry ngapain sampe-sampe dia curiga akut begitu?"


Nara terdiam—mencoba mengingat—dan sandiwara seolah bergenjrot dengan Ferry pun mendadak melintas. Kini ia yang gantian nyengir seraya menggaruk tengkuk.


"Kalian beneran pacaran?" selidik Anya dengan sipitan mata.


"Siapa?" tanya Nara. Pertanyaan Anya itu ambigu di telinga.


"Ya kamu sama Ferry, oncom," sahut Anya, sedikit menggeram.


"Ya enggaklah," balas Nara penuh kemantapan.


Anya manggut-manggut. "Tapi kenapa gak pacaran aja? Ferry baek, loh. Dia cowok tulus. Gak ada laki-laki yang tahan sama kita. Kecuali dia doang."


Nara mendesis. Ia lemparkan gumpalan tisu pada Anya. "Kita? Kamu aja kali."


Anya terbahak dan kembali mengangguk. Seolah membenarkan perkataan sarkastis itu dan sama sekali tidak tersinggung.


"Kenapa gak pacaran aja?" ulang Anya lagi setelah meredam tawa.


Nara jadi senyum-senyum sendiri setelah membayangkan Ferry.


"Nah loh. Mikirin apa itu?" sindir Anya. "Pasti mikir mesum, 'kan? Ayo ngaku."


Nara berdengkus. Ia lagi-lagi melempar tisu ke arah Anya. "Aku belum kepikiran, Nya. Masih enjoy sendiri," terangnya.


"Jangan trauma, dong. Rugi. Kamu cantik, kaya, unggul dan pinter. Rugi kalau jadi perawan tua."


"Sialan." Nara mendesis. Matanya menyipit melihat Anya. "Enak aja kalo ngomong. Sapa juga yang mau jadi perawan tua."


"Ya kirain." Anya lagi-lagi menggidikkan bahu. "Aku itu cuma kepikiran, apa kamu masih menyimpan rasa buat Bang Dafan?" tanya Anya lagi.


Nara terdiam. Ia menghela napas panjang lalu menyandarkan punggung yang lelah, lantas menatap penuh sendu pada Anya.


"Please. Jangan bahas itu lagi bisa nggak? Aku nggak mau kita bahas beginian. Belum tentu juga Dafan mikirin aku. Kamu tahu kan, dia cuman anggap aku adik, yang artinya itu sama juga dengan dia nganggep aku sama kek kamu."


Anya kembali menganggukkan kepala. "Ya udah, kalau gitu embat aja tu si Ferry. Lumayan 'kan. Masa iya udah tua begini kamu belum pernah pacaran."


Hening, Nara tak menyahut. Matanya tertuju ke arah luar jendela dengan pikiran yang hampa.


"Kalau dipikir-pikir Ferry tuh ganteng, anak orang kaya juga. Jadi harta warisan kalian gak bakalan habis tujuh turunan," usulnya yang kembali mendapat pelototan dari Nara.


"Udahlah jangan bahas begituan. Aku pusing. Tugas di kampus udah numpuk kamu tambahin lagi dengan yang kek beginian. Jadi males," sungut Nara. Matanya lalu menatap lekat Anya. "Oh iya. Tadi kan kamu yang ngajakin aku ketemu. Tapi kenapa banyakan aku yang cerita?"

__ADS_1


Anya nyengir, ia melihat sekeliling restoran yang memang agak ramai hari ini. "Aku mau ngomong."


"Ya udah, cepetan Maemunah ..." geram Nara dengan bibir sedikit mengeriting.


Anya lagi-lagi nyengir. Ia mendekatkan wajahnya lalu berbisik, "Aku mau nikah. Bunda sama ayah udah ngerestuin aku sama Dery."


"Beneran?" tanya Nara hampir histeris. Matanya melotot dengan mulut sedikit menganga. Ia mengerjap. "Kamu serius? Kamu gak hamil, 'kan?"


Anya yang kesal langsung melempar tisu. "Kamu pikir aku cabe yang seneng diterongin?" tanya Anya bermetafora.


"Kalo pun ngebet pengen dikawinin, tapi aku juga punya batasan. Lagian kamu pikir Derry brengsek apa?" Jeda sejenak, Anya menarik napas panjang. "Enggak, Ra. Dia laki-laki baik, ya walaupun kadang nyosor duluan," lanjutnya seraya tersenyum kecil.


Nara ber-oh tanpa suara. Ia manggut-manggut, paham.


"Aku salut sama dia. Walaupun dia pengusaha dan selalu mantengin siklus saham, tapi dia tetep gak mau nanem saham haram di rahim aku," lanjut Anya lagi. Ia menjelaskan dengan penuh kebanggaan.


Nara nyengir, tapi sedetik kemudian mulai murung lalu menghela napas panjang. Tak dipungkiri ada rasa iri pada Anya.


"Ya udah, selamat kalo gitu. Tapi ngomong-ngomong kamu udah bisa naklukin papanya Dery?" tanya Nara, sedikit antusias.


Kini Anya yang murung. Ia menggeleng pelan dan membuat tawa Nara membahana.


"Kamu ini lucu. Aku kira kamu udah dapat restu dari kedua belah pihak. Eh, tahunya cuman satu doang, gimana sih? Itu sih belum tentu bakalan nikah."


Lagi, Anya melempar tisu pada Nara. "Kamu ini temen apa bukan, sih? Harusnya kasih aku semangat biar aku bisa naklukin hatinya papanya Dery yang udah membatu, beku dari jaman zaman prasejarah."


Tawa Nara kembali mengudara. Ia manggut-manggut melihat Anya yang bersungut. Di sekian banyak wanita mungkin musuh terberat adalah ibu mertua mereka, sedangkan yang dihadapi Anya adalah bapak mertua yang bisa dibilang cerewet, galak dan tegas. Triple susah.


"Ya, aku doain. Terus bagaimana?" tanya Nara.


"Sebenarnya aku udah punya rencana, tapi perlu bantuan kamu," sahut Anya.


"Bantuan?" ulang Nara.


"Hmm iya, bantuan. Tapi sebelum melancarkan rencana ke papanya Dery, aku harus bisa nyingkirin si jenglot jahanam itu dulu."


"Jenglot?" ulang Nara yang menggaruk kepala. "Shireen maksudnya?" lanjutnya sedikit nyaring.


Anya mengangguk. "Iya, Shireen. Kamu nggak tahu kalau dia udah balik ke Jakarta?"


Nara menggelengkan kepala. "Ya, jangan di ladenian. Biarin aja. Toh kalian gak ada hubungan lagi. Biarin aja di sama Jimmy. Kan kamu udah bahagia sama Derry."


Anya makin kesal, darahnya berdesir saat membahas Shiren. "Masalahnya dia datengin aku terus ngajakin barter. Katanya dia mau Derry terus mau ngasih Jimmy ke aku lagi."


"Wah, gila tuh si perempuan jenglot. Perlu dihajar kayaknya. Mulut enggak ada akhlak sama sekali. Percuma kuliah tinggi-tinggi tapi hatinya kayak enggak bersekolah," rutuk Nara. Ia bahkan berdiri saking geram.


Anya manggut-manggut, matanya menyiratkan kemantapan. Ia tatap lagi Nara. "Aku butuh kamu buat bales dendam."


Nara kembali duduk. Ia dengan semangat empat lima mendengarkan. "Tentu, aku juga enek lihat mukanya. Sok kecakepan." Nara bahkan mencondongkan badan. "Lalu apa yang harus aku bantu?"


"Reuni sekolah kita besok malam kan?" tanya Anya.


Nara mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah tunggu aba-aba dari aku. Sekalian ajakin Ferry," ujar Anya yang di respon senyum ambigu dan jari jempol oleh Nara.



__ADS_2