
Dafin bergegas masuk lift untuk menuju lantai 21 Big Grup Company. Perasaannya jangan ditanya lagi, sangat kacau, panik. Ia telah gagal mendapatkan kepercayaan Reynal dan kini para dewan malah melakukan rapat tahunan yang seharusnya masih seminggu lagi.
"Ini, Pak." Fia menyerahkan sebungkus tisu.
Dafin mengambilnya tanpa berkata, ia seka keringat yang keluar besar-besar. Tak dipungkiri kegugupan mendominasi pikiran. Apakah karirnya akan berakhir secara tak hormat?
Ya Tuhan, semoga itu gak bener, batinnya. Lewat pantulan dinding lift Dafin rapikan jas serta kemeja. Biar bagaimanapun penampilan harus elegan. Ya, setidaknya penampilan yang rapi mempertegas aura sebagai pemimpin. Ia tak ingin kalah sebelum mengetahui hasil akhir.
"Fia, bagaimanapun keadaannya kamu harus tetap mendukung saya. Kamu saksi dan saya bergantung sama kamu. Karir kita ditentukan hari ini. Jadi bersiaplah," ujar Dafin tegas. Fia pun mengangguk mantap.
"Baik, Pak. Saya akan memberikan kesaksian. Saya akan mendukung Bapak sepenuhnya," balas Fia tak kalah yakin. Karena aku bergantung pada ini. Aku gak mau memasukkan kembali lamaran ke berbagai perusahaan. Prosesnya pasti akan lama. Fia bergidik, ia menggelang pelan. Gak. Aku harus mempertahankan posisi ini, lanjutnya lagi.
Lift terbuka dan pintu besar ruang rapat menyambut mereka. Dafin rapikan kembali kerah kemeja serta lengan. "Bersiaplah untuk apa pun, Fia."
"Baik, Pak."
Pintu Fia buka dan berpasang mata melihat mereka dengan tatapan yang ambigu. Wajah para pemegang saham terbesar dan orang yang berpengaruh dalam perusahaan telah berkumpul dan mengelilingi meja. Semuanya terlihat tegang, serius, bahkan ada yang sambil berbisik. Fia yang tak pernah mengalami ini sebelumnya mendadak menciut.
Suasana sangat hening, tak ada yang bersuara dan membuat derap langkah Dafin dan Fia menggema dalam ruangan besar itu.
"Dafin, ke sini." Chandra memanggil. Suaranya berat dan terdengar penuh penekanan. Dafin sampai menelan ludah tapi tetap mendekati sang ayah.
Berhadapan dengan semua orang, Dafin berdiri tegak di samping Chandra. Ia sudah siap menerima apa pun.
"Dafin." Chandra berdiri. Ia tatap kulit wajah agak gelap sang anak. Pandangannya penuh keseriusan hingga suara tepuk tangan orang-orang menyadarkan. Dafin tentu saja keheranan, semua orang tersenyum sambil mengucapkan kata "selamat".
"Yah, ini ...."
Dafin masih terpaku saat Chandra memeluk dan menepuk punggungnya. "Selamat, Fin. Kamu sukses meyakinkan si keras kepala itu untuk bekerja sama dengan kita. Dia berinvestasi dengan nilai yang fantastis dan tanpa syarat yang berat. Kamu sukses, Fin. Sukses. Ayah bangga sama kamu."
Dafin yang masih tak percaya akan ucapan Chandra mengerjap, ia bahkan kembali melihat sekeliling dan berakhir pada Fia. Gadis itu juga bertepuk tangan. Ya Tuhan, benarkan ini? batinnya.
"Selamat, mulai sekarang posisi Ayah resmi kamu ambil alih. Ayah bangga. Ayah bangga."
Chandra kembali bertepuk tangan. Ia bahagia saat usahanya tak sia-sia dalam mendidik Dafin. Kadangkala ada rasa kasihan pada anak itu. Saat remaja lain akan bersenang-senang, tetapi Dafin yang baru saja duduk di bangku kelas dua SMA sudah dihujani dengan materi-materi manajemen bisnis. Ia dibawa setiap ada pertemuan penting maupun ada produk baru yang akan launching. Di usia yang masih muda begitu Dafin juga sudah disuruh kerja lapangan bersama dengan tim pemasaran. Belum lagi ia harus melupakan kegemarannya menggambar sejak kecil.
Sungguh, Chandra tak tega dan rasa tak percaya. Dulu dirinya bahkan hampir sepuluh tahun menjadi pesuruh sang ayah. Di usia 34 barulah resmi menjadi direktur. Akan tetapi karena usia, ia tak bisa berlama-lama mengemban beban. Sudah waktunya pensiun dan menyerahkan segalanya pada yang lebih muda. Lagipula, selama ini Dafin sudah banyak memberikan bukti nyata, banyak usahanya yang membuat perusahaan tetap berdiri, di antaranya saat melemahnya nilai tukar rupiah ke dolar hingga kasus airbag. Bahkan banyak juga kontribusi Dafin yang tak bisa Chandra sebut satu-satu. Bisa dibilang anaknya itu cukup jenius dan berbakat dalam bisnis.
Remote Chandra tekan dan di layar tertera nama-nama anggota dewan baru yang terpilih. Posisi Presiden Direktur di isi oleh nama Dafin lalu di susul dengan beberapa perubahan nama anggota yang dinilai layak.
"Selamat, Anda memang layak jadi pemimpin. Anda membuktikan pada kami semua bahwa usia bukan penghalang untuk menjadi direktur. Kami bangga dan percaya penuh pada kinerja Anda untuk kedepannya," ucap Burhan selaku direktur produksi. Ah tidak, sekarang pria kurus berkumis tebal itu telah menjadi wakil direktur. Wakilnya.
__ADS_1
Dafin menjabat tangan terulur Burhan. "Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha maksimal agar perusahaan kita tetap terdepan."
Semua orang kembali bertepuk tangan. Ruangan riuh rendah karena euforia bahagia masih menyelimuti hingga Chandra mengangkat tangan. Semua hening seketika.
"Dan nanti, di acara anniversary perusahaan tiga hari lagi, saya akan mengumumkan berita ini secara resmi pada media. Dan satu lagi, Dafin juga akan menyampaikan pengumuman di sana."
Senyum Burhan terlihat lebar. "Wah, kira-kira kejutan apa yang akan diberikan oleh direktur muda kita ini."
"Rahasia," balas Dafin. Semuanya kembali tertawa.
Setelah semuanya selesai, Dafin berjalan dengan senyum yang begitu besar. Ia hampir percaya kalau usahanya sia-sia, ia juga mengumpat si Reynal Smith. Namun Tuhan punya kehendak lain.
"Akhirnya, Fia ... akhirnya usaha kita tidak sia-sia," ujar Dafin saat baru saja punggung tersandar di kursi kebanggaan. Ia berputar-putar, suara kekehan masih saja terdengar hingga Fia tak bisa untuk tak tersenyum melihatnya.
Sebegitu bahagia dan bangganya kah orang ini? batin Fia.
"Iya, Pak. Selamat, selamat atas perekrutan Bapak," balas Fia.
"Ha-ha-ha ... tentu saja, saya Dafin. Saya pengusaha muda dan berbakat. Saya adalah keajaiban dunia." Gelak tawa kembali keluar dan mengudara dari bibirnya. Sebuah ucapan jemawa yang membuat Fia tadinya tersenyum kini mendadak mencebik, kesal akan sikap sombong Dafin. Namun, demi profesionalitas ia menggangguk juga seraya bertepuk tangan.
Kuakui dia memang berbakat. Tapi kalau menyebut diri sendiri keajaiban dunia bukankah itu terlalu berlebihan? Fia bermonolog lagi.
Seketika tawa Dafin berhenti, Fia juga ikutan diam. Pria itu melirik jam tangan dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
Wajah Fia langsung bersinar, senyumnya terkembang lebar tak seperti sebelumnya. Ia mengangguk lantas mengucapkan kata terimakasih berkali-kali karena memang tubuhnya sudah lelah. Penerbang dari Bali ke Jakarta sudah menguras tenaga, belum lagi melakukan itu ini sesuai perintah Dafin. Ia sangat merindukan dan membutuhkan bantal serta guling.
"Fia ...."
Dafin memanggil lagi saat Fia sudah berdiri di dekat pintu, dengan berat hati gadis itu kembali menghadap. "Iya, Pak. Apa ada yang perlu saya kerjakan lagi?"
"Sebelum pulang tolong reservasikan saya. Saya ingin ke spa, ingin relaksasi sebentar. Habis itu reservasi juga restoran. Ingat, hanya restoran yang kemarin. Hanya restoran itu yang saya percaya untuk urusan kencan. Saya ingin memberi kejutan sama Sisi." Dafin kembali menarik kedua bibir, ia sungguh merindukan sang kekasih, sekarang pandangannya kembali terfokus pada Fia. "Cukup itu saja. Jangan lupa pukul tujuh malam ini, ya, Fia."
Fia mengangguk. Kembali memutar tumit, gadis itu pun pergi keluar ruangan. Sungguh, ia sangat lelah dan ingin cepat merebahkan tubuh yang sudah terasa remuk.
***
Di kontrakan.
Fia membentangkan tangan sedangkan kimono handuk masih melekat di badan. Gadis itu berguling-guling melepaskan rasa penat. Hari ini benar-benar hati yang panjang, cukup melelahkan dan mendebarkan.
Berhenti sebentar dari aktivitasnya, mata Fia melihat plafon kamar. Senyumnya terbit seindah bulan sabit yang sedang bersinar di langit. "Posisi pak Dafin sekarang sudah berubah, otomatis aku juga sekarang sudah menjabat sekretarisnya direktur utama. Oh Fia, beruntungnya kamu." Fia bergumam, senyumnya makin terkembang.
__ADS_1
Seraya melirik foto kebersamaan keluarganya, Fia kembali berucap, "Aku harap ini jalan Tuhan untuk bisa membahagiakan kalian. Tunggu Kakak, Rima, tunggu sebentar lagi. Kakak bakalan bikin cita-cita kalian untuk berkuliah jadi nyata. Dan kalaupun memungkinkan, Kakak bakalan bikin rumah di Jakarta dan memboyong kalian semua."
Mengganti kimono dengan piama, Fia bersiap ke dapur hendak memasak makan malam, tetapi baru saja tiba di dapur terdengar bunyian dari balik pintu. Ia yang memang tinggal sendirian di kontrakan tak seberapa besar itu langsung bergegas ke depan dan melihat punggung seorang pria yang dikenal.
"P-pak Dafin," panggilnya ragu-ragu.
Yang dipanggil langsung membalik badan. "Aku bukan Dafin, aku Dafan," ujar pria itu lantas tersenyum kecil.
Mengerjap, Fia hanya mampu melakukan itu untuk beberapa saat hingga si Dafan yang mengenakan kemeja abu-abu berdeham.
"Sampe segitunya ekspresi kamu. Kenapa? Kamu nungguin Dafin apa gimana?" cecar Dafan. Seketika wajahnya berubah drastis dan tentu saja membuat Fia gelagapan karena tak enak hati.
"Enggak, bukan gitu, kok. Aku cuma kaget aja. Aku kira tadi kamu pak Dafin," jelasnya yang memang benar. Selama beberapa hari bersama Dafin membuat Fia lupa kalau pria itu punya saudara kembar.
Wajah Dafan melemas kembali. "Oh, aku kira kamu nungguin Dafin."
Fia tersenyum canggung, ia garuk tengkuknya, rambut yang basah masih tersanggul handuk hingga Dafan kembali bertanya, "Kamu baru pulang?"
Fia mengangguk. "Oh iya, ada apa ya ke sini?" tanya Fia sedikit sungkan.
"Aku cuma kebetulan lewat terus keinget kamu. Ngomong-ngomong, apa aku enggak dibolehin masuk?"
"Eh!" Fia langsung tersentak, lagi-lagi ia salah tingkah dan sontak saja membuka pintu lebar-lebar. Ia benar-benar lupa kalau sang tamu masih berada di depan pintu. "Masuk, Fan," tawar Fia kemudian.
Dafan pun mengikuti. Matanya memindai keadaan kontrakan Fia. Tak begitu besar dan juga tak begitu kecil. Namun yang pasti rumah Fia rapi dan bersih
"Wah, rumah kamu bersih. Kamu tinggal sendirian?" tanya Dafan berbasa-basi.
"Iya, sendirian. Lagian ini rumah enggak terlalu besar kok. Standar lah untuk perantau kayak aku yang tinggal sendirian. Oh iya, kamu mau minum apa?" tawar Fia lagi. Ia perhatikan wajah Dafan yang sudah duduk di sofa. Matanya tertuju pada kantong kresek yang Dafan bawa.
"Gak perlu, Fia. Aku cuma bentar."
Alis Fia tertaut, tapi ia berakhir kembali duduk. Pria rapi di depannya mengeluarkan isi kantong, dan terlihat berbagai obat keluar dari dalam sana.
"Kamu sakit?" tanya Fia keheranan.
Dafan merespon hanya dengan senyuman, ia masih menata botol demi botol di atas meja. "Ini bukan untuk aku, tapi untuk kamu."
"Lah, aku kan gak sakit."
"Justru lagi sehat kamu harus pikirin fisik kamu. Ini aku bawain vitamin, suplemen sama penambah darah. Jaga kesehatan," lanjut Dafin tanpa melihat ekspresi wajah Fia. Gadis itu melongo, antara bingung plus tak percaya.
__ADS_1
Kenapa juga dia harus repot-repot begini? batin Fia dengan tetap melihat Dafan.