Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ceramah bagian ke 2


__ADS_3

Hais! Litania usap wajah dengan gusar lantas kembali melayangkan cubitan di pipi tirus pria itu. "Dasar bangkotan jahat. Awas aja entar. Bener-bener aku kasih pelajaran hidup biar nurut," geramnya seraya menarik pipi itu dengan kuat.


"Ayo Arjun, kita berangkat," titah Litania lagi seraya angkat dari kasur big size itu.


Ketiganya pun kembali melakukan perjalanan menuju tempat di mana Leo menginap. Hotel Melati, ya hotel yang memang tak jauh dari tempat mereka tinggal.


Dengan letupan emosi yang masih belum mereda, Litania banting pintu mobil saat sudah tiba di tempat tujuan. Lantas menuju ke arah penginapan itu, dan keberuntungan yang hakiki mendadak memihak diri, Litania menangkap sosok Leo tengah berjalan keluar dari hotel dan menuju mobil sedan yang terparkir.


"Leo!"


Litania memanggil dengan suara lantang. Para pengunjung yang ada di halaman tentu saja tampak kaget dengan teriakan itu. Akan tetapi Litania yang masih diselimuti kekesalan mengabaikan tatapan heran orang-orang dan terus saja melangkahkan kaki hingga berada tepat di depan Leo.


Namun, pria itu bukannya takut malah tampak tersenyum. Ya karena rencananya memang akan mengirim foto-foto syur Chandra dan Lusi kepada Litania. Pria jangkung dengan wajah tampan itu ternyata menyimpan kebusukan yang luar biasa. Bagaimana bisa dia menginginkan kehancuran rumah tangga Chandra dan Litania? Menginginkan perceraian Chandra karena tak bisa terima kalau hubungannya kandas sementara Chandra berbahagia. Ya salam, tobat tobat!


"Hallo Nona Litania." Senyum Leo sudah terkembang begitu lebar. Ia masukkan kedua belah tangan ke saku celana dan dengan bangganya melanjutkan kata, "Apa kamu mau berterima kasih sama aku. Ayolah, nggak perlu sungkan. Kita sama-sama manusia harus saling mengingatkan. Aku bahagia kalau kamu bisa melihat sikap buruk suami kamu itu."


Mendadak leher Litania menegang. Darah sepertinya sudah naik kekepala. Sumpah. Ingin segera menyudahi ocehan Leo yang tak berdasar dengan siraman air comberan.


"Bagaimana, kamu ingin berterima kasih, 'kan?" tanyanya lagi dengan percaya diri.


"Ya, aku mau berterima kasih," ucap Litania seraya menunjukkan senyum smirk, lantas sedetik kemudian tanpa aba-aba melayangkan tamparan. Telak. Suara keprakan pun menggema di halaman hotel itu.


"Apa ini?" Leo berang, ia tatap Litania dengan tangan yang sudah memegang pipi yang mendadak terasa panas. Sakitnya tak seberapa, malunya itu yang bikin emosi Leon naik seketika itu juga. "Apa yang kau lakukan?" hardiknya.


Lagi, tamparan mendarat di tempat yang sama. Litania tersenyum licik sementara Leo sudah mengepalkan tinju. "Ini ucapan terima kasihku. Terima kasih, karena kelicikan kamu, aku jadi paham dan makin percaya sama dia. Aku makin tau betapa liciknya isi hatimu ini." Litania berucap seraya menekan dada Leo dengan kuat hingga pria jangkung itu mundur beberapa langkah.


"Sialan! Gadis nggak tahu diri!" Tangan Leo menepis tangan Litania yang menekan-nekan dadanya. Hatinya bergemuruh, malu sekaligus geram akan tingkah berani Litania. Sedetik kemudian ia hendak melayang tangan, tapi Arjun dengan cepat menangkap dan memutarnya ke belakang. Leo meronta tapi tetap tak bisa bergerak karena tangan sudah terkunci.


"Sialan! Lepas, hey!" hardiknya pada Arjun yang ada di belakang.

__ADS_1


Namun lagi-lagi Litania tersenyum sinis. Serasa di atas angin. Emosinya hari ini terlampiaskan dengan memukul beberapa orang yang memang layak dipukul.


Litania dekati lagi Leo. Memindai wajah marah Leo dengan muka tak kalah garang lalu berucap, "Sumpah, baru sekarang aku ketemu manusia yang gak tau malu kayak kamu. Gak pernah kapok. Aku heran kenapa kamu begitu ingin menghancurkan Chandra. Kanapa kalian—Leo dan Arkan—begitu membencinya? Apa dendam membuat hati kalian buta?"


Hening sesaat. Litania masih mencoba menahan emosi yang hampir meledak.


"Kalian melimpahkan kesalahan kalian kepada orang lain. Apa itu termasuk perbuatan terpuji? Apa itu perbuatan orang dewasa?" Litania berdecih lantas meludah. Melihat wajah tak bersalah Leo membuatnya ingin lebih dari sekedar menampar. Rasanya begitu ingin mencakar biar wajah itu tak bisa menunjukkan ekspresi jahat seperti itu lagi.


"Apa kamu tau, kamu itu mirip pecundang. Pecundang yang menyedihkan. Bisa-bisanya iri dengan kebahagiaan dan kesuksesan orang lain?"


"Tutup mulutmu!" hardik Leo.


"Ayolah, semua ini di dunia ini ada timbal balik. Jika jahat yang kalian tanam itulah yang akan kalian tuai. Jadi jangan pernah iri dengan keberhasilan orang lain. Orang lain mendapatkannya dengan susah payah bukan hanya dengan membalik telapak tangan semuanya bakal ada dalam genggaman."


Leo berdecih, ia tatap nyalang Litania. "Kamu tahu apa? Ha! Kamu nggak tahu rasanya jadi aku."


"Apa kamu enggak malu dengan kamu berbuat seperti ini hanya akan membuat reputasimu makin jatuh. Kamu nggak akan mendapat perhatian maupun kasihan. Kamu hanya akan mendapat celaan.


"Biasakanlah bersyukur dengan apa yang kamu terima, Leo. Jangan pernah iri dengan kesuksesan orang lain apalagi sampai melakukan hal tercela seperti ini. Kamu enggak malu. Kamu enggak kasian dengan orang tuamu?"


Hening lagi, wajah Leo tampak sedikit menunjukkan perubahan.


"Belajarlah dari orang tuamu. Dia mengesampingkan ego demi kedamaian."


"Sialan! Hentikan bacotmu! Dasar anak kecil. Anak kecil kayak kamu tau apa, ha!"


Namun Litania yang sudah kadung kesal menatap nyalang ke arah Leo. Kemarahannya makin menjadi. Leo, pria itu bukannya mencerna ucapan malah menunjukkan sisi bebal.


"Ayo, Arjun. Orang seperti ini nggak bakal tobat. Mungkin dia bakalan mengerti jika sudah merasakan apa itu bui."

__ADS_1


***


Pagi harinya.


Masih di dalam kamar hotel.


Chandra yang tertidur nyenyak akhirnya mengerjapkan mata, mencoba memfokuskan pandangan yang buram. Aneh, pipinya serasa nyeri. Ia gerak-gerakkan rahangnya seraya duduk. Namun pemandangan yang ada membuatnya berjengket kaget kala mendapati begitu ramai orang ada di hadapan. Terlebih lagi saat melihat dirinya tengah bertelanjang dada. Ada apa ini? batinnya.


Arah matanya tertuju pada Litania yang terduduk di sofa tepat di depan. Ia sentuh kepalanya yang sakit seraya melihat kembali keadaan sekitar. Bak orang linglung, Chandra pun memberanikan diri bertanya, "Sayang, kita di mana? Kenapa aku di sini? Kenapa begitu ramai orang? Terus kenapa aku bisa gak pake baju? Dan juga, kenapa pipiku rasanya ngilu?"


Lagi, kebingungan Chandra makin bertambah. Ia mencoba diam dan mengingat kejadian semalam, dan Degh! Jantung Chandra bertalu saat mengingat pertemuannya dengan Lusi. Ia tak bodoh. Ia paham apa yang selanjutnya Lusi perbuat saat dirinya tengah tak sadarkan diri.


Dengan wajah memelas, Chandra buka selimut dan hendak mendekati Litania yang sudah bermuka masam. Namun, tanpa terduga seorang wanita yang berada di sisi kirinya menahan. Dan seorang pria di sisi kanan juga seakan memintanya menghentikan niat untuk bergerak.


"Siapa kalian?" tanya Chandra dengan ekspresi bingung.


"Maaf, Pak. Saya Viona, kuasa hukumnya Nyonya Litania."


Apa?! Mata Chandra membeliak.


"Dan saya, Amir, saya di sini selaku kuasa hukum Bapak."


"Apa?"


***


Jeng jeng jeng.


jangan lupa like nya.

__ADS_1


__ADS_2