
Sementara itu, di kediaman Kinar dan Arjun ada Nara yang sedang sesenggukan. Gadis itu memandangi foto dirinya dan Dafan saat berlibur di salah satu kebun binatang yang ada di Australia. Kala itu Dafan yang baru duduk kelas dua SMA sudah mampu mencuri hatinya yang jelas-jelas baru masuk SMP. Nara jatuh cinta pada Dafan di usia yang sangat muda.
Seketika ingatan Nara melayang ke beberapa tahun silam.
"Litan, keknya seru ya kalo kita besanan," ujar Kinar saat duduk lesehan di sebuah tanah lapang. Matanya menatap Dafan dan Dafin yang tengah bermain kelayang. Si duo tampan itu tampak asyik dan tertawa lepas.
Litania yang mengupas buah, mengangguk. "Iya, kalau memang bisa aku juga mau kita jadi besan. Aku suka Nara. Anak kamu itu cantik energik, kek kamu dulu. Gemesin dan nyebelin di saat bersamaan," balas Litania. Senyumnya terbit bagai bulan sabit.
Tanpa mereka tahu, ada Nara yang menguping dari balik pohon. Gadis itu tersenyum menahan degup jantung, merasa bahagia karena mendapat sinyal hijau dari Litania.
Aku harap ini jadi kenyataan, gumamnya.
Mengingat itu senyum Nara tercipta, tapi sedetik kemudian air matanya meluruh. Hatinya sakit saat mengingat Dafan mencium wanita lain tepat di depan mata. Baginya itu adalah pengkhianatan yang paling mengerikan. Rasa cinta yang sudah dipupuk dan ia jaga sejak dulu ambyar dalam sedetik. Harapan agar bisa menyandang status sebagai istri Dafan pun melayang bagai debu saat ia memutuskan melayangkan sepatu ke kepala pria itu.
Sesakit inikah patah hati?
"Kamu jahat, Dafan. Kamu jahat," rutuknya lalu kembali memeluk foto.
Sungguh, ini adalah pengalaman pertama yang mengerikan. Hancur semua angan-angan Nara untuk bisa bersanding dengan Dafan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Kinar. Bibir yang tadinya tersenyum berubah seketika saat melihat sang anak meringkuk di sisi ranjang.
"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya panik.
Nara menggeleng, ia beringsut memunggungi Kinar. "Nara gak kenapa-kenapa, kok, Ma," balasnya dengan posisi yang masih menyembunyikan mata yang bengkak.
"Ayo cerita sama Mama. Kalo gak kenapa-kenapa gak mungkin kamu begini. Ayo bilang, kamu kenapa?" Kinar mengulangi pertanyaan, tapi Nara tetap tak mau memberi jawaban.
"Kamu punya masalah di sekolah?" tanya Kinar lagi.
Nara kembali menggelang, ia masih tak sanggup untuk bercerita masalah hatinya yang sudah patah karena penghianatan yang Dafan lakukan. Bisa-bisanya pria itu mengabaikan perasaannya yang suci dan mulia.
"Apa kamu punya masalah sama Dafan?"
Duh, air mata Nara merembes makin banyak saat mendengar nama pria itu. Ia menenggelamkan wajah dalam selimut tebal tanpa mau menoleh ke belakang. Kinar yang bingung mendesah frustrasi.
"Oke, gak apa-apa kalau kamu gak mau cerita sama Mama sekarang. Tapi Mama punya kabar baik buat kamu. Keluarganya Dafan ngajak kita makan malam besok. Kamu pasti seneng, 'kan?" ujar Kinar bersemangat tanpa tau kenyataan kalau Dafanlah penyebab anaknya seperti itu.
"Ma, bisa gak Mama keluar dulu. Nara mau sendiri."
Kinar tersentak, tak percaya diusir saat menyampaikan berita baik. Sepengetahuannya Nara selalu bersemangat bila menyangkut Dafan.
****
Tibalah malam yang di maksud. Kinar, Arjun, Nara dan Revi—adik Nara—sudah berada di depan pintu rumah Litania. Di depan mereka disambut senyum hangat sang nyonya rumah, sedangkan Chandra sudah menunggu di meja makan.
"Wah, selamat datang. Masuk masuk."
Chandra menyambut dengan senyum mengembang. Tangannya terbentang lebar sebelum tubuhnya dan Arjun saling bertabrakan. Mereka lantas tertawa bersama.
"Ayo, silahkan duduk, Jun, Kinar," sela Litania yang begitu cantik dengan jumpsuit abu-abu.
"Ya ya, ayo silahkan duduk," ulang Chandra dengan tawa yang masih saja terdengar. Bahagia rasanya berkumpul dengan teman lama mengingat intensitas pertemuan mereka yang sangat jarang sekali. Arjun sibuk, ia juga sama.
"Gimana kabarnya, Pak, sehat?" tanya Arjun seraya menarik kursi.
"Ayolah, Jun. Berhenti manggil bapak. Kamu kek sengaja ngasih tau saya soal umur. Saya sadar diri kok kalau sudah tua," balas Chandra seraya terkekeh. Arjun pun balas tersenyum. Sudah lama ia berhenti menjadi asisten Chandra, tapi entah kenapa sulit baginya untuk bersikap biasa saja. Bagi Arjun, Chandra tetap sosok pria yang harus di hormati.
"Maafkan saya, mungkin ini yang namanya tuman," balas Arjun.
Lagi-lagi kekehan renyah keluar dari bibir kedua pria itu.
"Oh iya, Dafan." Mata Arjun tertuju ke Dafan. "Gimana rasanya menyandang gelar dokter?"
"Yah begitulah, Om," balas Dafan seraya mengulum senyum.
"Jadi apa rencana kamu? Apa kamu gak mau lanjut pendidikan dan ambil gelar spesialis?" tanya Arjun lagi.
"Ada, Om. Tapi nanti saja kalau memang sudah waktunya. Sekarang Dafan mau nikmati masa sekarang."
__ADS_1
Arjun mengangguk. Kekehan kembali terdengar. "Kamu hebat, loh. Masih muda sudah mengharumkan nama baik orang tua. Om yang hanya temen ayah kamu aja bangga. Apalagi mereka," lanjut Arjun lagi. Sebuah pujian yang membuat Dafan tak bisa berkata.
Memang, membanggakan sang Bunda adalah tujuannya. Beruntung sekarang terlaksana. Usahanya untuk fokus belajar dan mengesampingkan godaan masa muda berakhir manis. Gelar dokter sudah ada dalam genggaman.
"Kamu hebat, Om harap anak-anak Om juga seperti itu," ujar Arjun lagi yang sontak membuat wajah Dafan dan Nara berubah drastis. Senyum Dafan sirna, sedangkan Nara makin tertunduk. Hatinya makin kecil saja setelah mendengar harapan Arjun. Cita-citanya bukan ingin menjadi dokter, tapi menjadi istrinya seorang dokter.
Mungkinkah terlaksana? Batin Nara dalam tunduknya.
"Sudahlah, Jun. soal masa depan dan karier anak-anak serahkan saja pada mereka. Jangan dibebankan. Kasian Nara," timpal Chandra. Kini matanya melihat Nara. "Jangan di pikirin ya, Sayang," lanjut Chandra lagi yang entah kenapa tak membuat Nara nyaman. Ia masih saja tak bisa tersenyum. Pikiran melanglang buana ke mana-mana.
"Om denger kata kepala sekolah niai akademis kamu lumayan tinggi. Kalau boleh Om tau, kamu mau jadi apa nantinya?" tanya Chandra lagi.
Kalau boleh aku mau jadi mantu om, tapi .... Nara bermonolog lagi hingga sentuhan di pundak menyadarkan.
"Nara, ditanyain kok bengong," timpal Kinar yang memang sedari tadi memperhatikan gelagat aneh sang anak. "Om Chandra nanyain kamu mau jadi apa entar?"
"A-aku mau kuliah manajemen aja, Om. Bantuin Papa," balas Nara.
"Nah, itu juga membanggakan. Moga terlaksana ya."
Semua orang kembali tersenyum. Tak terkecuali Chandra. Matanya menyapu sekitar. Semua orang sudah hadir, baik Dafan maupun Dafin sudah duduk tenang, bahkan sang calon mantu—Sisi—juga sudah ada di sana. Euforia begitu terasa menyenangkan.
"Oiya, Bun. Anya gak dipanggil?" tanya Chandra seraya melihat sang istri yang duduk di sebelahnya.
"Tadi sih katanya bentar lagi turun," jawab Litania, "ya udah, Bunda panggil lagi, deh."
"Tan."
Litania berhenti. Ia yang baru saja berdiri melihat orang yang memanggil dan melihat Nara juga berdiri.
"Kenapa, Ra?" tanya Litania.
"Biar Nara aja yang panggil, Tan."
"Oh." Senyum Litania kembali terbit. Ia pun mengangguk dan kembali duduk.
Apa ini hakekat cinta? Kenapa sakit sekali? Apa gak bisa Tuhan menghapus rasa ini dengan mudah semudah rasaku yang tumbuh untuk dia? Apa perasaan dan cintaku gak berharga sama sekali? Batin Nara.
Menyeka air mata, gadis bergaun magenta selutut tanpa lengan menaiki anak tangga satu persatu, dan saat melihat ke bawah, pandangannya beradu dengan Dafan. Pria itu tampak tenang, tak seperti dirinya yang terguncang.
Dasar kejam. Batin Nara lagi hingga sesosok perempuan mengagetkan. Ia berjengket dan hampir saja kepeleset. Beruntung genggaman tangannya kuat memegang besi pengaman tangga.
"Anya, kamu ngagetin aku tau gak," sungutnya seraya mengelap pipi yang basah
"Aku gak ngagetin, Ra. Kamunya aja yang bengong. Emangnya kamu kenapa, sih?"
Namun, Nara masih bungkam hingga Anya menyentuh bahunya.
"Kamu kenapa, Ra?" ulang Anya yang keheranan. Wajah temannnya membengkak, make-up luntur. Jelas ada yang tak beres. "Nara! Ngomong, dong!"
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Anya …."
Air mata Nara makin banyak. Gadis itu berakhir memeluk Anya, ia sesenggukan dengan menggigit punggung tangan agar tak menjerit.
Anya yang mengerti ada sesuatu yang tak beres menepuk punggungnya. "Tenanglah. Tenang. Kita cerita di kamar ya."
Di kamar, Nara menceritakan segalanya. Soal bentakan Dafan dan ciuman, serta pukulan. Ia makin sesenggukan di pundak Anya.
"Sudahlah, tenang dulu. Jangan sedih. Nanti kita cari tau siapa perempuan itu, oke. Don't cry again." Anya peluk Nara.
Nara makin sesenggukan. Semua orang seperti mendukungnya bersama Dafan. Namun, kenapa Dafan tidak mendukung perasaanya yang tulus. Yang lebih aneh, ia sendiri yang tak bisa menerima kenyataan Dafan tak menyukainya. Ia rela bertahan dengan perasaan yang jujur lebih banyak memberikan tekanan dibanding kebahagiaan. Pernah suatu ketika Anya mengatainya gila karena terkesan memaksakan kehendak.
"Anya! Nara! Kalian ngapain di dalam? Ayo turun, Sayang. Kita makan malam. Yang lain udah pada nungguin!" seru seseorang dari balik pintu. Suara lembut yang mereka hapal milik Litania.
__ADS_1
"Bentar, Bun!" balas Anya.
"Cepetan turun ya. Yang lain udah pada nungguin."
"Iya ... ini kita juga lagi siap-siap. Bunda turun duluan aja."
Cepat-cepat Anya lap wajah Nara yang berantakan. Make up gadis itu sedikit berantakan.
"Sekarang kita turun, ya. Nanti kita pikirin solusinya."
Nara mengangguk, Anya pun memeluk. Selanjutnya keduanya turun bergandengan. Anya tersenyum seperti biasa, tapi tidak Nara. Gadis itu tampak berubah drastis. Sakit hati masih terasa jadi ia tak bisa bekerja ekstra dengan berpura-pura bahagia. Sedang sedih tapi berusaha tersenyum bukanlah perkara mudah. Nara menyerah untuk itu.
Makan malam pun terlaksana sebagaimana mestinya. Canda tawa dan celotehan Kinar membuat suasana makan tak setenang biasanya. Ada-ada saja celotehan Kinar yang sukses membuat orang lain terhibur tapi tak sukses membuat anak sulungnya tersenyum.
Kini semuanya beralih berkumpul di ruang tengah. Dafin dan Sisi memilih duduk di pojokan rumah. Sementara Kinar, Litania Chandra dan Arjun memilih berkumpul di depan TV.
"Nya, aku harus apa?" tanya Nara berbisik. Mereka tengah berdiri di balkon. Di depan mereka ada Dafan yang sedang fokus menatap layar ponsel.
"Ya kek natural aja. Bilang maaf gitu karena kamu udah nabok dia pake sepatu."
"Tapi, Nya. Kalau dia gak maafin dan masih marah gimana?"
"Udah jangan mikir negatif dulu. Kamu tau kan Bang Dafan itu orangnya kek gimana. Jadi cepat ngomong sana."
"Tapi—"
Belum sempat Nara menyelesaikan kata, Anya telah mendorongnya hingga ia tak sengaja membentur punggung Dafan, pria itu menoleh dan langsung memberikan tatapan elang.
"Kenapa?"
Satu kata yang membuat Nara gugup seketika.
"Kenapa? Apa ada yang kurang jelas?" ujar Dafan yang membuat Nara makin gelisah. Sungguh, ia tak ingin mendengar penolakan lagi.
"A-aku ... aku mau—"
"Sudahlah, Ra. Sudah aku bilang, jangan berharap lebih. Aku menyukai perempuan lain."
Nyes! Darah Nara berdesir, jantung melemah seketika, air mata bahkan keluar tanpa pemritahuan. Ia tertunduk dengan meremas jemari tangan.
"Jadi ... kemarin itu beneran?" tanya Nara. Suaranya bergetar karena telah menyatu dengan tangisan.
"Tentu saja, Nara. Apa pernah kamu liat aku becanda?"
Duh, rasa sakit yang Nara rasa semakin dalam, tapi tak sedalam cintanya. Ia lap air mata lantas menatap Dafan. Mata mereka berbagi pandangan.
"Kamu yakin suka dia?" tanya Nara. Dari suara dan tatapan sudah dipastikan gadis remaja itu tengah serius.
"Tentu saja. Dia tipeku. Wanita yang aku suka."
"Kalau gitu, bisa kamu katakan, siapa namanya, berapa usianya, apa makanan kesukaannya. Terus, apa kamu tahu kebiasaan buruknya, cerita masa lalunya, harapan masa depannya, kebenciannya, kesukaannya. Aku yakin kamu enggak tahu Dafan. Apa itu yang namanya cinta? Apa itu yang namanya sayang?"
Dafan tampak gugup, bola matanya bergerak liar, ia berakhir memalingkan wajah ke arah lain. Bagaimana bisa ia tahu keseluruhan tentang Fia sedangkan nama saja ia tidak sempat bertanya?
"Aku ... aku yang menyukaimu Dafan. Aku yang mencintaimu, perasaanku tulus. Sejak lama aku mengetahui segalanya tentang kamu, tentang semua kelebihan bahkan kekuranganmu. Aku rela menunggumu. Aku gak akan segan berkorban demi kamu. Bukankah aku yang pantas diperjuangkan? Tapi kenapa kamu memilih wanita lain hanya karena type?" cecar Nara, air matanya meluruh lagi.
Namun Dafan bergeming, menoleh saja, tidak.
Bodoh, kamu masih terlalu muda untuk berpikir dewasa seperti itu. Nikmatilah masa mudamu. Jalani hidupmu sesuai usia. Masa mudamu nggak pantes kamu abdikan untukku. Aku hanya menganggapmu adik, baik dulu, sekarang, maupun masa depan. Dafan bermonolog. Ia mengembuskan napas panjang.
"Sudahlah, itu hal pribadiku, jangan kau ungkit lagi. Mau aku suka apa enggak, dia tahu seluk-beluk aku apa enggak, itu urusan kami. Kamu nggak berhak berbicara atau berkomentar apa pun. Urusi saja hidupmu, sekolahmu, jangan ganggu aku dengan perasaanmu itu," ucap Dafan penuh penekanan.
Lagi-lagi hati Nara terasa tertusuk, ia berakhir memegang pembatas balkon dengan mata menatap langit malam. Menabahkan hati dan menegarkan diri.
Aku kuat, aku bisa. Dafan jodohku. Kalau gak sekarang, pasti nanti, batin Nara. Ia lap lagi air matanya.
"Pertemukan kami, setelah itu aku akan memutuskan untuk menyerah atau bertahan."
Like komen vote jgn lupa.
__ADS_1