Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Kepercayaan.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Litania yang tengah berdiri di kamar mandi, tersenyum di depan cermin. Suka cita tercetak jelas di wajah. Bagaimana tidak, masalah sahabatnya terangkat sudah, selesai hingga ke akar-akar. Penjahat seperti Alex memang harus dihukum seberat-beratnya.


"Kebiri, hukum mati atau penjara seumur hidup, aku harap dia dapat salah satu hukuman itu," gumam Litania seraya tersenyum licik.


Akan tetapi, setelah melihat pantulan perutnya yang tampak sedikit membuncit, senyum jahat Litania yang sempat terukir, sirna. Berubah menjadi senyum tulus seorang ibu. Seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang buah hati.


Membelai perut yang terbalut langerie tipis berwarna ungu, Litania usap pelan membentuk arah jarum jam berputar seraya bergumam, "Sayang ... Bunda lega akhirnya masalah Tante Kinar berakhir. Maafkan Bunda, ya. Umurmu yang masih tergolong muda ini harus menghadapi permasalahan yang rumit."


Ingatan Litania kembali ke kejadian beberapa hari belakangan. dirinya harus tangguh dalam segala hal. Dari Chandra yang diculik hingga permasalahan Kinar. Situasi dan kondisi yang membuatnya sempat lupa kalau sekarang tengah mengandung.


"Maafin Bunda, ya. Dan terima kasih karna kamu juga udah tangguh di dalam sini. Bunda harap kamu sehat-sehat aja sampe nanti lahir. Bunda bakalan basmi penjahat kaya Leo dan juga Alex. Biar dunia ini aman untuk kamu tinggali."


Ish, apaan sih. Aku ngomong apaan coba. Litania terkekeh geli dengan ocehannya sendiri. "Ya udah, sekarang kita samperin papa kamu, yuk."


Melenggang pinggang keluar dari kamar mandi, Litania celingukan melihat kamar yang sepi. Padahal jam segini biasa sang suami tengah terduduk di ranjang dengan penuh wibawa—kacamata baca bertengger kukuh di hidung dan tablet di tangan. Belum lagi dahi yang mengkerut membentuk beberapa lipatan. Terlihat keren sekaligus menggemaskan.


"Ke mana dia?"


Litania berjalan menyusuri rumah dan tak mendapati Chandra di mana pun. Sebenarnya dia ke mana, sih.


Litania mulai dongkol. Pasalnya menyusuri lantai satu saja sudah lumayan menguras tenaga.


Mendongakkan kepala sedikit, Litania menyipitkan mata menatap lantai tiga rumah mereka. Lantai di mana ruang kerja Chandra berada plus ada ruang gym dan mini bar di sana.


"Apa dia ada di sana?"


Litania manaiki anak tangga dengan perlahan hingga tibalah di depan sebuah kamar tempat Chandra bekerja. Namun, nihil, pria itu tetap tak tampak batang hidungnya.


"Apa dia di ruang gym?"


Litania kembali menyusuri ruang demi ruang di sana. Mini bar pun tak luput dari kecurigaan, tapi tetap tak menjumpai sosok Chandra. Bumil ber-langerie tipis berlapis kardigan rajut selutut itu masih memindai sekeliling hingga mata tanpa sengaja mendapati Chandra tengah berdiri di balkon rumah.


Berdecak sebal, Litania langkahkan kaki menuju Chandra, hanya saja suaminya itu kelihatan serius berbicara dengan seseorang lewat telepon.


"Dia nelpon siapa malam-malam gini." Membuka pintu dengan perlahan, Litania menyembulkan kepalanya sedikit—berniat mencuri dengar obrolan Chandra.

__ADS_1


"Baiklah, besok gue ke sana. Barangnya udah pasti ke elo, 'kan?"


Wah, ini apa maksudnya? Dia make? Gak ... gak mungkin dia ngisap barang laknat itu, 'kan?"


Pikiran Litania makin menerawang. Ia pukul kepalanya sendiri agar pikiran negatif hilang dari benak.


"Ini beneran gak perlu bayar? Wah, makasih banyak, loh," ucap Chandra lagi disusul kekehan renyah. Suara tawa yang membuat pikiran Litania makin berjalan tak tentu arah.


Bayar, bayar apaan ni? Astaga, apa jangan-jangan dia sudah termakan bujukan si pengedar. Coba gratis, kedua kali bayar.


Astaga, jantung Litania terasa melemah. Berspekulasi membuat pikiran buruk makin merajalela. Ia kembali memukul kepala dengan empat buku jari. Berharap kecurigaan tanpa dasar itu sirna.


Menajamkan lagi indra pendengarannya, Litania berharap ini bukanlah sesuatu yang buruk.


"Oke, elo yang terbaik. Gue percaya. Jadi gue harap ini tetep jadi rahasia kita."


Nah, loh! Rahasia apa lagi ini? Litania meradang. Di dekatinya Chandra dari belakang berniat melabrak. Akan tetapi, saat sudah berancang-ancang akan memukul, kekehan Chandra menghentikan, apalagi ada nama Irwan di akhir kalimatnya.


Melemaskan wajah dan tangan, Litania mengukir senyuman lantas menepuk pelan bahu Chandra.


Chandra yang masih menempelkan barang pipih di telinga, mengernyit heran, tapi sedetik kemudian mengangguk pelan. "Kenapa? Kamu mau ngomong sama dia?" bisiknya.


"Enggak, aku cuma nanya aja, kok," jawab Litania salah tingkah. Ia garuk tengkuknya yang tak gatal seraya merutuki isi kepalanya yang selalu berpikiran negatif.


"Udah?" tanya Litania kala melihat Chandra telah memasukkan ponsel ke saku celana.


Namun, bukannya menjawab, Chandra malah menatap serius ke arahnya. Berjalan mendekat dengan sipitan mata tajam. Litania merasa terintimidasi hingga tanpa sadar memundurkan langkah. Sialnya ia sudah tak bisa bergerak karena punggung sudah membentur dinding. Sementara tangan menggenggam besi pembatas balkon.


"K-kenapa?" Litania tampak gugup.


"Kamu sejak kapan ke sini?"


"Udah dari tadi."


"Kamu nguping?" Mata Chandra makin menyipit.

__ADS_1


Litania nyengir. "Iya, dong. Aku kan penasaran."


"Kebiasaan."


"Emangnya gak boleh?" Melirikkan matanya, Litania tatap tajam Chandra yang hanya memakai baju kaos oblong biasa. "Emang ada yang kami rahasiain dari aku? Terus besok mau ke mana?"


Kini Chandra yang tersenyum canggung. Mendapat pelototan tajam serta pertanyaan bernada interogasi seperti itu membuatnya menelan ludah pahit. Keadaan harus bisa dibalik sesegera mungkin.


"Bukan begitu." Menarik tubuh Litania lantas memeluknya dari belakang, Chandra daratkan dagu di ceruk leher wanitanya itu. "Gak ada rahasia. Aku berencana mau ke Semarang. Kamu ikut, ya?"


"Kok mendadak. Emang ada apa? Chandira sakit?"


"Bukan. Chandira baik-baik aja. Aku mau ke Semarang buat ketemu Irwan. Ada urusan sama dia. Kamu ikut, ya. Kita nginep dua hari di sana sekalian main sama Chandira."


Litania menggeleng,melepaskan pelukan lantas menatap lekat suaminya yang tampak kebingungan, alis pria itu bahkan sudah terangkat sebelah.


"Ada apa?" tanya Chandra yang langsung di respon Litania dengan gelengan kepala, lagi.


"Aku di rumah aja. Aku capek. Kasian Junior kalau dibawa bepergian terus," balas Litania seraya mengusap perutnya. Janin yang belum genap dua bulan.


Chandra bergeming, tapi sedetik kemudian senyum tercipta di wajah meski tampak dipaksakan. "Tapi, Sayang. Nanti kamu—"


"Aku gak bakalan cemburu. Aku percaya sama kalian. Titip salam aja buat orang di sana."


Chandra tampak meragu. Pemandangan yang membuat Litania gemas dan dengan cepat menangkup kedua belah pipi Chandra. Lantas mendaratkam kecupan singkat di bibir suaminya itu. "Aku beneran gak apa-apa."


"Beneran?" tanya Chandra lagi.


Namun bukannya menjawab, Litania malah kembali menarik leher Chandra dan mendaratkan lumataan ringan. "Beneran. Aku gak papa."


Wajah Chandra melemas. Senyumnya terukir lagi. Ia rengkuh tubuh Litania dalam dekapan. "Terima kasih banyak. Kamu mau ngerti posisiku."


"Iya, aku juga makasih. Kamu itu suami terbaik. Dan juga aku mau berterima kasih soal Kinar."


"Kalau soal Kinar kamu tenang aja. Aku udah suruh orang buat jemput korban yang lain. Bahkan yang sudah pindah ke luar pulau pun aku jemput. Biar si brengsek itu gak bisa menyangkal lagi."

__ADS_1


__ADS_2