Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Diculik


__ADS_3

yang semalam baca sebelum jam 5 pagi harap di ulang ya. soalnya udah aku edit.


***


"Om, bisa pinggiran mobilnya bentar, gak? Aku mau ke toilet. Aku udah gak kuat nahan," kata Anya. Ia terlihat memegang perut. Keningnya juga mengerut.


"Tapi, Nona, kita sudah sampai di Jakarta. Sebentar lagi sampai rumah. Apa tidak bisa ditahan dulu?" Si pria berbadan tegap yang ada si sebelah sopir melihat keadaan Anya. "Tuan Chandra bilang kita harus sampai rumah dan tidak boleh ke mana-mana lagi," lanjutnya.


"Tapi ini urgent, Om. Aku gak bisa nunggu sampe rumah. Aku takut kalau ditahan nanti bakalan mengakibatkan pertumpahan darah," jelas Anya yang terdengar ambigu


Dua orang yang ada di depan Anya langsung adu pandang.


"Maksudnya?" tanya mereka serentak.


"Ish! Aku keknya mau haid, Om. Nanti darahnya meluber dalam mobil. Om mau liat darah aku?" ujar Anya yang langsung nge-gas, sebenarnya ia malu setelah mengatakan itu, hanya saja sakit yang mendera benar-benar tidak bisa di toleransi lagi. Perutnya bagai diikat, rasanya ada yang melilit, belum lagi punggung serasa dipukul palu. Anya kelimpungan menahan rasa itu. Ia sudah hapal betul reaksi tubuh ketika mendapat menstruasi.


Akhirnya, keinginan Anya pun dituruti. Mereka berhenti di sebuah mall dan tentu saja gadis itu mendapat pengawalan yang ketat, sepuluh orang bersetelan rapi bak bodyguard di film laga mengikutinya. Tentu saja mereka memancing rasa kepo orang-orang, semua mata tertuju ke arahnya.


"Sialan," desis Anya kesal. Namun, ia sudah tak bisa berkomentar maupun protes, sakit perut karena haid benar-benar menjungkirbalikkan mood yang ada.


Anya mendesah, ia terus berjalan menerobos ramainya pengunjung dan mengabaikan tatapan mereka. Yang ia butuhkan adalah pembalut serta obat pereda nyeri.


Tibalah di depan toilet. Mata Anya langsung melotot pada pria-pria yang sudah berancang-ancang ingin masuk ke sana juga. Namun, Anya yang sadar langsung membentangkan tangan.


"Kalian jaganya cukup sampe sini aja. Masa iya mau ikutan masuk? Mau di gebukin emak-emak satu gedung?" ujar Anya, kesal. "Asal kalian tau, the power of emak mengalahkan power ranger apalagi powerbank," lanjutnya.


Semua pria di sana langsung berdeham garing. Ya kali tampang sangar berpenampilan oke tapi berakhir digebukin emak-emak satu gedung. Nggak ada manis-manisnya.


Para pria itu pun menunggu. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengintai dari jauh. Seorang pria paruh baya bermasker, mengenakan pakaian cleaning servis dan wig rambut panjang tersenyum sinis melihat mereka. Ia pun mendekati gerombolan bodyguard Anya dengan janitor trolley di tangan.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam toilet yang memiliki lima pintu Anya duduk di atas closed. Obat sudah diminum dan pembalut juga sudah terpasang, tapi perut seperti tak bisa diajak kompromi, ia masih merasakan keram.


Tak lama, Anya yang masih berusaha menetralkan rasa sakit terusik karena pintu tempatnya mengistirahatkan diri diketuk seseorang.


Terpaksa ia beranjak dan melihat ibu-ibu bermasker berada di balik pintu. Ia keheranan karena orang itu berdiri di depannya sedangkan ada begitu banyak toilet yang kosong.


"Mau make toilet?" tanya Anya. Mendadak rasa kesal merajai benak. Namun, ia memilih keluar dari sana dan tak mempermasalahkan.


Orang itu tak menyahut. Ia mengikuti Anya yang mencuci tangan di westafel. Anya yang melihat keanehan tentu saja makin keheranan. Ia membalik diri dan melihat orang itu dari atas hingga kaki. Akan tetapi belum sempat bertanya, orang itu menyerang secara cepat dan sebuah benda menutup hidungnya. Anya meronta, tapi tenaga makin melemah saja dari detik ke detik hingga akhirnya gelap. Indra pendengaran dan penglihatan kompak tak bisa beroperasi.


***


"Apa kalian bodoh? Bagaimana bisa kalian kehilangan Anya?"


Suara Chandra menggelegar. Ia tatap tajam orang yang baru saja melapor kepadanya.


Orang itu pun tertunduk. "Maafkan kami, Pak. Kami lalai. Nona muda izin ke toilet dan kami disuruh berjaga di luar. Kami tidak menyangka kalau dia bisa hilang."


Chandra kembali berteriak, tapi sedetik kemudian ia jatuh terduduk dengan memegang dada. Rasanya sesak dan susah bernapas. Jantung yang sudah tua tak bisa menerima kabar kalau sang anak bungsu hilang.


Sementara Dafan dan Dafin yang baru saja tiba di rumah langsung mendekat dan sudah melihat ayahnya terduduk lemas.


"Ada apa ini?" tanya Dafin. Ia melihat sang ajudan yang berdiri dengan ekspresi yang juga tak kalah panik.


"Saya tidak tau. Tiba-tiba saja ...."


Lisan orang itu terjeda saat melihat Dafan langsung mengecek tanda vital sang ayah. Dokter muda itu mendudukkan sang ayah di lantai lalu menyandarkan punggung orang terkasihnya itu di sofa. Tak lupa pula melonggarkan pakaian hingga kancing baju terlepas semua. Setelah itu ia lantas cepat-cepat berlari menuju kamar dan mencari obat jantung yang biasa ayahnya konsumsi.


"Minum ini, Yah," perintah Dafan setelah meletakkan obat di bawah lidah sang ayah.

__ADS_1


Chandra mulai tenang. Napas mulai berangsur membaik, tapi tidak ekspresi Dafin. Ia tatap nyalang pria berpakaian serba hitam di sebelahnya. "Sebenarnya ada apa ini? Cepat katakan!" hardiknya tanpa ragu


"Maafkan saya, nona muda hilang, dia di culik saat izin ke toilet."


Kecemasan makin merajai benak Dafin. Ia menjambak rambut sendiri karena frustrasi. Masih tak percaya padahal belum lama ia masih berbalas pesan sama adiknya itu.


"Dafan, tolong urus Ayah. Aku mau cari Anya," ucap Dafin mantap.


Dafan pun mengiyakan. Sebenarnya ia juga ingin mencari adiknya, hanya saja kondisi sang ayah masih lemah dan memerlukan pemantauan yang lebih intens.


***


Di sebuah gudang kosong dan tak terurus.


Anya meronta, ia ketakutan. Ingin berteriak tapi mulut sudah tersumbat. Raungannya tertahan, air mata menetes terus. Ia sungguh takut, saat membuka mata dirinya sudah ada dalam sebuah ruang kosong dengan posisi duduk dan terikat. Di sekelilingnya begitu banyak senjata tajam, dari pisau untuk mengiris bawang hingga pemotong daging. Di sana bahkan ada rantai, palu dan gergaji yang membuat Anya semakin ketakutan.


Tak lama, suara derap kaki membuat Anya semakin horor. Ia terus saja meronta dengan tatapan tertuju pada pintu kayu tua di sana.


Pintu berderit dan masuklah seorang pria paruh baya dengan nampan di tangan. Ia tersenyum ke arah Anya.


"Ternyata kamu sudah bangun," ujarnya seraya menarik kursi. Kini mereka duduk berhadapan, Reno dan Anya saling memandang. Reno tanpa berkedip menikmati ketakutan yang tercetak di wajah ayu Anya.


Sementara Anya, matanya nyalang melihat pria tua yang ada di depannya. Ingin bertanya lebih, kenapa ia diperlakukan seperti itu dan apa alasannya? Seingatnya ia tak punya masalah dengan orang tua. Hanya saja tak mungkin terealisasikan karena mulut masih tertutup lakban.


"Kamu benar-benar mirip Litania," ujar Reno seraya merapikan rambut Anya yang berantakan. Akan tetapi, perlahan tapi pasti tangan yang tadinya merapikan rambut turun ke bawah dan semakin bawah.


Anya merinding. Ia meronta makin keras saat tangan Reno sudah menelusup masuk ke dalam baju.


Bersambung.

__ADS_1


***


Stop sampe sini ya. Ingat, besok puasa. heheh


__ADS_2