Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Masih ingin selimutan


__ADS_3

"What!"


Mata Litania membulat. Tak menyangka kalau Irwan punya tunangan sebelum bertemu Reka.


"Kasian Clara ..." lirih Litania.


"Eh, kasian Kak Reka aja, deh." Ucapannya terjeda lagi. Kepalan tinjunya terbentuk. "Gak. Yang salah itu suami Kak Reka. Playboy juga ternyata."


Lisan Litania kembali terhenti saat mendapat pelototan dari Chandra. Ia lupa kalau Irwan adalah sahabat kental suaminya itu.


"Jangan ngomong yang aneh-aneh kalau gak tau ceritanya," ujar Chandra mengingatkan.


Litania manggut-manggut, semua orang punya cerita sendiri dan tak patut untuk di sebarluaskan.


"Kamu itu gak tau sejarah antara Reka, Irwan dan Clara. Jadi gak baik menjudge siapa yang salah dan siapa yang enggak," lanjut Chandra lagi.

__ADS_1


"Iya deh iya, maaf. Kalau gitu kamu lanjutin aja tidurnya." Litania berucap seraya melepaskan pelukan mereka dan duduk.


"Tapi kamu mau ke mana?" tanya Chandra keheranan saat melihat istrinya memungut pakaian.


Litania tersenyum tipis. "Tentu aja mandi. Sekarang udah subuh. Aku mau bantuin Mbak Sri bikin sarapan.


"Gak tidur dulu? Kamu 'kan gak tidur semalaman? Gak ngantuk?" cecar Chandra.


Lagi, Litania mengulas senyuman. "Ya jelas ngantuklah. Semalaman dibantai Albert. Nih lutut aku sampe gemeteran gini. Tapi gak apa-apa, tanggung juga kan, udah siang ini. Aku istirahatnya entar aja kalo semua udah kelar. Sekarang Mbak Sri pasti udah sibuk.


"Kamu mau aku jadi pemalas?" tanya Litania dengan bibir mengerucut. Kesal karena sang suami pasti ingin memakannya lagi dan lagi.


Kini giliran Chandra yang tersenyum. Sikap dan sifat istrinya itu sangat berbeda saat kala pertama kali jumpa dulu. Sikap malas dan umpatan kasar yang dulu melekat, sekarang berubah menjadi lebih rajin dan pengertian. Hanya saja, kadang tetap kumat tanpa pemberitahuan.


"Iya, deh iya, masak yang enak, ya." Chandra mengedipkan mata, kekehannya mengikuti hingga Litania tak bisa untuk tak tersenyum.

__ADS_1


Kalau ranjang sudah berderit, masalah sepanjang apa pun akan minggat. Marah kelar, senyum pun terukir kian lebar. Reader membatin seraya mesam-mesem mesum.


***


Sementara itu, di kediaman lainnya. Pasangan suami istri hampir senja menatap fokus kearah wanita muda dan cantik yang tak lain tak bukan adalah Kinar. Helaan napas mereka terdengar hampir bersamaan diikuti helaan napas gadis cantik itu.


"Kinar," panggil si pria bertubuh gempal dengan kepala sedikit sulah yang tak lain adalah sang ayah. Frans Darmawan.


"Kinar," panggil, Jessika—sang mama—yang juga menghela napas berat. "Liat kita, Sayang."


Kinar menghentikan kegiatannya—menggulung mi menggunakan garpu. Lantas melihat kedua wajah orang tuanya secara bergantian. Embusan napas putus asa kembali terdengar. Bagaimanapun ia rindu kebersamaan bersama keluarga setelah lima tahun terpisah, hanya saja saat mengingat penolakan sang ayah, rasanya ada kekesalan dalam dada. Ingin marah, tapi tak bisa. Ah, simalakama kan jadinya.


"Sarapannya kenapa gak dimakan, Sayang?" tanya Jessika dengan lemah lembut.


"Apa kamu masih marah sama Papa?" timpal Frans yang juga meletakkan sendok nasi gorengnya.

__ADS_1


"Gak, kok." Kinar menjawab lemah. Matanya menatap Frans, sendu. "Pa. Tolong jujur sama Kinar. Sebenarnya apa alasan Papa nolak lamaran Arjun? Papa pasti udah tau betul seluk-beluk dia, 'kan? Dia itu laki-laki baik, Pa. Aku cinta sama dia. Laki-laki diluaran sana gak ada yang sesempurna dia."


__ADS_2