
Sekarang. Pukul sembilan pagi.
Chandra tampak bingung saat bangun dan melihat ramai orang di sana, dan dengan wajah polos ia bertanya, "Sayang, kita di mana? Kenapa aku di sini? Kenapa begitu ramai orang? Terus kenapa aku bisa gak pake baju? Dan juga, kenapa pipiku rasanya ngilu?"
Tentu saja Litania berdengkus kesal, tapi masih memberi kesempatan pada Chandra untuk mengingat sendiri apa yang terjadi. Mengingat kebodohan yang hampir berakhir petaka. Ia mencoba memberi tahu tanpa mesti berucap.
Ya. Tak berapa lama, Chandra yang tak memakai baju itu bisa dengan cepat menguasai pikiran dan tentu saja berimbas pada wajahnya.
Ck! Pasti nyesel, 'kan? Litania membatin dongkol.
Sementara Chandra tampak memucat saat sudah mengingat kejadian terakhir—di ruang VVIP club. Ia memelas, berharap Litania mau mendengarkan. Namun, saat hendak turun dari ranjang, dua pengacara yang sudah disewa menghentikan langkahnya yang hendak turun dari ranjang.
"Siapa kalian?" tanya Chandra dengan ekspresi bingung.
"Maaf, Pak. Saya Viona, kuasa hukumnya Nyonya Litania," jawab wanita berusia 30-an dengan balutan kemeja putih berbalut jas hitam. Begitu rapi dengan rambut terkucir kebelakang. Sementara kacamata bertengger di hidungnya yang mancung.
"Apa?!" Mata Chandra membeliak. Masih belum cukup dengan keterkejutan itu, seorang pria rapi yang juga menggunakan kacamata memperkenalkan dirinya.
"Dan saya, Amir, saya di sini selaku kuasa hukum Bapak."
"Apa?" Chandra makin terlihat bingung. "pengacara? Pengacara untuk apa?"
Pikiran Chandra melanglang buana ke mana-mana. Ia tatap Litania yang sudah bersedekap dada di atas sofa dengan kaki menyilang. Wanitanya itu tampak sangar dengan balutan baju serba hitam. Membuatnya seketika merasakan sensasi horor dalam sekejap. Atmosfer berubah suram apalagi tatapan menghunjam itu. Ah, Chandra makin gugup saja. Serasa di sidang. Antara di vonis hukuman mati atau seumur hidup.
"Sayang maafin aku," ucap Chandra memelas seraya menatap Litania yang masih berwajah masam. Ia beranjak dari kasur dan mendekat. "Sumpah, aku nggak ngapa-ngapain. Nih, celana aku aja masih lengkap. Masih utuh."
"Ya tentu aja masih lengkap karena aku datangnya tepat waktu. Kalau enggak, tu perempuan ulekan pasti udah macem-macem sama kamu. Kamu bakalan keenakan diperkaos tu perempuan." Litania tampak kembali berang. Mengingat kejadian semalam darahnya mendadak naik ke ubun-ubun. "Beruntung aku gagalin rencana mereka. Apalagi Leo ... ih, rasanya aku belum puas ngehajar dia."
"Leo? Jadi Leo yang ngerencanain ini semua?" Chandra tampak bingung. Namun setelah melihat ekspresi Litania, sudah dipastikan kalau orang yang mencoba menjebaknya tak mungkin baik-baik saja.
__ADS_1
"Tapi, Litan. Kenapa bawa-bawa pengacara segala?" tanya Chandra dengan mode kembali seperti merengek.
Litania angkat dari kursi dan menatap nyalang Chandra yang memasang wajah minta dikasihani. Menyebalkan! Padahal sebelumnya ia sudah berhayal ingin menjitak kepala suaminya itu. Namun ia urungkan juga karena terhalang oleh status dan usia.
"Mbak," panggil Litania seraya menoleh Viona yang kebetulan berada di sisi sebelah kiri Chandra, "tolong jelasin ke dia."
"Baik, Bu. Begini Pak Chandra. Nyonya Litania ingin mengajukan sebuah persyaratan. Dan jikalau Anda menolak, Anda harus bersiap untuk menandatangani surat cerai hari ini juga."
What? Cerai? Chandra tampak gusar. Ia jambak rambutnya ke belakang lantas membalas tatapan Litania.
"Cerai? Gak enggak ... nggak boleh. Kita gak boleh cerai. Kamu lagi mengandung, Sayang." Chandra meraih tangan Litania. Namun, Litania yang sudah merencanakan ini semenjak semalam tak ingin menggagalkan dengan bersikap melunak. Wajah galak masih saja ia tunjukkan. Bahkan tak hanya itu, tangan yang ada dalam genggaman Chandra ditariknya dengan paksa lantas bersedekap dada.
"Harusnya, mikir dulu sebelum bertindak. Untung aja semalam aku datangnya tepat waktu. Coba kalau nggak, bakalan ada Rania dan Chandira kedua, ketiga season selanjutnya." Litania berucap seraya mengetatkan rahang.
"Iya aku salah. Tapi perceraian ... Nggak Sayang. Aku nggak mau." Chandra raih kedua pundak Litania lantas menatapnya lekat dengan bola mata yang tentu saja masih terlihat gelisah. "Jangan cerai, ya. Aku 'kan udah minta maaf. Aku janji gak bakalan ceroboh kek gini lagi. Tapi, please ... jangan minta cerai."
Nah kan kena. Litania menyembunyikan senyumnya yang hampir terukir. Melihat wajah bucin itu ingin rasanya ia cium. Hanya saja, lelaki itu masih harus dikasih pelajaran. Biar kapok!
"Oke, begini Pak. Saya jelasin. Istri Anda ini mengajukan syarat kalau Anda harus berhenti meminum minuman beralkohol serta ke klub."
"Hah!" Alis Chandra tertaut, wajahnya tegang seketika. Namun tidak untuk Arjun dan Kinar yang ada di pojokan ruangan, keduanya tampak kesusahan menahan senyuman. Bagaimanapun ekspresi kaget Chandra sukses menggelitik perut.
"M-maksudnya kontrak dalam pernikahan?"
Chandra bertanya dengan wajah yang masih cengo. Ia paham betul apa yang di maksud pengacara itu. Situasi yang ia tahu betul sebab sahabatnya—Irwan—juga mengalami nasib yang sama. Bahkan lebih dulu. Sahabatnya itu mau tak mau harus menandatangani kontrak agar rumah tangga berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, tetap saja ia heran, tak menyangka Litania akan melancarkan cara yang sama. Malah lebih tergolong kejam sampai mendatangkan dua pengacara sekaligus.
Astaga aku harus apa? Batin Chandra seraya melihat dua pengacara secara bergantian lalu tertuju pada satu titik—wajah masam Litania. Keadaan yang membuat kepalanya mendadak berdenyut. Ia pijit pelipis yang sudah nyut-nyutan.
__ADS_1
"Apa perlu kayak gini? Aku janji. Aku bakalan berubah dan nggak akan lagi ke sana—kelab malam—tapi apa perlu mendatangkan pengacara segala? Kamu kejam lho."
"Bodo amat! Lagian yang salah siapa? Yang mulai siapa? Ya udah setujui aja. Kalau nggak ya nggak masalah. Gitu aja kok repot."
"Lah kok gitu sih ngomongnya. Kamu tega gitu sama anak kita yang belum lahir?"
"Nah, makanya mumpung dia belum lahir kamu harus disiplin dulu. Harus jinak dulu."
Jinak? Emang aku buaya, batin Chandra kesal
"Aku itu nggak mau kejadian kayak gini terulang lagi karena kamu lalai. Ya udah deh. Sekarang tinggal pilih aja. Pilih mau tetap minum minum apa milih istri kamu ini?"
"Ya jelas kamu dong."
Litania tersenyum, kedongkolannya mendadak cair. Ia pegang rahang tegas Chandra dan mencubit pipinya. "Ya udah, ayo tandatangani. Kalau kamu melanggar, aku pastiin kamu bakalan nyesel. Aku bakalan jadi janda kaya sementara kamu bakalan jadi Duda kere." Litania mengucapkan itu penuh penekanan. Seperti tak ada hati sama sekali. Membuat dada Chandra terasa tertusuk. Sakit, sesak tak bisa membayangkan bila harus menyandang status sebagai duda sudah gitu kere pula.
Isk!
Isk!
Isk!
"Oke, siniin berkas-berkasnya," pinta Chandra seraya melihat kedua belah pengacara yang masih berdiri tegap di belakangnya.
Penandatanganan kesepakatan pun dilaksanakan. Litania tersenyum sumringah sementara Chandra cemberut luar biasa. Tak pernah menyangka nasibnya akan sama seperti Irwan. Hanya saja beruntung diperjanjian Litania tak menyebutkan akan memangkas habis rambut di kepalanya. Namun, tetap saja berat karena harus menelan kepahitan tak akan bisa menenggak minuman yang sudah menjadi teman semenjak ia remaja.
"Ya udah yuk. Kita pulang," ucap Litania dengan memasang wajah semanis mungkin. Bagaimana tidak manis kalau sekali saja suaminya itu melakukan kesalahan, ia akan menjadi orang terkaya dan tidak akan lagi menyandang sebagai istri dari laki-laki terkaya.
Beruntungnya ....
__ADS_1
hehe bgi yang penasaran kisah reka irwan bisa mlipir ke karya saya yang satunya. judulnya luka reka. Siapin tisu yak. ini kisah sedih. pemerkosaan dan kdrt.