Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Mengakui


__ADS_3

Masih POV Dafin.


Aku sangat marah dan tidak ada niatan untuk meminta maaf karena membentaknya. Bagaimana bisa dia melupakan hal remeh tapi penting seperti ini? Apa karena terlalu banyak berhubungan dengan laki-laki membuatnya melupakan kewajiban? Tidak! Itu tidak bisa dibiarkan.


Dia memutar tumit, tetapi sebelum pergi aku bisa melihat ada sebutir air menetes dari pelupuk matanya. Entah kenapa melihat itu emosiku seketika sirna. Bara api yang begitu panas mendadak hilang bak tersapu banjir bandang. Hatiku nyeri. Aku ingin mencegahnya tapi entah kenapa lidahku kelu. Aku bak orang gagu yang mendadak jadi dunguu.


Bergegas aku menyusul. Aku terus berlari, mata awas melihat sekeliling. Semua mata karyawan tertuju padaku, tapi aku tidak peduli. Air mata Fia memberikan pengaruh aneh dalam diri. Seperti orang gila aku pun berakhir patuh. Aku terus saja berlari mencari gadis itu hingga ke lantai dasar.


Namun, nihil. Jejaknya hilang tak berbekas sama sekali. Tuhan seperti melenyapkannya dari pandangan sebab mustahil dia hilang begitu saja.


Napasku terputus-putus. Keringatku keluarnya besar-besar. Aku benar-benar tidak menyangka kehilangan Fia padahal hanya selisih dua menit saja sebelum mengejar. Namun kalian tahu, efek dari dua menit itu sudah bisa membuatku hampir gila.


Kuraih ponsel dan mencoba menghubunginya. Sayangnya berkali-kali aku menghubungi tapi berkali-kali juga dimatikan. Terakhir diangkat sebentar lalu kembali mati. Aku mencoba menghubungi lagi dan yang menjawab hanyalah operator.


"Apa dia begitu sakit hati karena bentakan tadi?"


Sialan! Kenapa aku jadi bodoh begini, sih? Dia itu perempuan. Walaupun dia sabar dan tangguh dia tetap perempuan, hatinya rapuh. Kenapa aku tidak bisa berpikir logis tadi? Kemarahan memang membutakan mata dan menumpulkan pikiran.


"Hais! Apa mungkin dia ke atap?"


Bergegas aku berlari dan mengabaikan tatapan heran para karyawan, lalu masuk ke lift dan menekan angka 57. Tak memerlukan waktu lama aku pun tiba di lantai terakhir, lantas menaiki anak tangga dengan cepat. Jantung jangan ditanya lagi, berdebar hebat. Lomba pacuan kuda saja aku rasa kalah. Aku merasa benar-benar sudah gila sekarang, gila karena Fia. Aku benci dia lalai, benci dia berdekatan dengan laki-laki lain. Tapi melihat air matanya hatiku sakit.


Aku pernah seperti ini sebelumnya. Ya, pernah sekali. Waktu bertemu Sisi dulu. Insomnia melanda dan dan tak bisa fokus dengan apa pun. Pikiran selalu tertuju padanya. Aku khawatir jika dia jauh. Takut dia celaka dan begitu ingin dia selalu ada untukku.


Mungkinkah aku jatuh cinta lagi? Dan jatuh cintanya pada sekretarisku sendiri?


Ya Tuhan, kenapa Engkau selalu mengujiku dengan perempuan?


Aku terus menaiki anak tangga dan terakhir menyentuh handle pintu. Taman bunga serta langit cerah menyambut. Hanya saja tak sempat terpesona karena harus segera menemukan Fia, langkahku bahkan sangat lebar.


Di sini, taman mini atap gedung memang menjadi tempat favorit karyawan untuk menghilangkan penat. Tak jarang tanpa janjian pun aku dan Fia bertemu di sini kala lelah dan buntu dengan pekerjaan yang tak pernah habis.


Ah, mengingat gadis itu aku makin merasa bersalah. Aku memang jatuh cinta padanya. Kebersamaan serta kehadirannya tanpa aku sadari membuatku tergantung pada dia.


Kenapa aku tidak peka?


Inikah yang dimaksud Pak Rey?


Fia, tolong maafkan aku.


Mencoba mengatur napas, mataku awas memindai sekeliling hingga suara kekehan mengalihkan pikiran. Kulihat ada ada dua orang pegawai berdiri di dekat pagar pembatas. Salah satunya berseragam tim keamanan. Mungkinkah dia anak buahnya Om Rio?


"Eh, tunggu dulu. Sepertinya aku kenal laki-laki yang satunya, bukankah dia Rito?" Aku bergumam pelan dengan mata tetap intens memandang mereka. Dari samping aku bisa mengenali wajahnya. Dia memang Rito sedangkan laki-laki yang satunya aku yakin dia bawahan Om Rio.


Melihat itu aku makin kesal, keponakan Maryam itu terlihat malas. Bukankah sebagai karyawan harus menyiapkan segala hal sebelum melalui hari yang penat dan sibuk? Tapi lihatlah dia dan temannya. Mereka malah tertawa, sudah seperti perempuan saja. Geram rasanya melihat itu, tanganku bahkan terkepal erat. Namun, niat melabrak aku urungkan karena ada sesuatu yang harus di dahulukan. Fia, ya ... aku harus mencari gadis itu.


Aku kembali melangkah tetapi tawa Rito begitu mengusik. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan.


"Ayolah kalian jangan konyol. Aku mendekati Fia karena taruhan yang dibuat Dwi."


Jedder!

__ADS_1


Sebuah petir tak kasatmata menghantam dada. Perkataan itu membuat jantung yang sebelumnya berdetak tak berirama kini terasa berhenti dengan sendirinya. Mereka membahas pasal taruhan dan menyebut nama Fia. Apa jangan-jangan mereka memang mempertaruhkan Fia? Dan Dwi, bukankah dia gadis penggosip di kantin kemarin?


Bangsatt!


Darahku otomatis berdesir.


Dasar karyawan laknat!


Mencoba mendekat, lalu menempelkan tubuh kedinding, aku mengintip dengan ponsel sudah tertuju ke mereka. Aku harus punya bukti kuat untuk menghajar dan memecat keponakan Maryam beserta biang gosipnya. Aku tak ingin kelakuan minus mereka memengaruhi karyawan lain.


Beruntungnya mereka tak sadar dan masih saja tertawa. Dadaku bergemuruh luar biasa. Sebenarnya aku tak punya banyak waktu untuk ini, tapi mereka menyebut nama Fia. Aku tak bisa tutup mata dan mengabaikan sekretarisku jadi bahan taruhan.


"Aku akui. Fia memang cantik, dia sekretaris paling oke yang pernah aku lihat, dia juga cerdas tapi sayangnya terlalu kaku. Berbulan-bulan ini aku mendekatinya tapi dia kayaknya nggak respect. Aku jadi bertanya-tanya, apa mungkin dia lesbian?"


Sialan, perkataan macam apa itu? Rito memang benar-benar brengsek. Ternyata dia mendekati Fia karena sepuluh juta.


Cuih! Awas kamu. Aku akan ubah tawa kamu ini jadi tangisan nanti.


"Masa, sih? Gak mungkin dia lesbian. Aku yakin itu," balas laki-laki di sebelahnya. "Lagian menurutku kamu lebih baik berhenti. Dia itu gak punya salah sama kamu. Biarin dia, jangan usik dia. Berhentilah terlibat dalam taruhan yang dibuat Dwi. Kalau kamu memang butuh sepuluh juta, nanti aku pinjamkan."


"Brengsek! Apa kamu ngehina aku? Asal kamu tau, aku bukan orang susah yang tergiur dengan sepuluh juta," ujar Rito, ia tampak berang. Aku pun sama, hanya saja masih berusaha menahan segalanya. Tangan yang aku gunakan untuk memegang ponsel bahkan sudah bergetar. Tubuh gemetar menahan geram.


"Terus? Kalau bukan karena uang apa yang kamu incar dari dia?" tanya pria berseragam keamanan.


"Tentu saja tubuhnya. Dia sangat seksi. Dada sama bokongnya gede. Aku yakin kalau diajak patnam-patnam dia pasti memuaskan. Ah, aku jadi gak sabar pengen ngajak dia ke villa dan membuatnya fly.


Sumpah, aku tak bisa lagi meredam emosi. Aku masukkan ponsel lalu berjalan dengan langkah lebar mendekati sampah itu. Tanpa aba-aba kulayangkan tendangan pinggangnya. Dia tersungkur lantas berdiri dengan susah payah, wajahnya cemas. Aku yakin dia terkejut.


"P-pak Da—"


Aku kembali melayangkan pukulan, tinjuku tepat mengenai mulutnya. Sungguh sangat tak rela namaku disebut oleh bajingan tengik seperti dia. Darah segar mengucur dari hidungnya. Dia terjatuh.


"Ayo sini kamu!"


Aku belum puas dan kembali menyerang, menarik kerah bajunya dan memaksa agar dia berdiri. Mataku nyalang menatap dia.


"Kamu kira kamu siapa? Ha! Beraninya menjadikan Fia sebagai mainan. Kamu mau mati!" hardikku geram.


Dia menggeleng. "Pak Dafin salah paham. Ini semua gak yang seperti Bapak pikirkan."


Sialan dia ngeles. Kulayangkan kembali tinjuku. Telak mengenai rahangnya. Berkali-kali aku menyerang di tempat yang sama hingga sepasang tangan menghentikan. Aku tatap nyalang orang yang menghalangi dan hampir saja melayangkan tinju ke wajahnya. Beruntung bisa menahan diri. Rito tersungkur, dia melemah di lantai.


"Pak Dafin, tenanglah. Bapak bisa membunuhnya."


Kutatap kesal orang berseragam hitam yang baru saja melerai kami. Ia sibuk memapah Rito. Id card-nya memberitahu kalau namanya adalah Miko.


Tanpa berkata lagi aku langsung pergi. Benar kata Miko, jika di sana lebih lama aku bisa menjadi tersangka. Cepat-cepat aku menghubungi Om Rio untuk menahan cunguk sialan itu. Aku harus menemukan Fia terlebih dulu. Aku ingin meminta maaf. Aku ingin memperbaiki keadaan. Sungguh, aku belum siap jika dia menghilang.


Berjam-jam telah berlalu. Tak kusangka mencari seorang gadis begitu sangat melelahkan. Dari pagi aku mencari, bolak-balik kantor dan kontrakan.


Hanya itu?

__ADS_1


Jawabnya ... ya. Bayanganku terbatas tentang Fia. Aku tak bisa menerka tempat yang memungkinkan untuk dia bersembunyi. Sekarang aku merasa bodoh. Fia begitu peduli dan mengerti aku luar maupun dalam. Beberapa bulan ini dia selalu menjadi partner terbaik.


Sementara aku, benar-benar tidak tahu apa pun tentang dia selain yang tertera dalam CV lamaran kerja. Dan dengan bangganya aku menuding dia tidak bertanggung jawab.


Ya salam ... aku malu. Aku harus menemukannya apa pun yang terjadi.


Seharian mencarinya apakah aku lelah? Jujur ... ya. Aku sangat lelah. Makan pagi, siang dan malam lewat begitu saja tanpa aku sadari. Perutku kosong bahkan dari semalam. Padahal sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Agh! Aku frustrasi karena belum juga menemukannya. Ingin pulang pun rasanya tak punya tenaga. Lagian percuma pulang kalau pikiran terus tertuju pada gadis itu. Aku bertekad harus menemukannya, meminta maaf serta menahan agar dia tidak pergi. Entah mengapa perasaanku jadi tak enak tentang ini. Air matanya sungguh sangat menggangu. Aku merasa gadis itu akan menjauh.


Tidak! Itu tidak bisa terjadi. Aku tidak boleh melepaskannya saat dia membenci.


Lima menit.


Setengah jam.


Dua jam.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Beberapa orang yang berlalu lalang di jalan komplek perumahan ini ada yang menatap curiga. Bahkan tadi ada satpam yang bertanya.


Argh! Aku benar-benar gila karena perempuan. Kalau saja Fia tetap mengaktifkan ponselnya, aku pasti tidak akan repot seperti ini. Aku pasti dengan mudah menemukannya. Namun ....


Tak berapa lama masuklah sebuah mobil di pekarangan rumah kontrakan Fia. Mobil dan si pengendara itu begitu familiar. Itu mobil Dafan. Ya, aku sangat yakin. Tapi, kenapa dia masuk ke sana?


"Apa mungkin seharian ini Fia bareng Dafan?"


Gila, aku merasakan dalam dada mulai bergemuruh. Sakit, kesal, geram, aku tak bisa apa-apa selain diam melihat mereka mengobrol di bawah lampu teras rumah Fia.


Jujur ... aku iri. Iri pada Dafan. Dia pintar, dia kompeten, mempunyai kepribadian yang baik. Keinginannya dan cita-citanya selalu sampai, sedangkan aku ....


Semua orang menyukai Dafan. Bahkan adikku Anya lebih dekat pada dia ketimbang aku yang selalu saja ada di rumah.


Banyak yang mengira beruntung jadi aku. Aku pewaris perusahaan besar, jadi direktur di usia yang bisa terbilang muda, keluargaku bergantung padaku, jadi kebanggaan keluarga dan bla bla bla.


Bulsit!


Pujian itu sebenarnya sangat melukai. Jauh di dalam lubuk hati aku ingin berteriak. Mereka tidak tahu dengan perjuangan yang sudah aku lakukan hingga bisa sampai sekarang. Mereka tidak tahu apa yang aku korbankan demi menjadi pewaris. Masa mudaku hilang, hobi kubuang, dan aku selalu di kekang.


Menghela napas panjang. Aku berusaha tegar. Kembali ke niat awal, aku memilih jalan ini karena permintaan orang tua. Ya, aku harus ikhlas dan tetap melangkah. Begitu banyak orang yang tergantung padaku karena tanggung jawab yang begitu besar. Jadi bapernya cukup sampai sekian.


Mataku tetap menatap mereka yang berdiri di teras. Mereka terlihat terlibat dalam pembicaraan yang serius. Aku jadi penasaran. Kira-kira apa yang mereka bicarakan? Kenapa harus begitu lama? Kenapa Fia tersipu begitu? Apa jangan-jangan ini alasan Dafan menyuruhku untuk membebaskan Fia untuk hari ini? Apa jangan-jangan Dafan sudah nembak dia? Apa jangan-jangan mereka sudah jadian?


Sialan. Aku tidak bisa terima ada yang dekat dengan Fia meski pria itu Dafan.


Mobil Dafan pergi. Sekarang giliranku. Lekas aku keluar mobil dan langsung berlari ke arah Fia yang sudah di depan pintu. Tanpa aba-aba kucekal lengan Fia lalu memeluk erat tubuhnya. Ada bunyi benda terjatuh. Aku yakin itu kunci karena bunyinya yang khas.


"Fia, tolong maafkan aku."


*Patnam-patnam artinya mantap-mantap ya gaes alias ninu-ninu.


wkwkk

__ADS_1


__ADS_2