
Tak memerlukan waktu lama, Litania sudah tiba di kamar Lita. Di sana ada dua orang wanita yang Litania terka adalah dokter. Kedua ahli medis itu tercengang dengan kedatangan Litania yang mendadak.
"Siapa kamu?" tanya seorang wanita dengan kecamata di hidung. "Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?"
Mata Litania menyipit. Menatap nyalang ahli medis yang tak berperikemanusiaan seperti mereka secara bergantian. Bukankah seharusnya membawa pasien gawat seperti Lita ke rumah sakit? Ini malah merawat pasien di rumah dengan alat medis yang tak lengkap.
"Siapa kamu, hanya keluarga Pak Erik saja yang boleh masuk ke sini!" hardik wanita satunya.
Litania kesal. Ia berdengkus. "Diamlah, atau kalian akan aku masukkan juga ke penjara."
Kedua wanita itu terdiam. Mereka tau posisi sekarang sedang tak bagus. Kalau salah memilih, bisa-bisa profesi mereka melayang.
__ADS_1
Kini mata Litania tertuju pada manusia yang tengah terbaring tak berdaya di atas kasur. Miris, hati Litania nyeri melihatnya. Apalagi si kecil Livia menangis saat melihat ibu sambungnya lemah dengan selang infus menusuk lengan. Kondisi musuh bebuyutannya itu memprihatinkan. Tubuh memer, wajah penuh lebam. Di pelipis, pipi, dan di ujung kedua bibir sudah berwarna merah keunguan.
Sungguh! Sumpah serapah hampir lolos dari bibir. Litania sungguh geram dengan kebiadaban Erik. Bagaimana bisa ia menyiksa istri sendiri hingga seperti itu.
Melihat kenyataan itu, tangannya kembali mengepal. Secepat kilat Litania hubungi Chandra dan meminta pertolongan, lantas mendekati Lita.
"Lita ... gimana mungkin ini bisa terjadi? Kamu—" Suara Litania lirih mengucapkannya. Ia bahkan tak bisa menyelesaikan lisan saat melihat kondisi Lita yang sangat memprihatinkan. Ia benci Lita, tapi iba saat Lita mendapat karma seburuk itu.
Lita membuka nertanya. Perlahan air menetes dari pelupuk mata saat mendapati Litania duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangannya. Entah bersyukur atau malu, yang jelas lisan tak bisa keluar. Hanya kedipan mata dan titik air yang menjadi jawaban betapa menderitanya Lita.
Lita mengangguk. Genggamannya makin erat. "Maafkan aku Litan, aku terlalu sombong. Aku gak tau mas Erik sekejam ini karena sebuah guci."
__ADS_1
"Ya Tuhan, Lita. Gimana bisa kamu menikahi monster itu?"
"Aku gak tau, Litania. Aku dijodohkan. Aku pernah dengar rumor jelek soal Mas Erik. Tapi aku tetep nerima dia buat jadi suamiku. Karna kupikir, aku pasti bisa balas dendam sama kamu."
"Ya Tuhan, Lita ...."
"Aku sadar sekarang. Rasa benci buat aku buta mata dan pikiran. Sekarang aku tau, Mas Erik itu kejam. Dia nyiksa aku udah kayak setan. Aku takut sama dia, Litan. Aku mau balik ke Semarang." Ucapan Lita terjeda. Matanya makin banyak mengeluarkan air mata. "Aku salah, maaf selama ini aku bikin kamu marah. Aku selalu saja gangguin kamu. Waktu kecil kamu selalu unggul dari aku. Aku gak suka itu. Dan setelah besar pun kamu tetap unggul. Bahkan Tania dan Nia ninggalin aku. Aku udah gak punya temen buat curhat, Litan. Aku ini perempuan terbuang. Orang tuaku malah menjualku sama Erik. Aku bingung, Litan. Aku gak tau harus apa sekarang? Aku gak punya siapa-siapa?"
Duh! Hati Litania makin teriris mendengar kenyataan di balik sikap angkuh dan arogan Lita. Terlebih lagi, Lita mendapat siksaan karena kesengajaannya memecahkan guci berharga Erik.
Litania hapus air mata di wajah membiru Lita. "Aku udah maafin kamu. Kita teman sekarang. Dan soal Erik, kita bakal balas dia. Aku pastikan dia bayar semua kejahatannya sama kamu."
__ADS_1
***
entar malam part terakhir ya Gaes.