
Wah, ganteng banget ....
Litania bermonolog karena terpana. Ulasan bibir tipis serta mata yang mengerjap menengahi kebisuannya. Ia seakan-akan terhipnotis akan sosok pria yang baru saja menyelamatkan badan serta barang bawaan. Gila. Ini baru oppa-nya Indonesia. Batinnya lagi.
Nyengir kuda—seperti orang gila, Litania pun menjaga jarak dengan menjauhkan diri dari pria itu.
"I-iya, aku gak pa-pa. Terima kasih banyak." Berucap menahan keinginan untuk memeluk, Litania putar ujung ibu jari kaki dan menekannya kuat ke lantai. Cara ampuh agar tidak berakhir genit karena sosok pria yang ada di hadapannya itu begitu menggoda iman. Rambut hitam, hidung mancung serta beralis tebal dengan rahang sedikit lancip. Belum lagi ada lesung pipi. Benar-benar mirip Hyun-bin.
"Maaf ... aku jalan gak liat-liat," ucap pria itu.
Masih dengan bibir terkembang, Litania mengangguk pelan. Ia beranikan diri menatap kembali wajah tampan pria itu. "Kalau boleh tau, di mana saya bisa ketemu Pak Fabian, ya?"
Tersenyum menahan tawa. Laki itu menyentuh hidungnya dengan jempol. "Kenapa? Kamu fans-nya?" Menyipitkan mata, lelaki itu jelas tengah menggodanya.
"Enggak, kok." Menggeleng seraya mengibaskan tangan, wajah Litania menegang. "Bukan begitu. Aku cuma mau ketemu dia aja. Ada urusan dikit." Litania tersenyum siput, menggaruk belakang kepalanya yang tertutup topi. "Kira-kira di mana aku bisa ketemu dia?"
"Emangnya ada urusan apa?" Menatap Litania dengan seksama, pria itu kemudian melihat kotak bekal yang Litania pegang. "Mau ngasih makan siang?"
Mangangguk, Litania tak bisa berucap. Bagaimanapun juga dia malu. Membawa makanan untuk orang yang jelas lebih mapan darinya
"Dia orangnya sibuk, loh. Susah ketemu dia. Saya aja kalo mau ketemu harus nunggu sampe seminggu."
"Benarkah?" Litania membulatkan mata. Tak menyangka untuk membalas jasa saja seribet itu.
Mengangguk mantap, pria itu tampak jelas menahan tawa. Suatu pemandangan yang membuat Litania makin bertanya-tanya dalam benak tapi tak berani mengutarakan. Kenapa dia? Apa mungkin aku bau?
__ADS_1
Litania angkat sedikit lengan seraya mengendus aromanya. Ah, gak bau, kok. Aku 'kan udah pake deodoran mahal. Litania membatin, ia perhatikan kembali wajah pria itu dengan seksama. "Apa ada yang lucu?"
Menggelengkan kepala, pria itu kemudian bertanya, "Kamu mau ketemu Fabian?"
Litania mengangguk. "Iya."
"Kalau gitu ikut saya. Saya juga kebetulan mau ketemu beliau."
Litania mematung, berpikir sejenak untuk tawaran itu. Namun, belum sempat melontarkan jawaban pria yang ada di hadapan sudah lebih dulu melangkahkan kaki. Sebuah pergerakan yang refleks Litania ikuti. "Tunggu dulu!"
Tibalah keduanya di sebuah taman Margasatwa Muara Angke. Sebuah hutan lindung yang dijaga oleh pemerintahan kota Jakarta. Hutan yang dikhususkan untuk menjaga kelestarian fauna dan menjadi pusat konservasi.
Membuka pintu mobil, Litania memindai sekeliling. Dahinya mengernyit heran. Hijaunya hutan tertangkap netra tanpa menjumpai manusia lain selain mereka di sana. "Ini seriusan Pak Bian ke sini? Kok aku gak liat siapa-siapa."
"Mungkin masih macet. Kamu tunggu aja. Saya mau ambil beberapa foto."
"Jangan jauh-jauh! Saya gak tanggung jawab loh kalo kamu diculik monyet." Terkekeh pelan, pria itu tersenyum. Melihat wajah masam Litania memberikan sensasi hiburan tersendiri untuknya.
Sejam telah berlalu. Litania mulai bosan menunggu. Ia hampiri sosok lelaki berjaket itu dengan langkah yang sedikit dientak. Sengaja memperlihatkan kalau dirinya tengah marah. "Ini Pak Bian ke mana? Masa iya dari tadi gak sampe-sampe."
Bersungut, Litania bersidekap dada di depan pria itu. Wajahnya yang tirus ia tekuk sedemikian jeleknya hingga Oppa ala Indonesia itu tergelak jenaka. "Emang kamu mau ngapain? Ngebet banget buat ketemu dia."
"Aku cuma mau ngucapin makasih doang. Mau bilang gitu aja kok susah banget. Sesibuk apa sih dia. Apa kamu gak punya nomor HP-nya?"
"Saya ada nomor HP-nya."
__ADS_1
"Lah, kok." Meradang, Litania kembali mengentak kaki. Ia tatap penuh selidik lelaki itu. "Kalau punya nomor HP-nya kenapa gak dihubungi?"
"Meles."
Oh Tuhan. Sebuah jawaban singkat yang makin membuat Litania tambah naik pitam. Persetan dengan wajah tampan orang itu. Ia tendang lutut lelaki itu dengan kuat. Ia hanya ingin melampiaskan kekesalan yang sudah memuncak. "Kamu ngerjain aku?!"
Meringis serta memegang lutut yang ngilu, lelaki itu kemudian tertawa. Ia betulkan posisiny—berdiri tegap—kemudian mengulurkan tangan pada Litania yang sudah bermuka masam. "Kita belum kenalan, 'kan? Kenalin, nama saya Fabian."
Melongo, Litania mengerjap. Ia telan ludahnya dengan cepat serta menekan rasa malu yang mendadak menjalar menutupi wajah. Sebuah ekspresi yang membuat laki-laki itu tergelak sejenak kemudian meraih tangan Litania agar menyambut uluran tangannya. "Saya sudah tau nama kamu Litania 'kan. Istrinya Chandra Maiza Kusuma. Pemimpin Big Group. Perusahaan otomotif terbesar di Indonesia."
Lagi, Litania terdiam. Ia tak tau harus apa dalam situasi itu. Disaat ingin pergi jauh dari hidup Chandra, dirinya malah tak bisa lepas dari nama itu.
"Kok kamu tau." Litania bertanya dengan wajah gusar. Apa jangan-jangan ni orang suruhan si bangkotan itu, batinnya.
"Ya taulah. Kalau orang yang hari-harinya cuma pegang majalah gosip pasti gak bakalan ngeh kalo kamu itu istri orang kaya. Tapi kalo orang yang biasa pegang majalah bisnis kayak saya ini pasti tau. Wong pernikahan kalian meriah begitu."
Litania menghela napas lega. Ternyata orang itu mengenalnya karena pernikahan. "Tapi kenapa gak bilang dari awal kalau kamu itu Fabian?" Litania bersuara pelan. Ia malu, semalu-malunya. Bagaimana bisa tidak malu setelah membentak orang yang menyelamatkannya? Bahkan dengan sadis ia aniaya fisik lelaki tampan itu.
Ais Litan. kamu memang begook. Bisa-bisanya kamu bertingkah konyol begini. Rutuknya dalam hati.
"Itu ... itu anu ...." Litania tak tau harus berkata apa. Ia sungguh mati kutu. Tak berkutik karena kesalahan sendiri. Ia perhatikan wajah Fabian yang telah memandangnya dengan serius. "Aku minta maaf soal semalam dan barusan ...."
Mengabaikan perkataan Litania, Fabian kembali mengambil gambar. "Iya, saya maafin. Dan soal semalam seharusnya gak harus balas jasa juga. Toh cuma dengerin kamu teriak sama gendong kamu doang. Ya ... walaupun kamu lumayan berat."
Mampuus, malu baget aku ....
__ADS_1
Litania memaksakan senyuman. "Kalau gitu aku pulang, ya. Udah sore. Nanti nenek nyari." Membuat-buat suara lembut, Litania berusaha agar tak menambah kesan buruk. Ulasan bibir pun menjadi penunjang salah tingkahnya itu hingga handphone yang ada di saku celana bergetar.
Menyentuh layar HP, Litania dekatkan benda pipih itu ke telinga. Mendengarkan dengan seksama suara dari seberang sana. Pemberitahuan yang membuat benda pipih di tangan terlepas dari genggaman. "Nenek ...."