
"Wah, baru pertama ketemu udah nge-gas aja. Di rumah keabisan gas, Neng?" Kinar berdiri, ia tatap nyalang sang tamu tak diundang itu. "Lagian kamu siapanya Arjun? Arjun aja ogah ngomong sana kamu, kok."
Wanita yang bernama Meli itu kini menatap penuh ketidaksukaan pada Kinar. "Aku pacarnya, kenapa?"
"Apa?" Mata Kinar membulat. Ia perhatikan wajah dingin Arjun dan mendapati gelengan kepala dari pria itu.
"Mantan, Meli. Kita udah lama putus."
"Gak bisa, Jun. Aku masih sayang sama kamu. Kita balikan lagi, ya. Mau, ya."
Bagai tak tahu malu, Meli terus saja menggoyang bahu Arjun seraya memanjakan suara. "Kemarin itu salah paham, aku gak selingkuh, kok. Beneran, sumpah."
Arjun tak menggubris sehingga Meli yang sedang kesal menatap ke arah Kinar dengan tajam. "Apa karena bule norak ini?"
What? Norak? Bule? Emosi Kinar mulai terpancing. "Maaf ya, Mbak Kunkun. Kalau ngomong bisa gak mulutnya dikasih saringan dulu."
"Lukate mulutku kopi!"
Meli mulai sewot. Membuat Kinar yang memang laper ingin rasanya menelan orang.
"Makanya jangan mancing-mancing. Saya bukan bule. Saya orang asli Indonesia. Terus saya juga gak norak. Ini tu fashion ... fashion!" Kinar menarik sebentar jaket yang di kenakannya. "Jadi, kalau gak tau fashion mending mingkem."
"Sialan ni bule kampung. Mau ngajak ribut? Ayo, sini aku jambakin rambut pirang kamu yang kek ijuk itu," balas Meli tak kalah menghina.
Kinar mendesis. Ia tatap nyalang Meli, mengibaskan rambut pirangnya ke belakang lantas melepas kupluk bergliter dari kepala. "Hello ... Mbak Hello Kitty. Masih jaman ya berantem pake jambak-jambakan. Gak elegan sama sekali. Kampungan."
"Wah ni anak makin sogong."
Merasa ada yang panas tapi bukan kompor, Arjun pun berdiri menengahi dua orang wanita yang lumayan membuat malu. Semua orang di warung itu menatap mereka seakan melihat sebuah pertarungan sengit. Bahkan saking begitu serunya hingga ada yang mengabadikan tingkah tak patut ditiru itu dalam ponsel.
"Udah jangan berantem." Arjun pegang lengan Meli. "Lagian kita udah lama putus, Meli. Dia ini bukan siapa-siapa aku. Jadi please, mending kamu pulang."
"Nggak, aku nggak terima," ucap Meli lantas menepis tangan Arjun, "ni anak songongnya gak ketulungan. Jadi harus kukasih pelajaran."
__ADS_1
"Lalu kamu maunya apa?" Kinar menantang, menatap dengan pandangan tak kalah garang.
"Wah, makin nantangin."
Melly, gadis bertubuh tinggi itu semakin menunjukkan ketidaksukaan, bahkan teman-temannya yang ada di pojokan warung itu pun mendekat seakan-akan mendukung Meli untuk bertarung.
"Sudah Meli, sudah. Mending kalian pulang. Gak enak dengan yang lain. Urusan kita entar kita bahas lagi," ucap Arjun menengahi lagi.
"Enggak bisa. Ini masalahnya udah ke harga diri." Mata Kinar menuju Meli. "Kalau kamu mau ayo kita bertarung."
"Ayo."
Bak pemain professional, tas punggung yang bertengger di belakang tubuh sudah beralih ke tangan temannya. Meli, gadis itu bahkan sudah melemaskan bahu lantas menggulung lengan bajunya yang pendek.
Sementara Kinar, jaket bertitik polka dengan warna pelangi juga sudah terlepas hingga tubuh putih yang hanya terbalut dress hitam selutut tanpa lengan terekspos jelas, membuat para lelaki di sana mengerjap, terkesiap, terkagum, lantas menelan ludah.
"Kita bertarung makan mi ayam. Kalau aku menang, kamu jangan muncul di hadapan Arjun lagi. Dan kalau kamu menang, aku yang akan pergi. Gimana, setuju?" tantang Kinar.
Wajah Meli berubah, gadis bertubuh langsing itu tampak berpikir sejenak hingga Kinar mempunyai kesempatan untuk mengintimidasinya. "Kenapa, takut?" Kinar bahkan sudah bersedekap dada dengan dagu sedikit terangkat.
Lima menit berselang, sepuluh mangkok mi ayam porsi besar sudah tertata di atas meja. Masing-masing orang mendapat lima mangkok lengkap dengan es teh dan air mineralnya.
Melirik Meli dengan mata elang, Kinar menyeringai. "Ingat, yang kalah harus menyerah soal Arjun." Lalu mata itu mengarah pada Arjun yang berdiri di tengah mereka seraya mengedipkan mata. "Dukung calon istrimu ini, ya?"
"Jangan ngimpi!" sela Meli. Mata mereka kembali bersitatap penuh kemarahan lalu sedetik kemudian berdengkus dan mengalihkan ke arah lain.
Sementara Arjun, tetap tak mengerti dengan pertarungan dua gadis konyol yag ada di hadapan. Namun tak dipungkiri, ada rasa bangga dalam diri tapi sialnya juga terhina. Bangga karena diperjuangkan. Akan tetapi terhina juga, serasa barang taruhan.
Ya Tuhan situasi gila macam apa ini? Batinnya. Berdehem sekali. Arjun pandang Kinar lalu Meli. "Baiklah aku itung mulai dari tiga, oke."
Kinar dan Meli tampak mengangguk yakin. Orang-orang bahkan sudah mengelilingi mereka. Masing-masing menjagokan yang mana yang akan menang.
Tiga.
__ADS_1
Dua.
Satu. Go!
Kinar melahap semuanya, dari mi, ayam hingga kuah-kuahnya ia telan dengan sesekali menyeruput teh yang ada di sebelah. Usaha yang membuahkan hasil. Belum tiga menit mangkuk pertama, habis.
Arjun mengernyit. Ni cewek nafsu makannya kayak gelandangan.
Sumpah, baru ini melihat gadis seaneh Kinar. Eh, ralat. Ini yang ke dua, yang pertama malah istri bos-nya. Arjun tepuk jidat lantas kembali melihat betapa semangatnya Kinar memakan semua mi itu.
Gleg! Ludah tertelan dengan kasar, Arjun pun membatin lagi, Semoga aja gak kenapa-napa sama tu perut.
"Kalau gak sanggup berenti saja."
Kinar menggeleng lantas melirik Meli yang masih berusaha menghabiskan mangkuk pertamanya. Senyum berpuas hati pun sedikit terukir. Oke Kinar lanjut.
Menyeruput mi panjang itu dengan sumpit, Kinar hanya mampu mengunyah beberapa kali lantas menelannya. Ia tak punya waktu untuk mengunyah hingga hancur. Ini semua demi Arjun, Arjun, dan Arjun.
Ayo Kinar semangat.
Mangkuk kedua habis, ketiga, keempat pun hampir habis. Rasa mual jangan ditanya lagi. Ingin rasanya ia muntahkan segalanya. Rasa mual hingga berefek ke kepala. Peluh pun berguguran bagai bulir jagung, besar-besar.
Kembali melirik Meli, Kinar melihat gadis itu juga sudah menghabiskan mangkuk ke tiganya.
Napas Kinar tersengal-sengal. Ia sandarkan punggung sebentar ke kursi lantas memandang Arjun. Pandangan lelaki itu sungguh ambigu. Entah pandangan apa yang dilontarkan. Seperti kasihan atau mungkin juga menyemangati. Entahlah ...
Kinar tarik kembali napasnya lantas malahap isi mangkuk terakhir, dan finish, Kinar pemenangnya.
Bersendawa nyaring, Kinar yang sudah mulai mengambang berusaha beranjak dari kursi dan menatap Meli yang jelas gusar—tidak terima dengan kekalahan.
"Ingat, yang kalah jangan mengusik Arjun lagi." Bersendawa makin nyaring, Kinar lap sisa air kaldu yang masih melekat di mulut lantas berucap, "Terus semua ini, kamu yang bayar. Bye!"
Memutar tumitnya, Kinar yang merasa oleng bertumpu pada lengan Arjun lalu menyempatkan diri menatap lima mangkuk yang tersusun di atas meja.
__ADS_1
"Mie ayam. Lo gue end."