
Glegh.
Kinar telan ludahnya dengan kasar. Ia kaget saat mata Arjun terbuka.
"Kinar."
"Eh."
"Kamu mau ngapain?" tanya Arjun dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Berat, suara yang makin membuat Arjun makin terlihat seksi. Kinar mundurkan kepalanya menjauhi wajah Arjun.
"Hm itu ... itu anu. Anu ... tadi ada itu. Eh, ada anu di itu. Eh, maksud aku tadi ada semut jalan-jalan di situ," jawab Kinar gelagapan seraya menunjuk pipi Arjun.
"Oh," balas Arjun singkat. Ia usap pipinya dan mengubah posisi menjadi duduk. Ia keheranan melihat wajah Kinar yang memerah.
"Kinar, kamu sakit? Wajah kamu merah." Arjun tempelkan punggung tangannya di dahi Kinar. "Tapi gak panas, kok. Suhu tubuh kamu normal. Tapi kenapa bisa keringetan begini," lanjutnya.
Tersenyum canggung, Kinar lepas tangan Arjun. "Gak, kok. Aku gak demam. Cuma cuaca lagi panas aja."
__ADS_1
Menganggukkan kepalanya, Arjun kembali menatap. "Maaf ya. Semalam aku ketiduran. Aku gak bisa tidur sejak kemarin. Jadi—"
"Iya, gak apa-apa. Aku juga langsung tidur, kok," potong Kinar lalu nyengir. Tak hanya mesum, sekarang dirinya juga jadi pembohong ulung. Semua demi Arjun. Demi bisa disayang dan berakhir dikungkung.
Namun, berbeda jauh dengan ekspresi wajah pria yang masih mengenakan baju tidur itu. Ia terdiam. Matanya makin lekat menatap Kinar.
"Kinar, apa kamu yakin kita gak perlu bulan madu?" tanya Arjun hati-hati. Pasalnya ini adalah topik pembicaraan yang membuat keduanya terlibat perdebatan selama dua bulan belakangan. Ia ingin membawa Kinar ke mana pun wanita itu mau. Namun, Kinar menolaknya mentah-mentah dengan dalih lelah bepergian jauh. Hanya saja Arjun merasa Kinar tak ingin merepotkannya. Di situ ia merasa tak nyaman. Serasa tak becus sebagai suami.
"Kalau kamu ingin pergi, aku siap nemenin kamu. Please, jangan pandang aku dari segi materi."
Lagi, Kinar menggeleng. Ia daratkan kepalanya di dada Arjun. "Bukan kayak gitu, Arjun. Aku gak mau berangkat bukan karena ngerendahin kamu. Aku tau tabungan kamu udah banyak. Tapi aku tetap gak mau ke mana pun. Bukan karena aku gak percaya. Aku cuma mau menghabiskan bulan madu kita di rumah kamu. Hanya itu. Kalau bepergian jauh otomatis waktu kita terbuang sia-sia. Iya, 'kan?"
Kinar menggeleng lagi. Tak ada sedikit pun keinginan untuk makan, yang ada hanyalah hasrat ingin dimakan.
"Kalau gitu kita sarapan di bawah. Aku mau mandi dulu," ucap Arjun seraya beranjak dari ranjang. Namun, baru melangkah beberapa kali, ia berhenti dan kembali memutar tumit.
"Kenapa?" tanya Kinar.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, aku cuma mau bilang kalau kamu cantik."
Blush!
Wajah Kinar makin merah. Senyumnya terukir. Ia melompat dari ranjang dan ingin menerkam bibir pria yang baru saja memujinya. Apes, Kinar berakhir cemberut karena terhalang tangan. Arjun memberi batasan.
"Kenapa lagi? Kan udah sah."
"Jangan nyosor dulu. Aku belum mandi."
"Aku gak peduli." Kinar kembali ingin mendaratkan ciuman, tapi gagal lagi karena Arjun menangkup kedua belah pipinya.
"Tapi aku peduli. Ini hal berharga dan pertama dalam hidup. Jadi jangan asal. Lagian kita belum sarapan, 'kan? Jadi baiknya sarapan dulu. Biar bertenaga."
Kinar cemberut. Bibirnya mengeriting, ia pun berakhir kembali duduk di sisi ranjang. "Baiklah. Aku tunggu. Jangan lama-lama."
***
__ADS_1
Hiyaaaa, Gatot pemirsah.
Tungguin part selanjutnya ya. Karena apa. Aku hanya akan bikin part hareudang aye2 nya cuma mengudara selama 2 jam. Selepas dua jam aku edit pake prosa ungu, mungkin juga bakalan aku skip. wkwkwk