Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Tertaut


__ADS_3

Dafin sudah bersembunyi. Tinggallah Fia dan Dafan duduk di sana. Tak ada orang lain melainkan hanya mereka yang ditemani para pemain saksofon. Dekorasi indah dan romantis pun tak bisa menetralkan atmosfer aneh yang tercipta. Keheningan tetap menyelimuti hingga membuat keduanya makin terlihat canggung.


Dafan pun berdeham melerai kebisuan. Fia refleks melihat wajahnya. Mata mereka bersitatap di bawah lampu gantung yang memancarkan cahaya keemasan.


"Makasih banyak loh kamu mau datang," ucap Dafan seraya mengurut tengkuk. Jujur, ia mati kata. Kecantikan Fia menghipnotis.


"Iya, gapapa. Ini juga bagian dari pekerjaan." Fia menoleh sekeliling dan melihat seorang gadis bergaun merah muda mendekat. Ia kembali melihat Dafan. "Apa dia gadis itu?"


Dafan pun mencari dan secara spontan mengangguk. "Aku harap cara ini ampuh."


"Ya, semoga," balas Fia, "tapi, kira-kira apa yang harus aku lakukan nanti?"


"Entah, aku juga gak tau. Tapi kata Dafin sebisa mungkin kita ngobrol sesuatu yang ringan-ringan saja. Intinya jangan keliatan banget kita baru kenal. Tapi aku juga gak tau bahas apaan," Dafan nyengir.


Sementara itu, Fia mendesah. Seumur hidup tak pernah sekalipun gadis itu berpacaran atau dekat dengan laki-laki. Kesehariannya hanya belajar dan bekerja part time demi mencukupi uang kuliah. Lucunya sekarang ia harus di hadapkan dengan sesuatu yang yang rumit seperti itu. Meskipun cuma akting, tetap saja memerlukan skill dan insting. Mengingat masa lalunya yang keras, desahan lirih Fia keluar lagi hingga Dafan menatap heran.


"Kamu kenapa? Gak enak badan?" tanya Dafan seraya menyentuh pergelangan tangan Fia—mengecek denyut nadi—lalu punggung tangannya beralih ke dahi. "Kamu gugup?" lanjut Dafan.


Fia mengangguk. "Aku ragu. Aku takut kita ketahuan."


Dafan tersenyum tipis lalu menyodorkan air putih ke Fia. "Tenang, Minum dulu. Biar gak gugup."

__ADS_1


Fia menurut, tapi entah apa yang terjadi ia mendadak tersedak hingga Dafan cepat-cepat memberinya tisu dan membersihkan cipratan air di wajah gadis itu. "Kamu gak apa-apa?" tanyanya sedikit panik.


Menggeleng, Fia ambil tisu yang ada di tangan Dafan lantas mengelap sendiri air yang ada di wajah. "Gak. Aku gak apa-apa. Keknya ada yang lagi ghibahin aku, deh."


"Gibahin?" ulang Dafan. Sedetik kemudian gelak tawanya menggema. Sementara Fia yang ditertawakan heboh seperti itu, merungut kesal.


"Kenapa ketawa? Apa ada yang lucu?" ujarnya dengan bibir manyun-manyun.


"Maaf, maaf, maaf." Dafan berucap seraya berusaha meredam tawa.


Sungguh, mendengar ucapan Fia barusan membuatnya tak bisa berkata. Dafan betulkan posisi hingga menjadi tegak lantas menatap Fia dengan lekat. Meskipun susah baginya untuk serius sekarang.


"Menurut aku gak semua di dunia ini semuanya harus realistis wahai tuan dokter yang terhormat," balas Fia. Ia bersedekap dada lalu menyandarkan punggung di kursi.


Alis Dafan menukik tajam. Ia tatap intens Fia lalu berucap, "Maksud kamu?"


"Lah ini, kita ini. Bukannya menentang sesuatu yang namanya ilmu pengetahuan dan nalar. Harusnya kalau kamu beneran mau ngindarin gadis itu ya tinggal bilang aja sih. Gak usah pake sandiwara cinta kek begini. Ini jatohnya malah ke drama, buang-buang waktu dan tenaga," jelas Fia tak kalah menohok.


"Lok, kok jadinya kita debat kusir gini, sih. Kalau memang se-simple itu sudah lama aku lakukan wahai tuan putri Fia yang paling cantik," balas Dafan dengan suara dalam. Akan tetapi meski begitu ia tetap menikmati wajah masam Fia.


"Habisnya kamu yang mulai." Masih dengan nada judes Fia bahkan telah memutar mata, ia terlihat jelas tersinggung dengan penjelas Dafan barusan.

__ADS_1


Namun, meskipun begitu Dafan tak marah, malah ia senang Fia sekarang menunjukkan sisi tersembunyi. Gadis itu mempunyai prinsip dan sedikit keras kepala. Ia suka type perempuan seperti itu. Bukan yang klemer-klemer ataupun yang munafik.


"Jadi, menurut kamu kita ini lagi nge-drama?" balas Dafan setelah berpikir sejenak. Ia bahkan terlihat manggut-manggut beberapa kali sebelum akhirnya kembali berucap, "Emang iya juga, sih. Kita ini keknya emang lagi main drama. Drama cinta segitiga."


"jiah, baru nyadar?" Fia terkekeh, "terus endingnya nanti kamu jatuh cinta beneran sama aku. Jangan sampai deh," lanjutnya.


Dafan terdiam, matanya menatap intens wajah Fia. Walaupun gadis itu mengatakan dengan nada bercanda dan tersenyum, entah kenapa rasanya ada bunga yang bermekaran dalam dada. Bibirnya pun tak bisa untuk tak tersenyum.


"Tapi nggak masalah kan kalau itu jadi kenyataan?"


Blus!


Lagi, pipi Fia serasa diterpa angin hangat tak kasatmata. Hari ini sudah ada dua orang pria yanhy membuatnya salah tingkah dengan berpikir sesuatu yang lain. Namun cepat-cepat ia menepisnya lalu tertawa terbahak. Meskipun rasanya ia sendiri merasa agak aneh dengan suara tawanya yang terdengar garing.


"Lah, kenapa ketawa?" tanya Dafan serius. Alisnya saling bertaut. Sama sepertinya hatinya yang juga sudah terpaut pada Fia. "Kamu gak masalah kan kalau kita dekat lebih dari sekedar teman?"


Sekonyong-konyong wajah Fia berubah drastis. Ia tampak gugup dan memandang lekat wajah serius Dafan.


Ini keknya ada yang salah. Kata saudaranya, dia itu gak pernah pacaran. Gak pernah kenal yang namanya perempuan. Tapi kenapa aku mikirnya dia gak gitu, ya? Dari ucapannya dia keknya udah pro soal perempuan. Astaga Fia, jangan sampai hati kamu cenat-cenut sama gombalannya. Ingat, kamu ini cuma pekerja biasa, jangan pernah terjerat cinta pria manapun apalagi dia. Dari bibit bebet dan bobotnya baik Dafan maupun Dafin itu diluar jangkauan kamu. Fia bermonolog lalu berdeham. Ia sengaja mengalihkan pandangan ke lain arah dan melihat tak ada lagi gadis berbaju merah muda tadi. Kini malah Dafin yang datang mendekat. Bosnya itu datang seraya bertepuk tangan.


"Wah wah wah, kalian hebat. Apa yang kalian obrolin sampe Nara gak jadi mendekat? Kalian bikin Nara nangis. Dia sampe terduduk di sana," tunjuk Dafin ke kursi tunggal yang ada di dekat pintu. Ia kembali melihat Dafan dan Fia secara bergantian. "Emangnya apa yang kalian obrolin? Mesra banget. Kalian gak jadian beneran, 'kan?"

__ADS_1


__ADS_2