Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Arjun


__ADS_3

"Lah lah lah, kenapa dia?" Raisa dan Nadia tampak panik. Raisa, wanita itu berjongkok memukul pipi litania berusaha menyadarkan. Namun, nihil, Litania masih terpejam meski pukulan lumayan kuat.


"Apa dia mati?" Raisa makin panik. Ia tekan urat nadi Litania. "Ah enggak kayaknya. Dia masih hidup, kok."


"Jadi kita harus gimana sekarang?" tanya Nadya lagi.


Kini keduanya berdiri dengan menggenggam tangan masing-masing. Bingung antara membantu atau mengabaikan.


Beruntung seseorang masuk dan melihat pemandangan tak layak itu. Ara, sang sekretaris Chandra mendapati seorang wanita tergeletak dan dua orang terlihat kaku tak berniat membantu.


"Apa yang kalian lakukan?" Ara membentak dengan mata melotot.


Kedua respsionis itu sontak tertunduk. "Mbak Ara. Itu ... emb k-kami—"


Lisan Nadya terpotong kala Ara menerobos masuk dan terlihat panik menyeru nama Litania.


Menekan bibir bawahnya, Nadya memberanikan diri dengan bertanya, "Mbak Ara kenal dia?"


"Tentu saja bodoh! Dia istrinya pak Chandra."


"Apa? istri bos." Nadia dan Raisa berucap hampir bersamaan. Mereka beradu pandang sekejap dangan wajah yang memucat secara bersamaan.


"Serius, dia beneran istrinya pak Chandra?" tanya Nadya lagi seakan-akan tak percaya akan ucapan Ara.


"Iya, dia ini istrinya bos kalian. Ini bener-bener gila. Kalian apakan dia? Ampun dah. Kalian mau dipecat? Cepat minta pertolongan!"


Tanpa menunggu lama Nadya dan Raisa berlari keluar toilet. Sebuah pemandangan yang membuat sosok pria yang yang kebetulan lewat di sana menjadi penasaran dan mengayunkan kakinya menuju tempat kejadian. Tampak Ara tengah panik dengan posisi terduduk memangku tubuh seorang gadis.


"Mbak Ara." Mendekati Ara, Arjun berjongkok mensejajarkan dirinya. "Mbak Ara, ini kenapa? Siapa dia?"


"Nah kebetulan, Arjun cepetan gendong dia. Dia istrinya pak Chandra."

__ADS_1


Arjun bergeming sesaat—tak bisa mencerna ucapan cepat Ara—tapi ketika Ara menarik tangannya, ia tersadar dan langsung gerak cepat menggendong tubuh lemah Litania. Menggendongnya ala bridal style. Tampak keren meski keadaan sedikit mencekam.


Suasana lobi yang biasanya ramai tapi tenang kini berubah drastis. Semua orang kelihatan saling pandang kala melihat Arjun dan Ara tengah tergopoh melewati mereka. Sebuah kerumunan yang tentu saja menyita perhatian Chandra. Dirinya yang baru pulang dari makan siang di restoran sekitaran kantor langsung melihat dengan seksama kerumunan itu. Tanpa di duga, dua orang yang dikenalnya keluar dari kerumunan dengan wajah panik. Sedetik kemudian wajah panik mereka berimbas padanya. Bagaimana tak panik bila sang istri tercinta tengah tak sadarkan diri dalam gendongan lelaki lain?


"Ara, Litania kenapa? Kenapa bisa begini?" Matanya tajam memandang Arjun. Pikiran jahat langsung menuju asisten barunya itu. "Kamu apakan istri saya!"


"B-bukan saya, Pak." Arjun gelagapan. Sementara rasa berat masih membebani lengan. "Saya gak tau apa-apa."


"Iya, Pak. Arjun gak tau apa-apa. Tadi saya masuk ke toilet dan melihat istri bapak sudah pingsan." Ara menyela. Berharap sang bos yag sudah memelotot tajam mengerti situasi bahwa sekarang bukan saatnya tuduh menuduh maupun berdebat.


"Benar begitu?"


Ara mengangguk. "Iya, Pak."


Chandra perhatikan wajah Arjun dan Ara secara bergantian. Rasa khawatir dan cemburu mendadak berkelindan erat. Membuatnya berdengkus, tak bisa menerima istrinya disentuh lelaki lain meski demi menyelamatkan. "Kasih Litania ke saya. Kamu urusin mobil. Litania saya aja yang gendong."


Arjun mengangguk. Ia berikan tubuh Litania pada Chandra dan melangkahkan kaki lebarnya menuju parkiran.


***


Suasana ramai tapi tenang di lorong rumah sakit membuat Arjun bisa menghela napas panjang. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling kemudian menyandarkan punggung yang lumayan pegal ke sandaran kursi. Ada rasa penasaran akan keadaan istri bosnya itu hingga mata kembali menatap fokus pada Chandra yang tengah mengobrol dengan beberapa dokter. Sementara gadis muda yang berbaju kaus dengan celana jeans tengah memejamkan mata dengan damai. Mudahan aja gak apa-apa. Kasian dia sampe pucat begitu.


"Hei! Kenapa ngelamun?"


Suara seseorang membuyarkan tatapan iba Arjun. Ara, wanita itu berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum mengembang.


"Eh, Mbak Ara. Enggak kok, aku nggak ngelamun cuman lagi istirahat aja." Rasa canggung mendadak menghampirinya. Apalagi Ara, wanita itu mengukir senyuman yang tak bisa ia artikan dengan senyuman kebaikan. Terlihat sedikit mencurigaim


Melirik sebuah ruangan tempat Chandra berada, Ara tersenyum lalu merebahkan bokong di kursi sebelah Arjun. "Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja. Jangan sungkan."


"Eh, gak ada, kok, Mbak." Menggaruk tengkuk, Arjun memandang fokus pada Ara dan mulai memberanikan untuk bertanya, "Dia itu beneran istrinya pak Chandra?"

__ADS_1


Lagi-lagi Ara tersenyum ambigu. "Iya, dia itu istrinya. Kenapa? Enggak percaya?"


Arjun mengangguk pelan. Tak dipungkiri ada rasa penasaran yang menggerogoti pikiran. Bagaimana seorang Chandra yang lumayan dewasa mendapatkan istri yang muda belia seperti Litania? Astaga itu seperti hubungan antara om dan keponakan. Pantes aja aku diwanti-wanti begitu. Arjun membatin lantas kembali menatap Chandra yang terduduk di sebelah Litania.


"Lihat, 'kan. Walaupun mereka beda usia, tapi tetap saling cinta. Jadi, kamu saya saranin untuk menjaga jarak dari nona kecil berkekuasaan besar itu." Ara terkekeh sejenak lalu kembali berkata, "Pak Chandra itu orangnya posesif banget banget banget banget pokoknya. Kata orang ni ya. Senggol dikit, bacok."


Arjun bergidik. Kembali diperhatikannya dua pasangan itu. "Apa sebegitu bucinnya."


"Nah itu. Nanti kamu bakalan tau. Bos kita itu kayak durian."


"Loh kok durian." Lagi-lagi Arjun mengernyit.


"Iya. Di luarnya berduri tapi dalemnya leembuuuuuut. Apalagi kalo ditaroh di atas es seerut. Wii ... maknyus. Bikin jantung perempuan cenat cenut."


Ara terkekeh mendengar ucapannya yang nyeleneh. Namun tidak untuk Arjun.


"Masa, sih." Alis Arjun tertaut. "Itu artinya Mbak kek gitu juga dong." Kini giliran Arjun yang menggoda. Matanya bahkan telah menyipit penuh selidik.


Ara tersenyum kecut. Tak dipungkiri bertahun-tahun bekerja sama membuat sekeping kama dalam dada bergetar aneh setiap berdekatan dengan Chandra. Namun, demi profesionalitas, ia buang rasa itu dan melabuhkannya pada kepala staf keamanan yang menurutnya tak kalah tampan dan baik. Berondong manis yang berbeda lima tahun darinya.


"Jodoh, rejeki dan maut semua sudah diatur tuhan, Jun. Lagian saya gak punya nyali buat jadi wanita penggoda maupun pelakor. Jadi saya sekarang bersyukur punya atasan seperti dia yang gajinya lumayan. Udah itu aja. Saya gak berani muluk-muluk. Lagian saya bahagia kok dengan keluarga saya. Nikmat Tuhan gak baik didustakan. Saya dapat suami masih muda plus anak yang baru berusia lima bulan. Itu anugrah terindah. Dan saya gak mau menghancurkannya demi keserakahan yang gak bakalan ada habisnya.


Arjun mengangguk lantas mengukir senyuman. "Aku gak nyangka Mbak seloyal ini sama dia."


"Itu jelas. Selama uang direkening nambah mulu ya saya gak bakalan berani macem-macem." Senyum Ara terukir. Namun ia teringat sosok Chandra menjadi berbeda kala berurusan dengan Leo. "Tapi, saran saya kamu harus waspada. Pak Chandra itu punya musuh. Dan kamu harus siap sigap melindungi dia."


"Wah beneran, Mbak. Katanya orang baik. Kok ada musuhnya."


"Ya ampun. Kamu polos banget sih. Justru orang baik itu yang paling banyak musuhnya. Jadi kamu harus hati-hati. Lindungi dia terutama dari laki-laki yang bernama Leo. Nanti kamu bakalan ketemu sama dia."


***

__ADS_1


Holla, jangan lupa like dan vote yang banyak ya. Biar author ini semangat krezi up. Hehehe. Klo vote banyak moga yang lirik crta ini jadi nambah. Hehe mohon dukungannya.


__ADS_2