
"Sejauh apa hubunganmu sama Fabian? Apa kalian sempat pacaran? Apa kamu naksir dia?"
Nah loh! Litania gelagapan. Tadinya yang semangat langsung keder dicecar pertanyaan soal Fabian. Bagaimanapun pria itu adalah idolanya setelah Siwon. "Kenapa mendadak bahas Fabian?"
"Tinggal jawab aja. Sampe mana hubunganmu sama dia?" Chandra tampak sedikit kesal. Ada penekanan dalam setiap kata yang terucap. Situasi canggung yang membuat Tari dan Willi jadi tak nyaman. Serasa orang begoo yang menjadi pendengar pertengkaran orang lain.
"Oke." Litania menarik napas panjang, "dia pernah nembak aku."
"Apa?" Mata Chandra melotot. Tak terima ada pria lain yang menaruh minat pada istrinya. "Awas aja dia."
"Awas kenapa? Jangan macam-macam sama dia. Harusnya Bang Chandra yang berterima kasih sama dia. Kalau bukan karna nasehat dia. Aku pasti tetep minta cere trus cari deh duren sawit. Duda keren sarang duwit yang lebih kece," jawab Litania tanpa beban.
"Litania!"
"Lagian apa-apan, sih. Aku 'kan gak punya perasaan sama dia. Aku itu udah cinta mati sama kamu. Jadi jangan bahas-bahas masa lalu, ya. Soalnya ada masa lalu seseorang yang lebih menjengkelkan daripada ditaksir orang lain."
Seketika wajah garang Chandra berubah. Bola matanya bergerak liar dan berkali-kali menelan saliva. Ia tau arti ucapan Litania. Mau dikubur sedalam apa pun masa lalunya sampai menembus lempengan bumi pun, kesalahannya akan terus diungkit. Ya nasib.
"Ya udah. Lanjut mainnya," ucap Litania lagi. Bibir sudah tersenyum ambigu kala melihat wajah Tari dan Willi. Ada rencana dalam benaknya.
Botol berputar. Pas! Tertuju ke Tari.
"Siapa kali ini?" tanya Litania, "yaudah aku ya." Ia juga yang menjawab hingga Tari dan Willi hanya tersenyum kecut.
"Oke, siap, ya." Senyum ambigu Litania makin terlihat mengerikan. "Mbak Tari pilih apa? Truth or dare."
"Truth," jawab Tari ragu.
"Oke. Kamu pilih jujur. Jangan nyesel, ya."
Perasaan tari mulai tak enak. Ia kepalkan kuat tangannya menahan rasa takut. Senyum Litania tampak mengerikan.
"Kamu sebenarnya ada rasa sama Mas Will, 'kan?" tanya Litania to the point.
Tari tampak kaget. Matanya membola, keringat dingin mendadak mengucur. Ekspresi yang sama ditunjukkan oleh Willi.
Menelan ludah, Tari mengangguk ragu. Gadis cantik itu tertunduk malu hingga memancing tawa Litania. Bumil resek itu tergelak puas saat pertanyaannya sukses menjawab rasa penasaran akan perasaaan antara Tari dan Willi.
"Nah, gitu dong. Jujur. Baguuus." Litania menunjukkan dua jempolnya. Kekehan masih saja terdengar. "Oke, kita putar lagi."
Botol diputar dan tertuju ke arah Willi, pria berusia 25 tahun itu menegang. Wajahnya pasi seketika.
__ADS_1
"Jangan takut, Mas. Gak bakalan diapa-apain, kok," ucap Litania. "Jadi pilih apa, truth or dare?"
"Dare aja," jawab Willi.
"Oke. Aku tantang Mas Willi ngelakuin apa aja."
Willi bingung. "Maksudnya?"
"Ya lakuin aja yang Mas Will mau. Apa aja."
Seketika wajah Willi berubah. Diliriknya wajah Tari yang juga sudah memerah. Ia pegang kepala Tari lantas mendaratkan kecupan di sana. "Tari. Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacarku?"
Mata Tari membulat. Namun senyumnya langsung terbit. Terakhir, anggukan kepalalah yang menjadi jawaban atas pertanyaan Willi itu. "Iya, aku juga suka sama kamu," jawab Tari malu-malu.
"Cieee so sweet. Ada yang jadian." Gelak tawa Litania kembali menggema. "Udah, habis ini langsung halalin aja. Jangan nunggu lama-lama," sambungnya lagi.
Kondisi aneh yang membuat Chandra hanya bisa tersenyum melihat tingkah absurd itu. Tawa Litania adalah segalanya. Hanya saja ... mendadak ia takut. Istrinya itu pasti punya rencana.
"Hayo, siap-siap yang belum kebagian," ucap Litania. Matanya tertuju ke arah Chandra. "Sekarang botolnya mau aku yang putar apa Bang Chandra yang putar?"
Chandra terdiam. Pikirannya langsung horor. Melihat botol serasa melihat pisau berdarah. Ia telan saliva dengan susah payah.
"Oke, sekarang aku yang putar," pinta Chandra tak mau kalah.
"Aduh duh! Perutku keram," ucap Litania yang masih belum bisa meredam tawanya.
"Ketawanya jangan kenceng-kenceng. Kasian kembar," ucap Chandra mengingatkan. Wajahnya tegang menahan cemas juga malu. "Oke, siapa yang mau nanya?"
"Aku." Litania dengan cepat menawarkan diri.
"Kok kamu lagi. Giliran yang lain, dong. Kasih Willi atau Tati kek. Masa semuanya kamu yang borong." Chandra sebenarnya takut. Takut menjadi korban keusilan Litania.
"Kalian keberatan?" tanya Litania setelah matanya menatap Willi dan Tari secara bersamaan.
Kedua manusia yang baru saja jadian itu menggeleng serentak. Senyum licik Litania kembali terukir. "Nah, mereka aja gak keberatan. Jadi jangan ngelak."
"Iya ... iya." Chandra pasrah.
"Sekarang pilih apa Truth or dare?"
Cari aman aja deh. Daripada ditanya yang enggak-enggak. Entar perang lagi, batin Chandra. Ia tatap mantap sang istri yang sudah tersenyum smirk. "Dare."
__ADS_1
"Yakin dare?"
Chandra mengangguk yakin. Ayo, tantang apa aja. Suamimu ini jago dalam segala hal."
"Bhuahahah." Litania tak bisa menahan tawa. Baru membayangkan tantangan yang akan berikan saja, ia sudah tak mampu menahan perasaan lucu itu.
"Kok ketawa. Ayo cepetan."
"Oke oke." Litania menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. "Aku minta Bang Chandra bergaya kayak Sarimin."
"Sarimin?" Dahi Chandra mengkerut. Namun tidak untuk Litania, Willi dan Tari. Ketiga manusia itu kesusahan menahan tawa.
"Sarimin siapa? Jangan bilang bias kamu yang idol itu ya. Aku gak mau joget-joget."
Sontak Litania melemparkan botol ke arah Chandra. Beruntung sigap pria itu menangkapnya.
"Enak aja. Namanya Siwon. Bukan Sarimin." Litania berucap dengan bibir mengerucut. Tak terima suami halu-nya disamakan dengan Sarimin.
Kekehan Tari dan Willi samar-samar terdengar. Serasa dihina Chandra pun tak terima. "Sebenarnya siapa Sarimin itu?"
"Sarimin itu monyet, Pak. Topeng monyet," jelas Willi yang sudah tidak bisa menahan tawa. Tawanya pecah hingga Chandra melirik tajam ke arahnya.
"Monyet?" Chandra memasang wajah mengiba. "Sayang, kamu serius mau bikin suamimu yang tampan mempesona ini jadi monyet?"
"Lah tadi katanya bisa apa aja," goda Litania dengan bibir berkedut.
"Tapi—"
"Ayo cepetan." Litania berujar tegas. Matanya bahkan sudah menyipit tajam. Ia keluarkan ponselnya dan mengarahkan ke arah Chandra.
"Loh kok direkam?"
"Buat kenang-kenangan."
Dengan langkah gontai Chandra menjauhi kursi. Perasaanya jangan ditanya lagi. Kacau plus kesal. Ia sugar rambutnya ke belakang lalu menatap iba pada Litania. Namun yang ditatap tetap tertawa dengan kamera tertuju padanya.
Dasar istri kejam. Chandra membatin.
"Dung-dung-dung! Sarimin pergi ke pasar."
Chandra buka pahanya, sedikit berjongkok dengan tangan menggaruk kepala.
__ADS_1
U a u a u a.