Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
hangat.


__ADS_3

"Sayang, makasih, ya. Aku sayang sama kamu. Maaf untuk semalam. Aku janji gak akan bohong lagi. Bagiku, kamu dan anak-anak kita lebih penting dari teman. Untuk kedepannya, aku janji bakalan menolak apa pun yang akan buat kamu kesal."


Chandra berucap dengan suara yang super pelan. Posisinya yang memang sedari awal memeluk pinggang Litania, makin mengerat sekarang. Di balik selimut, tubuh polos mereka menyatu—memberi dan menerima kehangatan.


Perasaan jangan ditanya lagi, rasanya dada Chandra ingin meledak kala mengingat permainan panas mereka beberapa saat yang lalu. Ia bersyukur ternyata istrinya yang galak itu memiliki hati yang pemaaf. Buktinya setelah mata melek hampir tiga jam karena menahah hasrat yang tak tersalurkan, sang pemilik lubang luluh dan memberinya penenang tanpa harus membuatnya menelan obat.


"Janji, jangan ulangi lagi." Litania berucap lirih seraya menggeliat pelan. Geli saat napas Chandra menerpa tengkuk. "Kali ini aku maafin, awas aja kalo ngulang lagi," lanjutnya seraya melepaskan pelukan dan memutar posisi. Mereka saling berhadapan.


"Iya, gabakalan." Chandra mengeratkan pelukan. "Sekarang aku udah punya tujuan hidup. Jadi gak mungkin juga ngelakuin hal yang sia-sia."


Senyum Litania kembali terukir. Makin ke sini, rasa cintanya pada Chandra makin menggunung saja. Ia bahagia, walau tak lama merasakan kasih sayang orang tua, kini ada Chandra yang bisa menutupi kekosongan itu.


Mendongakkan kepala, Litania belai rahang tegas Chandra. Jujur saja, ia tak bisa membohongi diri kalau dirinya masih terpesona pada wajah maskulin pria yang sudah berusia hampir 40 tahun itu.


"Kenapa? Mau lagi? kalau mau, ayolah. Suami kamu yang kekar ini masih kuat satu ronde lagi," goda Chandra. Mata memang terpejam, tapi senyuman tak dapat ia redam.


"Dasar mesum." Litania terkekeh. Sedetik kemudian permintaan si sulung terngiang di telinga. Ia belai bibir Chandra yang kenyal sedikit kecoklatan. "Sayang, kita punya tetangga baru, rencananya aku sama anak-anak mau ke sana. Kamu mau ikut?"


Chandra membuka mata. Tatapannya teduh seperti biasa.

__ADS_1


"Kalian aja, ya. Hari ini kan Minggu, aku mau tidur agak lama. Ngantuk banget. Entar sore baru kita jalan bawa anak-anak ke taman bermain. Aku gak sanggup kalau ditagih lagi. Udah kayak dikejar-kejar debt collector," balas Chandra saat mengingat janjinya pada Dafin. "Oh iya, kalau bisa, kalian jangan terlalu deket sama tetangga baru itu."


"Kenapa?" tanya Litania bingung, "kamu kenal mereka."


"Kenal banget sih, enggak. Tapi yang aku tau, orang yang beli rumah di sebelah itu namanya Erik, dia pengusaha furniture, duda dan punya satu anak perempuan, usianya enam tahun."


"Wah, gak nyangka punya tetangga duren sawit," celetuk Litania yang langsung direspon Chandra dengan memberikan cubitan di hidung.


"Sakit!" Litania mendengkus. Ia usap hidungnya yang panas.


"Makanya jangan macem-macem." Mata Chandra melotot mengatakan itu.


Mencebik sebentar, lalu Chandra pun ikutan tersenyum. Ia eratkan pelukan. "Tapi jangan terlalu akrab sama keluarga itu. Aku denger kabar kalau Erik itu kasar, istrinya yang berprofesi sebagai dokter meninggal karena gantung diri. Kalau gak salah namanya Clara."


"Ya ampun. Ngeri banget. Terus-terus," ujar Litania dengan mata membulat. Begitu semangat dan antusias ingin mendengar gosip yang ia yakin ibu-ibu penggosip di komplek pasti belum tau akan kabar itu.


"Tapi jangan disebarin," cegah Chandra. Ia seperti tahu isi kepala istrinya itu.


"Iya, gabakalan."

__ADS_1


"Aku dengar baru seminggu yang lalu dia nikah lagi. Ya moga aja istrinya ini nasibnya baek. Gak kayak Clara. Apes dia. Dijodohin sama laki-laki kasar kayak Erik."


Mendesah panjang, Litania memikirkan perasaan gadis kecil yang kehilangan ibu dan kini harus menerima ibu tiri. "Kenapa gak dilaporin ke polisi si Erik itu?"


"Entahlah, aku gak tau. Lagian itu bukan urusan kita."


Mata Litania langsung menyipit. Penasaran kenapa bisa suaminya itu tahu segala macam informasi yang ada di sekitaran mereka.


"Aku heran. Kok bisa kamu tau semua hal. Jujur deh sama aku. Kamu punya bisnis detektif swasta, ya? Kamu menjalankan bisnis ilegal, 'kan?"


Chandra kembali mendaratkan cubitan, kesal akan tudingan istrinya itu. "Kalo ngomong di pikir dulu. Jangan asal mangap. Ngurus satu perusahaan aja suami kamu ini keder apalagi buka bisnis laen. Bisa-bisa si Albert ngambek kerena gak dapat jatah."


Litania kembali nyengir. "Habisnya kamu mencurigakan."


"Orang yang tau segala hal bukan berarti punya bisnis detektif. Ni otak isinya apaan, sih. Penuh drama banget." Jari telunjuk Chandra mendarat ke kening Litania.


Wanita dengan rambut sedikit berantakan itu tampak malu. "Lalu kamu dapat infonya dari siapa?" tanyanya lagi.


"Dari Irwan. Clara itu mantan tunangannya Irwan."

__ADS_1


"What!"


__ADS_2