Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Alex.


__ADS_3

Kinar masih melongo, padahal tubuh Aldi sudah hilang dari pandangan. Ada rasa tak enak hati pada sosok lelaki itu.


"Semoga kamu selalu sehat. Terima kasih atas bantuannya. Aku harap ini pertama kali dan terakhir kalinya aku ngerepotin kamu. Kamu laki-laki baik, Al."


Kinar menghela napas lega lalu tersenyum kecil. Rasa dag-dig-dug di dada mulai mereda. Berpura-pura bahagia dan akrab dengan orang asing tentu saja bukan perkara mudah. Dan yang pasti menguras tenaga, tentunya.


"Kakak kenapa?"


Kinar yang masih menatap depan, sontak tersentak. Ia mendapati seorang gadis berusia tiga belas tahun memandang dengan sorot mata heran.


"Gak apa-apa, Dek." Kinar tersenyum menatap remaja berambut panjang dan mempunyai tahi lalat di pipi. "Kamu sendirian aja?" tanya Kinar seraya melihat sekeliling.


Gadis itu menggeleng. "Aku sama temen-temen, Kak. Yaudah kalau gitu aku pamit."


"Baiklah, hati-hati."


Kinar pun memutar tumit hendak kembali. Di dalam sana ada sosok yang yang selalu mampu membuat getaran dalam dada. Chemistry laki-laki tampan itu begitu kuat hingga kadang jantungnya seakan berhenti berdetak bila tengah berdekatan.


Ya, Arjun sudah masuk dalam perangkap. Tadi tak sengaja wajah masam lelaki pujaannya itu tertangkap netra saat dirinya sengaja bersikap abai.


"Dia pasti cemburu? Pasti dia sadar kalau ternyata dia juga ada rasa sama aku."


Senyum Kinar terukir. Hayalan—Arjun datang dan mengatakan cinta seraya menyerahkan setangkai bunga mawar—kembali memenuhi isi kepala. Hayalan konyol yang membuatnya cekikikan seperti orang gila.


Dan benar saja, bayangan fatamorgana yang ada dalam kepala membuatnya makin melebarkan senyuman. Jika saat itu tiba, ia bingung harus ber-ekspresi apa. Apakah menerima sambil lari-larian mengitari pohon beringin, bak film-film Bollywood? Ataukah membalasnya dengan ciuman ekstra panas dan berakhir di ranjang seperti film Hollywood?


Ih wau, aku gak sanggup bayangin itu semua. Kinar membatin dengan wajah yang sudah memerah. Mandadak film yang pernah ditonton sebagai sarana mengedukasi diri terputar jelas dalam memori.


"Ah, Aa Arjun ...."

__ADS_1


Dewi Amor makin menancapkan panahnya pada Kinar. Benih cinta yang sudah tertanam rasanya sudah bertunas panjang—mustahil bisa disingkirkan.


"Arjun. I love you so much," gumam Kinar dalam langkahnya. Ia ingin sekali cepat bertemu sang pujaan hati.


Namun, tanpa diduga sosok laki-laki berjalan ke arahnya. Laki-laki yang membuat senyum Kinar menguap dalam sekejap. Menyisakan kegugupan yang benar-benar nyata. Kinar shock, dengan cepat ia putar kaki hendak lari. Akan tetapi laki-laki itu begitu cepat datang lalu mencegah langkahnya.


"Kamu mau ke mana?"


Kinar mematung dengan debaran jantung yang sudah bertalu. Ia takut, sungguh takut hingga air mata menetes tanpa disadari. "P-pak Alex."


"Iya, ini saya. Guru kamu. Saya nggak nyangka ketemu kamu di sini. Saya kira tadi salah orang."


Pria itu ... tersenyum licik. Kinar merinding apalagi saat matanya yang tajam memindai tubuh Kinar dari atas hingga bawah.


"M-mau ngapain B-bapak k-ke sini?" Meremas jemari tangan, Kinar tekan rasa takut itu.


"Kamu kenapa gagap? Kamu takut?" tanyanya lagi dengan suara rendah. "Jangan takut, saya gak bakalan ngapa-ngapain kamu."


Ya Tuhan, tolong aku ....


Kinar alihkan matanya, berharap orang lain tahu kalau dirinya butuh pertolongan. Akan tetapi, nihil, semua abai karena memang Alex tak tampak mencurigakan—wajah muda dan tampan dengan pakaian santai. Bahkan beberapa wanita ada yang menatap minat ke arah pria itu.


"K-kalau b-begitu saya pamit."


Kinar langkahkan kaki, tapi belum sempat menjauh tangannya sudah dicekal Alex. Pria itu tanpa malu memeluknya dari belakang lantas mengalungkan lengan di pinggang Kinar. Tangannya yang kekar bahkan sudah menelusup dan mengusap perut Kinar yang terbalut jaket. Ia tanpa ragu meraba-raba karna tak terlihat oleh orang lain. "Kenapa buru-buru, Kinar. Ayolah, kita ngobrol sebentar."


Kinar meronta, bibir mendadak kehilangan warna. Ia sikut perut Alex dengan kuat. Beruntung bisa melepaskan diri. Namun, pria itu kembali mendekat lalu menariknya hingga ia terhuyung ke dinding yang berada di pojokan—arah menuju toilet perempuan. Alex bahkan mengunci pergerakan dengan mencengkam kedua bahu Kinar.


Kinar alihkan pandangan ke arah kiri. Wajah mesum Alex tampak begitu nyata. Dalam jarak yang begitu dekat dan dalam ketidakberdayaan Kinar, Alex malah tersenyum lalu berbisik, "Ayolah Kinar. Kenapa kamu setiap ketemu sama saya jadi kayak gini? Saya 'kan enggak pernah ngapa-ngapain. Jadi nggak perlu dan nggak usah takut."

__ADS_1


Kinar meronta dengan tenaganya yang tak seberapa. "Tolong, jangan ganggu saya atau—"


"Atau apa?" Alex masih berbisik dengan suara pelan.


"Atau saya bakalan laporin perbuatan tidak menyenangkan ini para polisi," ucap Kinar.


"Kamu yakin?" Alis Alex naik sebelah. Senyum iblis terukir jelas.


"Iya." Kinar memberanikan diri, ia tatap nyalang wajah Alex. Wajah yang entah sama sekali tak membuatnya tertarik. "Tentu saja! Akan saya beberkan kebusukan Bapak."


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik


Alex tergelak, meremehkan. Melihat wajah marah Kinar seakan-akan ada gelitikan tak kasatmata di perut. Ia lepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Kinar lalu memasukkannya ke dalam saku celana. "Memangnya kamu berani?"


Kinar gugup. Ditantang seperti itu membuat nyalinya menciut. Terlebih lagi jika dilihat dari segi penampilan, orang-orang pasti beranggapan kalau dirinya gila alih-alih menganggapnya korban.


Alex edarkan matanya ke sekeliling dan melihat begitu banyak pengunjung. "Ayo, teriaklah. Buktikan kalau memang kamu berani."


Ya Tuhan, aku harus apa? Bibir Kinar kembali bergetar. Tabuhan di dadanya makin menggila. Tenaga juga seperti lenyap. Ia kesusahan menopang berat badan dengan kaki. Keberadaan serta ucapan Alex benar-benar memberikan efek yang luar biasa.


"Ayo teriaklah!" ucap Alex lagi.


Sungguh, demi Tuhan atau demi mahluk apa pun di dunia ini. Kinar ingin berteriak lantang. Ingin meminta pertolongan. Hanya saja pita suaranya seperti terikat kuat. Keringat dingin bahkan keluar bersamaan dengan air matanya.


"Kamu gak berani, 'kan?" Senyum miring Alex makin terlihat menyeramkan.

__ADS_1


Kinar mematung saat Alex memajukan langkah—mendekatinya lagi.


Ku mohon, siapapun tolong bantu aku .... Aku takut sama monster ini. Kinar membatin seraya mengepal kuat sisi jaket. Ia menggeleng, air matanya meluruh lagi kala Alex kembali bertingkah kurang ajar—memeluk pinggangnya seakan-akan mereka adalah pasangan kekasih. Wajah mereka bahkan begitu dekat. Deru napas memburu Alex tentu saja menerpa kulit. Kinar merinding, ia ketakutan.


__ADS_2