
POV Dafan.
Di depan rumah kontrakan Fia.
Bak orang bodoh, aku mematung di bawah pohon mangga. Berdiri dalam kesunyian dan kegelapan dengan mata tertuju hanya pada pintu rumah itu.
Fan, kita berhak berencana dan berusaha. Tapi segalanya ada di tangan Tuhan.
Bukankah barusan kamu bilang, kalau kamu udah usaha maksimal. Jadi serahkan keputusan pada Fia. Pasrahkan semuanya sama Tuhan. Tapi Bunda harap kamu enggak kecewa apa pun keputusan Fia dan pilihannya. Kamu sama Dafin saudara. Bunda gak mau kalian berantem karena perempuan. Berbesar hatilah.
Sangat sakit. Perkataan Bunda menggerayangi benak seharian ini. Aku mencoba mengikhlaskan, terus mencoba berpikir dan menjaga kewarasan. Tapi tatapan Dafin ke Fia dan cara Fia menatap Dafin membuatku berpikir negatif. Mungkinkah mereka saling menyukai tanpa sadar? Lalu aku, apakah posisiku di sini sebagai orang ketiga di antara mereka?
Kepala makin berdenyut. Aku terus mencoba menenangkan diri dengan mencerna perkataan Bunda kalau semua sudah digariskan Tuhan. Aku percaya bahwa kita sebagai manusia hanya bisa mengusahakan, tapi apa tidak bisa Tuhan sedikit saja melihat ketulusan dan usahaku?
Tidak bisakah Fia membayangkan betapa besar usahaku untuk membuatnya nyaman dan bahagia saat kami bersama?
Tidak maukah dia mempertimbangkan aku yang begitu bodoh tentang masalah perempuan?
Aku memang tidak selihai Dafin jika menyangkut wanita, tapi aku tulus. Aku tulus pada Fia dan bersungguh-sungguh ingin membahagiakan dia.
Dulu, aku pernah berkhayal, kalau kisah cinta yang menanti di masa depan akan indah mengingat betapa besar kesabaranku menahan diri selama ini. Aku sangat berharap cinta pertamaku memberikan kesan yang begitu 'wah' hingga aku bisa membawa kenangan itu dan rasa bahagia itu sampai mati. Satu untuk selamanya, itu yang aku inginkan.
Tapi ternyata aku begitu lugu. Pria berpendidikan sepertiku ternyata terlalu halu dengan yang namanya cinta. Sekarang aku menyadari kalau cinta juga mendatangkan duka.
Sebelumnya aku tak menyangka cintaku terjatuh pada Fia begitu mudah. Wanita yang aku suka untuk pertama kali, tapi kenapa?
Kenapa begitu sakit untuk menyentuh hatinya?
Kenapa lika-likunya terlalu terjal untuk aku lewati?
Dafin, dia saudaraku. Dia sedarah denganku. Bagaimana caraku merebut Fia darinya?
Dia banyak berkorban demi aku, tapi aku benar-benar tidak rela jika harus mengikhlaskan Fia karena rasa utang budi. Aku berterima kasih pada dia, tapi tetap ingin mendapatkan Fia. Egoiskah?
Aku sudah berusaha beberapa bulan ini melakukan yang terbaik untuk gadis itu. Untuk memenangkan hatinya, tapi sepertinya usahaku sia-sia. Aku kalah, kalah cepat dari Dafin atau mungkin ... karena Tuhan tidak menginginkan aku bersama Fia?
Ah ... makin dipikirkan aku makin pening. Sakit, nyeri, jangan di tanya lagi. Terasa tertusuk jarum tepat di tengah-tengah. Kalau bisa aku ingin menyuntik mati hati yang tidak bisa aku kendalikan ini. Akal sehat memerintahkan untuk tegar, tetap tenang agar terlihat keren. Aku ingin mengiklaskan mereka tapi dalam hati kecil ada sedikit keegoisan.
Ya, mungkin keegoisan lebih tepat aku menyebutnya. Dalam hati kecil aku ingin meminta jawaban jujur dari Fia. Aku ingin melihat dengan mata kepala sendiri, apakah Fia memilih Dafin?
Aku ingin bertanya secara langsung, apa kurangnya aku dari Dafin?
Aku ingin memastikan segalanya agar bisa mengakhiri perasaan ini. Walau mustahil aku masih berharap, sangat berharap ada sedikit keajaiban agar Fia tersentuh.
Ya, aku menanti. Menanti dengan jantung berdebar dalam kegelapan ini. Aku sangat berharap kalau aku yang Fia pilih. Semoga.
Sudah hampir lima jam. Selama berdiri di sini aku ditemani nyamuk-nyamuk yang seperti tertawa jahat dan seenak hati menggigit darahku. Namun, aku tak peduli karena benar-benar ingin menemui Fia.
Tapi ada Mbak Marni di sana. Dia membuatku hanya bisa berdiri dan memantau dari seberang sini. Aku yakin dia disuruh Bunda berjaga di sana. Aku pastikan dia juga merasa gelisah. Karena bukan rahasia lagi, menunggu itu sangat membosankan.
Aku makin resah, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam tapi mereka belum juga pulang. Sungguh, pikiran buruk membuatku makin kalang kabut menata pikiran agar tidak berprasangka. Apa mungkin Dafin sudah ....
Hais! Kenapa aku berpikir buruk? Aku saudara Dafin, aku yang tahu apa yang ada di hati Dafin. Dia tidak akan berbuat nekat dan tercela seperti itu, hanya saja kenapa aku tetap gelisah?
"Ayolah Dafan. Tolong tenang. Kamu harus memastikan sendiri, tolong bersabarlah." Aku bergumam meyakinkan diri. Entah sudah ke berapa kali, tapi tetap aku lakukan—menggumam dan menguatkan hati. Setidaknya cara ini yang bisa aku lakukan meski efeknya tetap membuatku gelisah.
Seperti orang bodoh, benar 'kan?
Cahaya lampu mobil menyilaukan pandangan. Gegas aku bersembunyi. Bak pecundang, aku menarik diri dari terang dan memutuskan memantau dalam kegelapan. Di balik pohon mangga yang besar, aku mengintip.
Mobil yang menyilaukan mata tadi masuk ke pekarangan halaman rumah Fia. Itu mobil Dafin, ya benar, itu benar mobilnya.
Menarik napas dalam-dalam, aku mencoba tenang, mencoba menekan emosi yang mendadak naik ke ubun saat melihat Dafin merangkul Fia, sangat mesra. Sebegitu dekatkah mereka?
Aku makin tak karuan menahan emosi. Apakah hubungan mereka sudah berlanjut? Astaga ....
Meski marah aku masih saja terus memandangi mereka. Dari sini aku dapat melihat senyum Fia. Senyum yang entah kenapa tak pernah aku lihat sebelumnya maupun aku dapat. Senyum itu seperti ....
"Kenapa, Fia? Kenapa kamu nggak pernah tersenyum semanis itu di depanku? Kenapa kalau berhadapan denganku kamu hanya tersenyum biasa? Aku merasa senyummu itu indah, aku tak menyangka senyummu malam ini lebih indah dari biasanya dan teganya kamu tersenyum begitu di depan Dafin. Kamu membunuhku, Fia. Kamu menusuk tepat di sini." Aku memukul dada yang sesak. Berharap udara yang tertahan keluar dengan semestinya.
Kembali menarik napas, aku masih memutuskan bertahan. Aku ingin menunggu Dafin pergi dan menanyakan hal ini secara pribadi pada Fia. Aku ingin dia memilih, ingin dia menentukan pilihan. Walaupun dalam hati kecil aku merasa kerdil. Setelah melihat senyum Fia, kemungkinan dia memilih aku sangatlah kecil, tapi bolehkah aku berusaha? Agar aku tenang untuk melangkah.
Dalam geram dan putus asa aku menggenggam erat sebuah kotak perhiasan. Perhiasan yang sudah lama aku persiapkan untuk Fia. Saat pertama kali melihat gadis itu aku sudah memantapkan hati padanya. Aku selalu mencari apa pun kesenangan dia. Dari makanan, hobi bahkan alergi, aku cari tahu tanpa menyulitkan orang lain. Dan kotak yang ada di depan mataku ini adalah kotak perhiasan sudah aku persiapkan 6 bulan lamanya. Hadiah ulang tahun untuknya.
Dulu aku berharap saat memberikan kotak perhiasan ini aku dan Fia sedang duduk berhadapan dan makan malam romantis. Saat itu aku berangan-angan akan mengatakan perasaanku. Aku juga berharap Fia menerima perasaanku dengan senyum terkembang.
__ADS_1
Siapa sangka rencana yang sudah berbulan-bulan aku rencanakan tak terealisasikan. Sedikitpun tidak.
Kini aku hanya berdiri bagai pecundang, mengintip mereka dari kejauhan. Hati kecil mengatakan dan mengutuk kalau aku adalah laki-laki bodoh. Tapi sisi lainnya mengatakan, inilah yang namanya perjuangan, inilah cinta yang sesungguhnya, cinta tanpa pengorbanan bukanlah cinta.
Hatiku makin getir. "Cinta? Kenapa cinta ini begitu menyiksa?"
Dari kecil aku tidak pernah yang namanya kesusahan. Aku selalu mendapatkan apa pun yang aku inginkan dengan mudah. Aku terbaik, aku beruntung, tapi kenapa saat ini aku merasa menjadi manusia paling bodoh dan toolol sedunia. Aku merasa menjadi manusia paling miskin karena perempuan.
Tak bersyukurkah? Entahlah, aku hanya menggambarkan apa yang aku rasakan.
Aku lihat Dafin mendekati Fia, lantas mengecup kening gadis itu.
Sumpah! Sumpah demi apa pun. Aku ingin marah. Aku ingin mencekik lehernya, tapi lagi-lagi aku seperti manusia bodoh yang begitu malang, aku hanya menggeram di balik pohon ini. Melihat dan mengawasi mereka dari kejauhan hingga Dafin benar-benar pergi.
Dengan langkah lebar dan hati yang mantap aku menuju pintu yang baru saja tertutup. Aku ketuk pintu itu, berharap Fia membukakan dengan mudah dan berharap membuka sekalian hatinya.
Namun, jauh dari khayalan. Alih-alih terbuka aku hanya mendengar suara teriakan Fia dari dalam.
Aku ketuk lagi pintu itu dengan keras.
"Aku Dafan, tolong buka pintunya."
Barulah pintu yang tertutup rapat itu terbuka. Fia tampak cantik dengan gaun selutut serta riasan natural. Dia selalu begitu, bisa membuatku pangling meski tak berdandan sama sekali.
"D-dafan, kamu ... kamu ngapain ke sini? Sejak kapan?" tanyanya tergagap.
Tak punya hati kah dia? Tak bisakah dia mengerti perasaanku, bagaimana dia bisa bertanya seperti itu sedangkan aku terluka hanya dengan perkataannya?
Ah, aku yakin dia menduga aku melihat segalanya. Ya, aku melihat segalanya. Dari mereka datang, tersenyum-senyum serta kecupan. Asli, ingin aku berteriak lantang.
Menarik napas panjang, aku mencoba menenangkan diri. Fia nggak bersalah yang bersalah ....
Entahlah aku tak tahu.
"Dafan ..."
"Fia ...."
Lisan kami sama-sama memanggil nama. Entah kenapa kekompakan kami kali ini membuatku makin terdengar mengenaskan. Aku tetap Fia, Fia nanar menatapku juga.
Fia tampak menarik napas panjang. Apa yang dia pikirkan sampai seperti itu?
"Dafan sebenarnya ...."
"Fia ...." Aku sengaja menyela saat melihat sebuah kotak perhiasan yang ada di genggamannya. Kotak itu begitu sama dengan apa yang aku punya. Sekarang aku tak bisa fokus dengan ucapan Fia. Aku ambil paksa kotak perhiasan itu dari tangannya.
Fia meringis lalu mencoba mengambilnya lagi tapi aku tahan.
"Dafan. Kembaliin itu, Fan," pintanya.
"Apa ini dari Dafin?" tanyaku, sebisa mungkin menahan emosi.
Dia mengangguk. Aku makin kesal.
"Dafan, sebenarnya aku sama Dafin ...."
"Tolong diam sebentar," selaku lagi. Aku benar-benar belum siap, belum siap menerima kenyataan. Aku terintimidasi oleh sebuah benda di depan mata. Aku mencoba menelaah semuanya sendiri dengan otakku yang kacau ini. Hatiku makin menciut saja.
Perlahan aku buka kotak itu dan isinya ....
Shit! Kenapa hadiahku sama persis dengan yang diberikan oleh Dafin? Sepasang anting.
Hah! Ternyata tak hanya rupa, perasaan dan keinginan kami pun Tuhan buat sama. Tak bisakah Dia bikin kami berbeda, paling tidak buatlah Dafin menyukai perempuan lain selain Fia.
"Dafan, maaf ... sebenarnya aku sama Dafin ...."
"Fia."
Aku memotong perkataannya lagi. Sengaja. Dari ekspresi dan tatapan Fia aku sudah bisa mengira apa yang akan dia katakan. Dia memilih Dafin dan aku tidak siap untuk mendengar kejujurannya itu.
"Apa bedanya aku dari Dafin?" tanyaku. Aku tatap lekat Fia.
Dia menggelang, desahannya semakin panjang. "Entahlah Dafan. Aku nggak tau. Tapi tetap saja saat kita bersama dan saat aku sama Dafin, aku merasakan hal yang beda. Maafkan aku Dafan."
Sungguh, aku ingin sekali mengamuk. Aku sudah menduga ini akan terjadi dan sudah siap menata hati, tapi tetap saja kenapa tetap tidak bisa terima jawaban Fia?
__ADS_1
Mengatatkan rahang, mengepalkan tinju, dan mengutuk Dafin dalam diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang.
Aku lihat lagi Fia. Dia seperti menahan ketidaknyamanan. Gadis yang aku suka setengah mati ini terlihat sedih. Apakah itu karena aku? Apakah ekspresi tidak mengenakkan itu karena aku? Itu artinya akulah yang menjadi pengganggu di sini.
"Dafan ...."
Fia mencoba meraih tanganku. Tapi aku yang tidak tahu diri malah menepisnya. Dia bergeming dengan bola mata bergerak-gerak. Dia mungkin akan menangis sebentar lagi.
"Aku sudah tahu, Fi. Kamu nggak perlu lagi ngasih tahu aku segalanya. Aku sudah paham kalau kamu menyukai Dafin. Kamu memilih dia daripada aku, 'kan?" tanyaku dengan menahan rasa sakit. Rasanya bagai ribuan pisau menyayat tanpa tubuh mendapat anastesi apa pun.
Fia mengangguk, sebuah gerakan kepala yang makin menusuk hati. Patah hati sesakit ini. Dalam kekalutan ini mendadak pikiranku melayang ke Nara. Apakah Nara juga merasakan hal yang sakit seperti ini?
Aku serasa mendapat karma, Nara lebih muda dari aku, Nara pasti tidak bisa menerima kenyataan ini dengan mudah? Aku saja hampir gila, bagaimana dengan dia?
Kupandangi lagi Fia. Lekat-lekat aku menatapnya dan mengunci pandangannya.
"Terima kasih ya, terima kasih kamu udah hadir dan ngasih warna di hidupku. Karena kamu aku mengerti dan merasakan apa itu yang namanya suka, apa itu yang namanya deg-degan, apa itu yang namanya pikiran ambyar dan nggak bisa fokus sama apa pun," jelasku. Perasaanku jangan di tanya lagi. Meski tersenyum perasaan getir dan terluka tetap bersarang dalam dada. Dan aku tak tahu kapan berakhirnya.
Namun satu yang pasti. Fia tidak memilihku. Jadi tidak ada alasan untuk aku mempertahankan hubungan ini.
"Dafan ...."
Fia menyebut namaku lirih. Semenyedihkan itukah aku? Sampai-sampai Fia memanggilku seperti itu. Malang dan kasihan.
Aku tersenyum lalu memegang pundaknya. "Walaupun akhirnya seperti ini aku akan menganggap ini sebagai pelajaran, aku akan menganggap penolakan kamu ini adalah pelajaran yang berharga."
"Dafan ...." Fia menitikkan air mata.
Aku tak bisa membiarkannya. Aku hapus setitik air mata itu dari pipinya dengan ibu jari. Kubelai pipinya dan dia memegang punggung tanganku. Mata kami bersitatap. Namun bukan tatapan cinta yang selama ini aku harapkan. Melainkan tatapan sendu penuh kesedihan dan penyesalan terpancar dari bola matanya yang bening.
"Maaf," ucapnya lagi.
Menggeleng-gelengkan kepala, aku mencoba bersikap biasa saja. Setidaknya aku ingin dia tenang. Biarlah aku yang sedih di sini.
"Nggak masalah. Berbahagialah, aku nggak akan mempermasalahkan ini lagi. Aku kalah, aku akan berlapang dada dan terima kenyataan. Mungkin aja kita gak diciptakan untuk menjadi pasangan melainkan hanya sekedar ipar ... ipar," ucapku lalu terkekeh ironi.
Fia menangis, air matanya meluruh makin banyak. Dia tertunduk dengan menutup mulut. Ternyata dia juga sedih dengan situasi ini.
Aku angkat dagunya dengan tanganku. Mata kami tentu saja saling berbagi pandangan lagi.
"Dafan ...." Lirihnya suara Fia. Aku makin tersiksa.
"Sudahlah, tenang. Jangan menyalahkan diri sendiri. Aku sudah lama menyukai kamu. Sudah lama juga mengantisipasi ini. Aku sudah bertekat akan tetap tenang apa pun keputusan kamu."
Kembali menghapus air mata Fia, lalu menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Aku tak sanggup mendengar dan melihatnya menangis. Fia adalah gadis tangguh. Gadis kuat yang memperjuangkan hak serta hidupnya. Aku jadi teringat saat pertama kali kami bertemu. Tatapannya sangat tajam saat aku tak sengaja menyentuh onderdil bagian dada. Dia sangat murka dan siap menghajar. Andai aku tak sigap waktu itu, sudah pasti akan jadi bulan-bulanan dia.
Mengingat pribadinya yang tegar dan sekarang—berurai air mata—aku jadi paham, dia pasti merasa begitu sedih karena aku. Dan aku, aku begitu tak tahu malunya selama ini memaksakan kehendak pada dia.
Fia maaf. Aku keliru.
Aku sapu lagi air matanya. "Aku baik-baik saja, Fia. Jadi jangan merasa bersalah."
Fia masih menatapku dengan nanar. Ada kesedihan yang mendalam dalam iris matanya yang cokelat.
"Maaf, selama ini aku mungkin jadi beban." Aku pegang tangan Fia sebelah kiri—karena sebelah kanannya memegang hadiah dari Dafin—lantas merogoh saku celana dan meletakkan kotak perhiasan di telapak tangannya yang tengah terbuka itu.
"Selamat ulang tahun. Berbahagialah," ujarku lalu tersenyum, sebisa mungkin aku menyembunyikan perasaan sakit ini meskipun aku tahu, dia pasti tahu perasaanku.
Fia merasa. Dia peka. Namun sayangnya yang jadi pilihan bukanlah aku.
Aku pun berlalu, pergi melangkah dengan dada membusung serta bahu yang aku buat setinggi mungkin, padahal dalam hati sangat terasa kerdil, sangat sakit perih, patah hati mematahkan segalanya.
Selama ini aku terlalu antusias dengan perasaan sendiri. Terlalu berharap lebih dan mencintainya terlalu dalam tanpa tahu cara mengakhirinya.
Merogoh saku celana, aku memutuskan menelpon nomor pak Sulaiman. Aku tak sanggup pulang, tak sanggup berhadapan dengan Dafin. Terserah saja jika dia menganggap aku pengecut atau apalah. Aku tak peduli, aku butuh waktu untuk berpikir. Butuh sendiri untuk menenangkan diri dan menenangkan pikiran yang kacau ini.
"Pak Sulaiman, tolong katakan sama orang rumah kalau aku sementara ini akan tinggal di apartemen. Sampaikan salamku pada Bunda," ucapku lalu menutup telepon.
Aku membalik diri dan melihat Fia masih saja mematung di teras rumah. Dari kejauhan aku melambaikan tangan.
Jika warna putih melambangkan duka, aku akan bekerja keras mewarnainya. Akan aku buat begitu banyak warna agar Fia tak merasa bersalah meski dalam hati aku kalah.
"Sampai jumpa lagi calon ipar."
Hua. mewek kan kalo jadi Dafan. Ayo vote yang banyak. Vote kalian penentu, apakah Dafan bahagia ataua sebaliknya. heheh
__ADS_1