
"Nara ...." Gegas Dafan mengangkat kepala. Ia salah tingkah. "K-kamu jangan salah paham, a-aku—"
Dafan menghentikan kata lalu menelan ludah. Matanya membelalak keheranan saat melihat Nara kembali terpejam. Saking tak percaya, ia bahkan melambaikan tangan di depan Nara dan memastikan kalau gadis yang tengah terlentang itu tengah tertidur. Antara senang, takut dan lega, pergumulan perasaan itu membuatnya berakhir menghembuskan napas panjang.
"Kamu bener-bener bikin aku hampir jantungan," gumam Dafan lalu terduduk disamping ranjang.
Menit demi menit berlalu, Dafan pun tetap memperhatikan wajah Nara dengan seksama. Entah kenapa, detik selanjutnya selaksa gumpalan daging berdetak dalam dada mulai berulah—bertabuh hebat dan tak berirama. Dafan mulai merasa kelimpungan karena efeknya.
"Ada apa ini?" gumamnya lagi seraya menekan dada. Bahkan tabuhannya makin hebat saja ketika mata melihat bibir merona Nara.
Lekas-lekas Dafan menggeleng. "Tenanglah Dafan. Tenang. Dia Nara, dia masih kecil," lirihnya lagi.
Dafan mulai mengatur napas. Otak yang sempat omes pun ia buang jauh-jauh. Kini matanya kembali melihat wajah Nara yang terpejam dalam damai. Senyumnya seketika terbit. "Sekarang kamu udah besar Nara. Sekarang kamu udah dewasa, maaf kalau selama ini aku terlalu meremehkan kamu."
Nara bergerak sedikit dan tentu saja membuat Dafan refleks berdiri dan panik. Namun senyumnya kembali terbit saat Nara meringkuk dengan memeluk lutut. "Dingin ... dingin," lirihnya.
Cepat-cepat Dafan menyelimuti gadis itu. Akan tetapi baru saja nyampai dada, kain itu Nara tendang hingga terjatuh ke lantai.
"Dingin ... dingin ...." Nara mengingau lagi.
Dafan kembali meletakkan selimut, tapi lagi-lagi kain tebal berwarna merah muda itu Nara tendang. Perasaan Dafan mulai kesal.
Berdengkus pelan, Dafan kembali meletakkan selimut itu dan apes sebuah tendangan mendarat di sarang burung pipit miliknya. Penghuni yang awalnya tertidur lelap dalam sana langsung belingsat kesakitan. Si burung pipit menjerit karena kejepit. Ya Tuhan, jangan dibayangin ya gaes.
Sementara si embah pemilik burung hanya bisa mengerang tertahan dan merapatkan paha. Sakit jangan ditanya lagi, rasanya seperti organ dalam serasa diremas dengan sangat kuat. Dafan tak bisa menahan, ia berakhir terjatuh dan terbaring di samping Nara.
Tak berapa lama, Fery tiba dan memarkirkan mobilnya dengan sembarangan. Ia sangat kacau saat tak mendapati Nara di dalam kelab malam. Pikiran buruk pun bersarang dalam benak dan beranak Pinak. Belum lagi ia tahu kebiasaan buruk Nara kalah mabuk—tak bisa mengontrol apa pun juga. Toleransi Nara pada alkohol begitu rendah tapi anehnya masih nekad juga.
"Dasar Nara. Apa yang kamu pikirin sampe mabuk lagi sih Ra?" gumam Fery dalam langkah.
Entah kenapa pikiran Ferry kembali ke beberapa jam yang lalu. Ia tahu betul sejarah Nara dan Dafan. Sekarang ia mengerti, kenapa Nara sampai kembali menenggak minuman itu padahal sudah lama tidak menyentuhnya.
__ADS_1
Fery berlari memasuki rumah Nara. Ia sudah tahu Nara sudah pulang dari sekuriti yang berjaga di depan tapi tetap saja ingin melihat keadaan Nara. Terlebih lagi ia mendengar kalau Nara diantar seorang pria.
Gegas Fery mencari keberadaan Nara dan sebuah pemandangan di depan mata membuatnya tertegun dengan bola mata membeliak. Nara ... gadis itu tengah terpejam dan ada Dafan di sebelahnya. Melihat itu Fery merasakan ada sesuatu yang tak kasatmata meremas dada. Sakit ... rasanya sungguh sakit. Luka tapi tak berdarah lebih terasa menyakitkan.
Perlahan-lahan Fery mendekat. Ia tetap melihat pemandangan tak mengenakkan itu dengan tenang. Ia menahan perasaan itu meski rasanya ingin murka. Mata yang tertutup kacamata sama sekali tak berkedip saat memindai penampilan rapi Dafan, pria dewasa yang membuat Nara menjadi jungkir balik dalam sekejap mata. Membuat Nara yang sudah bisa ceria kembali merasakan dan mengingat luka yang semat terlupakan.
Kini mata Fery melihat Nara. Ia duduk di sisi ranjang sebelah kiri dan merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu. Matanya sama sekali tak berkedip ketika melihat si adik kelas yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali jumpa. Gadis ceria yang selalu mengatainya sesuka hati. Anehnya ia tak punya dendam dan tak pernah membenci Nara. Ia ikhlas dihina atau dimanfaatkan oleh Nara. Senyum Nara yang tercipta karena kepatuhannya pada setiap permintaan Nara entah kenapa membuatnya candu. Senyuman dan tawa yang ingin ia lihat lagi dan lagi.
Perasaan aneh itu makin tak terkendali saat pertama kali melihat Nara menangis. Dan itu karena Dafan. Saat itu—empat tahun lalu—ia yang tak sengaja menabrak Nara dan melihat air mata gadis itu untuk pertama kalinya. Saat itu juga ia menyadari, rasa yang ada untuk Nara adalah cinta.
"Nara sepertinya sekarang waktunya buat aku maju. Maaf, mungkin hubungan pertemanan kita sampai di sini." Fery berkata pelan. Nyalang matanya melihat Dafan yang terpejam. "Aku nggak bakalan bikin dia nyakitin kamu lagi. Aku nggak rela, Ra. Aku beneran nggak rela. Bertahun-tahun aku ada di samping kamu. Aku selalu berusaha agar kamu selalu tersenyum. Aku selalu berusaha menjaga hati kamu agar tidak terluka. Dan sekarang si kunyuk yang ada di sebelahmu itu kembali menghancurkan segalanya. Sungguh, demi apa pun, Nara. Aku nggak rela. Aku akan berusaha lebih keras mulai sekarang. Maaf, mungkin aku akan berbuat curang. Tapi demi kamu aku nggak akan menyesal. Aku akan berusaha buat dapetin hati kamu. Aku akan berjuang lebih keras lagi demi menyelamatkan kamu dari cowok brengsek itu."
Mata Fery menyipit, lalu sedetik kemudian mengetatkan rahang. Sebenarnya tadi siang ingin sekali ia memukul Dafan. Hanya saja belum siap sandiwara yang bertahun-tahun ini dilakoni dengan baik terbongkar begitu saja. Terlebih lagi di depan Nara.
Fery menggenggam tangan Nara lalu menciumnya pelan. "Sepertinya sandiwaraku harus berakhir sekarang. Aku ingin mendapatkan kamu. Aku ingin jagain kamu. Aku ingin selalu ngeliat kamu tertawa dan itu karena aku."
Sekarang tangannya sudah beralih ke pipi. Perlahan ia mengusapnya. "Aku sayang sama kamu, Ra. Izinkan aku buat berjuang, izinkan aku melepaskan titel teman diantara kita dan berilah aku kesempatan buat berubah dari teman menjadi pacar. Izinkan aku, Ra. Aku janji bakalan bahagiain kamu."
"Ra, kamu bangun?" lirih Fery seraya menarik tangannya. Sayangnya Nara terlebih dulu menariknya dengan kuat sampai-sampai Fery ikutan terbaring di kasur.
Tak ada respon. Fery yang ketakutan mencoba memanggil. Anehnya lagi-lagi tak mendapat jawaban dari Nara. Berani-berani takut Fery pun mengangkat kepala dan mengintip wajah gadis itu dan mendapati mata yang sempat melotot ke arahnya beberapa detik yang lalu sudah kembali terpejam.
Fery tersenyum melihat wajah cantik Nara yang menggemaskan saat tidur. Perlahan ia tarik pergelangan tangannya. Hanya saja Nara seperti enggan melepaskan dan justru semakin mengeratkan pelukan seolah-olah lengan Fery adalah guling.
Ferry menelan ludah, tak menyangka hari ini lengannya kembali merasakan betapa lembut dan sintal roti isi susu murni milik Nara. Tentu saja sentuhan itu membuat Fery merasakan kepala atas dan bawahnya berdenyut dan berkedut hebat.
Perlahan tapi pasti, Fery kembali menarik lengan dan berharap bisa melepaskan pelukan itu tanpa Nara terbangun. Bisa brabe jika terlalu lama. Ia takut bakalan ada yang bangun. Bukan Nara bukan juga Dafan. Tapi si Otong yang mulai demam panas dingin di bawah sana.
"Jangan pergi, jangan tinggalin aku. Aku butuh kamu," igau Nara dengan mata yang masih terpejam.
***
__ADS_1
Di jam yang sama. Sisi yang tengah kesal keluar dari rumah dan melihat mobil orang yang dikenalnya dengan sangat baik sedang terparkir indah di tepi jalan. Sebenarnya sudah lama ia menyadari akan hal itu dan berniat mengabaikan. Hanya saja tak enak dengan penghuni kontrakan yang mulai protes. Belum lagi nantinya pasti akan menjadi gunjingan tetangga mengingat sekarang sudah tengah malam.
Sungguh, ia sangat kesal pada si pemilik mobil—Miko—bisa-bisanya mengatakan ingin berbicara hal yang penting padanya saat di pesta beberapa jam yang lalu. Ia yang terlanjur baper berharap akan dilamar mengingat sang mantan bahkan akan menikah dalam beberapa hari.
Sayangnya semua diluar ekspektasi. Setelah berada di luar rumah pria itu malah meninggalkannya dengan alasan dipanggil tugas. Ia disuruh menunggu. Karena berpikir Miko hanya sebentar Sisi pun menunggu hingga satu jam berlalu begitu saja.
"Ngapain ke sini?" tanya Sisi dengan sorot mata elang.
Miko tak menjawab. Ia yang masih mengenakan pakaian serba hitam membuka pagar lalu mendekati Sisi.
"Apa Nona marah sama saya?" tanyanya balik.
Sisi mendesis. "Nggak, kenapa juga aku marah sama laki-laki yang enggak pernah ngelakuin kesalahan kayak kamu?"
Miko menunduk. Perkataan yang menyindir kalbu itu membuatnya mengerti kalau sang kekasih tengah merajuk. "Maaf, saya kira tadi bakalan sebentar, taunya lama. Saya mau menghubungi Nona tapi ponsel saya mati."
"Ya ya ya ...." Sisi tersenyum sinis. "Kamu nggak salah, kok. Jadi sekarang lebih baik kamu pulang. Sekarang udah malam. Udah jam satu. Sekarang bukan lagi waktu yang tepat untuk kita bicara. Pulang aja. Aku mau tidur. Udah ngantuk," lanjut sisi dengan wajah jutek.
"T-tapi ...."
Sisi tak mau mendengar lagi. Ia membalik diri hendak masuk rumah, tapi Miko mengambil inisiatif dan mencekal tangan Sisi dari belakang.
"Nona, kasih saya waktu 3 menit saja. Kita perlu bicara."
Miko mengeluarkan kotak cincin perhiasan dari dalam saku. Perhiasan yang rencananya akan ia kasih pada sisi di pesta tadi. Hanya saja panggilan tugas tidak bisa diabaikan. Jadi dengan berat hati ia meninggalkan Sisi begitu saja.
Merasa tak mendapat respon, Miko kembali memanggil dengan suara memelas.
Sayangnya rasa kekesalan yang ada di diri Sisi makin menjadi. Gadis berpiyama Spongebob Squarepants itu pun balik diri lalu menatap Miko.
"Miko, kayaknya kita break aja dulu."
__ADS_1