
"Anya Danurdara Senja!"
Teriakan Dafan menggema. Ia yang baru saja membuka pintu menatap seisi rumah dengan tatapan elang. Sikon yang harusnya mengharu biru bertemu kangen dengan orang tua menjadi buyar. Ia murka dan mencari si tersangka biang rusuh. Bisa-bisanya gadis itu membocorkan kepulangan yang harusnya menjadi rahasia keluarga kepada Nara.
"Dasar gadis nakal. Awas kamu ya," gumamnya geram. Tangan sudah terkepal. Kekesalan pada si bungsu sudah sampai ke ubun-ubun. Ia masuk rumah dengan napas yang menderu.
Melihat sang adik tak keluar, ia kembali berteriak, "Anya! Keluar gak kamu!"
Semua orang tentu saja keluar. Chandra dan Litania yang kamarnya ada di lantai bawah langsung menghampiri Dafan yang berada di anak tangga.
"Kamu kenapa, Fan? Kenapa teriak-teriak?" tanya Litania keheranan. Tak seperti biasa si sulung yang selalu tenang kini menjadi beringas. Ia tarik lengan Dafan dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Coba cerita, kenapa kamu marah-marah begini? Dan ini." Litania memegang kaus putih Dafan yang ada jejak bibir wanita berwarna merah, "ini kamu habis ngapain?"
Litania menghela napas resah. Sebuah pemandangan yang jujur membuatnya khawatir. Ia lantas memegang dagu, leher serta dada Dafan. Semua tak luput dari pandangannya. "Kamu gak yang macem-macem, 'kan, Fan?" tanyanya penuh selidik.
"Aku gak ngapa-ngapain, Bun. Justru aku yang diapa-apain. Itu semua gara-gara Anya. Dia yang udah bikin aku malu," jawab Dafan dengan mengetatkan rahang. Mata nyalang menatap pintu kamar Anya yang ada di lantai dua rumah mereka.
"Malu gimana?" Kini Chandra yang bertanya. Ia yang duduk di depan Dafan sampai membuka kacamata. Kulit sekitaran mata yang berkeriput tetap tak bisa menutupi betapa seriusnya ia saat ini.
__ADS_1
"Nara, Yah. Ini semua karena Nara. Dan biangnya itu si Anya," jelas Dafan.
"Kalau cerita itu yang jelas, Dafan. Pelan-pelan ceritanya biar Bunda sama Ayah paham. Apa hubungannya Nara, Anya, sama kamu yang pulang larut malam begini? Dan penampilan kamu ini ...." Litania menjeda kata sejenak. Matanya menyipit tajam. "Jangan bilang kamu main perempuan," cecarnya kemudian. Walaupun di matanya Dafan adalah anak baik dan penurut, tetap saja anaknya itu laki-laki yang pergaulannya di luar negeri.
"Ya gak mungkinlah, Bunda. Aku bertahun-tahun belajar buat jadi dokter. Aku gak bodoh sampe ngelakuin hal rendah kek begitu."
"Nah, lalu ini apa? Lipstik siapa ini?" tanya Litania lagi seraya menarik baju Dafan yang terkena noda.
"Ini itu lipstiknya Nara," papar Dafan.
Sekonyong-konyongnya wajah cemas Litania dan Chandra, meluntur. Mereka menghela napas lega. Paling tidak Dafan tak mungkin melakukan hal tidak senonoh pada Nara.
"Iya, Yah. Tu anak reseknya minta ampun. Aku diajak keluyuran. Muter-muter Jakarta dengan tujuan yang gak jelas."
Litania dan Chandra manggut-manggut. Mereka tak tau harus bereaksi seperti apa mengingat tingkah Nara memang kekanakan, sebelas dua belas ( sama saja ) dengan anak mereka, Anya.
"Sumpah ya, Bun. Aku gedek ama tu anak. Dia ngejer-ngejer terus. Aku risih, Bun." Dafan menyugar kasar rambutnya dengan jari. Ia tatap lekat wajah sang ibu. "Bisa gak Bunda kasih tau Nara atau mamanya. Biar gak ngelakuin hal memalukan. Aku calon dokter, Bun. Aku harus menjaga image di depan kolega maupun pasien nantinya. Kalau dia selalu deket aku, takutnya orang-orang mikirnya ke arah negatif," ujar Dafan.
Tercurah semua keluh kesah yang selama ini ia tahan sendiri. Rasanya toleransi untuk Nara sudah tipis bahkan cenderung habis. Nara sudah 17 tahun. Harusnya bisa mengerti sesuatu yang tak patut dilakukan sebagai perempuan. Mengejar laki-laki dan bersikap genit bukanlah sesuatu yang patut dimaklumi. Pasti akan ada sebab akibat dari tingkahnya itu.
__ADS_1
"Tolonglah, Bun. Bicara sama orang tuanya. Biar mereka ngasih tau ke Nara," lanjut Dafan lagi. Wajah lelah dan penampilan kusut pria muda itu membuktikan segalanya. Ia Frustrasi.
Litania dan Chandra hanya saling pandang dalam diam. Mereka juga tak bisa berbuat banyak. Bukan karena tak mau, cuma semua itu di luar kendali mereka sebagai orang tua.
"Dafan ...."
Litania sentuh pundak Dafan yang sudah tersandar di sofa.
"Bunda sama Ayah gak bisa ngelakuin apa-apa, Fan. Bukan gak mau, tapi memang gak bisa. Cinta itu perasaan individu. Kamu boleh-boleh saja gak suka dia, tapi kamu juga gak berhak nyuruh dia buat benci kamu. Perasaan orang itu hak masing-masing. Mau dia suka kek, benci kek, kita gak berhak mengatur. Bunda, Ayah maupun orang tua Nara juga gak bisa bantuin kamu. Ini masalah kalian. Jadi kalianlah yang harus menyelesaikannya sendiri," jelas Litania lemah lembut. Ia belai rambut tebal Dafan. "Sekarang kamu istirahat, ya. Udah malam. Kamu pasti lelah."
Dafan kembali duduk tegak. Matanya kembali menatap tajam ke pintu bercat ungu—kamar Anya. "Aku gak bisa istirahat sebelum ngasih pelajaran ke Anya. Anya biang keladinya. Anak itu harus—"
"Udah, Anya jangan kamu ganggu dulu," sela Litania. "Dia hari ini udah Bunda hukum gak boleh ke mana-mana dan gak boleh keluar kamar. Ponselnya pun udah Bunda sita."
"Lah?" Dahi Dafan mengernyit. Pantas saja adiknya yang resek itu tidak keluar kamar.
"Memangnya Anya kenapa, Bun?" tanyanya. Mendadak ia prihatin akan nasib Anya. Dikurung tanpa ponsel pastilah membuat frustrasi apalagi untuk remaja yang tak pernah jauh dari gadget dan internet.
Lagi, Litania mendesah. Air muka kecewa tercetak jelas. "Bunda sengaja, biar dia introspeksi diri."
__ADS_1