
Berputar ke kiri dan ke kanan, Litania tampak mengembangkan senyuman. Ia begitu menyukai gaun yang dipakainya sekarang. Gaun hitam selutut tanpa lengan dan kerah yang tidak terlalu lebar. Begitu anggun dan pas di tubuhnya yang langsing. Ada rasa congkak ketika melihat diri di cermin. "Aku ternyata cantik." Nyengir kuda, Litania kembali berputar-putar hingga suara ketukan pintu menghentikan kegiatan anehnya itu.
"Kamu jadi pergi sama Fabian?" Sita bertanya seraya merebahkan diri di sisi ranjang. "Kamu udah mikirin sisi positif dan negatifnya. Ingat, kamu masih berstatus istri orang, nanti bagaimana pandangan orang-orang sekitar sini?"
Litania menekuk sedikit wajahnya. "Aku nggak peduli pandangan orang lain, Nek. Aku hanya ingin bahagia, ingin bebas. Toh kita makan bukan mereka yang ngasih. Mereka nggak ada hak buat mendikte atau ngatur-ngatur hidup aku. Mereka tahu apa?"
Tanpa sadar, lagi lagi keluar air bening dari pelupuk mata Litania. Teringat jelas di ingatan saat Candra tengah tersenyum dan tertawa bersama seorang wanita. Seakan-akan dirinya tak pernah berarti. Istri pergi, wanita lain menghampiri. Ck, dasar bangkotan ganjen, rutuk Litania dalam hati.
"Apa kamu nggak bisa maafin dia. Kasihan, dia sepertinya udah menyesal. Kasih dia kesempatan, hm ...."
Litania bergeming. Ia arahkan wajahnya ke arah lain—diam-diam menghapus jejak air matanya.
"Ini." Sita menyerahkan sepucuk surat berwarna coklat ke tangan Litania. "Nenek dapat surat ini tadi sore."
"Dari siapa?"
"Rania, bacalah. Biar kamu ngerti. Gak baik mendahulukan emosi. Pikirin jalan terbaiknya." Menepuk bahu Litania, Sita pun kembali berucap, "Ya udah, Nenek keluar dulu. Kamu pulangnya jangan terlalu larut."
Litania mengangguk. Ia buka surat itu saat punggung sang nenek telah hilang ditelan daun pintu.
Litania, maaf, aku hanya bisa menyapa lewat surat. Aku terlalu malu buat pamit dan jujur sama kamu. Aku malu Litan, sebagai perempuan harusnya aku gak kayak gitu. Harusnya aku sebagai perempuan bisa ngerti posisi kamu. Tapi aku terlalu buta. Aku serakah. Aku ingin Chandra. Aku ingin laki-laki baik itu memilihku. Maafkan aku karna udah ngancurin keluarga bahagia kalian. Maaf ... karena aku, rasa percayamu sama dia langsung hilang.
Aku sadar, kata maaf sekarang gak penting lagi buat kamu. Aku paham kamu kecewa sama Chandra. Tapi percayalah. Hanya kamu yang dia sayang. Soal aku, kamu jangan ambil pusing. Aku hanyalah kesalahan. Dan kesalahan berhak dapat ampunan.
Jangan terlalu keras sama dia. Malam itu terjadi karena kesalahanku juga. Dan selama ini dia menyembunyikan kami karna aku yang minta. Dia lelaki bertanggung jawab Litan. Aku baru pertama kali bertemu laki-laki hampir mendekati sempurna seperti dia. Mungkin itulah yang buat aku lupa diri.
__ADS_1
Dulu waktu kami bertemu untuk kedua kalinya. Dia pernah ngajak aku nikah. Dia ingin anak yang aku kandung dulu mempunyai status dan mendapat kasih sayang yang layak. Tapi bodohnya aku. Aku tolak dia. Dan sekarang aku nyesal. Kuharap kamu juga jangan pernah mentingin ego. Karan ujungnya pasti penyesalan.
Soal Chandira, aku akan besarin dia dengan penuh kasih hingga dia lupa dengan ayah kandungnya. Aku bisa jadi perempuan tangguh kayak yang lain. Aku akan berjuang demi Chandira. Ku harap kalian juga bisa berjuang untuk bahagia.
Maaf beribu kali maaf*.
***
Membuang pandangan ke arah luar jendela mobil, Litania asyik dengan pikiran sendiri. Gadis itu bahkan tak mendengar kalau pria yang ada di sebelahnya telah berdehem berkali-kali. "Gimana acaranya? Kamu suka? Coklatnya enak-enak, 'kan?"
Hening, Litania bungkam. Sebuah balasan yang membuat Fabian menautkan alis, heran akan sikap Litania yang tak seperti biasa. Ia sentuh pundak Litania. "Kamu kenapa? Ngelamun mulu dari tadi."
Menggeleng lesu, Litania tak bertenaga untuk bicara. Otaknya bekerja keras memikirkan nasib rumah tangganya. Ia galau, gelisah antara lanjut atau udahan.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan suami kamu?"
Litania menghela napas panjang. Mendengar perkataan Fabian makin menambah rasa bersalahnya. Bagaimana kejamnya ia menghukum Chandra, dari verbal hingga fisik.
Litania tertunduk lesu. "Lalu aku harus apa?"
"Saran aku, maafin dia. Kasih dia kesempatan sekali lagi. Kalau dia masih berulah, hubungi aku. Aku akan senang hati mengganti posisinya."
Menolehkan wajah ke arah Fabian, Litania jelas terkejut akan ucapan ambigu itu. Namun dia tidaklah bodoh. Ia tau maksud dari ucapan Fabian. Lelaki dewasa dan tampan itu pasti menaruh hati untuknya. "T-tapi aku...."
"Iya, aku tau. Kamu masih berstatus istri orang. Makanya aku gak berani lebih dari seorang teman. Walaupun di sini." Fabian menepuk dadanya sendiri. "Rasanya sakit. Sangat sakit. Pura-pura bahagia itu sakit, loh."
__ADS_1
Litania masih bungkam. Tak tau harus menghibur Fabian yang tengah patah hati atau bersyukur karena Fabian tidak memperumit keadaan.
Litania remas jemarinya yang kaku. "Maaf ...."
Tersenyum manis, Fabian usap
pucuk kepala Litania. "Kenapa minta maaf. Harusnya aku yang minta maaf. Maaf aku gak bisa ngejaga hubungan pertemanan ini. Aku udah usaha, tapi tetap aja gagal. Kamu itu cantik, baik dan ceria. Aku tergoda karena itu."
Litania makin salah tingkah. Pipinya bahkan sudah memerah dan menegang. Sebuah pemandangan yang membuat Fabian kembali terkekeh pelan. "Tenanglah. Aku masih waras. Ini hanya pengakuan cinta sepihak. Aku gak perlu jawaban. Aku cuma mau ngungkapin perasaan ini biar aku bisa mengakhirinya."
Menoleh Litania yang sudah tertunduk dalam, Fabian kembali berucap, "Aku harap kamu bisa bahagia. Aku sudah cari info tentang suami kamu itu. Dia orang baik, pekerja keras, tapi sayangnya dia peminum aktif. Saran aja ni, coba nanti kalau kalian kembali. Ubah dia. Ubah biar menjadi lebih baik."
Litania mengangguk, perasaan canggung masih mendominasi pikiran hingga untuk berucap saja terasa enggan.
Tanpa terasa, mereka sudah tiba di depan rumah Litania. Perjalanan panjang yang dihiasi dengan pengakuan cinta Fabian. Sebuah keadaan yang tak pernah Litania bayangkan sebelumnya. Ia memang nyaman berdekatan dengan Fabian. Namun, untuk masalah perasaan, ia hanya menganggapnya teman.
Membuka pintu mobil, Litania arahkan pandangannya pada Fabian yang juga telah tersenyum padanya. "Terima kasih banyak. Maaf aku gak bisa berbuat apa-apa untuk bales kebaikan kamu."
"Jangan minta maaf. Aku harap kita tetep temenan." Fabian mengukir senyuman sebelum akhirnya berlalu pergi.
Namun, tanpa Litania duga, sebuah mobil Carry mendekat dan turunlah dua orang pria bertubuh tambun dengan topeng di wajah menghadang jalannya.
"Siapa kalian?" Litainia mundur tiga langkah. Mendadak dirinya seperti mengalami sindrom deja vu. Teringat insiden penculikan yang dialaminya ketika di Bali.
Masih memancarkan tatapan menghunjam, Litania kembali berteriak, "Siapa kalian! Apa mau kalian!"
__ADS_1
"Neng cantik, ayo ikut kami."