
"Iya, Nek. Aku paham. Nenek ke sini donk. Temenin Litan."
Jeda sejenak. Litania terdiam mendengarkan sahutan sang nenek yang ada di seberang telepon.
"Iya, Nenek Sayang ... Nenek jangan terlalu capek, ya. Jaga kesehatan. Litan tunggu di sini."
"Iya, Litan tau. Bang Chandra juga pasti jagain Litan, kok. Nenek tenang aja. Litan bahagia dapat suami kayak dia. Suer!" Litania terkekeh, ia pegang perutnya yang juga bergerak karena tak bisa berhenti tertawa. Sebuah pemandangan yang mengundang rasa kepo Chandra hingga berakhir mendekat dan menguping.
Lagi ngobrolin apaan dia sampe ketawa begitu? Chandra membatin heran tapi masih setia berdiri dengan tenang di belakang.
"Iya, nanti kabarain aja ya, Nek. Biar bisa langsung dijemput."
Sesaat setelah Litania mematikan panggilan telepon, sebuah kalungan tangan dari belakang mengagetkan, disusul kecupan hangat di ceruk lehernya. Litania tentu saja bergidik, ia tahu siapa tersangkanya. Siapa lagi kalau bukan Chandra, si bangkotan tersayang yang bucin bukan kepalang.
"Dih! Kebiasaan, deh. Suka banget ngagetin. Kalau aku punya penyakit jantung, gimana? Bisa mati duluan. Emangnya mau jadi duda? Enak donk kalau jadi duda. Dapat cari istri baru," sungut Litania, sebuah ucapan yang langsung dibales Chandra dengan cubitan di pipi.
"Auh! Sakit, Yang!" rengeknya lagi.
"Makanya, mulut itu kalo ngomong jangan sembarangan. Ingat, setiap ucapan itu adalah doa. Masa nggak tahu, sih. Anak kecil aja tahu lho kata-kata itu." Mengangkat wajah dari ceruk leher, Chandra putar bahu istrinya agar mereka bisa saling berhadapan. "Mulai sekarang, ucapan itu difilter dulu. Kamu itu bentar lagi bakalan jadi orang tua. Apa jadinya nanti kalau anak-anak kita lahir dan denger gaya bicara kamu seperti ini. Yang ada ntar mereka ikutan ngasal, kek kamu."
Degh! Serasa ditusuk jarum. Hati Litania sakit. Wajahnya berubah merah. Ia tatap nyalang suaminya.
"Jadi, maksud Bang Chandra aku gak pantes jadi orang tua, gitu?" Litania memasang wajah cemberut, bibir mengerucut dengan mata menyipit. Tak lupa pula tangan sudah terlipat di dada. Sedetik kemudian ia buang wajahnya ke arah lain. Marah.
"Loh, kok kesimpulannya begitu." Chandra pijit pelipis. Fix istrinya itu tengah salah paham. "Hey, lihat sini," lanjut Chandra.
Namun, Litania bergeming. Dengkusan terdengar jelas. Masih tak terima.
__ADS_1
"Hey, lihat suami kalo suami lagi ngomong. Katanya mau berubah. Katanya mau jadi istri penurut. Katanya cinta. Jadi, ayo lihat sini. Tatap wajah suamimu yang ganteng ini. Jangan buang muka begitu. Gak sopan."
Litania kembali berdengkus, tapi berakhir menurut. Ia lihat dengan seksama pria tampan yang bermata teduh di hadapannya itu. "Kenapa, mau ngomel lagi? Mau bilang aku gak pantes jadi orang tua? Atau ada yang mau kamu tambahin lagi?"
Chandra usap wajahnya dengan sebelah tangan. "Bukan ngomel, Sayang. Suamimu ini cuma ngasih nasehat. Maksudku sebelum ngomong itu disaring dulu. Anak itu bakalan nurut apa yang orang tua ucap dan lakukan. Kamu gak mau kan anak kita jadi badung?"
Mata Litania makin menyipit. Darahnya berdesir. "Apa itu maksudnya? Menurutmu aku ini perempuan badung, begitu? Kamu takut anak-ansk bakalan ngikutin sikap aku, bagitu?" Litania makin kesal, emosinya sudah sampai puncaknya.
Aih! Chandra salah tingkah. Ia urut tengkuknya yang mendadak nyeri. "Bukan, Sayang. Maksud aku, bertingkahlah yang sopan. Yang mencerminkan sikap orang tua, santun dan tenang. Kita harus jaga kelakuan dan lisan agar gak nyakitin perasaan orang lain.
"Lagian, menurut aku, kamu itu bukan badung. Kamu itu tangguh, Litan. Pinter berantem tapi gak semena-mena sama orang lain. Plus, hati kamu tulus. Kamu punya jiwa pahlawan di tengah hancurnya rasa empati dijiwa kaum muda sekarang ini. Aku pun berharap anak-anak kita tangguh kayak kamu. Jadi gak akan bisa dikadalin orang lain."
"Terus salahnya di mana?"
"Salahnya, jangan diliatin juga. Simpen aja gitu. Jadi jimat. Kalau ada yang macam-macam baru deh, sikut."
Litania masih belum paham. Ia hanya mampu mengerjap tanpa berani bertanya.
"Ya laki-laki kalem lah, kek kamu, tampan, kaya, sopan, dewasa, dan yang lebih utama, aku cinta."
"Bisa aja ...." Chandra tergelak jenaka. Bisa-bisanya Litania menggombal saat dirinya tengah memberi wajengan. "Jadi paham 'kan maksud aku. Mungkin ini terdengar gak tau malu, tapi aku berharap anak-anak kita nurunin sikap aku. Kalem, lembut, perhatian, setia, pekerja keras, rajin menabung juga penyanyang."
"Ya elah, ada yang gede kepala," cibir Litania, senyumnya terukir. Rasa kesalnya mendadak hilang.
Lagi, Chandra tergelak. "Tapi aku juga berharap banget kalau anak-anak kita nurunin bibit kamu, tangguh."
Litania mengangguk. Tangguh itu perlu. Harus punya prinsip dan keteguhan hati agar tak terintimidasi. Apalagi untuk laki-laki. Jangan baru digoda dikit langsung oleng.
__ADS_1
"Jadi paham, 'kan?" tanya Chandra. Litania mengangguk dengan senyum yang jelas terasa canggung.
"Sini, duduk sini," ajak Chandra seraya menuntun tubuh istrinya duduk di kursi yang ada di balkon lantai dua rumah mereka.
Litania menurut, ia duduk santai bersebelahan dengan Chandra.
"Tadi kamu nelpon siapa?"
"Oh itu, tadi aku habis nelpon nenek mau ngajakin dia nginep di sini."
"Terus dia mau?" tanya Chandra.
Litania mengangguk cepat. "Mau, tapi belum tahu hari apa. Katanya sekarang masih sibuk. Entar kalau udah siap nanti dia ada ngabarin."
Chandra menganggukan kepala, diusapnya perut Litania yang terbalut langerie berwarna merah muda. Seketika itu juga matanya membola. Ada pergerakan di dalam sana.
"Sayang, anak kita gerak."
Chandra berucap, antusias. Bibirnya tertarik, matanya berbinar. Mendekatkan kupingnya ke perut Litania ia berharap mendengar suara dari dalam sana. Ya mustahillah Bambang!
Litania tertawa gemas. "Ngapain mempelin kuping di sana. Mau dengar mereka nyanyi?" goda Litania. Tawanya makin renyah saja.
Sementara Chandra, wajahnya memerah karena malu. Sebenarnya itu refleks saja. Mengingat betapa nyaringnya suara detak jantung mereka saat di rumah sakit tadi siang.
"Entah, keknya aku udah gila," balas Chandra seraya terkekeh.
Meskipun bayi-bayi mereka sudah aktif bergerak, tapi tetap saja setiap merasakan pergerakan di dalam sana membuat Chandra bahagia bukan kepalang. Tak sabar, sungguh tak sabar akan kelahiran buah hatinya itu.
__ADS_1
Kini Chandra usap lagi perut membuncit Litania seraya mendekatkan wajahnya. "Jagoan jagoan Ayah harus sehat. Jangan nakal di dalam sini. Kasihan Bunda kalau kalian barantem." Lalu mencium perut yang membuncit itu, kanan dan kiri ia kecup dengan penuh cinta. Lantas kembali mengusapnya.
Litania menyugar rambut tebal suaminya, pelan. "Aku nggak sabar pengen ngelihat mereka lahir."