
"Lepasin, sakit tau gak!" teriak Tania. Gadis gendut itu meringis dengan posisi berlutut dan lengan terputar ke belakang.
"Ini tu gak seberapa dengan rasa sakit yang udah kalian tanam di hati aku. Aku bahkan makin gak percaya diri dengan apa pun. Tapi aku sadar, aku harus kuat agar bisa ngadepin orang-orang kayak kalian ini." Tersenyum licik, Litania lantas mendorong tubuh gempal Tania hingga menabrak tubuh dua orang temannya. Lita dan Nia tampak meringis karena tertimpa badan berat Tania.
"Rasain!" Litania tergelak nyaring. Mata masih saja menunjukkan ketidaksukaan. "Ini balesan dari aku."
"Kau monster, Litania," balas Nia, si gadis tomboi.
"Apa, monster?" lagi, Litania terkekeh jenaka. Mendengar umpatan Nia membuatnya kembali mengingat masalalu hingga tawanya makin nyaring saja. "Apa kau amnesia? Harusnya aku yang bilang begitu, yang monster itu kalian. Entah udah berapa banyak kalian ciptain monster kayak aku ini."
Menepiskan debu yang menyangkut di baju, Litania pandang tajam tiga orang yang tengah terduduk itu. "Dulu aku lemah, dulu aku cengeng, tapi nggak sekarang kawan-kawan. Aku tangguh dan dan juga aku berkuasa. Apa kalian nggak tahu siapa mertua dan suamiku?"
Lagi, seringaian Litania makin mengerikan saja. "Apa kalian tau, hanya dengan satu kali aduanku, kesombongan kalian ini, kecongkakan kalian ini bakalan musnah. Aku tau keberanian sama kekurangajaran kalian ini berada di balik kesuksesan orang tua Lita, iya, 'kan? Tapi hanya dengan satu kali rengekan dariku, semuanya bakalan hilang."
Tatapan Litania makin mengerikan saja. Ancamannya juga bukanlah omong kosong belaka. Tania dan Nia saling adu pandang. Wajah mereka menampakkan kegusaran.
Memandang tajam pada Lita, Litania kembali menyuarakan kebencian. Ia bahkan berdengkus lantas bersedekap dada.
"Dan kamu Lita. Orang tuamu memang kaya. Paman bibimu juga sukses dalam bisnis mereka. Tapi tetep aja, gak sekaya mertuaku. Aku tahu dulu kamu sombong karena orang tuamu memiliki beberapa percetakan. Tapi apakah tahu, hanya satu kali pinta dariku percetakan keluargamu itu bisa melayang." Gelak tawa Litania makin menyeramkan saja, membuat Nia dan Tania yang berada di samping Lita hanya berani diam.
Sementara Lita, tentu saja memucat. Kini tatapan garang Litania tertuju pada dua kacung Lita—Tania dan Nia.
__ADS_1
"Dan kalian. Aku tahu kalian selama ini ikut berada di belakang Lita karena orang tuanya. Aku tahu kalian setia sama dia hanya karena uang. Ayolah, kalau aku hancurkan keluarga Lita, apa kalian mau berteman dengannya?"
Telak. Perkataan Litania sontak membuat Nia dan Tania makin gugup. Mereka bahkan berdiri dan sedikit menjauh dari Lita. Semua yang Litania beberkan memang benar adanya. Mereka hanya dari keluarga menengah yang bergantung pada Lita, gadis manja yang semua keinginannya selalu dituruti orang tua.
"Pokoknya aku ingin menyelesaikan karma buruk di antara kita. Aku sebenarnya nggak mau cari musuh. Aku sebenarnya ingin berteman dengan siapa saja. Tapi aku sadar ternyata sistem kasta di negara kita ini begitu melekat hingga mendarah daging ke anak cucu, bahkan kalian yang dulunya masih kecil pun bisa bertindak anarki dan brutal."
Nia dan Tania tertunbuk. Namun tidak untuk Lita, gadis itu berang. Ia betulkan posisinya lalu membersihkan gaun yang sedikit kotor—terkena gesekan pasir. Ia tetap wajah Litania lantas membuang ludah.
"Jangan sok, kamu! Nikah sama orang kaya aja udah belagu. Sekarang aku yakin kalau kamu memang menjadi perempuan penggoda, perempuan nggak bener, ******* murahan, perempuan sundal."
"ish ish ish ish."
Litania berdesis seraya menggelengkan kepala. Entah mengapa melihat muka gusar Lita dan mendengar cacian nyelekit seperti itu tak membuatnya sakit hati lagi, malahan menjadi kasihan. "Ayolah Lita, sadar. Benahi diri, perbaiki diri agar teman-teman mau mendekati kamu tanpa ada embel-embel uang di belakangnya. Apa kamu yakin dengan bersikap semena-mena pada orang yang lemah bakalan membuatmu menjadi hebat? Apakah kamu yakin mereka menyukaimu dengan tulus? Apa kamu yakin mereka peduli denganmu?"
Litania tak menggubris. "Sudahlah, aku nggak mau berurusan dengan kamu lagi. Aku mau pulang, aku mau bermanja dengan suami yang cinta banget sama aku, yang rela ngasih apa pun yang aku mau, yang tulus sama aku. Jadi saranku, jadilah pribadi yang baik, Lita. Agar orang lain tulus sayang sama kamu, agar keberuntungan memihakmu."
Lita tak menjawab. Emosinya naik ke ubun-ubun. Ceramah Litania yang panjang lebar melukai harga dirinya di depan Nia dan Tania.
"Ya sudahlah, aku mau pulang," ucap Litania lagi. Ia putar tumitnya meninggalkan ketiga remaja itu. Melangkah pasti meninggalkan masa lalu yang suram tapi juga menjadi pembelajaran hidup dan penguatnya hingga bisa menjadi setangguh sekarang.
Namun, Lita tak terima. Ia menggeram, kepalan tangannya bahkan sudah mengepal kuat. Nasehat dari Litania serasa ejekan di telinganya.
__ADS_1
Meraih batu yang ada di dekat kakinya, Lita pun berlari dan berniat untuk menyerang Litania dari belakang. Beruntung, Nia dan Tania berteriak mengingatkan sehingga Litania bisa menghindar. Litania memundurkan diri dua langkah lantas membalas dengan tendangan.
Bugh!
Tendangan kaki Litania mendarat tepat di bahu. Gadis keras kepala itu tersungkur dan membentur pohon. Suara ringisan pun terdengar.
Lita kacau, hatinya hancur, orang yang dikiranya teman dan selalu bersamanya sedari kecil ternyata menghianati. Lita tatap nyalang Litania kemudian beralih ke kedua temannya. "Kalian tega tahu nggak," ucapnya seraya menangis. Sementara tubuh masih saja terduduk lemas di bawah pohon.
"Enggak Lita, kami nggak kejam. Sebenarnya apa yang dikatakan Litania itu benar. Kami bersamamu hanya karena uang. Dekat sama kamu, kami nggak perlu lagi mikirin uang semester maupun uang jajan. Kamu mempunyai sesuatu yang enggak kami miliki," jujur Nia.
"Iya, Lita. Aku setuju apa yang Litania katakan. Lebih baik kita berubah. Ucapannya memang benar. Aku sadar kita memang salah selama ini. Dan untuk Litania ... aku mau minta maaf. Maafkan kami," ucap Tania.
Nia mengangguk. "Iya, aku juga."
Senyum merekah Litania begitu indah. Ia hampiri dan peluk dua orang itu dengan hangat secara bergantian. "Aku udah maafin. Membenci pun percuma. Bikin lelah. Sekarang kita bisa jadi temen, 'kan?"
Nia dan Tania mengangguk setuju.
"Makasih banyak." Kini Litania melihat Lita yang sudah bermuka masam. Namun, ia balas wajah tak enak itu dengan senyuman lalu mengulurkan tangan. "Kita bisa temenan, 'kan?"
Akan tetapi bukannya menjabat tangan terulur Litania, Lita malah berdengkus. Ia tepis tangan itu lantas berlari menjauh. Rasa malu, kesal dan benci makin menjadi. Litania ternyata lebih beruntung darinya, bahkan teman-temannya pun sekarang sudah pergi dari sisinya.
__ADS_1
Mengelap air matanya yang meluruh, Lita membatin, awas kamu Litania, aku bakalan bales kamu. Aku bakalan bales rasa malu ini dengan berkali-kali lipat. Aku benci kamu Litania. Aku benci.