Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Penjelasan.


__ADS_3

"Jangan galak-galak, dong. Dengerin aku dulu."


"Iya, ni aku juga dengerin. Cepetan cerita," desak Litania tak sabar.


"Gini-gini." Chandra peluk pinggang Litania dan mengambil alih tubuh ramping itu hingga berakhir duduk di pangkuan, "tadi itu ayahnya Kinar."


Litania mendelik. Namun memutuskan diam dan mendengar lanjutan.


"Sebenernya ayahnya Kinar itu minta tolong aku untuk mendidik Arjun. Tapi kamu jangan bilang-bilang, ya. Ini rahasia kita sebelum mereka resmi menikah."


Mata Litania makin membulat, tak percaya. "Jadi mereka beneran bakalan nikah?" tanyanya histeris hingga kuping Chandra berdengung.


"Bisa gak diem dulu." Chandra mulai sewot. Ia sentuh kupingnya yang terasa panas.


Litania nyengir lalu mengangguk patuh, memperhatikan wajah tampan Chandra dengan seksama. Tangan bahkan sudah terkalung mesra di leher suaminya itu. "Terus."

__ADS_1


"Jadi, ayahnya Kinar ini diam-diam nyuruh aku buat didik Arjun agar bisa menjalankan perusahaannya suatu hari nanti. Aku ajarin dia dari dasar, tentang manajemen sampe pemecahan masalah.


Litania manggut-manggut ingin bungkam, tapi mulut mulai tak singkron. Ia pun berceloteh lagi, "Tapi bukannya ada Kinar? Kenapa Om Frans percaya banget sama Arjun. Arjun kan orang asing. Kenapa gak Kinar aja yang pegang perusahaan?"


"Ish, ni mulut bisa gak sih diem dulu. Nyamber mulu dari tadi," kesal Chandra seraya mendaratkan cubitan di pipi tirus nan cerewet istrinya itu.


"Iya ... iya, lanjut lagi, dong."


"Ini cuma antisipasi. Kamu tau sendiri 'kan, Kinar itu orangnya seperti apa? Kinar memang anaknya Pak Frans, tapi jadi pemimpin perusahaan gak mudah, gak bisa sembarangan. Harus punya insting dan mempunyai skill di bidang itu. Apa jadinya jika yang yang pegang orang gak paham? Bakalan cepet gulung tikar tu perusahaan. Apalagi Kinar. Bisa-bisa perusahaan hancur. Kerja keras Pak Frans selama ini bakalan sia-sia. Kalau bangkrutnya cuma berefek pada diri sendiri, gak masalah. Nah ini, perusahaannya Pak Frans itu gede, loh. Banyak orang bergantung sama dia. Dari staf eksekutif, karyawan tetap, karyawan magang hingga buruh pabrik," jelas Chandra panjang lebar.


Litania manggut-manggut—mengerti akan keputusan suaminya dan Frans—dan soal Arjun, ia juga percaya pria itu amanah. Jadi tidak terlalu memusingkan bidang yang bukan urusannya. Mau itu Kinar yang pegang atau Arjun yang atur, ia tak peduli. Baginya semua orang punya jalan dan pemikiran tersendiri demi hidup lebih baik.


"Karena kamu itu temennya. Aku bukannya gak percaya, ini ayahnya Kinar yang minta."


"Terus, soal Kinar yang gak ada kabar sama sekali, itu juga rencanya Om Frans atau ... apa mungkin rencana kamu?" tanya Litania lagi, ada kecurigaan dalam nada bicaranya.

__ADS_1


Chandra yang paham langsung berdecak. "Ya jelas enggaklah, itu keputusannya Kinar. Aku sama ayahnya gak nyuruh. Itu dia sendiri, loh, yang mau."


"Hmm ... gitu." Litania manggut-manggut lagi lantas menangkup kedua belah pipi Chandra dan menatap lekat bola matanya. "Maaf, ya. Aku udah suuzon."


"Iya, gak apa-apa." Tatapan Chandra teduh, ia belai rambut tergerai Litania dengan mata memindai seluruh area wajah. Paras ayu dan cantik sang istri membuatnya betah menatap tanpa berkedip hingga yang ditatap salah tingkah dan menjauhkan wajah.


"Kok liatin aku sampe segitunya?" tanya Litania malu. Walaupun Chandra sudah hampir 40 tahun, aura ketampanan dan kharismanya masih saja kuat.


"Sayang ... kita stop bahas orang lain, ya?" pinta Chandra dengan suara dibuat-buat lirih.


"Loh, kenapa? Apa yang salah? Wajarkan kalau aku khawatir sama Kinar."


"Iya, aku tau, tapi kita juga punya prioritas utama sebagai manusia dan sebagai orang tua." Chandra berucap seraya mengeratkan pelukan. Tangan yang awalnya diam di pinggang, kini mulai bergerilya. Litania tau kode apa itu.


"Emangnya apa prioritas kita sebagai orang tua?" tanya Litania dengan tubuh sedikit menggeliat, menahan geli.

__ADS_1


"Bikin adik buat Dafan Dafin."


heheh Jagan lupa like. aku up 2 bab malam ini


__ADS_2