
"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu." Seorang wanita cantik dan rapi—kemeja batik hitam dan rambut tersanggul di belakang—menyapa Litania dan Sita.
"Siang juga," balas Sita ramah, "cucu saya mau ikutan kelasnya Ibu Ratna."
"Atas nama siapa?" tanya resepsionis itu.
"Litania."
Si resepsionis mengecek buku besarnya. "Baiklah Ibu, di sini sudah terdaftar atas nama Nyonya Litania. Kalau begitu Ibu biasa langsung saja ke ruangannya. Kelasnya ada di ujun lorong, lurus saja dari sini," jelasnya seraya menunjuk sebuah koridor.
Litania hanya mengangguk, pasrah mengikuti langkah neneknya. Meski sudah berjanji akan mengikut kelas, tetap saja rasanya malas. Langkah kaki saja sengaja dibuat-buat lambat hingga Sita kesal dan berteriak, "Ayo cepatan, Litan! Jangan letoy begitu."
"Iya, Nenek." Litania terpaksa mempercepat langkah hingga tibalah mereka di depan subuah pintu. Ada plang nama si instruktur di sana. Ratna Angraeni.
"Nah ini tempatnya. Kamu masuk duluan, ya. Nanti Nenek nyusul."
"Lah, Nenek mau ke mana?" Litania bingung, sang nenek sudah meninggalkannya.
"Nenek mau ke toilet sebentar! Kamu masuk dulu aja," balas Sita sedikit berteriak. Tak tahan ingin segera buang hajat. Rasanya sudah di ujung tanduk.
Mendesah panjang, Litania mengangguk juga. Punggung Sita sudah tak terlihat lagi karena tertelan belokan koridor.
__ADS_1
Mengetuk pintu dua kali, Litania lalu membukanya dan menyembulkan kepala. Sedikit sungkan, ia pun bertanya, "Apa ini kelasnya Ibu Ratna?"
Lima ibu hamil di dalam sana serentak mengangguk. "Iya, tapi Miss Ratna belum sampe. Masuk dulu sini," ucap seorang ibu hamil berperawakan sedikit kurus. Perutnya membuncit, kurang lebih seperti Litania.
Litania mengikuti perintah dan duduk di atas matras biru persegi panjang yang sudah terhampar. Bantal bahkan sudah tersedia di sana.
"Kamu baru masuk kelasnya Miss Ratna?" tanya Ibu yang mempersilakannya masuk tadi.
Litania mengangguk sungkan. "I-ya, saya baru daftar semalam."
"Jangan takut, panggil saja saya Mbak Lesti," ucap wanita itu, "Dan ini teman-teman sekelas kita, namanya Risma, Juni, Mina dan Lia." Sambil menunjuk satu-satu, Lesti memperkenalkan anggota member kelas yoga.
"Iya, salam kenal semuanya. Nama saya Litania, panggil aja Litan." Senyum Litania terlihat canggung. Baru kali ini berhadapan langsung dengan ibu-ibu yang umurnya di atas 30 tahun. Bisa dikatakan dirinya anggota paling muda di sana.
"Oh ya?" ucap ibu-ibu di sana serentak. Mereka bahkan mengelilingi Litania dengan raut wajah tak percaya. Bahkan tangan mereka tak berhenti mengelus.
"Iya, kembar, Mbak. Usianya hampir tujun bulan. Ini kehamilan pertama saya," jelas Litania.
"Wah beruntung banget kamu. Sekali cetak dapet dua," celetuk ibu berperawakan gendut dengan rambut pendek. Ibu Risma.
Litania dibuat canggung. Bagaimana bisa mengiyakan atau menyanggah, sedangkan untuk menghadirkan si kembar saja dirinya dan suami berusaha hampir setiap hari. Tiga kali dalam setiap malam. Jadi, mana bisa dikatakan beruntung dengan sekali cetak.
__ADS_1
"Oh iya, umur kamu sekarang berapa?" Kini Juni yang bertanya.
"Sembilan belas, Mbak."
"Wah, saya juga dulu hamil anak pertama umur segitu." Membelai perutnya yang juga membuncit, Juni memekarkan senyuman lantas kembali berucap, "Dulu pas umur-umur kek kamu ini bawaanya pen nemplok mulu ma paksuami." Tawa Juni terdengar.
"Ya elah Bu Juni. Saya juga demen kali nemplok suami. Gak hamil pun pepet terus. Pengennya dimanja dan dan memanjakan. Apalagi pas baru-baru menikah. Beugh ... rasanya bahagia tiada tara," celetuk Lesti, diikuti gelak tawa member yang lain.
"Ih, gak percaya. Saya benaran loh Bu Ibu. Waktu seumuran Litania ini, saya ganas banget sama suami. Bawaanya pengen makan tu sosis beruratnya. Gak tau kenapa. Kalo lagi gak hamil gak gitu-gitu amat. Tapi pas hamil anak pertama, pengennya maen mulu. Pak suami sampe lemes, loh," jelas Juni lagi. Sebuah ucapan yang makin membuat Litania tak nyaman. Walaupun tidak dijelaskan secara terperinci, ia paham betul perasaan Juni, ya karena sekarang juga tengah merasakannya. Begitu tak bisa menahan keinginan untuk nganu-nganu.
"Masa sih Bu Juni. Saya bayanginnya kok ngeri, ya." Lesti terkekeh. Ia pukul pelan pundak teman satu grupnya itu. "Kalau saya dulu malah gak doyan. Saya selalu kesel saat suami minta jatah. Kadang pura-pura tidur biar gak diajak maen."
"Wah istri durhaka," celetuk ibu-ibu yang lainnya dan tentu saja diikuti dengan gelak tawa.
"Makanya anak pertama saya itu gak terlalu deket sama bapaknya. Apa-apa sama saya mulu."
"Tapi saya enggak. Bahkan kalau suami lagi tidur, saya yang ambil alih kendali. Saya selalu suka maen pas subuh. Itu batang selalu tegak. Tinggal turunin tu bokser, terus arahin dan jleb. Goyang-goyang maju mundur cantik," ucap Juni lagi diiringi dengan kekehan. Pipinya kelihatan kencang membulat karena tak berhenti tertawa.
"Wah gila Bu Juni. Dia memperkosa suaminya sendiri," ujar Lia yang gemas dengan ucapan jujur Juni.
Juni mengelus perutnya yang sudah terasa kencang. "Ya mau gimana lagi, Bu Lia. Wong gak tahan ini. Lagiankan suami sendiri. Gada salahnya, dong."
__ADS_1
Seketika semuanya tertawa lalu mengangguk setuju, membenarkan ucapan Juni. Namun, kini mata mereka tertuju pada Litania.
"Ngomong-ngomong kalau Adek bungsu kita ini bagaimana? Suka di atas apa bawah? Suka mengemudi apa dikemudikan?"