
Tibalah di depan apartemen, Dery yang masih kebingungan dengan ekspresi wajah Anya pun hanya bisa diam. Tak seperti biasa, Anya yang selalu cerewet dan doyan berceloteh ria mendadak diam seribu bahasa. Hanya terdengar helaan napas panjang dari mulutnya.
"Mau minum apa?" tanya Dery setelah mempersilakan Anya masuk ke dalam apartemen miliknya.
Anya diam. Gontai ia berjalan menuju sofa lalu bersandar lesu. Helaan napas panjang menjadi bukti betapa resah ia kali ini.
"Gak usah, Mas. Aku gak haus," balasnya yang terdengar tak bersemangat.
Dery yang penasaran ikut merebahkan diri di sofa panjang berwarna merah dan hitam. Ia rapikan rambut berantakan Anya dengan menyelipkan ke belakang telinga. "Kamu kenapa sih? Coba cerita."
Dery bertanya dengan lemah lembut. Akan tetapi Anya tak menjawab. Pikirannya masih tertuju pada Shireen. Akankah Dery tergoda pada gadis itu seperti Jimmy?
"Mas Dery ...." Anya memanggil lirih. Terdengar ada keresahan dalam nada bicaranya, ekspresi wajahnya pun bisa dibilang begitu serius.
"Hmm ...." Dery menatap lekat-lekat. "Kenapa? Apa masalah Shireen?" tebaknya hati-hati.
Anya diam, dan diamnya itu membuat Dery sedikit khawatir dan paham. Pasti tak salah lagi, masalahnya adalah Shireen. Ia genggam tangan Anya yang ada di atas paha. "Nya, kamu gak mikir yang macem-macem, 'kan? Kita udah janji bakalan percaya. Kita udah ngelewatin banyak cobaan dalam tiga tahun ini. Apa kamu masih ragu? Aku tulus, Nya. Gak bakalan aku tergoda sama perempuan lain apalagi Shireen."
Manggut-manggut lesu, Anya pun mengeluarkan napas panjang dan membalas genggaman tangan Dery. Mata mereka bersitatap dengan posisi duduk bersebelahan. "Ya, aku tau. Mas Dery gak bakalan kek gitu. Tapi Mas, tetep aja. Aku perempuan. Siapa yang gak stres liat pacarnya berduaan dengan pelakor?"
"Tapi aku bukan tipe laki-laki yang gampang goyah. Jadi gak ngaruh juga," balas Dery.
Mata Anya mengerjap. Seulas senyum pun terukir sedikit. Ia peluk Dery. Akan tetapi Dery yang merasa tubuhnya lengket sontak mendorong dan melepaskan pelukan itu.
"Kenapa? Gak mau aku peluk? Jangan bilang ...." Mata Anya langsung menyipit tajam.
__ADS_1
"Jangan berpikiran jelek dulu," balas Dery seraya mencubit pipi Anya gemas. "Aku itu belum mandi. Jadi pasti bau."
Bak anak kecil, Anya menggeleng dengan pipi menggembung seperti ikan buntal. Ia peluk lagi Dery dari samping. "Mas Dery gak bau, kok. Aroma tubuh Mas itu masih oke. Masih bisa dinetralisir dengan baik sama hidung aku. Karena perpaduan antara terasi dan rendang jengkol yang kamu makan membuat kamu jadi makin kelihatan seperti orang Indonesia asli," celotehnya seraya nyengir.
"Masa sih?" Dery yang mendengar pujian tapi agak nyelekit itu pun spontan berdiri, lantas mengangkat tangan kiri kanan seraya menciumi kemejanya sendiri. "Emang keciuman ya kalo aku habis makan pete?" tanyanya lagi dengan raut wajah bingung.
Anya terbahak. Dery yang paham sedang dipermainkan hanya berdengkus. Ia cubit lagi pipi Anya hingga suara tawa berubah menjadi ringisan dalam sekejap mata.
"Mas. Sakit Mas. Lepasin ...." Anya merengek. Dery yang tak tega pun melepaskan cubitan itu.
"Kapok gak?" tanya Dery, matanya melotot.
Anya nyengir. Ia mengangguk seraya mengusap pipi. "Aku cuma bercanda, Mas. Gitu aja diambil serius."
"Gimana gak serius? Wajah kamu aja kek gitu," sungut Dery. Ia tinggalkan Anya lalu menuju tempat tidur. "Kalau mau minum, bikin sendiri, Nya. Aku mau mandi dulu. Habis mandi nanti aku anter kamu pulang," lanjutnya dengan posisi tetap memunggungi.
Anya mendesah lagi. Ia hampiri Dery lalu memeluk tubuh pria itu dari belakang. "Nya, jangan gini."
Anya makin mengeratkan pelukan. Seharusnya ia mengatakan kabar bahagia tentang restu dari keluarga. Namun, kehadiran Shireen menghancurkan segalanya.
"Mas. Kami serius kan sama aku?" tanya Anya dengan posisi yang sama—memeluk dari belakang.
"Tentu saja," sahut Dery.
"Kamu gak nganggep aku anak kecil, 'kan?" tanya Anya lagi.
__ADS_1
"Tentu enggak. Kamu udah dewasa. Selisih usia kita cuma tujuh tahun. Jadi aku rasa gak ada yang salah dengan itu. Emangnya kenapa?"
"Kalau gitu cepetan lamar aku, Mas. Aku siap jadi istri kamu. Bunda udah ngerestuin. Dia bolehin aku nikah sama kamu."
Mata Dery langsung terbuka lebar. Senyumnya pun tercipta tak kalah besar. Ia balik diri lalu memegangi pundak Anya.
"Kamu serius?" tanyanya antusias. "Mereka beneran kasih restu?"
Anya mengangguk. Senyumnya pun mengembang. "Iya, Mas. Aku serius."
Dery peluk Anya. Rasanya begitu bahagia. Akhirnya rintangan satu persatu dapat mereka lewati. Akan tetapi tanpa diundang, terlintas wajah sangar sang ayah dan membuat senyum itu menguap bagai angin. Ia lepaskan pelukan.
"Tapi, Nya ...."
Anya genggam tangan Dery lalu terbentuklah senyum ambigu di bibirnya. "Aku siap. Aku siap jadi istri kamu dan tentu saja siap ngadepin papa kamu."
"Kamu yakin?"
Anya mengangguk. "Aku punya ide."
***
Di waktu yang sama. Dafan yang sudah lelah berkeliling dengan mobil memutuskan pulang. Berjam-jam mengelilingi jalanan yang macet membuatnya lupa akan keresahan dan merasakan lelah. Ya, realita tantang betapa macetnya ibu kota membuatnya melupakan Fia. Ia butuh bantal. Butuh istirahat.
Akan tetapi, saat melewati perempatan jalan, mata tak sengaja melihat seorang perempuan berjalan dengan terhuyung dan diikuti beberapa pria berbadan tambun. Sosok yang ia kenal betul, Nara. Ya ....
__ADS_1
Gegas ia menepikan mobil. "Itu ... itukan Nara. Ngapain dia?" Dafan bermonolog. "Apa jangan-jangan dia mabuk?" lanjutnya lagi.