
"Bantuin apaan?" tanya Dafan penasaran.
"Bantuin jadi aku."
"Hah?"
Dafan dan Fia melongo bersamaan.
"Kamu jangan gila, Fin. Gimana ceritanya aku bantuin kamu? Aku dokter bukan pebisnis. Aku gak tau seluk beluk perusahaan. Nanti yang ada malah bikin kacau," ucap Dafan tak percaya.
Sementara Fia, gadis itu hanya bisa mengerjap mendengar perdebatan mereka.
"Ayolah, Fan. Jangan begitu. Aku cuma minta kamu gantiin aku buat pemotretan sama wawancara aja. Itu doang, kok. Pihak majalah juga sudah aku kabarin. Kata mereka gak masalah karena kita emang mirip. Yang perlu diubah cuma gaya rambut kamu doang," pinta Dafin tanpa menurunkan harga diri.
Namun, Dafan masih tak berniat bersuara. Dafin pun mengembuskan napas resah seraya mengendurkan dasi yang ada di leher. "Tolonglah, bantu aku. Nanti malam aku mau ketemuan sama Sisi. Aku disuruh Ayah ke Bali besok. Lagian ini cuma wawancara biasa terus pemotretan. Mau di cancel gak enak sama mereka. Mau, yah? List pertanyaan dan jawaban juga sudah ada, kok. Tinggal kamu hapalin. Itu aja."
Dafan masih tampak berpikir.
"Kalau kamu setuju, kamu boleh ajak Fia. Kalau nolak, aku kasih tau Nara yang sebenarnya," timpal Dafin lagi, meyakinkan, lebih tepatnya mengancam.
"Lah kok gitu?" Dafan mengernyit. Bisa berabe jika sampai Nara tahu kebohongannya.
"Yes or no?" Dafin memasang senyum licik.
"Tapi, Pak—" Fia yang mau menyela berakhir terdiam saat mendapat pelototan dari Dafin.
"Pemotretannya cuma bentaran doang. Lagian aku rasa wawancara ini nggak gangguin kerjaan kamu. Kan pemotretannya malam. Mau ya, Fan. Bantuin aku kek sekali-kali. Aku benar-benar harus ketemuan sama Sisi. Ada yang mau aku omongin sama dia."
"Memangnya harus banget, ya?" Dafan menatap serius Dafin. Ada keresahan dalam nada bicaranya.
Dafin mengangguk, "Iya, harus. Kalau kamu setuju, kita lakuin rencana kamu nanti sore, habis itu lanjut pemotretan."
"Baiklah."
Dafan menyetujui seraya mengulurkan tangan. Dafin pun menyambut dengan senyum semringah. Sementara Fia, wajahnya ditekuk sebal. Kesal dengan keadaan dan diri sendiri karena terjebak di situasi yang membuatnya tak bisa memilih sama sekali.
Bisa-bisanya mereka menjadikan aku sebagai tumbal. Menyebalkan. Fia merutuk kesal.
Dafin berdiri. "Oiya Fia, kenapa kamu masih duduk? Kamu nggak mau balik kantor?"
Ucapan Dafin sontak menyadarkan. Fia gelagapan dan berdiri dengan cepat. Sementara Dafan juga ikutan berdiri dan membenahi penampilannya.
"Oke aku harap kamu gak lupa. Aku bergantung sama kamu," ujar Dafan seraya menepuk pundak Dafin.
Dafin mengangguk. "Tenang saja. Aku akan buat Nara nyerah. Percaya sama aku. Saudara kamu ini ahli dengan hal yang begini," ujar Dafin jemawa. Dadanya membusung dengan smirk tercetak di wajah.
"Cih! Jadi mantan playboy aja bangga." Dafan berdecak, tapi tersenyum juga. Agak aneh memang, tetapi ia bersyukur karena Dafin mengerti banyak tentang perempuan. Tak sepertinya yang memasabodohkan hubungan dan sekarang malah pusing sendiri. Prinsipnya itu, sukses dulu perempuan belakangan.
Dafin melangkah tapi Fia memanggil. Pria itu memutar badan. "Kenapa lagi?" Alis Dafin tertaut.
"Kopinya ...." Fia melirihkan suara. Dia tertunduk.
"Sudahlah, nanti Dafan saja yang urus." Dafin menatap saudaranya yang ada di belakang. "Gimana Fan, bisa, 'kan?" lanjutnya.
"Gampang itu. Kalian pergilah. Nanti aku urus yang di sini."
"Nah, sudah beres. Sekarang kita balik ke kantor. Sebentar lagi kita meeting sama tim Humas. Saya gak mau telat. Bisa jatuh image baik saya." Dafin berucap datar hingga Fia kembali bersungut tapi berakhir berjalan mensejajari Dafin juga. Ia bahkan sempat melihat kebelakang dan mendapati wajah tersenyum Dafan. Dokter muda itu tengah melambaikan tangan ke arahnya.
Benar-benar keanehan dan keajaiban dunia. Mereka sangat berbeda kecuali muka. Fia bermonolog sendiri.
Di dalam mobil.
Tak ada yang berbicara, Dafin sibuk dengan ponsel sedangkan Fia tetap fokus menatap jalanan hingga suara dering ponsel Dafin mengagetkan keduanya.
"Iya."
"Baiklah, Dafin paham."
"Percayakan sama Dafin."
Telepon terputus diikuti helaan napas panjang Dafin. Fia bahkan sampai melirik dan melihat bosnya itu tengah mengendurkan dasi. Kegelisahan terlihat lebih nyata. Tanpa Fia duga, Dafin juga melihatnya. Pandangan mereka sempat beradu sedetik.
"Fia ...."
__ADS_1
"Ya, Pak."
"Kamu besar di Bali kan, ya?" tanya Dafin.
Fia tersentak, kaget. Namun berakhir mengangguk. "Iya, Pak. Keluarga saya sudah lama tinggal di Bali."
"Orang tua kamu asli sana?" tanya Dafin lagi. Matanya makin serius melihat pantulan wajah Fia di cermin.
"Gak, Pak. Yang asli Bali cuma bapak, kalau ibu saya orang Kalimantan Barat."
Dafin manggut-manggut. "Wah, jauh juga, ya."
Fia tersenyum canggung. Tak pernah berpikir kalau asal-usul keluarganya juga dipertanyakan oleh Dafin.
"Kalau boleh saya tau kenapa ya, Pak?" tanya Fia seraya melirik Dafin yang ada di belakang lewat kaca tengah mobil.
"Tidak ada apa-apa. Nanti habis nemenin Dafan pemotretan kamu siap-siap, besok ikut saya ke Bali. Ada urusan yang harus kita selesaikan di sana," papar Dafin datar.
Seketika wajah cantik Fia makin berseri—merasa senang berpikir bisa bertemu keluarga jika pekerjaan selesai.
"Tapi jangan harap kamu bisa bersantai di sana. Kamu harus ikut saya ke mana pun saya pergi. Jangan mentang-mentang pulang kampung kamu seenaknya," ujar Dafin ketus. Sebuah perkataan yang membuat harapan Gua agar bisa berkumpul dengan keluarga melayang dalam seketika.
Oke, Fia. Sabar ... nanti juga bisa ketemu Bapak sama Ibuk.
***
Pukul empat sore. Fia dan Dafin masuk ke dalam sebuah butik. Segala macam gaun dan aksesoris branded terpajang hampir memenuhi ruangan. Fia yang memang tak pernah memasuki ruang seindah itu hanya bisa menikmati keindahan dengan sesekali berdecak kagum. Matanya mengabsen satu demi satu barang mengkilap dalam etalase.
"Fia, sini." Dafin memanggil tanpa menoleh. Cepat-cepat Fia melangkah dan mendekat. Tampak Dafin tengah membelai beberapa gaun dan tanpa bicara pria itu menempelkan beberapa pakaian ke tubuhnya dengan ekspresi ambigu. Kadang menggeleng, mengangguk, kadang kala juga tersenyum tipis.
"Sudah. Suruh dia coba semuanya," ujar Dafin pada si karyawan yang memegang semua pilihan baju yang sebelumnya sempat menempel di tubuh Fia.
Si embak karyawan tersenyum, mendekati Fia lantas berucap, "Sekarang tolong ikut saya Nona."
"Hah?"
Fia ingin bertanya, tapi keburu Dafin berlalu. Gadis itu berakhir mengikuti langkah karyawan tadi hingga masuk ke dalam sebuah ruang yang tertutup tirai besar. Fia sampai mendongak dibuatnya.
Fia mengangguk. Meski dalam benak begitu mempunyai bejibun pertanyaan, ia menurut juga. Satu persatu baju yang ada dihadapan ia belai.
Baju pertama, gaun berwarna merah berenda depan dengan dada terbuka. Fia yang agak risih memakainya hendak melepaskan.
"Fia, kalau sudah, coba keluar." Panggilan Dafin mengentak kesadaran. Fia gelagapan dan berakhir membuka tirai. Di depan sudah ada Dafin yang duduk dengan kaki menyilang. Lagi-lagi terlihat arogan. Pria itu memindai dari kepala hingga ujung kaki lalu menggeleng. Lagi-lagi Fia tak tau harus bagaimana.
"Kenapa gayamu begitu. Coba turunin tangan kamu itu," perintahnya.
Fia tersenyum canggung. Ia berakhir menurut dan melepaskan tangannya yang menutup dada, ya ... meskipun benar-benar tak tertutup karena hanya menggunakan dua belah tangan Kulit putih bersihnya tampak bersinar. Dafin sampai berdecak tanpa sadar.
"Bagaimana, Dafin?" tanya seorang wanita cantik berambut pirang bergaun panjang yang bernama Mariska. Ia berjalan dari arah belakang. Fia sampai memutar kepala demi melihat wanita itu.
"Dia cantik, tapi gak cocok untuk Dafan," balas Dafin lalu kembali menatap Fia. "Sekarang coba pake baju yang warna putih."
Oh jadi ini buat sandiwara. Dasar oon, kenapa aku bisa lupa, sih. Fia membatin lalu mengangguk pasrah dan kembali masuk ke ruang ganti.
Bukan tanpa alasan Dafin begitu. Saudaranya masih polos dengan yang namanya wanita, tak pernah pacaran maupun berkenalan. Saudaranya itu hanya tau belajar belajar dan belajar tanpa mau tau perubahan dan keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang berjenis kelamin perempuan. Jadi akan tampak tak cocok dengan gaun yang Fia kenakan barusan. Merah bertanda meriah, menggugah dan gairah.
Dalam tiga menit pakaian yang Dafin perintahkan sudah melekat di badan. Gadis itu bahkan terpesona dengan dirinya sendiri. Gaun putih selutut tanpa lengan membalut tubuhnya yang tinggi.
"Ternyata aku cantik juga," gumam Fia cengengesan, ia bahkan berputar-putar saking semangatnya.
"Fia, kalau sudah selesai cepat keluar. Jangan malu-malu. Kita gak punya waktu banyak."
Lagi dan lagi suara datar Dafin membuat kebahagiaan Fia sirna. Ia kembali berdecak. Bosnya itu banyak mau tanpa mau menunggu.
Tirai Fia buka.
Sebuah tepuk tangan menyambutnya. Mariska bahkan mengucapkan kata amazing berkali-kali.
"Wah, Anda sangat cantik Nona Fia," puji Mariska, perempuan cantik si pemilik butik. Ia bahkan mengelilingi Fia dan decakan-decakan kagum pun makin sering terdengar. "Anda sungguh sangat cantik, Fia. Sudah seperti Cinderella," ulangnya.
Fia hanya bisa tersipu. Pujian wanita itu membuatnya malu. Akan tetapi satu yang Fia tau, seorang Cinderella akan berakhir sama. Jadi, sebelum semuanya diluar kendali, ia harus tau batasan agar efeknya tidak menyakitkan. Semua akan kembali semula saat sihir sirna. Tak terkecuali ini. Fia akan menjadi upik abu saat tujuan mereka tercapai.
Sementara Dafin yang sedari tadi cerewet tak bersuara sama sekali. Jujur, ia terpana. Fia yang memang cantik makin terlihat bersinar dengan gaun pilihannya.
__ADS_1
"Bagaimana, Dafin. Dia cantik, 'kan?" tanya Mariska melerai kebisuan.
"Belum," balas Dafin singkat.
"Lah?" Mariska mengernyit, begitu juga Fia. Gadis itu bahkan memutar tumit hendak masuk ke dalam kamar ganti lagi. Namun, mendadak pergerakannya terhenti saat merasa ada sebuah sentuhan di pundak. Terlihat Dafin menatapnya sangat dalam. Fia bertanya-tanya, apa maksud tatapannya.
"Gak perlu ganti baju. Kamu sudah bangus pakai ini. Kamu cuma harus ...."
Tanpa mau melanjutkan lisan, Dafin malah menarik ikat rambut Fia. Fia sampai kaget.
"Kamu lebih cocok dengan rambut tergerai," lanjutnya.
Blush!
Bagai ada angin hangat tak kasatmata menerpa wajah, Fia menjadi gelagapan sendiri. Pipinya mendadak berdenyut. Diperlakukan semanis itu membuatnya lupa diri sejenak sebelum akhirnya Dafin berkata, "Kamu harus cantik. Totallah dalam ber-akting. Bantuin Dafan. Dan kalau kamu sukses, saya akan mempertimbangkan untuk memperpanjang kontrak kerja kamu. Dan kalau gagal, masa uji coba kamu yang tiga bulan saya potong sebulan."
"Loh, Pak, kok gitu? Kan kesepakatan awalnya gak se—"
Lisan Fia lagi-lagi terpotong karena tatapan menghunjam Dafin. Gadis itu kembali bungkam.
"Lakukanlah yang terbaik. Saya gak suka di lawan, kamu cuma bawahan dan saya bos kamu. Jadi ikuti perkataan saya," ujar Dafin tegas. Fia gugup sampai kesusahan menelan ludah.
"Kamu pernah di kasih tau Nasya tentang pasal bekerja sama saya gak?" tanyanya.
"Pasal?" Sontak Fia menggeleng.
"Saya punya tiga pasal. Pasal satu, saya tidak suka dibantah. Pasal dua, saya tidak suka kesalahan. Pasal tiga, saya selalu benar."
Nyes! Entah kenapa Fia merasa tersentak. Pasal Dafin benar-benar menyadarkannya kalau Dafin itu bos yang paling kejam. Helaan napas panjang menjadi akhir. Fia tepis tangan Dafin dari rambutnya seraya mengukir senyum palsu. "Saya akan berusaha sebaik mungkin, Pak," balasnya.
"Itu harus, saya tidak suka kegagalan. Apalagi sekertaris itu cerminan atasan. Kamu jangan pernah membuat saya malu, ngerti, 'kan?" ujarnya lagi.
Fia lagi-lagi hanya bisa tersenyum kaku. Ia mengangguk.
"Ya sudah. Kita pergi sekarang. Sebelum itu, ganti dulu sepatu kamu. Pilihlah sepatu yang seukuran sama kamu. Saya tunggu di mobil," lanjut Dafin lalu berlalu.
Sungguh gak ada sopan-sopannya, padahal dia yang perlu bantuan. Dasar ekskavator. Tukang keruk. Sungut Fia. Ia bahkan bergaya melayangkan tinju. Namun, tanpa diduga Dafin menoleh dan Fia pun berakhir pura-pura merapikan rambut. Mariska bahkan sampai menunduk. Malu melihat pertengkaran tak kasatmata Dafin dan Fia.
"Cepetan pilih. Jangan lama," sungut Dafin lagi
"Baik, Pak."
"Dan kamu, Riska. Tolong pilihkan dia beberapa perhiasan," perintahnya, "sebisa mungkin kesan kampungan yang melekat di badannya jangan sampai keliatan."
***
Di restoran bintang lima. Dafan duduk sendirian di tengah ruangan. Ia begitu bersinar di bawah lampu tamaram. Bunga hias begitu banyak memenuhi hampir seluruh sudut ruangan. Belum lagi para saksofonis telah menunjukkan keahliannya. Untuk pertama kali Dafan begitu memuji kemampuan Dafin.
"Hey, kenapa bengong?"
Seruan seseorang dari arah belakang mengagetkan Dafan.
"Loh, kok sendiri? Fia-nya ma—"
Lisan Dafan menggantung saat melihat Fia berjalan dari arah belakang. Ia terpana sampai lupa kalau sudah menganga. Fia ... sungguh sangat cantik di matanya.
"Jangan kelamaan mandang. Entar ngeces. Lagian ini cuma pura-pura. Jangan terlalu baper," ujar Dafin yang tentu saja membuat Dafan serasa mendengar kaset kusut tak kasatmata. Saudaranya itu begitu pandai menjungkirbalikkan mood yang ada.
"Terima kasih, Fia," ucap Dafan tanpa bisa mengalihkan pandangan. Mengerjap saja ia enggan.
Fia mengangguk canggung lalu duduk. Begitu juga Dafan. Mereka saling berhadapan dalam kecanggungan.
Dafin yang berdiri berdecak sekali. "Ingat, ini cuma pura-pura. Tapi kalaupun pura-pura harus keliatan nyata. Aku bakalan liat kalian dari pojokan sana."
Mata Dafin terarah ke Fia. "Ingat, Fia. bergayalah yang natural."
Fia mengangguk.
"Dan kamu, Fan, jangan lebhai. Jangan berlebihan. Tapi berusahalah biar keliatan nyata."
Dafan juga mengangguk. Matanya hanya tertuju ke Fia hingga seorang pelayan pria mendekat membuyarkan tatapannya.
"Maaf, Pak. Gadis yang bernama Nara sudah ada di depan."
__ADS_1