
"Eh stop, stop dulu, Fer," ujar Nara seraya memegang pundak Fery. Fery pun menghentikan lompatan, menoleh ke belakang dan melihat wajah Nara yang terarah ke pintu. Ia pun otomatis melihat ke mana mata Nara tertuju.
"K-kenapa, Ra?" tanya Ferry, ia menggaruk kepala seraya mengatur napas yang hampir habis.
Nara turun dari ranjang. "Kayaknya udah gak ada suara. Keknya Dafan udah pergi. Udah nggak bunyi-bunyi lagi," balas Nara yang juga terlihat ngos-ngosa. Hati-hati ia mendekati pintu, telinga bahkan sengaja ditempelkan ke daun pintu. Benar adanya, tak ada suara dari balik sana. "Keknya dia beneran udah pergi, deh, Fer."
"K-kamu ya-yakin?" tanya Ferry seraya mendekati. Ia bahkan mencoba mendengarkan suara dan kembali menatap mata Nara. "I-iya, s-sepertinya d-dia u-udah pu-pulang."
Nara mengangguk, bibirnya tersungging senyuman penuh kepuasan. Akhirnya Dafan pulang dengan membawa perasaan kesal. Ia sangat yakin kalau kali ini Dafan pasti tidak akan sudi menemui dirinya lagi. Mengenaskan memang, tapi demi kenyamanan, sesakit apa pun harus ditelan. Ibarat kata, semakin pahit rasa obat, semakin cepat reaksi dan tingkat kesembuhan. Semoga, ya semoga.
Kini Nara menarik napas lega. Ia tatap penampilan Fery yang jauh dari kata rapi. Sang sahabat yang selalu identik dengan pria baik sekarang terlihat seperti bajingann yang habis melakukan senam super hot di atas kasur.
"Ke-kenapa?" tanya Fery, ia waspada terhadap pandangan Nara—takut akan diminta melakukan hal gila lagi.
Nara yang gemas langsung mengangkat tangan. Namun, Fery yang sudah kadung trauma menutup kepalanya dengan kedua belah lengan. Nara yang melihatnya hanya cekikikan. Ia turunkan kedua belah tangan Fery lalu tertawa dan merapikan rambut Fery yang berantakan.
"K-kenapa?" tanya Fery lagi. Sungguh bingung melihat Nara. Ia kira akan mendapat lima jari dibayar tunai.
Fery makin merinding, anehnya Nara tetap merapikan rambutnya seraya tersenyum. Kini mata Nara terarah padanya. Pandangan itu sangat lekat.
"Maaf ya, Fer. Tadi aku udah mukul kamu. Habisnya tadi genting banget. Aku kepepet," ujar Nara seraya nyengir. Ia menyandarkan punggung yang lelah dan dapat melihat wajah lelah Fery.
Akan tetapi, Fery tak menggubris dan justru memasang kembali kacamata yang tadi Nara lepas. "I-iya, gak a-apa," balas Fery.
Masih dengan senyuman di wajah, Nara kembali berkata, "Kamu baik banget. Kamu sahabat terbaikku. Sahabat yang gak muna kek yang lain."
Fery mengulum senyuman, hidungnya serasa kembang kempis. Ia berakhir mengangguk malu-malu. "A-aku j-juga s-senang te-temenan s-sama k-kamu. K-kamu s-sama A-anya b-baik b-banget."
Nara tertawa, kebahagiaan tercetak jelas di wajahnya. Ia pukul pundak Fery tanpa ragu. "Kamu harusnya ngerubah penampilan. Kalo kamu berubah, aku yakin bakalan banyak yang mau temenan sama kamu. Kamu pinter, anak keluarga orang kaya dan yang terpenting kamu good looking."
Mata Fery membesar, senyumnya sedikit lebar. Ia betulkan kacamata dan makin menatap Nara lekat-lekat. "B-beneran a-aku t-tampan?" tanyanya antusias.
Nara kembali mengangguk. Ia tekan otot bisep serta dada Fery yang menonjol. "Apalagi ini. Ini pasti akan bikin perempuan diluaran sana menjerit. Aku jamin."
"S-serius?" tanya Fery lagi.
"Emb." Nara mengangguk lagi. Ia tatap wajah Fery yang memerah lalu kembali berkata, "Apa aku boleh nanya?"
Fery yang sudah kadung bahagia mengangguk antusias. Setelah mendengar pujian Nara seolah-olah rasa lelah dan kesal setelah melompat hampir setengah jam tadi lenyap begitu saja. Ia balas tatapan Nara. "T-anya apa?"
"Maaf kalo menyinggung. Cuma aku penasaran. Penyakit gagap kamu ini memang dari kecil ya? Apa gak bisa disembuhin?"
Senyum Fery sirna. Ia tertunduk.
Nara yang dapat melihat perubahan ekspresi Fery pun jadi merasa tak enak hati. Ia tepuk pundak Fery dua kali. "Maaf, Fer. Maaf kalau kamu tersinggung. Aku cuma penasaran aja. Soalnya dulu aku pikir kamu gagap karena jadi bulan-bulanan geng Meta, tapi ternyata berlanjut sampe sekarang."
Ucapan Nara terhenti sejenak. Ia merasa benar-benar buruk soal ini. Membahas kekurangan seseorang bukanlah topik yang mengasyikkan, hanya saja ....
"Apa gak bisa diobatin, ya?" lanjut Nara hati-hati.
Seketika ingatan Nara flashback ke beberapa tahun yang lalu. Saat Fery baru masuk sekolah dan menjadi bahan bully anak-anak lain. Saat itu dirinya dan Anya yang tak tega mencoba membantu, tapi parahnya Anya tak bisa mengontrol emosi dan terjadilah perkelahian berdarah dan menyebabkan Anya di skorsing.
__ADS_1
Menghela napas panjang, Nara kembali memekarkan senyuman. "Ngomong-ngomong makasih ya untuk hari ini."
Fery mengangguk lalu mencoba memasukkan kembali kancing ke dalam lubang. Ia ingin penampilannya kembali rapi. Namun, tanpa diduga Nara justru menepis tangannya.
Lagi-lagi Fery hanya bisa melihat wanita itu dengan tatapan heran. "Ke-kenapa la-lagi?" tanya Ferry.
"Bentar, kita pastiin dulu. Tu orang benar-benar udah pergi atau belum. Kalau belum dia pasti akan ngamuk liat penampilan kamu kek gini. Tapi justru itu yang aku cari. Jadi, lebih baik biarin dulu, ya."
Fery mengusap wajah dengan sebelah tangan dan berakhir mengangguk setuju. Keduanya sama-sama menyembulkan kepala dan melihat sekeliling dan tak menjumpai Dafan di sana. Mereka sama-sama mengembuskan napas lega.
"Oke, aman," ujar Nara berbisik. Ia buka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Fery untuk keluar. "Terima kasih ya untuk hari ini."
Fery mengangguk. Ia betulkan penampilannya yang acak-acakan lalu memutar tumit dan pergi.
Tanpa Nara sadari, ada sepasang mata pria yang memandang super tajam dari belakang. Ia berdengkus, bergegas mendekati Nara lantas menarik pergelangan gadis itu. Nara yang awalnya hendak masuk kembali ke kamar tak bisa menahan diri dan berakhir mendarat di dada pria yang tak lain tak bukan adalah Dafan.
"D-Dafan."
Nara kaget. Mendadak ia gagap. Tatapan Dafan sangat menghunjam bahkan embusan napas Dafan pun dapat ia rasakan. Kasar dan cenderung penuh kebencian. Cepat-cepat Nara mengambil kesadaran lalu mendorong dada Dafan agar menjauh dari tubuhnya.
"Kamu masih di sini?" tanya Nara lagi seraya mengatur degup jantung.
"Kenapa? Masalah?" tanya Dafan yang terlihat berang.
Entah kenapa Nara yang sempat gugup menjadi berani, ia mencoba tenang saat menghadapi kemarahan Dafan. Lagi pula inilah yang ia cari.
"Tentu aja masalah. Apa kamu enggak malu berlama-lama di rumah orang lain?" tanya Nara. Terdengar penuh hinaan. Dafan yang mendengarnya pun makin kesal.
Namun, lagi-lagi Anya tak peduli. Ia balas tatapan Dafan tak kalah sengit. "Ya, kita orang lain. Kita hanya orang asing. Emangnya kita punya hubungan apa?" Lagi, Nara balik bertanya. Penuh penekanan dalam kalimat terakhir
Dafan pun bungkam, lisannya mendadak tak berfungsi. Ia tak tahu cara menjawab pertanyaan Nara. Akan tetapi yang jelas rasa kesal begitu menggunung untuk gadis itu apalagi saat mata melihat dengan jelas ada merah-merah di leher Nara. Belum lagi baju yang acak-acakan. Darah Dafan berdesir tanpa bisa dicegah.
Nara yang melihat itu hanya mencebik. "Apa kamu lupa, yang berhubungan baik hanyalah orang ketua kita Dafan. Dan kita?" Jeda sejenak. Nara mencoba meredam emosi. "Kita ... nggak!" lanjut Nara akhirnya dengan suara naik satu oktaf. Ia kalah, ternyata emosinya sudah terlanjur bergejolak luar biasa tanpa bisa dicegah. Nyalang ia menatap Dafan lalu bersedekap dada.
"Kamu keterlaluan, Ra."
"Keterlaluan? Siapa?" Nara terkekeh kecil lalu menunjuk wajah sendiri. "Aku?" lanjutnya.
"Ya. Kamu," balas Dafan.
Nara makin terkekeh hambar lalu memperhatikan penampilan Dafan. Pria itu makin gagah dan semakin terlihat tampan saat usianya sudah terbilang matang. Hanya saja Nara sudah bertekad akan move on dari pria yang hanya memberikan sumber rasa sakit, memberinya kenangan buruk. Saat gadis lain bangga dengan cinta pertama, dirinya malah mendapat nestapa yang tak berujung. Dafan memberikan trauma tentang sisi lain dari cinta—sakit. Tekad Nara sudah bulat, ia benar-benar tak ingin terpenjara lebih lama dengan perasaan sendiri. Tak ingin obsesi cintanya pada Dafan menghancurkan masa depan.
Sementara Dafan berdengkus. Wajahnya benar-benar terlihat merah dengan rahang yang sudah mengetat. Tak percaya Nara yang kini ada di hadapannya adalah Nara yang dulu. Gadis remaja tak tahu malu yang selalu mengejar cintanya. Gadis yang selalu bersikap imut dan mengesampingkan penolakan.
Sekarang Dafan melihat Nara itu telah hilang berganti menjadi Nara yang angkuh dan arogan.
"Whatever-lah." Nara berucap cuek. Tanpa rasa bersalah ia melewati Dafan berlalu menuju dapur dan mendekati kulkas. Setelah hampir setengah jam beradu peluh dan mendesah manja membuat kerongkongan terasa kering. Ia melirik sekilas Dafan yang berjalan menuju ke arahnya.
Satu gelas.
Dua gelas.
__ADS_1
Tiga gelas.
Air itu meluncur dengan mudahnya ke tenggorokan. Bak air hujan yang menghujani tanah yang gersang. Mendadak emosi Nara mereda sedikit apalagi saat melihat ekspresi Dafan yang terbengong, rasanya sangat lucu. Ia yakin Dafan memperhatikan tanda merah yang hampir memenuhi lehernya.
"Katakan, apa yang kalian lakukan dalam kamar tadi?" tanya Dafan lalu melihat sekitar rumah. Sangat besar tapi tak memiliki satu pun pembantu rumah tangga. Pikiran buruk makin merajalela. Apa Nara benar-benar hidup bebas tanpa pengawalan lekat orang tua?
"Kenapa nanya?" Nara balas bertanya. Ia lantas menarik kursi dan duduk. Lututnya terasa bergetar, melompat benar-benar menguras tenaga. Ia tatap lekat Dafan. "Emang apa pedulimu?"
Dafan kembali berang. Ia sampai menggebrak meja. "Kenapa ... kenapa kamu bilang? Kamu perempuan Nara! Gak pantes seorang perempuan sekamar dengan laki-laki asing. Dan aku ... aku sebagai orang dewasa, sebagai orang yang mengenal kamu dan keluargamu dengan baik, bertanggung jawab jagain kamu. Bertanggung jawab jagain kamu agar gak salah jalan. Itu semua demi kebaikan kamu."
Nara terkekeh sinis. Dasar gak tau malu, sahutnya dalam hati.
"Kebaikan? Kebaikan siapa? Tanggung jawab? Emang tanggung jawab yang seperti apa? Emang hubungan kita ini seperti apa?"
Lagi-lagi pertanyaan Nara membuat Dafan bungkam. Ia kembali menelan ludah karena tidak bisa menjelaskan secara spesifik, bagaimana hubungan mereka? Sebenarnya hubungan apa yang mereka miliki?
Akhirnya Dafan membenarkan kata Nara. Yang berhubungan baik hanyalah orang tua mereka. Sementara dirinya dan Nara, jauh ... sangat jauh dengan kata yang namanya baik. Ia selalu menghina Nara, selalu ilfil dengan keberadaan Nara. Hanya gadis gila yang tetap bertahan dengan perlakuannya yang kasar. Namun ....
"Nah, 'kan, kamu nggak bisa jawab. Aku tekankan sekali lagi Dafan, ini rumahku. Dan apa yang aku lakukan di kamar itu urusanku. Nggak ada sangkut-pautnya sama kamu. Lagian apa aku harus menjelaskan kegiatan apa yang kami lakukan tadi? Aku yakin gak aku ceritakan pun kamu pasti udah ngerti. Kamu kamu tinggal di luar negeri jadi tahu pasti bagaimana hubungan orang-orang di sana."
Dafan tercengang. Rasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Nara.
"K-kamu ... bagaimana bisa?" Ucapan Dafan terjeda saat melihat Nara mendekatinya.
"Lanjutkan, apa yang bagaimana bisa?" tantang Nara dengan mata menyipit.
"Jangan bilang kamu ngelakuin sekss bebas?" terka Dafan tergagap. "Kamu nggak gitu, kan, Ra? Kamu nggak seperti itu, 'kan?" Kamu nggak bodoh, 'kan?"
"Kalau iya, kenapa?" balas Nara lagi. Sengaja mancing-mancing.
"Wah, kamu gila. Bagaimana perasaan orang tua kamu kalau tahu kamu seperti ini Nara?"
Nara terkekeh sinis. "Itu nggak ada hubungannya sama kamu. Urusin urusan hidup kita masing-masing. Kamu dengan hidupmu yang suci dan aku dengan hidupku yang begini," jawab Nara enteng seraya merentangkan kedua belah tangan. Seolah bangga mengatakan kalau hidupnya seperti itu. Ya, seperti yang Dafan pikirkan.
"Lagian ya, aku mau hidup seperti apa itu urusan aku, nggak ada sangkut-pautnya sama kamu. Kamu nggak berhak dan nggak punya tanggung jawab untuk aku, ingat itu!" lanjut Nara lagi dengan nada yang kesal.
Dafan Frustrasi, ia menjambak rambut sendiri lalu kembali menatap Nara. "Kamu jangan kelewatan, Nara. Kenapa kamu jadi begini? Bukannya dulu kamu ...."
Lirih, ucapan Dafan terdengar penuh penyesalan. Namun Nara yang sudah setengah jalan tak ingin goyah. Ia pegang dagu Dafan agar mata mereka saling beradu. Nara tetap memberikan tatapan tajam.
"Aku kenapa? Kenapa dengan aku yang dulu?" Nara lalu mendorong bahu Dafan hingga Dafan sedikit terhuyung kebelakang. "Ayo, jelaskan. Ada apa dengan Nara yang dulu dan kenapa dengan Nata yang sekarang?" lanjut Nara.
"Ya tetap saja salah, Ra. Kenapa sekarang kamu berani bawa masuk laki-laki ke dalam kamar?"
"Kenapa? Kamu iri? Kamu mau coba?"
"Nara!" bentak Dafan. Akan tetapi ekspresi Dafan menjadi gugup saat Nara mendekat. "Kamu mau ngapain?" lanjutnya.
Nara yang melihat perubahan ekspresi Dafan tak berniat berhenti dengan kegilaan. Ia tetap mendekati Dafan lalu membusungkan dada. Dafan refleks memundurkan langkah dan kembali membentak. Sialnya Nara tak menanggapi, ia tetap saja melancarkan aksi dengan bibir tersenyum ambigu. Ia terus saja berjalan maju selangkah demi selangkah selangkah hingga Dafan yang terpojok tak bisa lagi bergerak. Kini dada Nara yang montok begitu dekat dengannya.
"Nara kamu jangan gila!"
__ADS_1