
"Ada apa sih, Nya?" tanya Litania saat mereka sudah sedikit menjauh. Keduanya berdiri di dekat tanaman hias. Litania yang anggun dengan dress selutut berwarna perak berbalut kain borkat itu pun menatap Anya lekat-lekat. "Kamu mau ngomong apa sama Bunda? Apaan yang urgent?" lanjutnya dengan ekspresi penasaran.
Memasang wajah masam kecut, Anya menyodorkan ponsel—memperlihatkan layar dan menunjukkan pesan yang ia terima. Foto Dery tengah duduk bersama dengan seorang wanita terpampang jelas di sana.
"Itu ... itu Dery? Sama siapa dia?" tanya Litania dengan mata membelalak. Bolak-balik ia melihat layar ponsel kemudian ke wajah anaknya yang sudah ditekuk sedemikian rupa.
Hening. Anya tak menyahut. Litania yang kadung penasaran langsung menyambar ponsel itu dan melihat makin dekat. Sedetik kemudian matanya kembali membeliak dengan telunjuk menekan layar ponsel.
"Ini ... ini Shireen. Ini temen kamu yang pake kacamata itu, 'kan?" tanyanya lagi dengan gimik speechless.
Anya menaik turunkan kepala, lesu. Ia terduduk lemas di kursi besi berwarna putih tulang. "Iya itu dia. Dia Shireen yang Bunda kenal," balas Anya.
Sementara Litania, ia tak begitu memperhatikan wajah sang anak. Ia malah sibuk berdecak kagum dengan penampakan di dalam layar ponsel. Shireen begitu terlihat dewasa dan cantik. Kacamata tebal yang dulu selalu identik dengannya kini sudah tidak ada lagi. Gadis itu sudah bertransformasi menjadi putri yang begitu cantik jelita.
Anya yang mengetahui ketidakpedulian Litania jadi bersungut, lantas mengentak kaki dengan keras. "Bunda kok gitu? Aku lagi sakit hati tapi malah asyik liatin dia. Gak banget, deh. Kek gak sayang anak," ocehnya seraya menyambar ponsel yang ada di tangan Litania.
"Ya maaf. Bunda 'kan gak tau. Bunda kaget aja. Terakhir ketemu dia kalo gak salah itu tiga tahun lalu. Dia ke sini izin pamit mau kuliah ke luar negeri terus minta maaf sama kamu."
Anya mendesis dan menatap kesal ibunya. "Bunda percaya gitu dengan kata-kata dia?"
Litania mengerjap sekali. "Ya percayalah. Wong dia datengnya nangis-nangis di depan kamu. Minta maaf karena udah ngancurin hubungan kamu. Dia juga nangis di depan Bunda."
Anya mendengkus, menyandarkan punggungnya lalu bersedekap. "Bunda jangan mau dibohongin. Dia itu gampang banget produksi air mata buaya. Namanya juga siluman buaya."
"Jadi kamu gak maafin?" Ikut merebahkan diri di kursi besi samping Anya, Litania pun menatap wajah masam anaknya itu dari samping. "Walaupun udah tiga tahun kamu masih belum bisa maafin dia?" sambung Litania lagi.
"Gak bisa. Buktinya itu dia lagi deketin Mas Dery. Air mata dia waktu itu cuma kedok. Aku mah udah gak percaya. Mau dia jungkir balik guling-guling minta maaf juga aku ogah," sahut Anya seraya memutar mata malas.
"Terus kamu udah konfirmasi sama Dery?" tanya Litania lagi. "Sapa tau cuma kebetulan doang."
Anya menunduk lalu menggeleng. "Nomornya gak bisa dihubungi sejak tadi sore." Jeda sebentar, Anya mengangkat kepala dan menatap lekat ibunya. "Pokoknya kalau sampai Mas Dery tergoda Shireen atau sampai aku putus sama Mas Dery itu semua salah Bunda."
"Lah, kenapa bisa jadi salah Bunda, sih?" Litania tak terima.
"Karena Bunda nggak ngizinin kita buat nikah. Coba aja dari dulu Bunda ngerestuin aku nikah sama Mas Dery. Dia nggak bakalan dideketin pelakor, Bun. Mana pelakornya itu shireen lagi. Aku tuh benci banget sama Shireen dan sekarang dia punya kesempatan buat deketin Mas Deri. Aku nggak terima Bun, nggak terima!"
Teriakan Anya membuat Litania berjengket. Kuping lumayan berdenging karena suara nyaring itu.
"Coba kamu tenang dulu. Gak mungkin kalau Dery selingkuh. Minta penjelasan dulu. Kalo emang selingkuh ya udah, tinggalin," ujar Litania datar.
Anya yang mendengar nasehat yang menjengkelkan itu mengentak kaki. "Pokoknya aku mau nikah! Kawinin aku, Bun," rengek Anya seraya memegangi tangan Litania.
Mendengar kata kawin Litania langsung berubah ekspresinya. Nyalang ia tatap mata bening Anya.
"Nggak bisa!" Sembari melepaskan tangan Anya, Litania pun berkata lagi, "Belum saatnya kamu nikah."
"Bunda ...."
Rengekan Anya makin menjadi. Litania yang mendengarnya jadi risih. Ia berdiri, bersedekap dada lalu memunggungi Anya. "Kamu terlalu muda, Nya. Jangan sekarang. Kejar dulu cita-cita. Puasin masa muda."
"Ya ampun, Bunda ... kapan lagi sih, Bun? Aku udah gede, aku udah dewasa, aku sebentar lagi wisuda, loh, Bun. Kenapa si masih dilarang-larang juga? Lagian cita-cita aku itu pengen jadi istrinya Dery, Bunda ...."
Akan tetapi Litania bergeming. Anya yang tak kuasa menahan kecemasan pun langsung berdiri. Ia memeluk dari belakang tubuh kurus ibunya itu. "Aku takut kehilangan Mas Dery, Bun. Aku udah siap nikah. Aku udah 21 tahun."
"Belum, Nya. Kamu belum bisa nikah sekarang. Karena bagi Bunda kamu masih kecil. Kamu masih belum siap berumah tangga, Nya. Belum lagi perangai kamu yang kayak gini. Grasak-grusuk nggak jelas." Litania membalik diri. Ia dapat menangkap wajah kecewa anaknya itu. "Ini semua demi kebaikan kamu, Nya."
"Ih, Bunda nyebelin banget sih, Bun. Gak masuk akal. Umurku udah tua. Aku udah dewasa," pungkas Anya, tak terima. Bibirnya manyun dengan tangan bersedekap.
"Bunda itu cuma mau ngelindungin kamu, ngelindungin kamu dari sebuah penyesalan karena keputusan yang nggak dipikirin matang-matang. Kayak gini, minta nikah kek minta eskrim, gimana sih? Menikah itu perlu persiapan banyak, nggak hanya materi. Tapi keseluruhan. Persiapan fisik dan mental. Lagian apa kamu udah yakin bisa jadi istri? Apalagi untuk Dery, Dery itu seorang pengusaha, apa kamu yakin bisa menjaga harga dirinya nanti? Apa kamu yakin nggak bakalan bikin dia malu? Kalau gak bener-bener jaga kelakuan, keluarga kita juga bakalan ikutan malu?" papar Litania panjang kali lebar.
Hening, Anya tertunduk. Perkataan sang bunda ada benarnya, tapi ia benar-benar takut kehilangan Dery.
"Sebenarnya apa sih kurangnya Dery? Kenapa Bunda sama Ayah kayak ngelarang Anya deket sama dia? Kami udah saling sayang, Bun. Kami itu saling menjaga. Kami udah buktikan. Tiga tahun ini Mas Dery selalu jagain aku. Dia udah buktiin ketulusan dia. Terus kurangnya apa lagi?" desah Anya dengan posisi masih menunduk.
"Dia nggak kurang apa pun Anya. Yang kurang itu kamu, kami menghawatirkan Dery."
Anya langsung mengangkat kepala. Ia balas tatapan tenang Litania dengan mata menyipit. Berharap ibunya berubah pikiran , tapi nihil. Sang nyonya pemegang kuasa penuh akan hidupnya itu tak bergeming sama sekali.
Merasa cara itu tak akan berhasil, Anya pun kembali meraih tangan ibunya itu. "Bunda kok gitu sih sama anak sendiri. Pokoknya aku mau nikah. Aku mau nikah bulan ini juga!" ocehnya lagi.
Lagi, Litania melepas genggaman Anya. Ia berkacak pinggang. "Kamu yakin mau nikah? Terus gimana dengan Foto itu. Kalau benar Dery selingkuh gimana? Apa kamu masih mau nerima dia?" cecarnya dengan mata melotot.
"Ya enggaklah, aku tahu Mas Dery. Aku tahu sifat dia. Yang gatal itu si Shireen. Jadi sebelum Dery goyah dan direbut Shireen, aku harus ngiket dia benar-benar. Aku mau tunjukin kalau akulah nyonya dari seorang Dery Adipati. Bukan Shireen ataupun perempuan lain." Anya berucap mantap. Ia pegang lagi tangan ibunya itu. "Ayolah Bunda. Lamarkan Mas Dery buat aku."
Sontak sebuah pukulan mendarat di bahu Anya. Litania gemas dengan permintaan anaknya itu.
"Sakit, Bun ...."
"Bagus. Biar kamu sadar terus bangun dari mimi. Lagian bisa enggak sih otak kamu itu dipakai? Otak itu gunanya buat mikir yang benar-benar mikir. Jangan dipake buat pajangan doang. Kamu itu perempuan, masa iya melamar laki-laki."
"Itu karena Bunda ngelarang terus, kayak nggak mau aku nikah dan bahagia. Bunda mau aku jadi perawan tua? Perawan yang bisanya minta duit sama Bunda." Jeda lagi. Anya meraih tangan Litania dan memasang wajah mengiba. "Ayolah Bun. Penelitian membuktikan kalau jomblo itu cepat matinya. Bahkan katanya ada wacana pemerintah akan nyuntik mati penduduknya yang berpotensi jomblo abadi. Kek Anya ini."
__ADS_1
Lagi, sebuah jitakan mendarat. Litania benar-benar gemas dengan celotehan hoax yang anaknya ucapkan.
"Kamu itu disekolahkan biar pinter. Bukannya pinter ngibul. Kamu copy paste kata-kata unfaedah itu dari truk gandeng mana. Lagian mana ada pemerintah yang kek begitu. Pemerintah makhluk ghaib juga gak gitu-gitu amat."
"Ih, Bunda gak ngertiin aku."
Kembali bersedekap. Anya pun memunggungi ibunya. Ada setumpuk air di pelupuk mata yang siap tumpah kapan saja.
Litania yang melihat gelagat merajuk Anya pun jadi serba salah. Ia sentuh pundak Anya. "Ya ampun, Nya. Kita bukan ngalangin kamu. Kita cuman ngelindungin kamu Sayang."
"Dari apa sih Bun? Bunda sendiri yang bilang kalau Deri itu sempurna."
Litania diam. Ia menggigit bibir bawahnya lalu kembali membalik diri. Nanar ia tatap mata ibunya itu. "Ayo, Bun. Kasih jawaban yang jelas. Jangan bikin aku berspekulasi yang buruk. Kasih jawaban yang bener-bener masuk akal. Atau ...."
"Atau apa?" potong Litania.
"Aku bakalan pake cara singkat," sahut Anya percaya diri.
"Apa maksudnya?" Alis Litania menukik tajam. "Jangan bilang kamu mau bikin bayi duluan. Awas ya. Bunda coret kamu jadi anak."
"Ya enggak lah Bun. Cara itu terlalu kuno."
"Lalu." Litania memicingkan mata.
"Aku bakalan guna-guna Bunda sama ayah biar mau nurutin apa yang Aku mau. Di Jakarta banyak kok dukun sakti yang tersembunyi."
Pletak!
Lagi, sebuah pukulan kembali mendarat. Bukan lagi jitakan melainkan tamparan di dahi. Anya lagi-lagi mengusap bekas pukulan itu. "Sakit Bun ...."
"Otak kamu ini bener-bener konslet."
"Ih, Bunda. Pokoknya aku minta kawin. Kawinin aku sama Mas Dery. Titik! Atau gak, aku bakalan ngadu sama Kak Seto. Kalau Bunda menghalangi kebahagiaan seorang anak."
Litania mendesah. Ia kalah. Bukan karena takut akan ancaman Anya yang absurd. Hanya saja rasanya sia-sia berdebat dengan Anya. Ia kini menyadari kalau tidak akan ada orang tua yang menang jika berhadapan dengan anak.
Kembali duduk dengan mata menatap susunan bunga yang ada di taman, Litania menepuk kursi di sebelahnya. Kode agar Anya ikutan duduk.
Tanpa banyak tanya Anya pun menurut. Dan tanpa di duga ibunya yang baru saja mengomel, menggenggam erat tangannya.
"Bunda khawatir sama kamu. Kamu masih belum siap berumah tangga, Nya," ucap Litania akhirnya. Terdengar lirih dan penuh perasaan.
"Tentu saja. Bunda pernah muda." Litania menggantung kata. Ia genggam tangan Anya makin erat. "Yang bikin Bunda sama Ayah berat itu karena ayahnya Dery. Apa kamu yakin bisa ngadepin dia?"
Anya langsung mati kata, terdiam. Bibir serasa kehilangan fungsi. Niat hati ingin berdebat sampai titik darah penghabisan. Namun kepercayaan diri itu sirna begitu saja saat membahas ayah Deri. Dery hanya mempunyai ayah, ayah yang keras kepala yang tidak segan untuk memukul anak-anaknya jika membangkang. Ia tahu betul itu, kisah saat bagaimana awal mula Dery merambah menjadi pebisnis padahal pria itu mempunyai cita-cita menjadi seorang guru. Mengingat itu Anya langsung bergidik. Ia tarik tangannya dari genggaman Litania.
"Kamu yakin bisa menangin hatinya si Prakoso Nasution itu? Dia itu pengusaha terbelagu yang pernah ada. Ayah kamu aja malas berhubungan dengan dia. Apa kamu yakin bisa? Dia itu sombong. Apalagi kamu pernah bikin dia masuk rumah sakit." Tatapan Litania begitu serius saat mengatakan itu.
Anya menelan ludah. Pupil mata membesar. Ia ingat betul kisah itu. Kejadian memalukan dan terfatal yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Kesalahan yang paling dan sangat ia sesali. Saat itu dirinya yang baru saja lulus sekolah kembali ke Jakarta. Waktu itu Dery mengenalkannya kepada keluarga. Sialnya saat itu ia diminta untuk menyiapkan makan siang tanpa bantuan pembantu.
Tanpa tahu apa pun soal masakan dan hanya bermodal nekat, ia pun menyanggupi. Dan terjadilah hal yang tidak diinginkan. Si Prakoso keracunan makanan dan diopname hampir 3 hari. Sebab itu pula orang tua Dery yang keras kepala itu menentang hubungan mereka. Bahkan sekarang. Anya yang sudah lihai dalam memasak pun tak pernah dianggap sama sekali.
Bak lalat, Prakoso selalu menatap sinis padanya meski Anya sudah hampir dua tahun bekerja part time di restoran yang Dery kelola.
Kembali mendesah, Anya menatap nanar ibunya. "Lalu aku harus apa Bun? Aku harus apa?"
"Ya ... kalau kamu sudah siap buat jadi istrinya Dery, itu artinya kamu harus siap juga nerima apa pun termasuk kelakuan kasarnya si Prakoso ini. Kamu siap dengan apa pun. Kamu harus mampu menebalkan telinga untuk dengerin semua kata-katanya yang kasar."
Anya diam. Litania yang melihat kegugupan Anya kembali bertanya, "Kira-kira siap nggak? Kamu siap diomelin terus sama dia? Dia itu cerewet, mulutnya itu gak ada filternya. Udah kaya petasan banting. Kalau kamu siap dengan itu dan dapat restu dari dia, Bunda sama ayah kamu gak bisa apa-apa selain ngerestuin."
"Itu artinya Bunda ngizinin aku sama Dery?" tanya Anya antusias. Matanya membulat lebar dengan senyuman super besar. Sama sekali tak ada jejak kesedihan di sana. Padahal belum satu menit ia mendesah gelisah memikirkan si Prakoso itu.
Litania mengangguk. "Sebenarnya Bunda juga ...."
Belum juga selesai ucapan Litania, Anya sudah lebih dulu berjingkrak. Ia melompat kegirangan bak sedang melakukan selebrasi penuh kemenangan. Litania yang tak percaya dengan gerak sang anak mulai berspekulasi, apa mungkin anaknya keserempet setan perawan genit?
"Nya, jangan lompat-lompat. Ini pesta resmi. bukan diskotik." Litania berkata seraya melihat sekitar. Para tamu yang notabene bapak-bapak yang kebetulan melewati mereka pun menatap heran ke aran. Belum lagi para istri yang duduk berkumpul tak jauh dari tempat mereka bicara.
Litania yang malu cepat-cepat memeluk Anya agar berhenti melompat. "Diem, Nya. Jangan bikin malu. Jaga martabat ayah kamu," bisiknya menggeram.
Anya nyengir lalu kembali membenarkan gaun yang membalut tubuh. Ia tata lekat wajah ibunya itu. "Makasih ya Bun," ucapnya lantas cipika-cipiki.
Euforia bahagia begitu jelas tercetak di wajah. Marasa sudah mendapat lampu hijau yang bertahun-tahun selama ini Bundanya samarkan menjadi abu-abu.
"Iya iya," sahut Litania pula.
Anya yang kadung bahagia hendak lari. Tapi tanpa diduga Litania mencekal pergelangan tangannya.
Keheranan, Litania pun mulai bertanya, "Kenapa Bun? Jangan bilang bunda berubah pikiran? Ayolah, Bun. Please ...."
Litania menggelang. "Bunda mau nanya. Kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Aku mau ketemu Dery. Mau ngasih kabar bahagia."
Litania berdecak. Ia tersenyum gemas lalu melihat punggung Anya dari belakang. Tak dipungkiri dalam senyum itu ada kekhawatiran yang begitu besar untuk Anya. Akankah dia bisa melewati itu semua?
Sementara Anya yang tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia berjingkrak. Namun di depan ia dicegat oleh Dafin, abangnya itu tengah berdiri tegak dengan tangan masuk ke dalam saku celana.
"Kamu mau ke mana, Nya?" tanya Dafin.
"Aku mau pergi, Bang. Mau bikin adonan roti," balas Anya ambigu dengan tangan yang sudah terkepal begitu kuat. Dafin yang mengetahui gelagat aneh itu hanya melirik tajam.
"Kamu jangan cari masalah, Nya. Aku bentar lagi mau nikah. Jangan sampai karena masalah kamu aku batal nikah. Awas aja kamu. Aku nggak bakalan mau bantu beresin masalah kamu," ancam Dafin penuh penekanan.
"Ya udah kalau nggak mau. Aku kan masih punya abang satunya."
"Anya!" sentak Safin. Ia hendak melayangkan jeweran. Tapi Anya sudah keburu menjauh. Gadis itu memeletkan lidah—mengejek.
Litania yang melihat tingkah Anya memijit pelipis, ia terduduk lagi hingga sentuhan di pundak menyadarkan.
"Mbak Reka, kapan sampe?" tanya Litania seraya cipika cipiki pada Reka. Wanita yang sudah lanjut usia itu terlihat anggun dengan baju gamis berwarna cokelat kehitaman dan jilbab panjang menutup dada.
"Barusan. Bareng Vero. Maaf ya telat."
"Iya, gak apa-apa."
"Selamat ya. Gak lama lagi status kamu bakalan berubah jadi ibu mertua," beo Reka menggoda.
Litania tersenyum ironi. Tak dipungkiri ia bahagia untuk Dafin, tapi cukup tertekan jika memikirkan Dafan. Belum lagi Anya. Litania berakhir mendesah.
"Keknya gak lama lagi aku juga bakalan nerima menantu laki-laki."
"Wau ... gas pol sekali," sahut Reka. Wanita berusia lima puluh tahun itu terkekeh kecil.
"Mbak lihat kan tadi. Tu anak apa bisa jadi istri?"
"Dia persis kamu, Litan. Persis banget, duplikat."
Litania kembali mengeluarkan napas panjang. Ia lihat Reka yang berdiri di sebelahnya. "Kalian pasti gedek banget ya ngadepin aku yang kayak gitu."
Reka hanya tersenyum tipis. "Sebenarnya apa yang kamu resahkan? Kalau dia mau nikah ya ... nikahin aja. Kita sebagai orang tua nggak baik menghalangi terus. Lagian Anya itu udah dewasa. Dia udah gede dan berhak nentuin apa pun yang dia inginkan. Umur 21 tahun itu udah bisa berpikir logis. Dia udah bisa berpikir mana baik dan mana buruk, ada konsekuensi yang harus ditanggung."
"Tapi Mbak Anya itu beda. Dia itu hanya umurnya aja yang naik ke atas. Tapi pikirannya ...." Litania mendesah lagi.
"Biarin aja, ntar juga dewasa sendiri. Kayak kamu, kamu juga berubah seiring waktu. Chandra bisa mengubah kamu dan aku yakin Anya juga pasti berubah jika bertemu dengan jodoh yang sudah Tuhan ciptakan untuk dia."
Litania memegang tangan Reka. Keduanya duduk saling bersebelahan.
"Gak kerasa sekarang kita bener-bener mengalami apa yang namanya kekhawatiran gak berdasar. Makin tua aku semakin banyak ketakutan," desah Litania.
"Itu manusiawi. Semakin kita lama hidup, semakin kita bahagia dan memiliki banyak hal, semakin banyak pula kekhawatiran, tinggal bagaimana kita menyikapinya aja sih. Bijak. Itu yang harus kita lakukan sebagai orang yang lebih tua," papar Reka.
"Mbak bijaksana banget. Dari dulu aku selalu respek sama Mbak. Aku penasaran siapa nanti yang bakalan jadi menantunya Mbak Reka."
Kini Reka yang mengembuskan napas resah. "Entahlah Litan, aku juga nggak tau. Tuh anak kayaknya masih demen sendiri. Dia enggak pernah ngenalin siapapun selama ini. Ayahnya udah sering ngasih dia kode plus sindiran untuk menikah. Tapi dianya nggak peka-peka. Kalau kita singgung secara gamblang dia langsung marah. Kayaknya yang ada di pikirannya itu masalah pekerjaan aja."
"Belum nemu jodohnya juga kali Mbak."
Reka manggut-manggut. Tiba-tiba ide gila melintas di kepala Litania.
"Bagaimana kalau aku jodohkan?" ujarnya dengan mata berbinar.
"Sama siapa? Kamu mau jodohkan Vero sama Anya. Janganlah. Wong udah punya calon."
"Ya nggaklah. Mana mungkin aku ngasih Anya ke keluarga Mbak. Kasihan Mbak, pasti pening dapat menantu kayak dia."
Lagi-lagi Reka terkekeh. "Kamu sampai segitunya sama anak sendiri."
Litania ikutan tersenyum. Entahlah, perasaannya campur aduk. Satu sisi ia ingin anak-anaknya bahagia. Ingin anaknya mendapatkan apa yang diinginkan, tapi satu sisi ia belum percaya apa bisa melepaskan Dafin dan Anya untuk berumah tangga. Terlebih lagi Anya.
Sementara itu, Anya yang sudah mengganti baju pun masuk ke dalam mobil. Rambut yang tadinya tersanggul indah kini sudah berganti bentuk menjadi kucir kuda dengan Hoodie hitam menutup kepala.
"Awas kamu Shireen, aku nggak bakalan kalah untuk kali ini," gumamnya mantap lalu menghidupkan mesin mobil.
Tibalah Litania di depan rumah Shireen. Sebenarnya tidak yakin kalau Shireen masih tinggal di sana. Hanya saja ia mengadu pada nasib dan berpegang pada insting. Ia sangat yakin kalau Shireen masih tinggal di rumah sederhana itu.
Ia menunggu dan terus menunggu hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ternyata instingnya benar, mobil Dery masuk ke pekarangan rumah itu.
"Sialan. Mereka beneran bareng," geram Anya.
Tanpa beristighfar terlebih dahulu Anya pun keluar dari mobil. Ia bertepuk tangan hingga membuat dua orang yang baru tiba itu menjadi kikuk luar biasa. Terutama Dery ia keluar mobil dengan wajah sedikit memucat. Sedangkan Shireen, gadis itu menyeringai, seolah mengejek Anya.
"Nya kok kamu di sini?" tanya Dery. Ia yang mengenakan kemeja yang digulung sampe siku itu pun mendekati Anya. "Kamu jangan salah paham ya. Ini gak yang ada di pikiran kamu," sambung Dery lagi.
__ADS_1